
Pria besar yang mereka panggil bos kecil itu bernama Alzar Fredrick. Putra semata wayang dari penguasa daerah Selatan, Albert Fredrick . Tahun ini Alzar genap berusia 20 tahun.
Di bawah gemblengan keras kakek serta ayahnya, Alzar tumbuh menjadi pribadi yang tak kenal kompromi. Walaupun tampuk kekuasaan masih sang ayah yang memegang, ia sedikit membantu di dalamnya.
Albert membiarkan Alzar melakukan apa pun sesukanya. Menutup mata dengan semua kelakuan nakalnya. Selalu saja ada kekacauan dan laporan tak mengenakan di mana pun Alzar berada. Bocah itu menciptakan reputasi buruk untuk dirinya sendiri.
Albert hanya memiliki Alzar sebagai putra satu- satunya. Apapun yang dapat membuat bocah itu senang, ia akan mengabulkannya.
Pria beruang yang mereka panggil bos kecil, Alzar, tidak mematung terlalu lama. Masih dengan ekspresi anak anj*ngnya, Alzar tiba- tiba menjatuhkan diri, membiarkan kedua lututnya membentur lantai toilet sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.
" Bos kecil!"
Dua pengawalnya, Banu dan Balu, segera memegang bahunya, siap untuk mengangkatnya dari lantai. Namun Alzar menolak bantuan keduanya, " Mundur kalian!"
Banu dan Balu ragu sejenak, dan saling bertukar pandang.
" Apa kalian tidak dengar ucapanku?"
Keduanya mengenal nada dingin yang dikeluarkan bos kecil. Mereka kaku dan sedikit gemetar. Dengan anggukan samar mereka beringsut mundur.
Sebenarnya bukan hanya Banu dan Balu yang terbenggong- benggong dengan kelakuan ajaib Alzar. Hal yang sama juga dirasakan keempat gadis itu dan juga Kotaro.
Siapa yang tidak menjadi linglung melihat pria asing sebesar beruang menjatuhkan diri berlutut di hadapanmu. Hanya orang sinting yang akan bersikap biasa saja.
Tentu saja Enggar termasuk yang tercenggang melihat kelakuan pria itu.
" Apa yang kau lakukan?" Ia bertanya dengan penuh keheranan.
Enggar berniat mundur menjauh, namun pria itu sepertinya membaca pikirannya. Baru sebelah kakinya terangkat, pria beruang itu langsung meraih kedua tangan Enggar, menahannya untuk pergi.
" Gadis, maukah kau hidup bersamaku?"
Sentakan napas terdengar kompak. Mereka yang sedang menonton pertunjukan terbelalak lebar, termasuk Enggar.
Tidak ada angin tidak ada hujan, bahkan tidak ada badai datang, kenapa mendadak pria beruang itu menjadi gila?! Ck. Enggar sepertinya harus cepat- cepat pergi dari sana, sebelum virus gila pria beruang itu menular padanya.
__ADS_1
" Apakah kau sadar apa yang kau katakan?"
Alzar mengangguk, " Tentu saja. Aku jatuh cinta padamu. Maukah kau menerimaku sebagai kekasihmu?"
Cukup. Pria beruang ini sudah kehilangan akal sehatnya. Dia memang tidak waras.
" Apakah bos kecil makan dengan benar sebelum kita ke sini?" Banu berbisik di telinga Balu. " Bagaimana sikapnya berubah jadi aneh seperti ini?"
Balu memutar kedua matanya, " Kita juga ikut makan bersamanya tadi, apa kau tak ingat? Ini tidak ada hubungannya dengan asupan makanan yang bos kecil konsumsi. Jelas- jelas dia kena penyakit mematikan."
" Penyakit mematikan?"
" Lihatlah wajah bos kecil kita. Mirip anak anj*ng."
Banu tidak paham dengan kalimat Balu. Apa hubungannya antara penyakit mematikan dengan muka anak anj*ng bos kecil mereka, Alzar.
Berparas cantik dan memiliki karakter unik, pesona Enggar itu telah menarik perhatian orang semenjak ia masih bayi. Orangtuanya banjir pujian karena memiliki bayi yang lucu dan menggemaskan. Semua berebut ingin mengendongnya.
Pesona itu terus melekat hingga Enggar beranjak besar. Enggar mendapatkan begitu banyak kasih sayang dan perhatian dari orang- orang di sekelilingnya. Dia adalah gadis yang terlahir beruntung. Segala sesuatu begitu indah dan mudah baginya.
Dan, mengenai pernyataan cinta, seperti yang dilakukan pria beruang di depannya itu, Enggar tidak memiliki banyak komentar.
Yup. Begitu banyak pernyataan cinta yang ia terima, jadi perilaku pria beruang yang sedang berlutut di depannya itu sama sekali bukan hal baru baginya.
Enggar mendesah pelan, " Aku minta maaf, tapi aku tak bisa mengiyakan permintaanmu."
" Apa?" Alzar tak mempercayai apa yang baru saja ia dengar, " Aku tidak mendengarmu,.."
" Aku sudah bertunangan." Jawaban itu akhirnya keluar dari bibir Enggar. " Itulah kenapa aku tidak bisa menerimamu."
" Tidak mungkin.Tidak bisa. Kau tidak bisa menolakku!" Suara Alzar terdengar memelas, seakan peluru telah menembus tengkorak kepalanya dan ia sudah berada di ambang kematian. Penolakan Enggar seperti udara terakhir yang dapat ia hirup sebelum kematian mendatanginya.
Alzar tertegun, tidak percaya.
Tidak memberikan harapan palsu dengan alasan apapun. Terdengar kejam dan berhati dingin? Terserah.
__ADS_1
Enggar tidak mengenal pria itu, jadi untuk apa ia peduli dengannya. Melirik sekilas pada kedua tangannya yang terkunci oleh tangan hangat pria itu. Jika ia menarik paksa tangannya sekarang, bukan tidak mungkin pria itu tidak akan melepaskannya.
Pria asing itu bukan seseorang yang dengan mudah menyerah atau menerima begitu saja penolakan orang lain. Terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan, egonya pasti akan mengamuk.
Menghela napas, lalu bertanya dengan tenang, " Kenapa tidak?"
Ketenangan Itu membuat Alzar sedikit cemas, dan gugup. " Karena kau milikku. Takdir kita adalah untuk hidup bersama."
Sangat percaya diri sekali, bukan? Enggar ingin tertawa mendengarnya. Kalimat yang nyaris serupa meski dari orang- orang yang berbeda. Ia kenyang mendengar pernyataan yang sama, hingga ingin muntah rasanya.
" Tuan muda Alzar." Seseorang muncul di saat suasana diliputi ketegangan yang kuat. Sosok itu berdiri di ambang pintu toilet. Raut wajah penuh kebinggungan melihat 'penghuni' toilet Laki- laki yang sesak. Empat pria dan empat gadis remaja. Para gadis, bukankah mereka berada di tempat yang salah?
Alisnya sedikit naik begitu pandangannya tertuju pada postur yang ia panggil Tuan Muda Alzar, menekuk kedua lututnya di lantai, dengan kedua tangan terjalin dengan salah satu gadis di sana.
Apa yang sedang terjadi di sini?
" Pak David." Suara itu berasal dari Kotaro. Menghela napas lega, melihat manajernya datang.
" Kotaro, ada apa ini?" Pria paruh baya itu menatap Kotaro meminta penjelasan, tapi matanya segera teralihkan ke sosok Alzar. Ia bergegas masuk dan menghampiri pemuda itu,
" Tuan Muda Alzar, selamat datang di resto kami,..."
" Bisakah kau lepaskan tanganku?" Suara Enggar nyaris bersamaan dengan David, menimbulkan suasana canggung sesudahnya. David tentu saja melihat bagaimana Alzar mengenggam tangan gadis itu. Ia melirik Alzar, melihat jika perhatian pemuda itu fokus pada gadis di depannya.
Jangankan menanggapi salamnya, meliriknya pun rasanya tidak.
" Aku akan melepaskan tanganmu," Akhirnya akal sehat Alzar kembali. Menyadari situasi dan waktu, sepertinya tidak tepat untuk memaksa gadis itu lebih jauh. Ia harus mencari tempat dan waktu secepatnya untuk berbicara serius dengan gadis itu, " Tapi, dengan satu syarat."
Enggar terlihat gusar, " Jangan main-main, ya. Aku tidak tertarik mengikuti permainanmu. Cepat, lepaskan tanganku!"
" Kalau begitu, aku tidak akan melepaskan tanganmu." Alzar tersenyum dengan arogan. Ia merasakan upaya gadis itu menarik tangan darinya sekuat tenaga. Alzar menikmati usaha keras itu, namun sangat sia- sia tentu saja. Bagaimana tenaga gadis itu dapat membandingkan kekuatannya dengan dirinya.
Setelah upayanya tak membuahkan hasil, dalam kekesalannya yang berujung, Enggar memutar kepalanya ke arah David,
" Pak David, kenapa anda hanya berdiri di sana dan menonton?" Enggar memasang wajah dingin, terlihat mulai kesal." Seseorang sudah melecehkan saya di resto anda, dan anda tidak bertindak apa- apa? Apa Anda ingin saya melaporkan hal ini kepada polisi?"
__ADS_1
" Eh,.."
🌴🌴🌴