JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 02~Kalimat Bijak itu Mahal Harganya


__ADS_3

Meja lainnya di lantai resto yang sama


Tiga pria tampan tengah asyik bertukar cerita sembari menikmati steak di piring mereka masing- masing. Gerakan memotong, menusuk potongan daging dengan garpu dan mengangkatnya ke mulut, semua nyaris dilakukan bersama- sama tanpa mereka sadari.


" Permisi." Pemuda berseragam pramusaji muncul di dekat mereka, memperlihatkan teko kaca di tangannya, " Izinkan saya mengisi gelas Tuan- Tuan."


" Silahkan." Satu pria mempersilahkan.


Setelah mendapatkan izin pramusaji itu dengan cekatan mengisi gelas- gelas mereka yang nyaris kosong. Berpindah dari satu gelas ke gelas lainnya. Begitu gelas terakhir terisi air kembali senyum mengembang di wajahnya.


" Silahkan menikmati kembali hidangannya, Tuan- Tuan." Katanya dengan ramah,"Jika anda membutuhkan sesuatu, anda dapat menekan bel, kami pasti akan datang. Sekarang saya permisi dulu."


" Terima kasih."


Pemuda itu mengangguk, " Sama- sama, Tuan." Setelah bertukar kata singkat, pemuda itu beranjak menjauh dari meja.


Resto itu cukup terkenal di kota. Hanya golongan atas yang dapat masuk ke dalamnya. Bukan hanya menghadirkan menu- menu kelas Wahid, pelayanannya adalah nomor satu.


Pemuda itu sangat beruntung bisa magang di sana. Pengalamannya bertambah luas, terpenting lagi, banyak pembelajaran yang ia dapatkan di sana.


Ia menyukai makanan, terutama makanan lezat. Setiap hari melihat makanan yang dibuat oleh para koki handal rasanya seperti mimpi. Kapan ia dapat seahli mereka?


Hidangan dari para koki ternama begitu lezat, sehingga pengunjung menjadi padat setiap harinya. Saking padatnya, beberapa orang harus melakukan pemesanan tempat terlebih dulu pada jam- jam tertentu.


Resto memang menyajikan hidangan yang lezat di lidah, namun itu bukanlah alasan kenapa resto itu menjadi populer. Penting untuk menjaga mood para penikmat makanan untuk menikmati hidangan mereka tanpa gangguan. Efek nyaman mereka adalah poin pentingnya. Pemilik resto bermata jeli dapat melihat hal- hal seperti itu.


Suasana dan pelayanan terbaik, itulah kunci penting yang menjadikan resto itu berbeda dari resto lainnya. Upaya keras yang mereka lakukan membuahkan hasil yang membanggakan pemilik dan juga para penggerak yang aktif di dalamnya.


" Ingatlah untuk mengunjungi kakakku setelah kau sampai di Paris." Satu dari tiga pria itu bersuara di akhir kunyahannya. Sepasang mata yang tersembunyi di balik kacamata tipis memperlihatkan sinar kecerdasan si pemakainya." Dia pasti akan senang melihat kau datang mengunjunginya."

__ADS_1


Pria yang diajak bicara mendengarnya dengan jelas namun tak langsung merespon. Ia masih mengunyah, dan tidak sopan berbicara selagi makan.


" Aku tidak janji." Akhirnya, setelah mulutnya kosong, pria itu berkata. " Aku hanya dua hari di sana dan jadwalku padat. Kalo ada kesempatan, aku akan mampir ke sana."


" Apakah kau masih marah dengan kakakku, Anom?"


Garpu dengan potongan steak di ujung terhenti di dekat bibir Anom, ketika pertanyaan itu terlontar. Tertegun sejenak, sebelum melemparkan potongan steak ke dalam mulutnya.


" Kau tahu jawabannya, Steve." Jawab Anom pelan, " Waktu mungkin bisa merubah banyak hal pada kalian, tapi tidak untukku."


Pria tersisa melirik keduanya, tahu bahwa pembicaraan telah masuk ke ranah pribadi. Steve menyinggung batas bawah Anom, hal yang begitu sensitif bagi pria itu.


Ia meraih gelas dan meneguk sedikit isinya.


" Aku mewakili kakakku meminta maaf kepadamu kalau begitu." Steve terdengar tulus, " Kami menghancurkan hidupmu."


Anom tersenyum tipis, " Aku sudah melupakan segalanya, Steve. Singkirkan rasa bersalahmu itu. Waktu tidak akan bergerak mundur. Perasaan bersalah adalah sesuatu yang sia- sia saja, aku rasa."


Takdir mempertemukannya dengan Anom dan Caesar, dua pria yang sekarang menjadi sahabat baiknya. Bukan hanya latar belakang mereka yang berbeda, tapi juga sifat dan karakter. Anom sebenarnya pria yang hangat dan ceria, sangat mudah bergaul dengannya. Steve lebih dekat dengannya ketimbang dengan Caesar.


Kejadian besar merubah Anom. Pria hangat dan ceria itu menghilang, tergantikan oleh sosok dingin dan pelit bersuara. Kepribadian Anom tidak lagi sama. Ia menjadi tertutup.


Steve menyadari jika ia memiliki andil besar dalam perubahan kepribadian Anom.


" Takdir yang kau katakan kejam membuatmu menjadi pria kuat." Keheningan itu luruh oleh suara Caesar yang dalam. Anom dan Steve tanpa sadar menolehkan kepala mereka ke arahnya.


Caesar tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua. Baik Anom atau pun Steve saling menjaga perasaan demi persahabatan mereka. Steve yang telah menyakiti sahabatnya akan memiliki rasa bersalah itu sepanjang hidupnya. Sementara Anom, pria yang tersakiti oleh sahabatnya sendiri, menjalani hidup seolah- olah tidak terjadi apa- apa. Kebohongan itu jelas terlihat oleh Steve dan Caesar. Hanya mereka berdua yang dapat melihat kosongnya mata Anom. Ia hanya berusaha menutupi penderitaan batinnya.


" Kita berjuang demi takdir kita sendiri, hingga kata yang disebut batas akhir. Aku selalu percaya semua makhluk memiliki takdir baik, walaupun saat ini kau tidak dapat melihatnya. Dia yang kau sebut belahan jiwamu, ada di suatu tempat, menunggumu untuk menemukannya."

__ADS_1


Pisau dalam genggaman Steve tiba- tiba jatuh pingsan ke lantai. Jerit pisau mengejutkan ketiganya.


" Ada apa denganmu?" Dahi Caesar berkerut, menatap Steve dengan binggung.


" Cae,.. apakah kau baik- baik saja?" Bukan menjawab, Steve malah balik bertanya. " Kau sedang dalam kondisi sadar, kan?"


Alis tebal Caesar menukik tajam. Gaya bicara Steve tidak pernah sesopan dan seperhatian itu kepadanya. Blak- blakan, tajam, terkadang memprovokasi orang lain, itulah Steve.


" Akhirnya mereka melakukan operasi pada otak babimu, Steve. Aku senang kau menjadi lebih perhatian dan sopan kepada orang lain."


Steve sewot. Niatnya untuk menyindir Caesar malah berbalik menyerangnya." **** you!"


Anom sedikit terhibur melihat keduanya. Ia terkekeh pelan, " Barangkali obat idiotnya berkhasiat sekarang. Steve akhirnya sembuh."


" Apa maksudmu?" Kepala Steve bergeser ke arah Anom juga dengan perasaan kesal, " Oh, kalian berdua kompak mengejekku sekarang ternyata. Bagus, bagus sekali."


" Waktu tidak banyak merubahnya." Seolah- olah tidak mendengar keluhan Steve, Caesar kembali menggodanya, " Sekali bodoh, akan selamanya akan menjadi bodoh."


Tangan Steve mengepal. Ia mulai terpancing emosinya," Bajingan! Siapa yang kau sebut bodoh?!"


Caesar melihat sekeliling seakan sedang mencari seseorang, sebelum matanya berakhir di Steve," Aku menemukan orang itu tepat di depanku. Kau."


" Kau,..." Steve meremas dengan geram serbet yang berada di dekatnya, bersiap- siap untuk melemparnya ke muka Caesar.


" ..., Selamat malam." Sebuah suara tiba- tiba memotong pertikaian mereka. Ketiga pria itu langsung terdiam," Sepertinya aku datang terlambat. Aku minta maaf."


Seakan ada tali tak terlihat yang menarik kepala ketiga pria itu, mereka tanpa sadar menoleh ke arah datangnya suara. Lupakan rencana memulai peperangan, Steve bahkan langsung lupa akan niatnya melempar Caesar dengan serbet.


Berdiri dengan anggun, sosok cantik seorang wanita, tengah memandang ke arah mereka. Liur Steve nyaris menetes, Caesar bahkan tanpa sadar bersiul pelan.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2