
" Apa maksudmu, Lily?!"
Gadis itu tidak segera menjawabnya. Mata Enggar menyipit, menyadari jika Lily bahkan tidak berniat untuk memberitahunya lebih lanjut.
Sangat menyebalkan. Setelah berhasil memancing rasa penasarannya, dengan tidak bertanggungjawab memberinya punggung.
Ck. Bagaimana bisa Lila memiliki saudari kembar seperti ini.
Ia pikir, selain wajah mereka yang sama, kepribadian mereka juga tidak jauh berbeda. Ya, meskipun lain, setidaknya tidak terlalu jauh.
Tapi, hal yang ia pikirkan tidak berlaku untuk Lila dan Lily. Dua saudara kembar hanya memiliki cermin satu sama lain, tapi tidak untuk karakter dan kepribadian mereka. Bagai bumi dan langit.
Meski tidak terlalu terbuka seperti Anya, Lila masih dapat diajak bertukar pikiran dengan mudah. Di balik sikapnya yang 'menjaga jarak' dari orang lain, Lila memiliki banyak kehangatan di dalamnya. Sungguh jauh berbeda bila dibandingkan dengan saudari kembarnya, Lily.
Seperti bayangan Lila, itulah Lily. Gadis itu selalu mengikuti ke mana pun kembarannya pergi. Di kelas, kantin, perpustakaan, bahkan buang air kecil pun, mereka selalu bersama. Intinya, di mana ada Lila, di situ pasti ada Lily.
Jarang mengeluarkan suara, itu adalah bawaan Lily. Membiarkan Lila menyuarakan pikiran mereka, bahkan tidak pernah komplain untuk semua pilihan Lila untuknya. Sepertinya, mereka memiliki komunikasi batin kuat, sehingga tanpa berbicara, sudah memahami apa yang diingin satu sama lain.
Selain itu, Lily tak banyak berkomunikasi dengan orang lain. Selain kelompok mereka-- itu juga karena ada Lila di dalamnya__ dia tidak pernah bercakap- cakap dengan orang lain.
Benar- benar gadis yang aneh.
Sampai detik ini, Enggar belum bisa mengerti dan memahami kepribadian Lily. Syukurlah, ia hanya memiliki satu sahabat yang seperti itu.
Dan, secara misterius Lily mengetahui apa yang terjadi di antara empat gadis yang pergi bersama- sama. Tidak banyak bicara, hanya menekankan jika ia tidak suka diacuhkan, atau tidak diberitahu apa yang terjadi.
Karena hal itu, sekarang ia ingin membalas perbuatan mereka.
" Lily,..." Enggar memanggil gadis itu kembali. Ekspresi misteriusnya semakin membuat perasaan Enggar tidak enak. Ia penasaran sampai mati.
Tahu jika kailnya berhasil menangkap ikan, Lily makin melebarkan senyumannya. Rasain, siapa suruh main rahasia- rahasiaan dengannya.
Seakan tidak melihat sorot memohon Enggar, Lily dengan kejamnya menutup kaca jendela. Hanya senyum lebarnya yang menjadi salam perpisahan untuk Enggar.
__ADS_1
Enggar tentu melonggo. Anak ini, sungguh tidak sopan sama sekali!
Tangan Enggar mengepal kuat, berusaha mengendalikan geram. Seandainya saja manik kelabunya adalah laser, mobil si kembar sudah dipastikan penuh dengan lubang.
Kepergian si kembar hanya meninggalkan kejengkelan di hati Enggar.
" Apakah mereka sudah pergi?" Sebuah suara datang dari balik punggung Enggar, sesaat setelah mobil menghilang di kejauhan. Enggar memejamkan mata, menghela napas sedalam lautan, lalu berbalik.
" Wah, siapa ini?" Enggar terlihat terperanjat kaget, " Apakah aku mengenalmu?"
Mendapat sambutan sinis Enggar, Anya hanya mengerjapkan mata. Ia sedang menilai situasi di depannya.
" Apakah ada yang menganggumu?" Akhirnya, karena sudah melihat kegusaran gadis itu, Anya hanya bisa bertanya sebabnya.
" Ke mana saja kau?" Membalas pertanyaan dengan pertanyaan adalah hobi mereka, yang dilakukan tanpa sadar." Menghilang setelah bertemu dengan Kotaro, kau itu sama sekali tidak menghargai kami, tahu!"
" Aku minta maaf," Tersengat rasa bersalah karena melihat kekesalan Enggar, Anya ingin memukul kepalanya keras- keras, " Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Jangan marah, Enggar."
" Mencurigai apa?"
Kedua gadis itu sibuk berdebat, sehingga tidak memperhatikan kendaraan yang menepi di dekat mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita cantik melangkah keluar. Langkahnya anggun dan tertata, mengayun dengan santai mendekat ke arah mereka.
",... aku tidak," Enggar menarik paksa tangannya dari genggaman Anya karena sebal dengan perkataan gadis itu. Gerakan itu membuat tubuhnya bergerak mundur dengan reflek.
" Aduuuhhh,...!"
Area sekitar pintu masuk cukup lenggang, hanya seorang penjaga pintu yang berdiri tegak di sana. Lingkungan aman membuatnya menurunkan kewaspadaan. Sambil mengayunkan kakinya, sempat matanya melirik sekilas ke sisi kiri, ke arah dua gadis. Mereka sedang serius mengobrol, dengan satu orang berdiri memunggunginya.
Siapa menyangka, kecelakaan itu terjadi begitu ia berada di belakang gadis itu. Tiba- tiba gadis yang membelakanginya mundur.
Benturan tak terelakan terjadi. Sama- sama terkejut, keduanya memekik.
Untung saja dia dapat menguasai dirinya. Hanya menjerit kaget, tidak sampai terjungkal mencium bumi.
__ADS_1
" Maaf,..." Enggar segera membalikkan badan, bersiap- siap dimarahi.
" Kau,..." Wanita itu mengeryitkan dahi sembari menyentuh area bahunya yang terasa kebas dan ngilu akibat benturan. Tidak begitu sakit. Hanya saja jantungnya terpaksa menderita shock, dengan kejutan tak menyenangkan itu. Berdegup sangat keras karenanya.
Begitu sembrono. Ia siap menyemburkan api layaknya naga.
" Kamu,..." Wanita itu akan mengomeli si gadis yang bertindak seenaknya, bersamaan dengan gerakan sang gadis membalikkan badan untuk menghadap dirinya.
" Maafkan aku,.. " Suara sarat penyesalan hanya meluncur setengah jalan dari bibir Enggar begitu kedua manik kelabunya bertemu dengan manik hitam wanita itu...
Baik Enggar maupun wanita itu, kedua mata mereka sama- sama berkedut dan membesar. Terpatri kuat satu sama lain untuk waktu yang cukup lama.
Mengingat dan kemudian saling mengenali.
Tangan wanita itu mengepal kuat. Raut wajahnya yang kesal perlahan memerah seperti berada di dekat api pembakaran yang sangat panas.
" Gadis iblis,..." Gumamnya dengan geram
Ekspresi yang nyaris sama terlihat pada Enggar. Kulit mukanya berubah merah padam dalam hitungan detik. Matanya menyipit tajam, dan ia mendengus keras.
" Wanita ular,..."
" Enggar,... Enggar,..."
Suara lembut tiba- tiba bergema di telinganya, membuat Enggar, yang terbenam dalam lautan amarah karena wanita di depannya, melompat dan kembali ke akal sehatnya. Wajah wanita itu bergoyang- goyang seperti gambaran tv rusak, lalu "blup", menghilang. Enggar mengerjap, " Apa?"
Begitu matanya terbuka, bukan wanita itu yang ada di depannya, melainkan kecantikan abadi yang begitu dicintainya, mamanya, Puri.
" Sayang, kau kenapa?" Melihat tubuh Enggar yang sekaku bambu dan ekspresi kosongnya, kening halus Puri perlahan- lahan berkerut.
" Kau sedang melamunkan apa?"
🔆🔆🔆
__ADS_1