JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 09~ Target cinta


__ADS_3

Garasi hitam menutup secara otomatis. Suara mesin mobil berakhir setelah kunci tercabut dari lubangnya. Dua penghuni kursi depan, bersama- sama keluar dari mobil. Kelelahan terlihat dari tubuh mereka.


" Apakah kau lapar?" Mendahului Enggar berjalan, Puri mengarahkan kakinya ke area pantry. Ia meletakkan tasnya di atas meja, bersebelahan dengan mug panda. Coklat panas yang sudah menjadi dingin itu masih penuh, tak tersentuh.


Puri berdecak, sedih campur menyesal. Tidak akan menjadi mubazir jika ia menghabiskan minuman itu sebelum berangkat tadi. Karena panik dan terburu- buru, ia sampai mengabaikannya.


" Mama masak apa?" Enggar duduk di kursi tinggi tanpa sandaran di sebelah Puri, dan memperhatikan wanita itu menatap sedih pada mug coklatnya." Bukankah susu coklat bisa dihangatkan. Mama tidak harus memasang wajah sedih seperti itu, iya kan?"


Puri menoleh perlahan, dan mengulas senyum, " Bagaimana kau tau mama sedang sedih karena susu coklat ini? Kau seperti dukun saja."


Enggar tertawa, " Karena Enggar tahu susu coklat itu harusnya sudah berada di perut mama saat ini. Pasti mama ngga meminumnya karena terburu- buru ke kantor polisi, kan?"


" Iya, mama lupa karena panik tadi." Lalu Puri melompat dari kursinya, meraih mug dan berjalan menunju kompor listrik tak jauh dari sana." Mama masak ayam bumbu Bali. Ambillah nasi, kau pasti lapar, kan."


Gerakan Puri lincah, saat mengeluarkan mangkuk berisi ayam berlumuran bumbu pedas dari lemari penyimpanan. Setelah meletakkannya di meja di depan Enggar, ia bergerak ke arah rak piring, mencabut dua piring dan membawanya ke depan Enggar.


" Tadinya mama mau kukus jagung, tapi ngga jadi. Buat besok aja."


Sementara Puri menyalahkan kompor, meletakkan panci kecil untuk menghangatkan susu coklatnya, Enggar membuka tutup ricecooker, dan mengambil nasi. " Kenapa tadi tidak ajak Om Ibra mampir, Ma. Biar sekalian makan bareng kita."


Puri mengangkat kepalanya dari atas panci berisi coklat, " Ngaco, ah. Om Ibra kan punya istri. Kita akan undang Om Ibra makan di luar bersama istrinya kapan- kapan, bagaimana dengan itu?"


Mulut Enggar sedang mengunyah potongan ayam, hanya mengangguk, " Hm."


" Bagaimana rasanya? Enak?"


" Hm," Puri bergumam dan memberikan jempolnya sebagai jawaban. Masakan mamanya adalah yang terenak di seluruh semesta. Tidak ada yang dapat menandingi kelezatannya.


Keheningan tercipta. Puri fokus mengaduk cairan coklat di atas kompor, sementara Enggar berkonsentrasi untuk menghabiskan nasi dan lauk di piringnya.


Enggar melirik Puri dalam diam. Ia sangat mencintai dan menyayangi wanita itu. Puri adalah mamanya. Segalanya bagi dirinya.

__ADS_1


Seandainya saja wanita jahat itu tidak hadir dalam kehidupan keluarganya,...


Flashback,...


Dua helai daun yang menempel pada batang mawar putih itu melayang jatuh. Jemari lentik telah melakukan kekejian dengan membunuh, memisahkan dirinya dari mawar putih, pemiliknya.


Pelakunya adalah remaja cantik yang saat ini sedang bersunggut- sunggut menahan geram. Rengganis Kanditasila, atau biasa disapa Enggar oleh keluarga dan teman- temannya.


Sumber kegeraman hatinya tentu saja dari permainan ia lakukan bersama sahabat- sahabatnya di mana ia menderita kekalahan di sana. Mereka sudah sering memainkan kartu kala senggang, dan hampir seluruhnya dimenangkan oleh Enggar.


Kemenangan adalah prinsip dan motto hidup Enggar. Dalam pelajaran atau pun permainan. Ia sudah mempatenkan peringkat satu menjadi miliknya, dan berupaya keras untuk tetap menjaganya.


Begitu percaya diri terkadang melahirkan kesombongan. Mungkin itulah yang terjadi.


Permainan tanpa taruhan tidaklah menarik. Bersama enam orang sahabat baiknya, mereka selalu membuat setiap kebersamaan mereka menjadi tak terlupakan, salah satunya dengan menciptakan taruhan konyol di setiap permainan.


Kali ini taruhan konyol dalam permainan kartu sangat sederhana tapi juga menantang. Siapa yang kalah, yang memiliki kartu paling banyak tersisa, dia harus menyatakan cinta kepada seorang pria. Siapa pun itu harus memberikan setangkai mawar putih sebagai simbol rasa cintanya. Dan siapa pria yang menjadi target taruhan, pihak pemenanglah yang akan memutuskan.


Tujuh remaja cantik itu langsung menyetujui dengan sorakan semangat. Menyatakan cinta, itu seperti membalikkan telapak tangan, bukan?


Anya merinding mendengarnya, " Kenapa aku tiba- tiba menyesal ikut taruhan ini ya."


" Aku juga. Bulu kudukku merinding." Tambah Gisel.


" Ck. Dasar pengecut." Leo melempar sedotan masih terbungkus ke muka Anya," Santai saja. Yakinlah, kesombongan itu tidak baik."


Enggar memberinya tatapan menusuk," Aku tidak sombong. Aku hanya terlalu percaya diri."


" Itu tidak baik," Lili mengerutkan alisnya.


Di sebelahnya, Lila ikut mengerutkan hidungnya, " Langit tidak menyukai kesombongan dan keangkuhan. Kau bisa jatuh dengan sangat keras ke bumi."

__ADS_1


" Ada apa dengan kalian ini," Enggar menatap satu per satu sahabatnya yang mengkritik sikapnya." Kalian terlalu serius sekali. Ini hanya permainan. Santai. Oke?!"


Kemudian, Leo sebagai pemegang kartu mengeluarkan kartunya. Mengocoknya dengan lihat lalu membagikannya sebanyak lima kartu ke masing- masing anak. Setelah terbagi, sisanya ia tumpuk di tengah.


Permainan dimulai


Bahwa langit membenci mereka yang terlalu sombong bukanlah omong kosong. Walaupun tak terucapkan dengan sungguh- sungguh, kepercayaan diri yang berlebihan dapat dihitung sebagai kesombongan awal.


Ratu keberuntungan, Enggar, kalah dalam tiga kali putaran karena tidak memiliki kartu, sehingga kartu di tangannya tidak berkurang. Dan pada akhirnya, kemenangan itu tidak jatuh ke tangannya.


" KYAAAA!!!" Anya melompat kegirangan. Dia adalah pihak yang keluar sebagai pemenangnya dalam permainan kartu.


Sisanya, selain Enggar, saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka terkejut dengan hasilnya. Lega karena bukan mereka yang kalah dan harus menjalani hukuman.


Setengah lusin pasang mata bersama- sama memusatkan perhatian mereka kepada Enggar. Wajah gadis cantik itu pias.


" Ratu keberuntungan, kau sangat tidak beruntung kali ini. Nikmati hukumanmu sendiri. Hahahaha,..." Kemenangan Anya membawa banyak kesenangan baginya. Ia tidak percaya, amat sangat tidak percaya. Sekali seumur hidupnya, akhirnya ia dapat memenangkan permainan. Ia mencuri keberuntungan dari ratu keberuntungan yang berkuasa, Rengganis Kanditasila!


" Kau harus menyatakan cinta kepada cowok itu." Setelah lima belas menit larut dalam kegembiraan, tiba saatnya penetapan target. Anya sudah memindai sekeliling resto.


Resto tempat mereka sering menghabiskan waktu tergolong kelas menengah ke atas. Sebagian besar tamu yang datang adalah pelanggan tetap. Saat ini para tamu yang datang untuk makan lebih banyak wanita atau pasangan.


Mencari pria tua dengan perut tambun seperti gambaran Enggar sepertinya tidak ada. Anya hanya ingin mewujudkan keinginan Enggar saja, pasti seru. Bukankah dia sahabat yang baik?


" Lama sekali memilih target." Enggar menggerutu di sampingnya. Di sekelilingnya banyak pria tampan berlalu lalang, tidak ada satupun yang Anya pilih.


" Aku sedang mencari pria impianmu, Enggar. Jadi, sabarlah sedikit." Tukas Anya tersenyum penuh kelicikan


" Pria impian?" Enggar kebinggungan sesaat, melirik Anya penuh tanda tanya, " Pria impian apa?"


" Bukankah kau ingin menyatakan cinta kepada pria tua yang perutnya tambun. Karena aku sahabat yang baik, maka aku akan mewujudkannya.'

__ADS_1


Mata Enggar melebar, detik itu juga ia berteriak, " ANYAAAA!!!"


🌺🌺🌺


__ADS_2