
Menunggu gadis itu membuka mulutnya, seperti menunggu calon ibu yang sedang melahirkan calon bayi. Penuh kecemasan, ketegangan dan perasaan was- was.
Seandainya Enggar merasakan semua perasaan mereka dan memiliki empati untuk itu, mungkin ia akan membantu. Sayangnya dia tidak merasakan apa- apa.
Seingatnya, ia dalam misi melaksanakan hukuman yang telah direvisi total. Anya memintanya datang untuk membantu Kotaro, pria inceran Anya, dari pria yang berniat jahat kepadanya.
Siapa menyangka, kelanjutan ceritanya jauh berbeda dari yang mereka bayangkan. Pria bertubuh besar yang diduga akan menjahati Kotaro malahan berlutut di hadapannya dan menyatakan cinta.
Fu*k! Apakah mereka sedang membuat lelucon dengannya?!
Walaupun Enggar harus mendongak untuk dapat melihat wajah pria itu, ia melakukannya. Mengali ingatannya, mungkin saja pria itu adalah salah satu orang yang dikenalnya. Tapi, nihil. Wajahnya asing. Ia belum pernah melihatnya.
Kenyataan itu menambah kekesalan Enggar. Lihatlah, bagaimana seorang pria tak dikenal menyatakan perasaannya dan memaksa dia untuk menerimanya. Apakah orang itu sudah bosan hidup?
Guna mencegah situasi menjadi memburuk jika dirinya mengamuk, Enggar memutuskan untuk angkat kaki secepatnya.
Di depan semua mata yang menunggu dengan perasaan campur aduk, Enggar jelas menunjukkan reaksi lembah es kutubnya. Ia menjaga eskpresinya sedingin es ribuan tahun. Saat manik kelabu matanya bertabrakan dengan manik hitam Alzar, hanya kilat permusuhan yang ia kirimkan, tidak ada yang lain. Setelahnya, tetap dengan bibir terkatup rapat ia berbalik, memperlihatkan punggung rampingnya kepada semua orang. Detik berikutnya, kakinya melangkah pergi.
Reaksi angkat kaki Enggar jelas mengejutkan semua orang, terutama Alzar, dua pengawalnya, dan juga sang manajer resto, David. Mereka tercenggang untuk sesaat.
" Ayo!" Tidak berniat tinggal lebih lama, Anya berseru kepada dua temannya, Leo dan juga Lila untuk segera menyusul Enggar pergi. Dalam aksi log out-nya, dengan santai Anya menyeret Kotaro untuk ikut bersamanya.
" Bos,..." Kotaro bersirobok pandang dengan Alzar dan David saat Anya menyeret lengannya, ingin mengatakan sesuatu kepada mereka,
Seakan ikut tak berdaya seperti Kotaro, David hanya dapat mengibaskan tangan kepadanya, yang artinya mengizinkan Kotaro pergi bersama mereka.
" Gadis,..." Terburu- buru Alzar meluruskan punggungnya, terlihat panik begitu Enggar melintasi ambang pintu dan lenyap bersama teman- temannya. Ia berniat menyusul mereka.
Melihat gelagat itu, David bergerak cepat, berdiri bagai tembok tepat di depan Alzar.
Wajah Alzar menjadi hitam." David, minggir!"
__ADS_1
" Tuan Muda Alzar, kendalikan dirimu." Meski tubuh David lebih pendek dua kepala dari Alzar dan lebih kurus, namun tekadnya sebesar gunung.
" Jika kau masih sayang hidupmu, cepat menyingkir!"
" Anda hanya akan membuat Nona Enggar semakin membenci Anda, jika Anda menyusulnya." Kata David dengan kesabaran extra." Jika Anda ingin mendekatinya, Saya bisa membantu Anda."
Terdengar Dengusan sekeras banteng marah dari Alzar," Apa aku terlihat membutuhkan bantuanmu, David? Aku bisa melakukannya sendiri!"
" Ck. Tuan Muda Alzar, Anda tidak mengenal Nona Enggar sebaik saya." Kata David," Dia bukan gadis yang mudah dan bukan gadis sembarangan."
" Apa kau meragukan aku, bangs*t?!"
Seandainya yang mengatainya adalah orang lain, David mungkin akan langsung membunuhnya. Tapi, berhubung kata kasar itu berasal dari putra iblis, yang tidak dapat ia singgung sedikit pun. Bukan hanya ia tidak bisa membunuhnya, mungkin malah ia yang terbunuh olehnya. Alzar dapat membunuhnya dengan mudah, seperti menepuk lalat.
David menghela napas sabar, " Jika Anda dapat melakukannya, Nona Enggar tidak mungkin memberikan punggung dingin kepada Anda dan pergi. Itulah kenyataannya, Tuan Muda Alzar."
Ini adalah kekalahan terbesar dalam hidup Alzar. Melihat sesuatu yang diingini sudah ada di depan mata, tapi tak dapat tergenggam tangan.
Perubahan sekecil apa pun yang terjadi pada Alzar, tidak lepas dari perhatian dua pengawal setianya, Banu dan Balu. Mereka sudah lama bersamanya, sehingga tahu banyak mengenai kepribadiannya.
Meskipun tidak yakin apa yang tengah dipikirkan majikan mereka, keduanya tahu jika pergantian suasana hati Alzar berhubungan dengan gadis itu.
" Tuan Muda, Anda belum berjuang, bagaimana bisa Anda langsung menyerah kalah." Sebenarnya Banu hanya mengatakan apa yang terlintas dalam benaknya sebagai kata- kata penghiburan, tapi siapa menyangka setelah mendengar ini, Alzar mengedipkan matanya, dan tersentak bangun.
Sang majikan memutar tubuhnya dengan tiba- tiba, menatap Banu dan Balu bergantian, dan akhirnya berhenti pada sosok Banu yang berada di sisi kanan. Bibir Alzar tertarik melebar di wajahnya, dan terdengar tawa keluar dari sana.
" Siapa menyangka kau memiliki kalimat yang begitu indah." Katanya, sarat kebahagiaan.
Banu dan Balu bertukar pandang. Mereka saling berbagi keheranan dengan reaksi 'tak biasa' Alzar.
Banu berdehem kemudian, " Saya hanya melihat Bos terpukul mendengar penolakan gadis itu tadi. Yakinlah, Bos, Anda akan selalu mendapatkan apa yang anda inginkan. Jadi, selalu pantang menyerah. Kami selalu mendukungmu."
__ADS_1
" Kau benar," Alzar mengangguk, raut wajahnya segera berganti, penuh semangat dan keyakinan," Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan." Penolakan gadis itu hanya menambah besar keinginan Alzar untuk menaklukannya.
Melihat Alzar sudah kembali seperti biasanya, dua pengawalnya akhirnya dapat menarik napas lega. Untung saja Alzar tidak berlama- lama dalam keretakan hati akibat pernyataan cintanya ditolak mentah- mentah gadis itu. Mereka yakin, pemuda itu memiliki 101 macam cara untuk mencapai keinginannya.
Di lain tempat, sekelompok gadis telah menyelesaikan acara mereka, dan bersiap- siap untuk pergi dari sana.
" Di mana Anya?" Pertanyaan itu berasal dari Enggar, begitu matanya mengabsen semua orang dan tidak menemukan satu dari mereka. Seorang staff menyerahkan kartu serta bill taginan makanan kepadanya, dan segera mengundurkan diri. Hanya menerimanya begitu saja tanpa keinginan untuk melihat bill, Enggar menyelipkan mereka ke dalam tas Selempang mungilnya.
" Ia dan cowok itu sedang ngobrol di suatu tempat." Lila yang berdiri di dekatnya menjawab." Anya tidak pernah cerita kalau ia sudah memiliki pacar."
" Ck," Wajah Enggar terlihat masam. Gara- gara Anya ia harus mengalami kejadian memalukan tadi. Sungguh konyol! Anya dan Kotaro Konyol! Hukuman konyol!
" Telpon Anya sekarang. Bilang kita sudah mau cabut dari sini."
Lila merogoh kantong bajunya untuk mendapatkan ponsel, " Oke." Katanya.
" Aku ada janjian dengan papa satu jam lagi." Leo tiba- tiba angkat suara, menarik perhatian para gadis." Kita jalan sekarang, guys."
Para gadis menganggukan kepala mereka, tidak keberatan, termasuk Enggar. Lalu, kelompok gadis itu melangkah bersama meninggalkan meja.
Lima menit akhirnya mereka tiba di luar resto. Tidak lama berselang sebuah mobil hitam berhenti tepat di samping mereka.
" Aku balik duluan, ya." Melihat mobil jemputannya sudah tiba, Leo kemudian merangkul sahabatnya satu demi satu. " Di mana Anya?" Tanyanya, saat satu orang tidak terlihat di sekitar.
Para gadis celinggak- celingguk mencari Anya.
" Tadi dia sedang ngobrol dengan pelayan resto,..." Mika memberitahu mereka apa dilihatnya beberapa saat yang lalu.
Leo mendesah, " Anak itu," Runtuknya dalam hati.
🌴🌴🌴
__ADS_1