
BRAKKK!!!
" Lepaskan dia!" Suara daun pintu membentur tembok sangat keras dan mengejutkan, menyusul dengan teriakan penuh amarah, berasal dari ambang pintu yang terbuka detik berikutnya.
Teriakan itu milik salah satu dari empat gadis muda yang bergerombol memenuhi pintu toilet. Tatapan keempatnya mengarah tajam ke depan, di mana tiga pria bertubuh besar dan Kotaro berada. Ketiga pria itu termasuk Kotaro sepertinya tercenggang melihat aksi mereka. Ketiganya juga Kotaro berdiri mematung dengan kepala berputar ke arah 'para tamu'.
Anya yang sangat ketakutan Kotaro akan dipukuli, tanpa ba-bi-bu lagi langsung memberi komando, " Itu mereka! Teman- teman, selamatkan Kotaroku!"
Terprovokasi dengan ucapan gadis itu, tanpa kenal takut ketiga gadis di dekatnya langsung melompat masuk, dan menerjang tiga pria besar di sana.
Gerakan gadis- gadis itu seragam. Mereka langsung menempatkan diri di depan masing- masing pria. Mengangkat kaki kanan mereka dan memberi tendangan super keras ke titik terlemah Laki- laki, alat vital yang berada di antara ************ mereka.
DUAR!!!
Ketiga pria besar itu masih terpana dengan banyaknya gadis yang mendatangi mereka, sampai- sampai tidak mewaspadai serangan berbahaya ketiganya.
" Adooowwww!!!"
Ketiga pria asing itu kompak menjerit dan membungkuk pada saat yang bersamaan. Kedua tangan mereka memegangi harta berharga mereka yang seperti mau pecah karena tendangan itu.
Kotaro membelalakan matanya, tercenggang melihat situasi di depannya. Ia kebinggungan.
Sebuah tangan menarik lengan Kotaro, membawanya menjaga jarak dari tiga pria bertubuh besar itu.
" Aro, kau tidak apa- apa? Apa mereka sudah menyakitimu?"
" Eh," Kotaro tersentak, lalu menunduk, mendapati remaja cantik berambut panjang tergerai yang samar- samar dikenalnya. Keningnya berkerut, memperhatikan dengan cermat wajah remaja cantik itu. Mencoba mengingat- ingat, di mana ia pernah melihatnya.
" Kenapa jadi benggong?" Anya menguncang lengannya sedikit lebih keras," Apa mereka memukulmu?Jawab, Aro!"
" Anya?" Kotaro memanggilnya ragu- ragu, takut salah mengenali orang." Kau Anya?"
Anya berdecak," Iya, aku Anya. Memangnya kau tidak mengenaliku, Hah?!Keterlaluan!"
" Tidak, bukan begitu." Melihat gadis itu cemberut, Kotaro segera menyela," Aku hanya tidak mengenali kamu dengan penampilanmu yang seperti ini, Anya. Kau sangat berbeda."
__ADS_1
Anya berpikir 'perbedaan' yang dimaksud Kotaro pastilah sesuatu yang buruk. Ia tambah makin cemberut, " Apa maksudmu aku berbeda? Apa aku terlihat jelek di matamu?"
" Ya, ampun, anak ini." Tiba- tiba saja Kotaro menjadi gemas melihat ekspresi Anya. Ia tidak tahu jika Anya seperti mercon, mudah meledak.
Tangan Kotaro ingin mencubit pipi merah gadis itu. Alih- alih mengarahkan tangannya ke pipi Anya yang mengemaskan, tangan Kotaro bergerak meraih rambut panjang Anya yang tergerai bebas sepunggung, " Kau terlihat berbeda jika rambutmu seperti ini." Katanya menjelaskan, " Aku biasa melihat rambutmu selalu terikat."
Anya mendongakkan wajahnya dengan bodoh, " Oh, begitu."
Semua kecemasan Anya sirna seketika. Ia sudah takut jika Kotaro akan mengatakan sesuatu yang buruk mengenai penampilannya. Jika sampai itu terjadi, ia bersumpah akan langsung bunuh diri saat itu juga.
Mari tinggalkan Anya dan Kotaro, dan beralih ke sisi lain,
Tiga pria asing bertubuh besar masih meringkuk kesakitan pasca penganiayaan pada alat vital mereka. Pelakunya, tiga gadis remaja, mereka berdiri berjajar sembari memandangi ketiganya dengan tatapan galak. Mereka seperti Srikandi, pahlawan wanita pembela kebenaran.
Ketiga srikandi itu tidak lain adalah Enggar, Leo, dan Lila. Keberadaan mereka di sana tentu saja karena panggilan telpon Anya beberapa saat yang lalu. Dalam keadaan panik, Anya menceritakan apa yang dilihatnya kepada Enggar di telpon.
" Kau harus menolong Kotaro dari pria- pria itu, Enggar. Ya, ampun! Kau harus cepat. Bagaimana jika mereka memukuli Kotaro,..."
Ketika pikiran sedang panik, tentu saja emosi dalam gelombang pasang, sangat tidak stabil. Enggar langsung memanfaatkan keadaan ini,
" Enggar! Saat ini hidup Kotaro di ambang hidup dan mati. Kau masih saja memikirkan dirimu sendiri,..."
" Kau mau atau tidak?" Enggar dengan keras kepala, berkata dengan tegas. Tak peduli jika Anya mengutuknya keras karena bersikap egois tidak pada tempatnya. Bukankah ia hanya ingin membela kepentingan dirinya sendiri?
Anya tahu ia tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan permintaan Enggar.
" Baiklah, " Akhirnya Anya mengalah, " Anggap ini sebagai bentuk hukumanmu yang aku revisi. Bantu aku singkirkan pria- pria itu dari Kotaro. Sekarang, cepatlah kesini!"
" Kami segera datang!" Terdengar suara Enggar penuh kebahagiaan karena terlepas dari hukuman memalukan. Mengajak Leo dan Lila, dua petarung di grup, segera mendatangi tempat Anya berada.
Pria yang tubuhnya paling besar merasa sakit yang diderita alat vitalnya agak berkurang. Ia belum pernah merasa serendah ini sepanjang hidupnya.
" Bajing*n! Kalian bosan hidup rupanya. Kalian tidak tahu, dengan siapa kalian berhadapan!" Rahang pria itu mengeras menahan amarah. Ia dan kedua pengawalnya bangkit perlahan- lahan dari lantai toilet yang dingin untuk memberikan balasan.
Kala wajah murkanya berhadapan dengan Enggar, gadis itu segera menghantamkan mawar putih di tangannya ke wajahnya, berkali- kali,
__ADS_1
" Jaga bicaramu, kau yang bajing*n!" Sembur Enggar tiada takut sedikit pun. Kelopak mawar putih rontok di wajah pria itu sabetan darinya, " Beraninya kalian main keroyokan."
" Brengs*k!" Tangan besar pria itu menangkap pergelangan tangan Enggar, membuatnya menghentikan pecutan bunga mawar pada wajahnya. Ia bersumpah akan memberinya pelajaran karena berani menyerang wajahnya.
Kejadian mengejutkan terjadi setelah pria itu dan Enggar saling beradu pandang,...
Saat ini Enggar dalam posisi waspada, dan siap memberikan pemukulan kepada pria besar di hadapannya jika berani bertindak kurang ajar kepadanya.
Ia terkejut saat pria besar itu mencengkarm pergelangan tangannya. Manik kelabu Enggar berkilat- kilat penuh emosi. Pria beruang itu sepertinya akan membalas perlakuannya.
Cih. Ia tidak takut sama sekali.
Enggar tidak tahu, sama sekali, jika pikiran pria beruang itu saat ini berbeda dengannya. Ketika pandangan mereka bertemu untuk pertama kali, pria beruang itu langsung tersentak. Wajah Enggar, terutama dua manik kelabu miliknya, mampu meluruhkan amarahnya yang sudah berada di puncaknya detik itu juga.
Di matanya, kehadiran Enggar membuat dunia di sekitarnya berhenti bergerak.
" Bos kecil, gadis- gadis ini harus diberi pelajaran. Mereka sudah berani menyerang kita tanpa alasan!" Salah satu dari dua pengawalnya bersuara. Mereka terlihat jengkel dengan kehadiran gadis- gadis itu, terutama setelah aksi menyerang alat vital mereka.
" Tanpa alasan?!" Lila yang berdiri tepat di depannya memberikan pelototan galak miliknya, " Kalian memukuli Kotaro bersama- sama, bukankah itu alasan kenapa kami membalas?!"
" Memukuli?!" Pria itu terlihat binggung, " Apa maksudmu?"
Lila segera menusuk jidat pria itu dengan telunjuknya, " Mencoba mengelak, Hah?!"
" Hei, hentikan!" Pria itu mengibas jari telunjuk Lila dengan tamparan, " Jangan kurang ajar dengan yang lebih tua. Mana sopan santunmu, gadis?!"
" Bos, sepertinya mereka harus kita beri pelajaran. Mereka sudah seenaknya menuduh kita dan menganiaya kita. Bos,.. bos?"
Kedua pria pengawal itu mengarahkan pandangan mereka ke pria ketiga yang mereka panggil bos. Saat ini bos mereka seakan berubah menjadi patung. Berdiri membungkuk dengan wajah menatap gadis lain.
Apakah mereka tidak salah lihat?
Terbiasa menghadapi wajah iblis sang bos kecil dan amarahnya yang menakutkan, sekarang keduanya dibuat kebinggungan dan keheranan. Ada apa dengan perubahan wajah dari bos kecilnya itu? Menatap tanpa berkedip gadis remaja di depannya, seakan menatap mahakarya langka yang sangat berharga.
Mungkinkah bos kecil mereka sedang terpesona dengan gadis itu?
__ADS_1
🐙🐙🐙