JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 07~ Menyapa teman lama (2)


__ADS_3

Jam berjalan lambat, sedetik, dua detik,...


Otak Ibra mendadak kosong. Seakan ada gembok, mulutnya terkunci dengan paksa. Ia ingin bersuara, tapi pita suaranya tak mampu bekerja.


Saat ia berpikir seseorang dapat lenyap ditelan bumi, menghilang tanpa kembali, pikiran itu ternyata terlalu mengada- ada. Selama orang itu belum terkubur tanah, terbakar api hingga menjadi abu, besar kemungkinan ia akan kembali.


Bukankah takdir sering mengecoh manusia? Banyak hal tak terduga akan selalu terjadi. Sebaiknya mempersiapkan diri.


Dan, tidak ada yang kebetulan di dunia ini.


Sama halnya dengan Ibra, pertemuan mereka jelas mengejutkan Milan. Jika pria itu sempat mematung linglung, tidak dengan dirinya.


Meski pun emosinya terlempar oleh gelombang besar, di permukaan Milan dapat menguasai dirinya. Ia telah mempersiapkan diri sejak lama.


Baginya, masa lalu haruslah terkubur dalam- dalam. Ia telah memulai kehidupannya yang baru, terlepas dari keterikatannya dengan masa lalu.


Lagipula, keberadaan Anom bersamanya, membuatnya lebih ingin melupakan hal- hal yang terjadi di masa lalu. Pria itu sekarang adalah sosok yang ia dambakan. Ia mencintai pria itu.


Ck. Banyak hal ia pertaruhkan untuk keberadaannya saat ini di sini. Anom adalah hidupnya dan juga masa depannya.


" Apakah kalian saling mengenal?" Suara Petugas Wayan seperti alarm, pengingat waktu, merobek keheningan canggung di antara Ibra dan Milan. Menatap lekat pengacara dari klien dan wanita pelapor, dengan penuh minat.


Entah itu memulai babak baru sebuah drama atau memutar kembali episode drama yang sudah lewat, ia merasa akan mendapatkan tontonan yang menarik.


Ibra terlihat kikuk, " Eh?"


" Milan, apakah kau mengenalnya?" Bahkan pihak lain menyadari suasana canggung di antara mereka.

__ADS_1


Suara itu berasal dari Anom, pria yang lebih banyak diam sepanjang proses pelaporan berlangsung.


Milan merasakan hawa dingin merambati punggungnya, seperti tanaman merambat. Sama halnya dengan Petugas Wayan, Anom memiliki penciuman yang tajam seperti seekor anj*ng. Mampu mengendus sesuatu dalam jarak ribuan kilometer.


" Aku,..." Berusaha sebaik mungkin untuk memberikan penjelasan kepada pria itu, Milan menutup matanya sebentar. Berkata jujur dan memberitahu Anom siapa Ibra hanya akan membuat pria itu semakin banyak bertanya.


Bukankah itu seperti mengali kuburan untuknya sendiri?


" Kami adalah teman lama." Tanpa terduga, Ibra mendahului Milan, menjawab dua pertanyaan yang sama sekaligus. Itu adalah kebenaran yang mengandung resiko. Membuka cela untuk pertanyaan lainnya.


Hanya tinggal menunggu waktu bagaimana kehidupan Milan akan jatuh dalam kehancuran.


" Tapi kami tidak begitu dekat satu sama lain." Kalimat terakhir Ibra, menutup kemungkinan untuk pertanyaan lain datang. Artinya sudah jelas. Ibra tidak ingin membahas masalah pribadinya lebih lanjut kepada siapa pun.


" Oh, begitu." Petugas Wayan berpikir Ibra akan mengekpsos hubungannya dengan Milan lebih lanjut. Tapi sepertinya Ibra tidak berencana melakukannya. Ia sedikit kecewa, tapi tidak mempermasalahkannya.


" Halo, Ibra,..." Setelah nada tunggu empat kali, sebuah suara menjawab. Ibra melirik Petugas Wayan, dan memberi isyarat mata untuk menjauh sebentar. Petugas Wayan mengangguk, memberinya privasi.


Membalikkan tubuh, Ibra melangkah menjauh, " Naran,.." Ibra menghela napas panjang, mulai bersuara, " Kau harus menghubungi Puri. Ia harus ada di sini untuk mewakilimu."


Lima belas menit kemudian


Ibra kembali," Istri Pak Naran sedang dalam perjalanan ke sini." Ia memberitahu Petugas Wayan dan juga pasangan di ruangan itu. " Dan, sementara menunggu, bagaimana jika kita melanjutkan proses ini? Saya ingin melihat surat jaminan untuk klien saya. Boleh?"


Di samping Enggar sudah ada kursi kosong. Rupanya selagi Ibra berbicara dengan orangtua gadis itu, Petugas Wayan minta rekannya, Petugas Malik untuk meletakkan kursi di sana.


" Kalau begitu silahkan duduk, Pak Ibra." Tidak banyak berbasa basi Petugas Wayan mempersilahkan Ibra duduk di kursi yang telah tersedia untuknya. Ibra mengangguk, dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Sementara Petugas Wayan mempersiapkan berkas Surat Jaminan dan lainnya, Ibra menjatuhkan tubuhnya di kursi kosong di sebelah Enggar. Begitu bokongnya menyentuh kursi, tanpa terduga, gadis itu menyeruduk ke dalam pelukannya. Tangisnya pecah.


Semua mata melihat ke arahnya dengan terkaget- kaget. Ketiga petugas polisi, Milan dan juga Anom.


Hampir 3 jam sejak Milan membawanya ke kantor polisi, melewati proses pemeriksaan singkat untuk pelaporan perkara baru, gadis itu terlihat tenang. Selain kelelahan fisik tidak ada tanda- tanda ketakutan dan kecemasan mengenai keberadaannya di sana. Hal yang membuat Petugas Wayan dan dua rekan- rekannya terheran- heran.


Gadis itu bersikap baik selama pemeriksaan. Duduk di samping Wayan dan menjawab semua pertanyaan yang ia ajukan.


Petugas Wayan tidak menangkap emosi gadis itu sebelumnya. Entah karena dia benar- benar tegar dan bermental baja atau mampu menyimpan semua itu dengan terlalu baik.


Tanpa Enggar sadari, perilaku tenangnya sudah menarik banyak perhatian Petugas Wayan.


Tapi kini, ia tengelam dalam tangis di pelukan pengacaranya, Ibra. Semua terdiam, termasuk Petugas Wayan.


Akhirnya, emosi gadis itu meledak juga. Petugas Wayan hanya menunggu dengan sabar sampai kapan gadis itu mempertahankan sikap tenangnya. Sudah sewajarnya ia menangis, siapa pun akan menangis jika menginjakkan kakinya di kantor polisi. Menjadi tidak normal jika hal sebaliknya terjadi.


" Tenanglah," Ibra mengelus kepala dan punggung Enggar, meredakan emosinya yang membuncah, " Jangan takut. Ada om di sini."


Enggar tetap terisak hebat, seakan tidak mendengar bujukan Ibra.


Sebuah saputangan berwarna abu- abu muda terulur kepadanya, membuat perhatian Ibra teralihkan dari Enggar dan bergerak cepat untuk mengangkat wajahnya. Di sisi lain, seorang pria berpenampilan dingin dan penuh wibawa, berdiri dari kursinya dan menyodorkan saputangan kepadanya.


Ia adalah pria yang duduk bersama Milan, dan ia menduga adalah ' pasangan barunya', Tuan Kalingga.


" Saya pikir gadis ini membutuhkan saputangan untuk air matanya." Katanya, dengan tenang.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2