
" Selamat datang, kak,..." Sapa kasir minimarket, gadis berkulit sawo matang dan berambut bob sebatas leher, begitu Enggar tiba di depannya. Enggar melihat gadis itu menyunggingkan senyum ramah kepadanya. Sebagai balasannya ia juga memberikan senyuman secara otomatis.
Satu bungkus pembalut, dua botol minuman 'kesehatan datang bulan' dan dua bungkus batang coklat bermerk di meja kasir. Dengan cekatan gadis itu memindai semua barang- barang satu demi satu lalu memasukkkan semuanya ke dalam kantong plastik berwarna putih.
Teeettttttt. Teeettttttt. Teeettttttt.
Itu adalah ponsel yang berada di saku seragam Enggar. Menariknya keluar, melirik sekilas nama yang tertera pada layar, lalu menekan tombol terima.
" Halo, Pa,..."
" Di mana kamu sekarang? Kenapa kamu tidak menghabiskan sarapan yang disiapkan Mama Puri? Susumu, kenapa kamu meninggalkannya tanpa kau minum sedikit pun?" Tanpa basa basi atau pun salam pembuka, pria paruh baya yang keberadaannya jauh di ujung benua sana, memborbardir Enggar dengan omelan. Kuping gadis itu langsung panas. " Bukankah papa sudah bilang, kamu harus sarapan dan minum susu sebelum berangkat sekolah. Bagaimana kamu bisa belajar kalau perutmu kosong, Hah?!"
Wajah Enggar masam. Pagi- pagi sudah sarapan omelan, hati siapa yang tidak kesal.
Petugas kasir melirik gadis yang cemberut di depannya setelah menerima telepon. Ia ragu untuk menganggu. Tapi ia sudah selesai menghitung belanjaan gadis itu dan sudah semuanya berada di dalam plastik.
Mengumpulkan nyali, petugas kasir kemudian sedikit mengeser layar kecil di atas komputer yang memperlihatkan total belanjaan ke arah Enggar lalu berkata, " Kak, total semuanya delapan puluh tiga ribu lima ratus rupiah."
Enggar tentu mendengarnya. Ia menyerahkan selembar uang seratus ribuan berwarna merah ke petugas kasir. " Aku akan beli roti nanti, Pa." Untuk meredakan keceriwisan papa Enggar hanya bisa mencari aman dan menjawab dengan baik. Mencari alasan yang masuk akal ke orangtua itu. " Aku sakit perut karena datang bulan pagi ini, jadi aku tidak nafsu makan."
Terdengar papa menghela napas, " Papa pikir tidak ada hubungannya antara sarapan dan minum susu dengan datang bulan kamu. Cari alasan yang oke bisa kan?"
" Ih, Papa ngeselin, tahu ngga." Enggar cemberut sembari menerima struk dan kembalian dari petugas kasir, meraih tas plastik berisi belanjaannya dan bergerak ke arah pintu." Papa tidak akan bicara seperti itu seandainya papa jadi aku. Pa, Bagaimana keadaan Kak Mona?"
" Kondisinya sudah stabil sekarang. Kalian itu ya, susah kalau papa bilangin. Makan dan istirahat harus benar- benar kalian jaga. Berkegiatan boleh, tapi jaga badan. Kalau sudah ambruk yang rugi kan kalian sendiri. Apa namanya kalau tidak sayang badan."
__ADS_1
" Iya, Pa. Aku akan lebih memperhatikan diriku mulai sekarang. Sakit itu tidak enak."
" Semoga apa yang kamu katakan ini sungguh- sungguh datang dari hatimu." Sahut Papa, sedikit sangsi dengan ketulusan janji Enggar, " Janji berkali- kali tapi berkali- kali juga melanggar. Omongan kalian tidak bisa papa pegang."
Sepanjang tungkainya melangkah, Papa terus mengomeli Enggar. Tiba di pintu, Enggar ingin mendorongnya, dari arah yang berlawanan, pintu kaca terbuka dari luar dan sosok tinggi melangkah masuk.
Enggar mendonggak sedikit, memandang sekilas ke arah pria itu. Jas abu- abu dengan kemeja warna putih, rambut rapi, dan wajah klimis, tampan pokoknya. Pria itu tidak 'ngeh' jika Enggar tengah meliriknya sekilas.
Mendorong pintu, melangkah pelan menyusuri trotoar ke tempat mobilnya terparkir sementara. Sepanjang jalan otaknya berpikir keras.
Alis lebat pria itu, sepasang mata itu, hidungnya juga bentuk bibirnya yang tanpa senyum. Sekilas kontur wajah pria itu seperti seseorang yang Enggar kenal samar- samar. Ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat baru- baru ini. Namun, ia lupa, di mana ia melihatnya?
"..., kalau begitu Papa tutup teleponnya, ya. Kamu hati- hati di jalan. Jangan ugal- ugalan" Suara Papa masih mengudara di telinga Enggar, namun ia tidak benar- benar mendengarkan.
" Siap, Jendral." Enggar mengangguk, " Oiya, Pa. Jangan lupa, sampaikan salamku pada Kak Mona. Aku kangen sama dia, Pa."
" Kapan Papa pulang?" Sebelum hubungan telepon berakhir, Enggar menanyakan hal yang penting ini. Ia tidak bisa jauh dari Papa terlalu lama.
" Lusa Papa pulang." Sahut Papa, memahami dengan baik ketergantungan Enggar kepada dirinya. " Enggar, selama Papa tidak ada, jangan membuat masalah untuk Mama Puri, oke?"
Sebelah alis Enggar merangkak naik, " Apa maksud Papa dengan ' menyusahkan'?"
" Ck. Papa pikir kamu bukan anak kecil lagi, jadi tahu apa yang Papa katakan. Kejadian semalam, bukankah kamu sudah menyusahkan Mama Puri kamu?"
Mengingat kejadian semalam, membuat wajah Enggar menjadi kaku. Binar kebencian terlintas untuk sesaat di iris kelabu matanya." Pa, semalam itu, wanita itu, Mi,..."
__ADS_1
" Bukankah kita berjanji untuk tidak menyinggung masalah ini lagi?" Papa memotong cepat kalimat Enggar, memaksa gadis itu bungkam." Memgingatnya hanya akan membuat papa ingin membunuhnya. Kamu tahu Papa, bukan, Enggar?!"
" Iya, Pa. Aku minta maaf."
Seperti halnya Enggar yang peka mengenai masalah ini, Papa pun sama. " Kita akan membicarakan tentang ini setelah papa kembali. Oke, anak papa sayang?"
" He-eh. Pa, oleh- oleh, ya."
Terdengar tawa pelan Papa, terasa hangat di telinga Enggar, " Kamu itu. Selalu mengingatkan Papa. l love you, my princess!"
" l love you too, my King!" Balas Enggar.
Sambungan kemudian berakhir dan Enggar mengembalikan ponsel ke dalam ia saku bajunya.
Enggar masuk ke dalam mobil hitam miliknya. Meletakkan kantong plastik putih di kursi sebelah, lalu mulai menyalahkan mesin.
Sebuah ide terbersit tiba- tiba di dalam kepalanya. Tanpa sadar bibirnya menyungging senyum kecil. Enggar, Enggar,.. daripada mati dengan rasa penasaran, bukankah lebih baik mencari tahu?
Tujuh menit lebih sedikit sosok berjas abu- abu itu keluar dari minimarket. Ada kantong plastik kecil di tangan kirinya. Itu adalah pria yang Enggar perhatikan sekilas sewaktu mereka berpapasan di pintu masuk.
Enggar berniat mencari tahu mengenai pria tak dikenalnya itu.
Mobil pria itu berada di belakang mobil Enggar, terhalang dua kendaraan lain di depannya. Dengan langkah lebar pria itu menuju mobilnya. Membuka pintu lalu masuk ke dalam.
Untung saja kaca mobil Enggar menggunakan kaca film mobil dengan tingkat kegelapan 40 persen, sehingga sulit bagi orang luar untuk melihat ke dalam mobil. Ia hanya menunggu sebentar, dan setelah mobil pria itu bergerak ia akan mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
Bukankah rencananya sangat sempurna?!
🔆🔆🔆