JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 17 Efek Gunung Salju (1)


__ADS_3

Ia sedang menikmati tetes terakhir coklat panas saat menyadari kejanggalan anak gadisnya. Di seberang meja yang membatasi mereka, Enggar terlihat diam mematung. Sendok di tangan kanannya membatu, walau pun ada nasi dan potongan daging di sana.


" Enggar,... Enggar,..." Dengan lembut Puri memanggil putrinya.


Tepat seperti dugaannya, gadis itu tengah melamun. Ia terlihat melonjak kaget, nyaris menjatuhkan sendok di genggamannya.


" Apa?"


" Kau sedang melamunkan apa?" Tanya Puri dengan tatapan menyelidik. Makanan di piring hanya sedikit berkurang, saat ia melirik sekilas.


Enggar tidak langsung menjawab. Menunduk sejenak, seperti tengah memikirkan sesuatu, lalu kepalanya mendonggak, " Ma, ... wanita di kantor polisi, ... apakah mama ingat dia?"


Keduanya memiliki manik kelabu yang sama dan mereka mengunci satu sama lain.


Enggar sebenarnya tidak berniat untuk melontarkan pertanyaan itu. Hanya saja, kalimat itu meluncur tanpa bisa ia kendalikan dari bibirnya. Ingatannya begitu kuat akan sosok Milan di masa lalu. Kenangan akan wanita itu meninggalkan bekas dalam pada dirinya.


Siapa anak yang bisa melupakan penyebab hancurnya kehidupan keluarga mereka?!


Setelah sekian tahun, tak ada yang mengira mereka akan bertemu lagi. Ia pikir wanita itu sudah menghilang entah ke mana semenjak kejadian itu. Bersembunyi dengan liciknya setelah berhasil memporak-porandakan kehidupan sebuah keluarga.


Kebencian yang tertanam jauh di dalam hati Enggar telah mengakar kuat. Dendam itu harus terbalaskan.


Dengan kemunculan wanita itu, celah dendam dalam dirinya robek. Ini bukan sebuah kebetulan, bukan? Alam mendukung keinginannya untuk membalas ketidakadilan akibat wanita itu.


Ia bersumpah, akan membuat Milan membayar semua perbuatannya...


Sementara Enggar berdialog dengan dirinya sendiri, sang mama tengah berpikir mengenai pertanyaannya. Keningnya menyerupai gelombang di lautan. Tanda jika si empunya tengah berkonsentrasi keras.


Bagi Puri, pertanyaan Enggar tidaklah sederhana. Bukan tanpa maksud anak gadisnya melontarkan hal itu.


Karenanya, ia mengali lebih dalam dalam ingatannya, untuk mencari sosok Milan. Apakah wanita itu begitu penting dalam hidup mereka, sehingga ia harus mengingatnya?


" Tidak." Keheningan akhirnya terpecahkan dengan satu kalimat. Puri menghela napas lalu membuangnya kasar. Ia terlihat tertekan karena tidak menemukan apa yang dicarinya. Wajahnya kusut karena frustasi.


" Mama sama sekali tidak bisa mengingat wanita itu." Lanjutnya, dengan nada yang terseret- seret. " Kau tahu, banyak hal yang hilang setelah mama terbangun. Tidak mudah menemukan ingatan yang hilang dalam sekali pencarian."


Dasar bodoh! Apa yang telah kau lakukan, Enggar?! Kau ingin membunuh mama Puri?!


Suara 'trang' menyentak Puri, membuat napasnya tertahan kaget. Ia melirik sendok yang tergeletak di atas piring Enggar.

__ADS_1


"Sayang,..."


" Maafkan Enggar, Ma." Enggar tahu- tahu meraih tangannya yang bebas dari seberang meja. Mata indahnya berkabut, penuh dengan penyesalan, " Lupakan aku pernah menanyai ini, oke? Please, Jangan memaksakan lagi ingatan mama."


Tertegun sejenak. Puri segera meletakan mug kosong di meja. Ia binggung melihat anak gadisnya yang terlihat tertekan." Hei! Ada apa dengan wajah cantikmu? Jangan bilang kau ingin menangis,..."


" Waaa,..." Sebelum Puri dapat menyelesaikan kalimatnya, Enggar sudah meledak dalam tangis.


***


Meninggalkan pasangan ibu dan anak yang berpelukan dan saling menghibur, sosok yang menyebabkan air mata Enggar jatuh berderai tengah menekan sebaris angka di luar pintu apartemennya. Suara 'klik' akhirnya terdengar, dan pintu terbuka.


" BRENGSEK! Kenapa aku harus bertemu dengan gadis sial*n itu hari ini. Kenapa dia tidak mati saja seperti ibunya!"


Keanggunan Milan pecah begitu kakinya menginjak ruangan. Melempar tas mungil ke sembarang tempat, hingga menimbulkan suara gaduh dan pecahan benda lain di sana.


Wanita itu sudah tengelam dalam badai amarah, sehingga tidak repot- repot memusingkan apa yang pecah.


Berdiri di tengah- tengah ruangan, tubuhnya kaku dan bergetar hebat. Kedua tangannya mengepal sangat kuat di samping tubuhnya. Begitu kuatnya, sampai- sampai kuku tajamnya mengores telapak tangannya.


Lagi- lagi, karena telah dikuasai amarah, ia tak sadar telah melukai dirinya sendiri.


Mengubur identitasnya di negeri orang, itu semua ia lakukan untuk keselamatannya. Ia tidak memiliki banyak pilihan. Hanya itu Satu- satunya cara agar hidupnya jauh dari bahaya.


Dengan nihilnya koneksi yang dimiliki, Milan harus menjalani kehidupan yang sulit di negara orang. Melakukan banyak pekerjaan kasar, hinaan, bahkan pelecehan, sudah menjadi makanannya sehari- hari.


Lalu, apa yang membuatnya mampu bertahan melewati semua kesulitan itu?


Kekuatan itu bernama dendam.


Hingga suatu malam, ketika ia menonton serial drama di tv, ide cemerlang itu datang.


Ia hanya butuh satu kesempatan. Jika ia berhasil menggunakan kesempatan itu sebaik- baiknya, maka ia dapat mengucapkan selamat tinggal pada kesulitan hidup.


Berbekal niat dan impian besarnya, Milan menjalankan rencananya.


Memilih target yang tepat teramat penting. Dalam dua hari terakhir ia melakukan pencarian target secara diam- diam. Selama 48 jam yang melelahkan, akhirnya target yang diidam- idamkannya pun datang.


Dewi keberuntungan tengah memeluknya. Semua berjalan lancar, sesuai rencananya.

__ADS_1


Sedikit demi sedikit Milan memperoleh kepercayaan sang target. 'Perilaku baik' dan 'ketulusan' Milan membantunya keluar dari kesulitan hidup. Tujuannya sudah tercapai.


Sifat manusia yang tidak pernah puas, bukan sesuatu yang aneh di telinga. Baik itu sesuatu yang baik atau pun buruk, akan selalu muncul keinginan untuk mengejarnya. Begitu pula dengan Milan.


Pria itu bagaikan dewa di mata Milan. Ia sudah tersihir sejak pertama kali melihatnya. Jantung Milan berdesir, dan suhu tubuhnya meningkat.


Awalnya Milan berpikir kalau ia terserang demam. Tubuhnya sedikit hangat dari suhu normal biasa. Dokter hanya menyarankan agar ia lebih banyak beristirahat. Selain itu, ia tidak memiliki penyakit apa- apa di tubuhnya.


Demam dan perasaan kacau itu menyerang Milan jika ia berada dekat dengan pria itu. Pada titik inilah akhirnya ia menyadari jika perubahan yang terjadi pada dirinya berhubungan dengan pria itu. Milan memiliki perasaan padanya. Milan menyukai pria itu.


Milan pernah jatuh cinta sebelumnya. Namun cinta itu kandas. Segala upaya telah ia lakukan atas nama cinta, toh ia tetap kehilangan cinta itu.


Sakit. Pahit seperti empedu.


Berbekal pengalaman pahit itu, Milan lebih berhati- hati kali ini. Satu langkah salah dan gegabah, maka semua impiannya akan berakhir untuk kedua kali.


Jika cinta tidak datang kepadanya, ia akan menjemput cinta itu. Tentu saja semua tidak sesederhana pengucapan. Apakah ia berjodoh dengan cinta itu atau tidak, dia juga tidak tahu. Paling tidak, Ia akan berjuang demi mendapatkan cinta pria itu.


Bagaimana ia bisa tahu jika ia tidak mencobanya, iya kan?


Seperti menyusun tesis, Milan menjadikan pria itu obyek penelitiannya. Mengumpulkan banyak materi dan bahan mengenai pria itu untuk ia pelajari. Tentu saja, ia tidak melakukannya secara pribadi. Sekarang ia memiliki uang dan dapat membayar orang untuk melakukan pekerjaan untuknya.


Singkatnya, ia memiliki file lengkap mengenai pria itu dan tersenyum puas karenanya.


Kalingga Anom. Pemimpin sebuah perusahan raksasa dengan banyak anak cabang tersebar di seluruh dunia. Lajang, belum pernah menikah. Sepanjang hari dihabiskan di kantor dan perjalanan bisnis. Hampir tidak ada skandal atau pun gosip miring mengenai dirinya. Salah satu lajang high profile yang banyak diburu kaum hawa dan nyonya besar untuk jadi anak menantu mereka. Dibesarkan oleh sang nenek, dan hanya memiliki wanita tua itu dalam hidupnya.


" Itu hanyalah informasi singkat mengenai Tuan Anom. Versi lengkapnya akan membuat Anda terkaget- kaget." Kata pria informan yang Milan sewa.


Sedikit binggung, " Maksudmu, ada informasi lain yang bahkan lebih penting?"


" Benar sekali." Sang informan mengangguk.


" Lalu, kenapa kau melaporkannya setengah- setengah jika memang ada yang lebih lengkap?"


Pria itu tersenyum dengan licik, " Karena informasi lengkapnya out of record. Tuan Anom bukanlah pebisnis biasa. Yang ingin coba saya sampaikan adalah, apa yang terlihat di permukaan hanyalah kulit sutra yang membungkus lapisan emas. Pria ini banyak menyembunyikan perihal dirinya dari publik."


Melirik sekilas file yang tergeletak di atas meja, Milan tak berbicara beberapa saat.


***

__ADS_1


__ADS_2