JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 10 Mereka akan menyakiti Kotaro


__ADS_3

" Aawwww!" Anya melolong kesakitan saat Enggar mencapit pinggangnya bak kepiting datang bulan. Tubuhnya meliuk- liuk berusaha melepaskan diri dari capitan tajam Enggar,


" Guys, help me, please! She want to kill me!" Serunya panik dan terlihat mengiba kepada teman- temannya yang lain.


Melihat betapa ganasnya Enggar jika sedang jengkel, Gisel dan Leo segera menjauh dari kursi mereka, bersama untuk menahan Enggar. Keduanya meraih lengan kiri dan kanan gadis itu, dan menariknya menjauh dari Anya.


" Enggar, stop!"


Enggar yang dirasuki kejengkelan tingkat tinggi sama sekali tak menggubris kedua temannya.


" Aduh, Enggar. Sakit!" Sambil meringgis kesakitan, Anya terus berusaha melepaskan diri. Bantuan Gisel dan Leo belum dapat menjauhkan Enggar, padahal mereka juga sudah mengeluarkan tenaga extra.


Dalam usahanya yang terakhir, tangan Anya menjulur ke arah muka Enggar, dan menarik kulit lembut di sana sekencang- kencangnya. Seperti yang diharapkan, reaksi si empunya pipi segera terlihat.


Enggar mengeryit kesakitan lalu memekik dan akhirnya capitnya melepaskan pinggang Anya.


Memanfaatkan kesempatan ini, Anya segera mengambil langkah seribu.


" Anya, jangan lari kau!" Pekik Enggar berniat menyusul Anya, namun Leo dan Gisel menahannya. Ia hanya bisa mengibaskan tangan kesal, dan menatap punggung Anya yang kian menjauh. " Lepaskan aku." Katanya kepada dua orang temannya,


" Lalu membiarkan kau mengejar Anya dan membuat keributan di tempat lain? Ngga!"


" Ck. Aku hanya ingin mengelus pipiku, Gisel." Kata Enggar, " Pipiku sakit karena cubitannya."


Leo tertawa, " Pipimu merah. Pasti sakit, ya."


" Set*n itu!" Enggar mendesis, " Awas aja kalo kelihatan hidungnya."


"Jangan bikin keributan!" Gisel mengingatkan Enggar, sambil menempelkan telunjuknya di depan bibir, " Gara- gara kau, semua orang melihat ke sini."


" Gara- gara aku?" Enggar melempar tatapan galak, tidak terima disalahkan, " Jika bukan karena Anya,..."


" Ngga ada yang salah dengan kata- kata Anya, " Leo memotong sebelum Enggar menyelesaikan kalimatnya. Ia mendorong bahu Enggar pelan menuju kursinya untuk duduk kembali juga Gisel melalui isyarat matanya. tanpa berkata- kata, Gisel kembali ke kursinya dan duduk dengan patuh.


Setelah telah kembali ke kursinya minus Anya. Suasana tenang sejenak.

__ADS_1


" Anya adalah pemenang dalam permainan ini." Leo kembali bicara, matanya mengamati sahabatnya satu demi satu dan berakhir pada Enggar yang duduk di sebelahnya. Mereka saling bertukar pandang." Peraturannya sudah cukup jelas. Siapa yang menang, dia berkah menentukan hukuman untuk yang kalah." Jeda lima detik, sebelum kembali meneruskan, " Ini hanya permainan, seharusnya fun. Anya sudah memberitahumu apa yang harus kau lakukan. Suka atau tidak suka, kau adalah pihak yang kalah di sini. Otomatis kau ngga punya hak bersuara, apalagi menolak."


Di antara empat sahabatnya, Leo adalah yang paling irit bersuara, paling diam, dan paling sedikit berekspresi. Tapi sekali dia buka suara, dia akan menjadi tegas dan sedikit berwibawa. Enggar yang jago berdebat harus menahan dirinya untuk bersuara.


Di kelompok, Leo seperti rambu- rambu lalu lintas. Ia memiliki otoritas untuk mengatur tiga warna di dalamnya.


Enggar mendesah, sulit menerima kenyataan jika dirinya kalah." Tapi aku hanya main- main waktu mengatakannya, Leo. Anya menggunakan kata- kataku itu sebagai hukuman. Bukankah dia hanya sedang membalasku?!"


" Menurutku hukuman itu baik- baik saja." Leo hanya menanggapinya dengan santai, " Apa sih yang ngga kau bisa, Enggar?" Sebelah alis Leo naik, sedikit mengejek," Bukankah merayu Laki- laki sangat mudah bagimu? Jangan bilang kau kehilangan nyaliku?"


Nada itu jelas memprovokasi Enggar," Aku kehilangan nyali?" Ia menatap Leo lekat- lekat, " Apa aku kau sedang mengejek aku?"


Bahu Leo terangkat cuek, " Kalo berani, maka lakukan hukumanmu. Selesai."


Di lain tempat


Sembari mengusap- usap pinggang tempat cubitan Enggar menyakitinya, Anya berusaha mengatur napasnya yang memburu. Ia sudah menjauh dari area resto, dan sedang berada di lorong panjang menuju restroom.


Cewek iblis! Berani sekali mencubitnya. Jelas- jelas dia kalah darinya, masih tidak mau mengakui. Dan juga idenya cukup seru. Aku kan hanya mengikutinya saja. Bukannya senang, malah mengamuk. Dasar gila!"


Anya segera menundukkan kepalanya. Dadanya berdebar kencang. Wajahnya mulai memerah.


Remaja laki- laki berseragam pelayan itu seumuran dengan Anya. Namanya Kotaro, blasteran Jepang- Indonesia. Dia tinggal di sebelah rumahnya, walhasil Kotaro adalah tetangganya. Walaupun rumah mereka berdekatan, mereka tidak akrab satu sama lain. Kotaro dan saudaranya, Kaneka, begitu tertutup. Mereka jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar.


Anya menyukai Kotaro sejak mereka menjadi tetangga lima tahun lalu. Tapi cinta Anya bertepuk sebelah tangan. Jangankan membalas cintanya, Kotaro bahkan tidak pernah berbicara dengannya!


Cinta memang dapat membuat orang menjadi bodoh!


Ayah Anya membuka rumah makan Nusantara di area perumahan mereka. Ia hanya datang ke sana untuk membantu jika hari libur sekolah saja. Staff pekerja sudah cukup, sehingga tenaga pekerja tambahan seperti dirinya tidaklah diperlukan.


Suatu hari, saat ia berada di rumah makan ayahnya, sedang duduk di belakang meja, Kotaro datang. Tentu saja ia sangat terkejut melihatnya. Ayah melayani Kotaro dan mereka banyak mengobrol.


" Ayah, ayah kenal Kotaro?" Anya segera mendekati ayahnya ketika Kotaro telah pergi dengan membawa makanan di plastik.


" Kotaro?" Tanya ayah balik. " Tentu saja ayah kenal. Bukankah dia tinggal di sebelah kita. Bagaimana sih kamu."

__ADS_1


Anya garuk- garuk kepala, binggung harus memulai dari mana. Tidak mungkin kan ia memberitahu ayahnya jika ia naksir Kotaro. Apa kata ayahnya nanti?


" Memangnya kenapa?" Melihat Anya yang benggong sedikit linglung, ayah menatap Anya lekat- lekat. " Anya, ada apa? Kenapa seperti anak hilang begitu."


" Ih, ayah, apaan sih..."


Ayah tertawa, " Apa anak ayah sudah mulai naksir sama cowok?"


" Eh," Anya mendelik kaget, " Ayah sembarang aja kalau ngomong. Siapa yang naksir Kotaro. Anya cuma nanya aja,..."


Kepala ayah manggut- manggut, " Jadi Anya ngga suka sama Kotaro. Padahal ayah suka sekali sama anak itu. Kotaro anak yang baik dan pekerja keras."


Dari ayahnya-lah Anya tahu kalau Kotaro bekerja selepas pulang sekolah. Ia bekerja di salah satu resto di ibukota. Anya mengajak teman- temannya untuk datang ke resto itu, dan tidak sengaja bertemu dengan Kotaro dengan seragam pelayan. Dia memang bekerja di sana.


Sejak saat itu, Anya dan sahabat- sahabatnya menjadikan resto itu tempat berkumpul mereka.


" Hei, kalian mau apa?!" Suara itu bagai jarum yang menusuk gelembung- gelembung lamunan Anya. Ia tersadar dengan terkejut.


Di depan matanya, Kotaro kini tidak sendirian lagi. Ada tambahan tiga pria asing bersama dirinya. Dua dari mereka bertubuh kokoh seperti prajurit. Bertampang dingin dan mengenakan jas hitam. Sementara satu orang lain, bertubuh super besar, baik ke atas maupun ke samping.


Entah dari mana ketiganya muncul. Anya tidak sempat berpikir ke arah sana. Yang pasti saat ini dua dari tiga pria itu terlihat memegangi lengan Kotaro dengan kuat, seperti penahannya untuk kabur. Satu pria yang tersisa segera membuka pintu toilet lebar- lebar.


Dua pria itu menarik paksa Kotaro ke dalam toilet. Tubuh Kotaro meronta- ronta, tapi sepertinya sia- sia. Kedua pria itu terlihat kuat menahan dirinya.


Begitu ketiganya hilang ke dalam toilet, pria yang memegang handle pintu segera ikut menyusul masuk.


Anya menangkap seringai jahat di bibir pria itu, sebelum sosoknya yang besar hilang dan pintu toilet tertutup. Bulu di belakang leher Anya berdiri ketakutan.


Siapa Mereka? Untuk apa mereka menyeret Kotaro kedalam toilet?Mungkinkah mereka akan menyakiti Kotaro di sana?


Membayangkan cowok yang dia taksir habis dipukuli di dalam toilet, Anya langsung kuatir. Ia harus menolong Kotaro. Harus!


Anya buru-buru mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang,...


🌴🌴🌴

__ADS_1


__ADS_2