JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 18 Efek Gunung Salju (2)


__ADS_3

Melirik sekilas file yang tergeletak di atas meja, Milan membisu beberapa saat.


Ia sudah menduga jika Anom , pria yang menjadi pelabuhan hatinya kelak, memiliki identitas lain yang tidak biasa. Pria itu sangat tertutup dan terkesan menjaga jarak dalam kesehariannya. Tidak ada yang menarik perhatian pria itu selain bisnisnya.


" Aku merasa cukup dengan informasi ini." Setelah diam merenung, Milan akhirnya angkat suara. Matanya yang cerah naik ke atas dan menemukan mata si pria informan, " Terima kasih untuk bantuan Anda."


Si pria informan sedikit linglung menatap mata indah wanita itu. Tertegun sesaat sebelum mendengus dalam hati.


Seseorang yang pada dasarnya selalu merasa kehausan, tidak akan pernah puas dengan segelas atau dua gelas air. Ia akan selalu meminta lebih dan lebih banyak lagi.


Wanita itu, topeng di wajahnya sangat sempurna. Tapi, kilat pada iris matanya tak dapat menyembunyikan kerakusan yang ada di baliknya.


Meski pun saat ini ia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi ia tahu, wanita itu tidak akan bersikap tenang lebih lama. Ia akan sabar menunggu, karena ia yakin saat itu akan segera datang.


" Baiklah." Si pria informan memperlihatkan seulas senyum. Ia telah menghabiskan kopinya. Dan sepertinya ia harus angkat kaki.


Berpengalaman dengan banyak klien membuat pria itu mampu membawa diri. Ia tetap berharap memiliki hubungan yang baik dengan semua kliennya, termasuk wanita itu.


" Nona Milan, Anda memiliki nomorku." Kata si pria informan, bangkit dari duduknya, " Jika kau membutuhkan jasaku, jangan ragu untuk menghubungiku. Sampai jumpa!"

__ADS_1


Milan tetap di kursinya, namun senyumnya melebar, menyampaikan keramahan, " Tentu saja. Saya akan mengingat Anda jika saya memiliki sesuatu. Hati- hati di jalan!"


Dan keduanya pun berpisah. Mata Milan mengikuti punggung pria itu keluar dari dari cafe. Detik berikutnya senyum ramah di wajah Milan langsung menyusut.


Dasar bajingan! Kau pikir aku bodoh? Berniat memerasku,.. jangan bermimpi!


Berkat pengalaman Milan banyak membaca situasi dan bertindak dengan sewajarnya. Ia muak dengan orang- orang yang mengambil keuntungan darinya. Berdalih membantu, toh pada akhirnya yang mereka inginkan adalah tubuhnya.


Kebencian Milan cukup beralasan, tapi ia tidak tahu bahwa hal itu tidak dapat ia hindari. Terlebih untuk mencapai ambisinya ia tidak dapat melakukannya sendiri. Terima atau tidak, ia membutuhkan orang- orang brengsek itu dengan imbalan apapun juga, termasuk tubuhnya tentu saja.


Meninggalkan Milan dengan kemarahan karena bertemu dengan salah satu 'tikus' di masa lalunya.


Hampir mendekati larut malam saat mereka menurunkan tunangan Sang Bos, Milan, di apartemen wanita itu. Sedikit percakapan antara Bos dan tunangannya, sebelum akhirnya mereka berpisah. Raut wajah Sang Bos sedikit aneh saat ia memasuki mobil. Alan hanya mengeryit melihatnya dari kaca spion, tapi tidak bertanya.


Ya, pria itu, Bos Alan, tidak lain adalah Kalingga Anom. Apa yang sedang berkecamuk dalam benaknya berkaitan dengan kejadian beberapa jam yang lalu di kantor polisi. Jika Alan mengatakan 'ada sesuatu yang tidak beres' dengan dirinya, itu sepenuhnya benar.


" Katakan." Anom tetap memejamkan mata, memberikan Alan izin untuk berbicara.


Alan mengawasi Sang Bos yang terpejam dari kaca spion. Walau pun ia tidak tahu apa yang meresahkan bosnya saat ini, ia akan tetap berbicara.

__ADS_1


" Tadi, selagi menunggu Bos dan Nona Milan di kantor polisi, saya melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Nona Puti,..."


Seperti terkena sambaran petir tepat di kepalanya, kata- kata terakhir dalam kalimat Alan membuat kedua mata Anom terbuka lebar.


Seandainya Alan tahu, jika selama ini pikiran Anom terkonsentrasi pada nama itu. PUTI. Ia begitu takut bahwa ia menjadi gila mulai hari ini. Sosok itu, bagaimana mungkin tiba- tiba muncul di hadapannya?


Bukankah wanita itu sudah tiada? Dengan jelas ia melihat gundukan tanah dan batu nisan dengan nama wanita itu di sana.


Apa sebenarnya yang terjadi?


" Lalu,..."


Alan meliriknya sekilas melalui kaca spion dan melanjutkan, " Bos, seandainya saya tidak mengenal Nona Puti dengan baik di masa lalu, mungkin saya tidak akan begitu peduli. Tapi Anda tahu sendiri bagaimana kami di masa lalu. Karena penasaran saya langsung mengejar dan memanggilnya. Dan, Bos, apa Anda tahu yang terjadi selanjutnya?"


Mata mereka tabrakan melalui kaca spion dengan dua arti yang berlainan. Alan dengan tatapan tak percaya dan memintanya untuk menebak sementara Anom dengan tatapan linglung karena 'penemuan' yang tak terduga.


" Apa?"


" Bos,... wanita yang wajahnya mirip Nona Puti tidak mengenali saya! Dia bahkan bertanya 'siapa saya."'

__ADS_1


🔆🔆🔆


__ADS_2