JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 20 Dari Mereka Kisah itu Berawal


__ADS_3

" Ma, di mana pembalutnya?" Setengah berteriak, Enggar berderap menunju kamar mamanya. Menyentak handel pintu hingga terbuka dan menerobos masuk.


" Coba kamu cari di laci nakas paling bawah." Balas Mama juga setengah berteriak dari arah dapur.


Ruangan tidur mama begitu luas dan berbau harum. Sudah ratusan kali Enggar masuk ke sana, hingga ia mengenal tempat itu dengan sangat baik.


Enggar hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena lupa membeli pembalut wanita, padahal periode itu dekat. Sekarang, ketika 'tamu bulanan'nya datang dia kelimpungan sendiri.


Untung saja mama memiliki beberapa sebagai simpanan. Jika tidak, situasinya akan menjadi ribet dan dia pasti akan menyusahkan mama.


Dengan langkah ringan Enggar memasuki kamar mama. Karpet tebal terasa lembut di telapak kakinya.


Karena sudah tahu apa yang dicari dan tahu tempatnya, Enggar langsung mengarahkan tungkai kakinya ke samping ranjang besar.


Berjongkok, Enggar meraih laci terbawah pada meja nakas lalu menariknya hingga terbuka.


Enggar menghela napas sembari mengucap syukur dalam hati. Mengintip ke dalam laci di dekatnya, dan menemukan beberapa bungkusan yang menumpuk di sudut terluar laci.


Awalnya Enggar hanya berniat mengambil dua bungkus pembalut dari tumpukan, namun sesuatu berwarna cerah menarik perhatiannya. Di bawah tumpukan, berlaku sebagai alas, terlihat seperti notebook kecil berwarna pelangi. Merah, kuning, hijau,....


Sekedar ingin tahu, Enggar menarik benda itu keluar dari laci. Kening mulusnya berkerut halus. Ternyata itu bukan notebook seperti dugaannya semula, melainkan album foto berbentuk buku tipis.


Lucu. Itu kesan pertama Enggar. Ia belum pernah melihat bentuk album foto mini menyerupai notebook sebelumnya.


Mereka memang memiliki banyak album foto. Tapi kebanyakan dari mereka berukuran super besar, dan semuanya tersimpan di ruang perpustakaan keluarga.


Album foto berukuran kecil ini, Enggar baru pertama kali melihatnya. Kenapa mama menyimpannya terpisah dari album foto yang lain? Apa keistimewaannya?


Seperti halnya dengan kulit buku, ketebalan sampul album itu kurang sama. Enggar berniat melihat- lihat isinya sekilas sebelum mengembalikannya ke laci.

__ADS_1


Tepat ketika sampul album terbuka, apa yang berada di baliknya serta merta membuat kedua mata Enggar terbelalak lebar.


" Ini, ini,..."


Lembar pertama, sepasang gadis cantik menyambut Enggar dengan senyuman lebar mereka. Yang membuatnya tersentak kaget adalah kemiripan di antara kedua gadis itu, seperti pinang dibelah dua. Alis,mata, hidung, hingga lengkungan bibir saat keduanya tertua, benar- benar serupa. Seperti bercermin dan melihat pantulan diri sendiri di sana.


Foto itu berukuran 4R, dengan kualitas gambar jernih dan tajam. Dua gadis itu berdiri berdampingan di pinggiran kolam dengan punggung menghadap hamparan biru air kolam nan cemerlang. Kedua tangan mereka terlipat dan dagu mereka menempel di atasnya.


Keduanya adalah gadis belia yang cantik. Iris mata kelabu begitu kontras dengan kulit putih mereka. Hidung mungil dan bibir tipis nan mengundang siapa pun untuk menyentuhnya.


Sekilas pandang, orang akan berpikir jika keduanya memiliki darah campuran. Tapi tidak. Keduanya asli Indonesia. Hanya suku campuran dari kedua orangtua mereka yang menghasilkan kecantikan dan keindahan keduanya.


Kedua gadis belia itu begitu muda. Namun pesona kecantikan mereka sudah terpancar membutakan mata. Mereka terlihat menikmati kebersamaan mereka.


Untuk sejenak Enggar terpaku melihat foto kedua gadis cantik itu. Ia memiliki kecantikan yang sama dengan mereka. Tentu saja. Enggar memiliki pertalian darah yang sama dengan keduanya.


Kabut bening melapisi kedua mata Enggar. Ada tumpukan batu menghimpit dadanya, membuatnya sesak dan sulit bernapas.


Jemari Enggar sedikit gemetar saat membuka halaman berikutnya.


Kembali, gadis muda yang sama, menyambut Enggar dengan tawa ceria mereka. Kali ini kedua gadis muda itu berpose dengan latar belakang pemandangan lampu- lampu yang berkelap kelip seperti bintang. Mereka berdiri bersisian dengan bahu saling menempel. Ada jagung bakar di tangan mereka.


Gumpalan air itu akhirnya tumpah, dan mengalir membasahi pipi Enggar. Tanpa suara ia menangis. Rasa kehilangan itu sangat besar ia rasakan. Kedukaan itu tiada berakhir dan terus menemaninya.


Dua gadis cantik di dalam foto itu, mereka begitu bahagia bersama. Kapan pun, di mana pun. Seperti pasangan soulmate yang tak dapat terpisahkan.


Enggar begitu membenci keduanya, karena mereka tidak membawanya ikut dalam kebersamaan mereka. Tapi Enggar juga mencintai keduanya, karena merekalah dia ada di dunia ini dan menjadi seperti sekarang ini.


Ia sangat merindukan salah satu dari mereka.

__ADS_1


Jemari Enggar bergerak kembali untuk membalik halaman berikutnya. Kali ini satu alis Enggar merangkak naik.


Foto itu memang berisi dua wajah, tapi bukan dua gadis cantik seperti dua foto sebelumnya. Itu adalah satu orang gadis dan satu orang pemuda. Gadis muda itu adalah salah satu dari dua gadis dalam foto sebelumnya. Mereka, gadis dan pemuda, sedang duduk di kursi besi dengan meja bulat di tengah mereka. Ada tumpukan buku, dua gelas minuman jeruk dan sepiring roti lapis yang menumpuk tinggi.


Wajah keduanya sama- sama menghadap kamera. Tidak satupun dari mereka yang tersenyum. Seakan kebersamaan mereka tertangkap basah orang lain yang langsung mengambil gambar keduanya.


Keduanya terlihat sedikit terkejut dan tak bisa mengelak.


Enggar mengamati dengan cermat wajah pemuda berkaca mata itu. Asing, Enggar tidak mengenal pemuda itu sama sekali.


Siapa dia?Apakah pemuda itu temannya? Atau, pacar? Ck. Enggar berdecak. Disadari atau tidak jiwa kepo nya muncul ke permukaan.


" Enggar, ketemu tidak pembalutnya?" Sebuah suara terdengar tiba- tiba, mengejutkan gadis itu. Ia nyaris melonjak dan menjatuhkan album mini dari tangannya.


Sepertinya ia terlalu lama berada di ruangan menyebabkan mama bertanya- tanya. Mungkinkah dia tidak menemukan 'benda' itu? Padahal ia sudah memberitahu letak 'benda' itu dengan jelas. Jadi, mustahil jika tidak menemukannya.


Seakan dapat membaca pikiran mamanya dari jarak jauh, Enggar buru- buru menutup album mini di tangannya dan mengembalikan ke tempatnya semula, di dalam laci.


" Sudah ketemu, ma." Jawab Enggar sedikit berteriak, perlahan bangkit berdiri.


Sejenak Enggar menyingkirkan dua wajah gadis dan seorang pemuda di foto dari pikirannya dan melangkah meninggalkan kamar tidur sang mama.


Enggar tidak mengetahui, aktivitas isengnya beberapa menit yang lalu, akan membuat hari- harinya ke depan menjadi lebih berwarna. Album itu dan orang- orang di dalamnya hanya awal untuk kisah baru dalam perjalanan hidupnya.


Setelah kehilangan salah satu dari gadis yang berada di dalam foto itu, tekad kuat Enggar adalah untuk membahagiakan gadis yang tertinggal di sana. Niat mulia Enggar itu sudah tertanam dalam hatinya bertahun- tahun lamanya.


Ia sudah berjanji dan akan menepatinya.


🔆🔆🔆

__ADS_1


__ADS_2