
" Puri!" Seorang pria tinggi besar berjas gelap mengangkat tangannya tinggi dan melambai, begitu melihat sosok wanita yang dia kenal muncul dari sudut area.
Ibrahim Maulana, atau bisa dipanggil Ibra. Dia adalah seorang pengacara terkenal dari perusahan NIAGARA Grup. Saat ini ia sedang menjalankan tugasnya, membantu putri bos-nya yang terkena masalah di kantor polisi.
Ibra akan berusia 43 tahun seminggu lagi. Di pertambahan usia, seseorang akan mengharapkan kebahagiaan hidup, memiliki kekuatan dalam menjalankan kerasnya hidup, dan menjadi lebih bijak berperilaku.
Barangkali hanya dua dari harapan untuk pria itu yang akan terwujud. Untuk kebahagiaan, lebih tepatnya ketenangan hidup, adalah suatu hal yang mustahil. Mengingat profesi dan pekerjaannya sekarang.
Sudah satu jam lebih ia berada di kantor polisi. Naran, bos sekaligus sahabatnya, menghubunginya dan memberitahunya jika putri sulungnya berada di kantor polisi. Ia harus datang dan mengeluarkan gadis itu dari sana. Naran saat ini berada di luar negeri untuk satu urusan bisnis, sehingga tidak mungkin kembali dalam waktu dekat.
Putri Naran, Enggar, benar- benar hobi membuat ulah. Bukan sekali ini saja Ibra harus mewakili Naran untuk 'mengurus' gadis itu. Naran kewalahan menghadapi sikap pemberontak anaknya sendiri. Namun, seperti ayah kebanyakan yang sangat mencintai anaknya, ia tidak berdaya untuk berperilaku keras.
Mendengar seseorang memanggil namanya, Puri yang baru saja melangkah keluar dari lapangan parkir di samping kantor kepolisian, mengangkat kepalanya.Tidak butuh waktu lama untuk mencari keberadaan pemilik suara itu. Hanya lima detik pertama ia sudah menemukannya.
Dengan penampilan Ibra yang tinggi besar, orang mungkin akan tertipu olehnya dan berpikir jika ia adalah salah seorang petugas kepolisian. Dia bahkan sangat cocok menjadi petugas.
" Hai, Ibra!" Dalam setengah lusin langkah Puri sudah tiba di depan pria itu. Mereka saling menukar senyuman dan mengulurkan tangan. Tangan besar Ibra mengenggam tangan Puri yang mungil.
" Bagaimana kabarmu, Puri?" Itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Ibra. Mengamati wanita itu sekilas, ia tidak menemukan banyak perubahan yang berarti. Di matanya, wanita itu selalu mempesona.
Dia t**etap sama, tidak berubah sedikitpun. Kecantikan tenang yang selalu memiliki dunianya sendiri.
" Kau bisa melihat, bukan. Aku sehat." Puri menjawab dengan lugas, tetap dengan senyum tipis. Sepertinya mengamati satu sama lain mereka lakukan secara diam- diam.
" Sepertinya kau yang berubah banyak, Ibra." Puri meneruskan, " Kau terlihat stres sekali. Jika pekerjaanmu berat dan membuat kepalamu pecah, kenapa tidak cari profesi lain?"
Ibra terkekeh, " Senangnya seseorang memperhatikan kesehatanku. Seandainya kau mau mengikat diri denganku, mungkin beban hidupku akan hilang."
" Seseorang tanpa nama." Puri berpikir sejenak, " Apakah aku harus bertanya kepada Amanda, siapa seseorang itu? Mungkin dia tahu."
Amanda adalah istri Ibra, wanita yang telah dinikahi pria itu selama 10 tahun ini.
" Wah! Kau benar- benar tidak berubah sedikit pun, ya. Tidak asyik, sama seperti dulu."
Pundak ramping Puri terangkat dengan santai, " Kau tahu aku, kenapa masih terkejut seperti itu. Lucu."
Keduanya menghentikan obrolan ringan mereka, dan melangkah bersama memasuki pintu kantor polisi. Senyum yang beberapa waktu lalu tercipta di wajah mereka kini menghilang, berganti dengan raut serius.
__ADS_1
" Bagaimana situasinya?" Walaupun mata Puri bergerak mengawasi di sekitarnya, melihat sekilas kesibukan beberapa petugas polisi di balik meja mereka, ia menanyakan situasi terakhir gadis itu, Enggar.
" Gadis itu benar- benar nakal. Dalam setahun ini sudah enam kali aku harus membereskan masalah yang dibuat olehnya."
Dalam hati Puri tersenyum sedih, Gadis itu sangat mirip dengan ibunya. Tukang bikin masalah!
" Meskipun ulahnya kali ini tidak serius, tetap saja dia membuat orang lain merasa dirugikan." Lanjut Ibra. " Surat jaminan sudah siap, kau hanya tinggal menandatanganinya saja."
" Seperti yang kau tahu, gadis itu, meskipun impulsif, apa yang ia lakukan selalu memiliki alasan. Kenapa dia menyiram wanita itu dengan air?"
" Itulah yang harus kau tanyakan kepadanya, Puri." Sahut Ibra, meliriknya dengan penuh pengertian," Dalam laporan, ia mengatakan jika ia tidak sengaja terpeleset dan menumpahkan air di kepala wanita itu." Ibra berdecak, sedikit jengkel, " Biasakan kau mempercayai alasan klise seperti itu?"
" Hmmm,..." Puri hanya bergumam tanpa memberikan komentar.
" Sebelum pergi Naran menerima beberapa kali panggilan dari sekolah Enggar. Gadis itu selalu membuat masalah dengan teman- temannya."
" Hanya itu yang bisa dilakukan anak- anak untuk mendapat perhatian papanya." Ucap Puri, seperti tengah memikirkan sesuatu. " Tentang kelakuan Enggar Akhir- akhir ini, kenapa kalian tidak memberitahuku?"
" Naran hanya tidak ingin membuatmu pusing." Kata Ibra sambil menghela napas, " Apalagi alasannya."
Meskipun terkejut mendengar makian wanita itu, Ibra tidak dapat menyanggah apa- apa. Naran memang bos dan juga ayah Enggar, tapi banyak hal mengenai kekeraskepalaan Naran yang sangat ia kenal dan hal itu membuat kesulitan bagi sebagian besar hidupnya.
Mereka melangkah menyusuri lorong selama lima menit, melewati ruang demi ruang dengan banyak anggota petugas di dalamnya. Di pintu yang terbuka di sebelah kiri, Ibra memperlambat langkahnya, secara otomatis Puri ikut berhenti. Tubuh Ibra sedikit miring untuk melihat Puri
" Wanita itu, yang telah melaporkan Enggar, agak sedikit emosi. Karena pihak yang bersalah di sini adalah Enggar, sudah seharusnya pihak kita meminta maaf. Bisakah kau mewakili untuk melakukan itu?
Tersenyum tipis," Ya, akan aku lakukan."
Senyum yang sama tulusnya mengembang di wajah Ibra. Berjalan memimpin ia melangkah masuk ke dalam ruangan,
" Pak polisi, saya membawa orangtua gadis itu,...
***
Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Tiga pria berdiri mematung untuk sekian detik, seakan tersihir dengan insiden di depan mereka, sebelum akhirnya bergerak cepat untuk membantu 'sang korban'.
" Ups, maafkan aku. Aku terpeleset karpet dan tidak melakukannya dengan sengaja,...."
__ADS_1
Sementara 'sang pelaku', seorang gadis, ia melompat mundur. Gerakannya terlihat santai, tidak sedikit pun gugup.
Para pria dewasa di depannya melempar tatapan ke arahnya. Keterkejutan, heran, dan juga kebinggungan terlihat jelas di sana. Mereka masih dalam fase memahami situasi.
Menerima banyak tatapan mata, gadis itu segera mengkerutkan wajahnya, menghadirkan ekspresi kecemasan dan rasa bersalah.
" Aku minta maaf,"
Milan, dengan kepala, wajah dan sebagian tubuh bagian atasnya basah kuyup berbalik cepat. Rasa malu yang ia dapatkan membangkitkan amarahnya. Ia tidak terima!
Saat pandangan mata keduanya bertabrakan, pupil Milan melebar, terpana dengan apa yang ada di depannya.
Manik kelabu gadis itu memiliki aura jahat yang terpuaskan. Hanya Milan yang tahu apa artinya.
" Gadis brengs*k! Kau cari mati, ya?!"
Gadis itu adalah Enggar. Julukannya adalah pembuat onar!
Sebut ekspresi apa yang tidak dapat dilakukan gadis itu. Kerut ketakutan, rasa bersalah, kecemasan? Itu bukan apa- apa. Ia memiliki gudang ekspresi di benaknya yang semuanya dengan mudah ia mainkan.
Ketiga ekspresi tersebut yang sebelumnya ia perlihatkan di depan pria- pria dewasa itu, menghilang dan berganti ke ekspresi yang sama sekali berbeda di depan Milan. Seperti rubah, gadis itu tengah mengejeknya.
Milan terkejut untuk sesaat. Kebinggungan melandanya. Bagaimana mungkin gadis itu memiliki keberanian yang besar untuk bertindak melawannya?!
" Tante, aku minta maaf." Suara gadis itu terbata- bata, sarat rasa bersalah, " Aku benar- benar tidak sengaja melakukannya."
" Kau,..." Milan segera keluar dari keterkejutannya. Gadis itu ternyata pintar sekali berakting. Ia, Milan, juga tidaklah bodoh dan mudah dibodohi. Gadis ingusan itu benar- benar cari penyakit dengannya. Lihat saja, sampai mana senyum kepuasan itu ada di wajahnya.
" Apakah kau tahu jika tindakanmu ini dapat membawamu dalam masalah besar?" Sembari mengeringkan wajah basahnya dengan tisu, Milan berkata. Kemarahan dalam dirinya masih besar, namun dapat ia kendalikan untuk tidak menjadi liar. Pengalaman hidup banyak mengajarinya untuk menyalurkan amarah pada tempat- tempat yang tepat.
Namun, Enggar juga bukan gadis penakut. Kalimat mengancam Milan hanya mendapat sambutan dingin darinya.
" Tante, apakah aku terlihat ketakutan mendengar ancamanmu?" Tidak berharap gadis itu akan teguh akan keberanian yang dimilikinya. " Kau yang memulai ini terlebih dahulu padaku, apakah kau sudah lupa?!"
Mata Milan melebar, " Kau berani sekali,..."
🌵🌵🌵
__ADS_1