JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 08~ Alasan yang Sesungguhnya


__ADS_3

Lima menit lamanya Enggar tengelam dalam tangisan. Menggunakan saputangan yang diberikan pengacara Ibra kepadanya untuk menghapus air matanya dan juga menyusut ingusnya.


Ibra merasakan kantong celana sampingnya bergetar. Ia yakin itu pasti dari Naran.


Mustahil beranjak pergi untuk menerima telpon karena Enggar masih terisak- isak. Akhirnya, dengan tangan kiri masih merangkul gadis itu, tangan kanan Ibra merogok kantong celana, dan mengeluarkan ponsel hitamnya. Dua belas digit angka muncul di layar ponselnya.


Nomor tak dikenal,...


Saat ini ia sedang menunggu telpon dari Naran atau Puri. Selain mereka berdua, ia tidak terpikirkan orang lain akan menghubunginya menjelang tengah malam seperti ini.


Kerutan halus muncul di dahi Ibra. Sembari menebak- nebak buah manggis, siapa selain mereka berdua yang menelponnya dengan nomor tak dikenal, jarinya menekan tombol terima, " Halo,..."


" Ibra, ini aku, Puri."


" Puri?" Tertegun sejenak, " Nomor baru?"


" Nomor lamaku hangus dua minggu yang lalu." Suara itu terdengar santai, " Aku masih di jalan. Sepuluh menit lagi aku sampai. Bisa kau jemput aku di pintu masuk? Kita harus bicara sedikit."


" Aku akan menunggu. Jangan terburu- buru, berhati- hatilah berkendara. Tutup ponselmu sekarang."


" Oke." Puri, wanita itu saat ini berada di balik kemudi, telah meninggalkan garasi rumahnya dan sedang melaju di jalan raya. Berniat mengakhiri pembicaraan dengan Ibra untuk lebih berkonsentrasi menyetir, tanpa sengaja telinganya menangkap suara Isak tangis di dekat Ibra. Jantungnya serasa berhenti berdetak.


Mungkinkah Enggar sedang menangis di sana


" Ibra,.. aku mendengar suara Isak tangis di dekatmu. Siapa yang menangis di sana, Ibra? Apakah itu Enggar? Apakah dia sekarang sedang menangis?"


Pria itu tak ingin menyembunyikan apa- apa dari Puri, karena itu ia mengangguk mengiyakan, " Iya. Putrimu sedang menangis di sini. Aku sedang mencoba menenangkannya."


Shitt!!!


" Apakah para petugas polisi melakukan sesuatu kepadanya, Ibra? Kenapa dia menangis?"


Ibra melirik sekilas ke bawah, sedikit mengerutkan hidung jijik karena melihat Enggar tengah sibuk menyusut ingusnya dengan saputangan, " Entahlah, aku juga belum tau kenapa ia menangis. " Ibra menjawab, " Tak lama aku datang, tiba- tiba saja dia menangis. Nanti akan aku tanya. Lebih baik kau hati- hati di jalan. kabari aku jika sudah tiba, aku akan menjemputmu."


" Baiklah." Puri mengiyakan di tempat lain, " Katakan kepada Enggar bersabar sedikit lagi. Aku akan datang."


" Oke."


Dan komunikasi berakhir.


" Apakah itu mama Puri?" Di sela Isak tangisnya, Enggar mendengarkan percakapan Ibra. Ia mengenali suara bening dan tajam seorang wanita di sana. Dirinya yakin jika itu adalah mamanya.


Suara mama seperti obat, tangisnya lambat lain mereda. Ia sangat merindukan mamanya.


" Iya. Mamamu masih di jalan. Sebentar lagi tiba."


Dua belas menit kemudian


Kedatangan Ibra bersama seorang wanita satu langkah di belakangnya membuat Petugas Wayan bangkit dari duduknya. Enggar juga mengangkat wajahnya dan terlihat rasa sukacita di sana.

__ADS_1


" Mama!"


Puri menemukan gadis itu. Dadanya sakit melihat muka sembab dan mata bengkak Enggar.


" Sayang." Ibu dan anak itu langsung berpelukan." Tenang, mama sudah ada di sini." Bisik Puri menyejukkan hati.


Interaksi kedua ibu dan anak itu menjadi pusat perhatian orang- orang yang berada di ruangan. Semua mata mengarahkan pandangan mereka, baik secara sembunyi- sembunyi seperti yang dilakukan Petugas Malik dan rekannya, juga secara terang- terangan, seperti Petugas Wayan, Ibra, Milan dan juga Kalingga.


Untuk yang terakhir, tidak satupun yang menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya.


Setelah dirasa cukup, Puri melepaskan pelukan mereka. Memberi isyarat agar Enggar duduk dan menunggu.


" Selamat malam, Pak Wayan!" Puri mengeser tubuhnya, ke depan Petugas Wayan dan mengulurkan tangannya, " Saya minta maaf karena sudah membuat Anda menunggu."


Petugas Wayan menemukan bahwa wanita cantik di depannya ini memiliki manik kelabu yang sama dengan remaja perempuan itu. Sangat unik. Seperti mata kucing.


Manik- manik itu seakan menarik dirinya, seperti magnet menarik potongan besi dan jarum di sekitarnya, membuat Petugas Wayan tertarik ke arahnya tanpa ia sadari.


" Kami tidak menunggu terlalu lama, Ibu Puri." Kata Petugas Wayan melebarkan senyumnya, berharap penampilannya masih apik dan mempesona wanita itu." Mungkin saya yang harus berterima kasih karena respon cepat Anda. Tidak menunda- nunda dan segera datang ke sini."


Membalas keramahan itu, senyum Puri juga mengembang tipis, " Siapa pun akan melakukan hal yang sama, Petugas Wayan." Katanya, " Terlebih lagi, putri saya masih di bawah umur. Ini adalah pertama kalinya ia berada di sini. Katakan, ibu mana yang tidak menjadi kuatir?"


Milan, yang sedari tadi hanya duduk diam mendengarkan sedikit jengkel karena merasa terabaikan. Sepertinya wanita itu mencoba menarik simpati Petugas Wayan.


Mendengus rendah, Milan perlahan bangkit dari duduknya. Sepertinya ia harus menegur wanita itu juga.


" Oh, jadi Anda adalah ibunya." Milan menyela pembicaraan basa basi wanita itu dengan Petugas Wayan." Apakah Anda tahu, apa yang dilakukan anak nakal Anda?"


Dua wanita, Sama- sama cantik, langsing dan mempesona, bertemu muka untuk pertama kalinya di tempat itu. Manik kelabu Puri menatap datar manik hitam legam Milan.


Saling mengukur kemampuan satu sama lain.


" Apakah Anda tidak tahu, memotong pembicaraan orang lain itu tidak sopan?" Kalimat itu keluar dari bibir Puri, begitu mengigit, seperti sedang menegur anak yang nakal.


Semburat merah melapisi wajah Milan. Siapa menyangka wanita itu malah menggigitnya balik. Sial!


" Aku yang menjadi korban kenakalan putrimu. Bukankah seharusnya kau minta maaf kepadaku terlebih dahulu?" Mengabaikan rasa malu, Milan berniat membalasnya. Wanita itu sudah berani mempermalukannya di depan Anom!


Merasakan niat Milan, Puri tersenyum dalam hati. Wanita, hai wanita. Kau belum tahu siapa lawanmu ini.


Mundur selangkah, Puri memberikan ruang di antara mereka. Matanya menelisik tubuh Milan, dari kepala hingga kaki, seperti mesin pemeriksa tubuh. Terlihat serius dan bersungguh- sungguh.


" Di mana persisnya Anda terluka?"


Milan terkejut oleh pertanyaannya, " Aku tidak terluka, tapi,.."


" Syukurlah." Puri memotong kalimatnya cepat, terlihat penuh kelegaan, " Saya lega ternyata Anda baik- baik saja. Saya sudah berpikir Anda berada di rumah sakit dengan banyak perban menutupi kepala dan wajah Anda."


Milan menyela, " Aku sudah bilang, aku tidak terluka,.."

__ADS_1


Nada sengit Milan seakan menekan tombol emosi Puri. Dalam hitungan detik, keramahan dan kelembutan di Wajah wanita cantik itu menghilang.


Tiada lagi senyum yang menghiasi wajahnya. Alis hitam Puri mencuat dari tempat, ekspresinya dingin dan keras. Manik kelabunya kian tajam menatap Milan,


" Di dalam hidup, siapa yang tidak pernah terpeleset, terjatuh, tersandung dengan tidak sengaja? Apakah Anda tidak pernah mengalami hal- hal itu seumur hidup Anda?"


Milan membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu,


" Saya berani pastikan, Anda pernah mengalami semua itu, bukan?" Puri tak memberi kesempatan wanita itu bersuara, " Untuk ketidaksengajaan yang tidak berdampak apa- apa pada tubuh Anda, apakah perlu menyeret putri saya yang masih di bawah umur ke kantor polisi? Tidakkah ini sangat berlebihan menurut Anda?"


Seperti tersengat lebah, kata- kata Puri merobek kesabarannya,


" Berlebihan?!" Milan menatap bodoh Puri sesaat, " Putri anda jelas melakukan ini dengan sengaja!"


" Apakah Anda yakin putri saya mengatakan itu?"


Milan mendengus, " Tentu saja dia tidak akan mengakuinya,..."


" Sejauh mana Anda mengenal putri saya?" Tanyanya lagi, " Apakah Anda mengenal putri saya lebih baik dari saya, ibunya sendiri?"


" Apakah saya harus menjawab pertanyaan bodoh Anda?"


Puri mengangguk yakin, " Tentu saja Anda harus menjawab pertanyaan 'bodoh' itu, karena sepertinya Anda mengenal putri saya dengan sangat baik. Saya sudah membesarkannya selama lima belas tahun selama ini dan tidak bisa mengenali putri saya sendiri. Sedangkan Anda, berapa kali Anda bertemu dengan putri saya?" Puri menggerakkan alisnya, " Sekali, dua kali, atau berapa, katakan?"


Jelas bahwa Puri ingin memperpanjang masalah ini, Milan mulai mengerti. Karakter Puri cukup mengesalkan. " Sepertinya memang Anda tidak mengenal putri Anda dengan cukup baik, Nyonya." Tukas Milan, mulai turut bermain, " Terkadang ibu yang melahirkan dan membesarkan anak, tidak benar- benar memahami anaknya sendiri."


" Apakah Anda berbicara tentang diri Anda sendiri?"


Milan lagi- lagi seperti tersengat listrik. Ia pikir kalimat balasan yang ia lontarkan akan menohok hati wanita itu, menciptakan sakit hati, tapi ternyata ia mendapat kembalian yang lebih menusuk.


" Kita sedang membicarakan putri Anda, Nyonya, bukan saya." Tangan Milan mengepal, jelas menahan emosi, " Saya pastikan putri Anda telah berbohong, dan melakukan itu dengan sengaja. Saya memang tidak menderita luka-, tapi saya malu, sangat malu. Putri Anda melakukannya di hadapan tunangan saya dan teman- temannya. Jika saya tidak terima dan melaporkan itu, itu hak saya sebagai warga negara."


" Lalu, untuk apa putri saya melakukan itu?"


" Tanyakan saja sendiri kepadanya, karena dia tidak akan mengatakannya kepada kami."


Puri lalu berpaling ke arah gadis yang duduk mendengarkan di kursi, " Sayang, bisa kau jelaskan, jika memang kau sengaja melakukan itu, untuk alasan apa?"


" Bukankah Tante lebih tahu daripada aku. Kenapa tidak menjawabnya langsung di depan mama?"


Kepala Puri kembali menghadap Milan, " Kau dengar itu?" Katanya," Sepertinya kalian berdua menyimpan rahasia. Melihat kepribadian putriku, dia tidak akan melakukan sesuatu hal tanpa sebab. Ayolah, lebih baik katakan kepadaku, ibunya, ada masalah apa di antara kalian?"


Seperti binatang yang terpojok, itulah yang dirasakan Milan. Gadis itu, benar- benar akan menciptakan kehancuran kedua dalam hidupnya.


Semua perhatian kini tertuju kepada Milan. Rahasia apa yang tersimpan


Terdengar suara lidah berdecak dari kursi Enggar. Keraguan Milan terlihat jelas oleh orang- orang di sekelilingnya dan itu membuat Enggar kesal. Wanita ular penuh topeng kemunafikan.


" Tante ini adalah orang yang telah membuat keluargaku berantakan bertahun- tahun yang lalu." Akhirnya Enggar angkat suara, menatap penuh kebencian ke sosok Milan," Orangtuaku harus berpisah untuk selama- lamanya, dan aku dan papa yang harus menderita pada akhirnya."

__ADS_1


🐢🐢🐢


__ADS_2