
Orang bijak akan selalu mengingat untuk tidak menilai seseorang melalui penampilan luarnya, karena sering kali penampilan luar itu tidak mencerminkan apa yang ada di dalamnya.
Baik atau buruk, pintar atau bodoh, kaya atau miskin, semua itu dapat menyembunyikan diri dengan baik. Hanya orang yang memiliki intuisi tajam yang dapat melihatnya hanya dengan sekali pandang.
Namun, orang jenius semacam itu sangatlah langka.
Jack, pria dengan tingkat senioritas lebih tinggi dari tiga pria lainnya merasa salah perhitungan kali ini. Dia terlalu percaya diri dan menganggap sosok remaja cantik di depannya hanyalah remaja lemah yang mudah ditanggani.
Nyatanya, ia salah besar!
Gadis remaja itu cukup cerdas dan memiliki keberanian yang besar. Dia bukan kelinci lucu tapi singa betina yang garang.
Semalam, ketika Jack tengah minum- minum bersama anggota di ruangan peristirahatan, masuklah pria bertubuh beton menemui mereka. Jack dan anggota lainnya langsung menyambutnya dengan penuh hormat,
" Senior Banu!"
" Senior Banu, ...selamat datang!"
" Wah, Senior Banu datang ke sini! Sungguh kehormatan besar bisa didatangi oleh Anda, senior!"
" Hm," Dibandingkan saudara kembarnya, Balu, ia jarang sekali berinteraksi dengan orang lain. Ia terlalu introvert dan sangat anti sosial.
Menghadapi para Junior yang memuja dirinya bak dewa, Banu sama sekali tidak memperlihatkan senyum. Ekspresinya tetap seperti batu.
Selusin pria bertubuh perkasa berdiri tegap layaknya gunung. Mereka siap mendengarkan apa yang ingin disampaikan senior mereka itu.
" Tim Viper, berkumpul di halaman gedung Orcid dalam sepuluh menit! Ada tugas untuk kalian!"
" Braaakkk!"
" Siap, Senior!" Suara berdebum berasal dari enam pria,Tim Viper, yang menghentakkan satu kaki mereka dengan penuh semangat ke lantai. Lalu mereka undur diri dari ruangan satu demi satu. Kurang dari lima menit Tim Viper sudah menghilang dari ruangan.
Enam pria tersisa masih berdiri sekokoh gunung di depan Banu, siap menerima perintah.
__ADS_1
" Jack," Banu menatap pria yang berdiri di sebelah kiri dirinya. Mata hitam mereka bertemu. " Bawa tiga orang dari tim-mu besok. Aku punya tugas kecil untuk kalian."
" Siap, senior!" Bukan tempatnya untuk menanyakan hal- hal di luar wewenangnya, termasuk tugas- tugas apa yang diberikan kepadanya. Ia tumbuh dalam jaringan bawah tanah yang membutuhkan kesetiaan dan integritas.
Seperti Banu, Jack ingin mengabdikan hidupnya di sana. Jiwa dan raganya. Tanpa ragu, sedikit pun.
Jack ingat dengan jelas setiap perkataan seniornya Banu mengenai tugas yang diberikan kepadanya pagi ini.
" Tangkap gadis ini dan bawa dia ke sini. Aku melarang kalian menggunakan kekerasan terhadapnya. Kau mendengarku, Jack?"
Jack menerima sehelai foto dari seniornya Banu dan melihatnya jika itu adalah gadis remaja. Cantik, sangat menawan.
" Apa yang kau pikirkan, Jack?" Suara Banu terdengar dingin, melihat keheningan juniornya. " Itu hanya gadis remaja, bukan lawan yang harus kau waspadai. Aku pikir bukan masalah untuk membawanya, kan? Atau kau tidak sanggup,.."
" Sama sekali tidak, Senior Banu." Jack tidak ingin pria itu salah mengartikan sikap diamnya. Ia hanya menemukan gadis remaja itu menarik dan terpukau untuk sejenak. Tidak ada maksud apa- apa.
" Lalu kenapa kau seperti patung menatap foto itu?Oh, apakah kau tertarik dengan gadis remaja itu, Jack,..."
" Bodoh! Aku hanya memintamu untuk membawanya. Apa kau mendengarku ingin membunuh gadis ini, Hah?!"
" Tidak, Senior Banu. Tapi,.."
" Bawa gadis itu ke sini tanpa cacat. Jalankan perintahku, Jack. Apa kau dengar?!"
Di bawah tatapan tajam Banu, Jack akhirnya terpaksa patuh.
Dia hanya harus membawanya, tidak membunuhnya. Di mana letak bahayanya? Jelas tidak ada.
Tapi sekarang, Jack harus menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya. Gadis itu memang tidak berbahaya, namun dia merepotkan.
Sepasang manik kelabu tanpa kenal takut melotot menatapnya. Begitu garang, seperti macan betina yang terganggu karena anak- anaknya akan diambil darinya.
Senior Banu, Anda salah besar. Gadis remaja itu bukan kelinci jinak yang dapat kau bawa dengan mudah. Kukunya sangat tajam dan beracun.
__ADS_1
" Siapa kalian?" Enggar menyadari betapa berbahayanya situasinya saat ini. Berada di jalan tanpa seorang pun yang terlihat, kecil kemungkinan seseorang datang untuk menolongnya.
Keempat pria besar itu sama sekali bukanlah lawannya. Meski ia sudah berhasil memukul tiga orang dari mereka dengan kunci Inggris di tangannya, tapi itu bahkan bukanlah apa- apa.
Mereka tidak terlihat seperti preman jalanan yang bertampang kucel dan lusuh. Satu dua pukulan tidak ada artinya bagi mereka. Pukulan Enggar hanya membuat mereka terkejut tapi tidak melumpuhkan. Perlawanan Enggar hanya akan membuat mereka waspada kepadanya.
Tentu saja Enggar takut dengan situasi ini. Ia tidak pernah terlibat dengan orang- orang seperti mereka sebelumnya. Mereka seperti mafia atau sekelompok pembunuh profesional.
Ya, ampun. Siapa yang telah ia singgung sampai sakit hati dan memiliki dendam kepadanya,...
Walau di dalam hatinya sangat takut, Enggar tidak memperlihatkannya. Wajahnya tetap keras, dingin dan sorot matanya begitu galak. " Siapa yang menyuruh kalian untuk membawaku, katakan?!"
Melihat gadis remaja itu menjaga kewaspadaannya, Black merasa pahit di dalam hatinya." Sebaiknya Anda ikut dengan kami, Nona, karena kami sama sekali tidak ingin menyakiti Anda." Black tidak menjawab pertanyaan Enggar, melainkan menekankan kembali maksudnya.
" Bajingan! Kau pikir aku akan membiarkanmu membawaku begitu saja? Kau pikir aku akan diam saja dan membiarkan kalian membawaku? Maju kalau berani, akan aku bunuh kalian semua!"
Jack melihat gadis remaja itu memegang kunci Inggris dengan kedua tangannya, seperti pemain bisbol.
Ancaman gadis remaja itu seperti permen kapas bagi mereka berempat. Meringkusnya sangat mudah, meski itu akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama.
Seperti kata Jack, gadis remaja itu sangat merepotkan.
" Brother Jack, jangan menunda waktu." Satu rekannya, Bear, berbicara pelan." Akan tambah merepotkan jika ada yang datang untuk ikut campur."
" Benar, Brother Jack. Gadis itu hanya ingin mengulur- ulur waktu. Jangan terkecoh."
Jack mendengus. " Baiklah. Ringkus dia dengan cepat."
" Kalian pikir aku tidak berani membunuh kalian, Hah?!" Enggar menahan ketakutannya sekuat- kuatnya melihat keempat pria besar itu bergerak bersamaan ke arahnya. Mereka mengepungnya, sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk melarikan diri.
" Maafkan kami, Nona. Karena Anda tidak ingin ikut secara sukarela, kami dengan berat hati memaksa Anda untuk ikut kami,..."
🍁🍁🍁
__ADS_1