
Apa yang belum diketahui Alan adalah bahwa Anom mengalami hal yang kurang lebih serupa dengannya. Keterkejutan yang sama, bahkan lebih, karena kemunculan seseorang yang tiba- tiba di depan matanya.
" Apakah wanita itu mengenakan dress selutut gelap dengan mantel rajutan berwarna terang?" Tanya Anom, mengkonfirmasi. Seandainya Alan tahu jika sampai saat ini dirinya masih mengalami efek kejutan, mati rasa di seluruh tubuh karena pertemuan dengan seseorang dari masa lalu.
Masih dalam keadaan setengah linglung, Anom memberikan gambaran sekilas wanita kepada Alan. Ia berharap jika mereka membicarakan wanita yang sama, sehingga ia tidak merasa seperti sedang bermimpi.
Ya, sosok wanita itu sangat terganggu kewarasan Anom.
" Wah!Bos, bagaimana Anda tahu?!" Reaksi Alan begitu bersemangat, " Apakah Anda melihat wanita itu juga?"
Anom menghembuskan napas lega. Jawaban Alan seperti obat untuk ketakutannya. Ia berpikir dirinya gila, karena melihat sosok wanita itu, tapi ternyata tidak. Sosok itu nyata, dan Alan juga melihatnya.
" Ya, aku melihatnya." Jawab Anom.
Akhirnya Anom menceritakan apa yang terjadi di dalam kantor polisi tadi. Ia bersama Milan dan juga gadis remaja itu. Mereka di sana karena Milan melakukan pelaporan untuk kejadian penyiraman air yang dilakukan gadis itu kepadanya.
Anom belum pernah melihat Milan lepas kendali dan menjadi marah hanya kejadian, yang menurutnya tidak sengaja gadis itu lakukan.
" Dia melakukannya dengan sengaja!" Penuh emosi Milan mengatakan kepadanya sewaktu ia menyarankan untuk mengakhiri permasalahan ketidaksengajaan ini.
Wajah polos gadis remaja itu memenangkan hati Anom kala itu. Ia percaya bahwa gadis itu berkata jujur, ia tidak sengaja melakukannya.
Tapi, tentu saja bukan dirinya yang menjadi korban, tapi Milan. Tentu saja, Milan memiliki hak untuk membela dirinya juga.
" Dia telah merencanakannya, Anom."
" Merencanakan?" Kening Anom berlipat, tidak memahami cara berpikir Milan. " Apa kau sadar, apa yang baru saja kau katakan, Milan?" Tanyanya," Merencanakan sesuatu hal juga memiliki alasan atau motif. Apa kalian terlibat sesuatu di masa lalu, sehingga gadis itu melakukan semacam balas dendam?" Anom terus bertanya, karena kalimat Milan yang terdengar ganjil di telinganya.
Milan yang Anom kenal adalah wanita yang menyenangkan dan mampu mengendalikan diri. Memiliki obyektivitas sangat baik, dewasa, dan selalu mengabaikan hal- hal kecil yang menganggunya.
__ADS_1
Itulah kepribadian Milan yang mampu memikat Anom. Membuatnya berpikir jika wanita ini patut mendapat kesempatan untuk dekat dengannya.
Namun, hari ini, Anom menemukan hal berbeda dari Milan. Hanya dengan sedikit kata dan perilaku, itu mampu membuka hal- hal tersembunyi dari diri wanita itu.
Milan, memiliki sisi lain yang tidak ia ketahui.
Namun, kepribadian tersembunyi Milan dapat Anom kesampingkan, mengingat perhatian Anom terfokus pada sosok wanita yang menyulut ledakan besar pada dirinya dengan kemunculannya.
" Apakah kau mengenal gadis itu, Milan?" Satu hal memancing hal lain dalam kepalanya. Entah kenapa, kemarahan Milan malah membuatnya jadi penasaran.
Pertanyaan Anom seperti menyentak Milan akan sesuatu.
" Ti, tidak, Anom. Aku tidak mengenalnya." Jawab Milan dengan suara yang sedikit gemetar. Anom melirik ke bawah, dan melihat kedua tangan wanita itu saling meremas kuat. Kedua alis tebal Anom bergerak naik.
Milan nampak berusaha menutupi sesuatu. Ia akan meremas tangannya jika sedang gugup atau resah. Anom sudah mengenal wanita itu dengan baik dan paham perilakunya.
Karena Milan tetap keras kepala dan ngotot untuk ke kantor polisi, akhirnya Anom tidak dapat menahannya. Ia ikut bersamanya dan menjadi saksi untuk kejadian itu.
Berawal dari kedatangan pria muda yang adalah pengacara gadis itu.Ia mengatakan kepada petugas polisi jika ayah kliennya sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis, sehingga tidak mungkin kembali dalam waktu dekat. Sementara itu si ibu, ia sudah menghubunginya. Saat ini sedang dalam perjalanan ke kantor polisi.
Selama di kantor polisi gadis itu terlihat tenang dan menjawab semua pertanyaan petugas dengan lancar. Ia mengatakan jika ia tidak sengaja melakukan aksi penyiraman terhadap Milan, dan ia sudah meminta maaf kepada wanita itu.
Ketenangan gadis remaja itu membuat para petugas bersimpati padanya. Ia tidak terlihat ketakutan sedikit pun. Wajahnya tetap memperlihatkan ekspresi polos.
Anom sudah menjadi patung di kursinya begitu melihat wanita itu muncul di dalam ruangan. Tubuhnya lumpuh. Bahkan ia sampai tak dapat mengeluarkan suara berbicara untuk beberapa saat lamanya.
Matanya menatap tak berkedip ke arah wanita itu. Apakah ia sedang bermimpi? Atau mungkin ia sedang berhalusinasi?
Kenapa wanita itu mirip sekali dengan Puti?
__ADS_1
Kemudian Milan dan wanita itu terlibat adu mulut sebentar di sana. Sepanjang argumen dari kedua wanita itu Anom sama sekali tidak dapat bergerak dari kursi, seakan ia terpaku di sana.
Gerak- gerik wanita itu, ekspresi kesalnya saat melihat Milan, bahkan suaranya, semua itu mirip sekali dengan Puti!
" Selidiki tentang gadis remaja itu. Dan wanita itu, aku tidak percaya ada dua orang yang memiliki wajah yang sama. Jika mereka bukan kembar lalu apa. Kembar,... "
" Jika Anda berpikir Puti memiliki kembaran, itu mustahil." Seakan dapat membaca apa yang dipikirkan Anom, Alan langsung menyangkalnya. " Aku mengenal Puti dengan baik. Mana mungkin hal sepenting itu aku tidak tahu."
Anom melirik pria di depannya, lalu menghela napas dengan frustasi. " Apa kau yakin mengenal Puti dengan baik?" Tanyanya.
" Tentu saja. Kami bersekolah di sekolah yang sama. Kami bersahabat selama bertahun- tahun. Jika bukan karena seorang pria yang tidak tahu malu merebutnya dariku, saat ini mungkin kami sudah menikah dan memiliki lima anak. Adauuuhhhh...!" Alan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya dan menjerit kaget ketika sebuah tepakan keras menghantam belakang kepalanya. Alan mendesis geram ke arah kaca spion dan memelototi pelaku pemukulan terhadapnya.
" Apakah kau membandingkan dirimu denganku?" Cemoh Anom mengirim tatapan menghina, membuat Alan mengutuk pria yang menjadi bosnya itu diam- diam.
Lain di hati lain pula di permukaan. Senyum Alan melebar, terlihat sinis daripada tulus.
" Putiku gadis yang polos. Anda telah merayu dia dan membuatnya berpaling dariku. Aduuuhh...!"
Sebuah tamparan keras kembali mendarat di belakang kepalanya. " Kenapa Anda terus menganiayaku, Bos?!"
Anom mendengus." Karena kau pantas mendapatkannya."
" Cih! Anda bukan saja tidak tahu malu tapi juga suka menyiksa orang tak bersalah sepertiku,...eits, sabar, Bos!" Alan memajukan tubuhnya sewaktu Anom berniat mengepak kepalanya lagi. Sang Bos hanya mengirimkan tatapan tajam karena gerakannya terbaca Alan.
Terdengar helaan napas Anom, " Oiya, satu lagi." Suara Anom kembali serius, " Selidiki Milan juga. Entah kenapa aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku."
Dengan patuh Alan mengangguk, " Baik, Bos."
Jauh puluhan kilometer dari percakapan kedua pria itu, di dalam salah satu kamar di apartemen mewah, Milan merasakan buku kuduknya tiba- tiba merinding. Saat ini ia sedang berendam di air hangat sebelum tidur.
__ADS_1
" Kenapa aku merasa tidak enak?" Bisiknya pelan sembari menyentuh tengkuknya. Lalu matanya melirik dengan waspada ke sekeliling ruangan, " Apakah ada hantu di sini?"
🔆🔆🔆