JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 15 Lily dengan Kalimat Anehnya


__ADS_3

Ketidakhadiran Anya bak asap, entah kemana ia menguap. Lila masih membisu dengan ponsel di kupingnya. Nada sambung masih berdengung, yang berarti seseorang belum mengangkat ponselnya.


Memikirkan Anya membuat para gadis resah, terutama ketiga gadis yang bersama Anya di toilet beberapa waktu yang lalu dan terlibat dalam kejadian 'bersejarah' di sana.


Ekspresi Leo berubah masam. Terlihat jelas jika ia kesabarannya sudah menipis.


Kejadian di dalam toilet beberapa saat yang lalu masih jelas terekam dalam otaknya. Bukan hanya dirinya, tapi juga dua gadis lainnya, Enggar dan Lila.


Suara panik Anya sewaktu menghubungi Enggar menularkan kepanikan yang sama pada gadis itu. Singkatnya, ia minta dirinya, Leo dan juga Lila untuk datang membantu temannya yang akan dikeroyok.


Berbekal informasi itu ketiganya mendobrak masuk pintu toilet hingga rusak seperti segerombolan penjahat. kekhawatiran terbesar adalah jika terjadi sesuatu kepada Anya.


Berpikir akan terlibat baku hantam untuk menyelamatkan teman Anya, ketiga gadis itu sudah bersiap untuk babak belur. Yang terjadi, sungguh di luar dugaan.


" Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Setelah lebih dari lima menit menunggu, nyatanya sosok Anya belum juga muncul. Mata Leo menyapu para gadis," Aku akan menelpon Anya nanti. Titip salam saja jika dia sudah datang. Oke?"


Mewakili para gadis, Enggar mengangguk- angguk, " Oke. Kau juga hati- hati di jalan. Beri kabar jika sudah sampai rumah."


Giliran Leo yang mengganguk, mengiyakan. " Kalian juga langsung pulang." Katanya berpesan, " Jangan ngeluyur lagi. Sudah malam." Lalu, usah melambai singkat, Leo melompat masuk ke dalam mobilnya.


Di bawah tatapan sahabat- sahabatnya, mobil itu pun akhirnya meluncur pergi.


" Dia masih belum mengangkat ponselnya," Mika menekan tombol off, untuk mengakhiri panggilan. Sedikit kesal karena Anya tak merespon panggilan telponnya.


Sebuah mobil berwarna hitam kembali muncul dan berhenti di samping para gadis.


" Aku enggan pergi sebetulnya." Melirik sekilas ke mobil yang siap mengangkutnya, Wajah Mika langsung memperlihatkan ekspresi kehilangan. Menatap satu per satu para gadis, lalu mendesah kecewa," Kenapa kebersamaan kita begitu singkat. Aku masih mau bersama kalian lebih lama."


Salah satu si kembar, Lily, merangkul bahunya, menyebarkan rasa hangat, " Bukan hanya kau, kita semua juga merasakan hal yang sama."


" Barangkali kita bisa melakukan liburan bersama lain kali." Enggar mencoba menghibur para gadis, "Pasti sangat menyenangkan."


Mendengar ide itu, para gadis saling bertukar pandang.


" Ide yang bagus." Kata Mika terlihat antusias, " Kita harus melihat jadwal kita dan mencocokkannya."


Lily menggangguk, " Jika ada jadwal lain, singkirkan."

__ADS_1


" Lihat jadwal dulu baru kita bicara." Tanpa niat mengubur antusias kedua gadis, Lila berujar. Mereka memang pelajar, namun status masing- masing dari mereka tidak melulu berurusan dengan buku pelajaran. Kenapa pertemuan lengkap mereka hanya terjadi sebulan sekali, itu pun menyangkut hal itu. Mereka para gadis yang cukup sibuk.


" Baiklah." Mika memaklumi Lila dengan baik." Kau bertugas mengatur jadwal. Aku hanya ikut saja." Lalu, karena ia harus segera kembali ke kediamannya, Mika tidak dapat berlama- lama. Setelah memberikan ciuman ringan ke pipi masing- masing gadis, ia langsung melesat masuk ke dalam mobil hitamnya.


Bertepatan dengan menutupnya kaca jendela mobil Mika, berturut- turut dari arah belakang dua mobil mewah meluncur memasuki jalur, dan berhenti tepat di samping mereka.


Empat gadis yang tersisa saling memandang, dan mendekat untuk memberikan pelukan perpisahan.


" Aku masih penasaran, bagaimana Anya melepasmu dengan mudahnya." Sebelum melangkah menuju mobilnya, Gisel berbalik menghadap Enggar. Keningnya berkerut halus, nampak kebinggungan saat menatap sahabatnya itu. " Tidak ada satu pun dari kalian berempat yang menceritakan apa yang terjadi. Wajahmu begitu mengerikan ketika kembali, Enggar. Aku yakin, sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi, bukan?!"


Di bawah tatapan menyelidik Gisel, Enggar mempertahankan raut normal, sedikit tak acuh, yang menjadi kebiasaannya.


" Memang terjadi sesuatu di sana." Menilik dari sifat Gisel, Enggar memutuskan untuk sedikit jujur kepadanya. Kemungkinan besar gadis itu akan urung kembali pulang untuk mengintrogasinya. 'Si hidung anjing', itu adalah julukan Gisel." Memang tidak menyenangkan bagiku. Tapi, tenang saja. Aku bisa mengatasinya."


Hidung Gisel mengendus- endus layaknya anjing pelacak, " Dan, apakah 'sesuatu yang tidak menyenangkan itu'?"


Senyum Enggar melebar, " Kau akan tahu juga pada akhirnya." Jawabnya, " Itu tidak penting. Dan seperti yang sudah aku bilang, aku bisa mengatasinya."


" Baiklah." Mengerti jika Enggar tidak ingin membagi hal itu kepadanya, Gisel tidak mendorongnya lebih jauh. Jika dia bilang tidak penting, ya seperti itulah, tidak penting. Toh dia akan tahu juga apa yang terjadi. Meski pun bukan dari mulut Enggar.


Masih menyimpan banyak tanya di dalam hatinya, Gisel memasuki mobil. Melambai ke arah teman- temannya, lalu menutup pintu.


Menepuk ringan pundak Lila, Enggar terlihat begitu santai," Eh, santai saja. Kalian berdua bisa pulang duluan. Aku akan menunggu sebentar. Jika dia belum muncul juga, akan aku tinggal pergi."


" Jika Anya dan cowok bernama Kotaro itu memiliki hubungan, bukankah itu artinya Anya melanggar aturan kelompok kita?" Di tengah- tengah mereka, Lily berkata pelan. Matanya menatap kedua gadis bergantian." Kalian jangan berpikir untuk menyembunyikan hal ini dari yang lain. Toh pada akhirnya akan ketahuan juga."


Dua manik indah berbeda warna milik Enggar dan Lila bertemu dan terkunci. Mendengar Lily mendadak menyinggung Anya dan satu peraturan penting dalam kelompok mereka.


Bagaimana gadis itu tahu, sementara tidak ada satu pun yang memberitahunya?


" Kami tidak bermaksud menyembunyikan apa- apa," Lila, terlepas dari ketertegunannya, segera melirik saudari kembarnya.


Dari balik kaca matanya, Lily mendonggak, membalas tatapan Lila. Penampilannya polos, jinak, dan lembut, seperti kelinci putih. Banyak misteri tersimpan di balik kesederhanaan itu.


Lila menangkap kilat singkat dari mata Lily.


" Tidak masalah kalian tidak memberitahuku." Bersiap sangat tenang, Lily berkata. Ekspresi Lila sedikit berubah. Ia selalu tertangkap Lily jika menyembunyikan sesuatu. Walau pun ia sudah berusaha keras bersikap wajar di depannya.

__ADS_1


Mengawasi kedua sahabat kembarnya saling pandang dalam diam, Enggar menjadi tidak enak hati. Ia tidak ingin mereka bertengkar karena masalah kecil menyangkut Anya.


" Sebenarnya, " Mendesah tak berdaya, akhirnya Enggar memutuskan untuk memberitahu Lily, " Aku dan Lila juga tidak tahu hubungan Anya dengan cowok itu seperti apa. Anya bilang kalau cowok itu adalah tetangganya, hanya itu."


" Dan kalian percaya?" Lily menggeser mata hitamnya, menatap kepada Enggar.


" Apakah menurutmu dia berbohong?" Enggar balik melontar tanya.


Berpikir sesaat, Lily lalu mengeleng, " Dia tidak berbohong, tapi,..." Lily berhenti di tengah- tengah kalimatnya, membuat dua gadis itu membantu dan tanpa sadar menahan napas mereka.


" Apa yang ingin coba kau katakan, heh." Lila gusar karena Lily sengaja mempermainkan mereka dengan mencoba berteka- teki.


Senyum misterius muncul di wajah Lily. Gadis itu selalu mampu membuat suasana tegang dan binggung orang lain.


" Aku hanya ingin bilang," Lily meneruskan kalimatnya yang terputus, " Anya diam- diam naksir cowok itu. Kejadian hari ini akan membuat hubungan mereka semakin dekat. Hanya tinggal menunggu waktu bagaimana keduanya menjadi pasangan."


" Kau hanya menebak secara acak." Enggar berkata dengan tidak percaya, " Dia yang paling jelas mengenai peraturan kelompok kita. Menjadi orang pertama yang melanggarnya, apakah ia memiliki keberanian untuk itu?"


" Saat ini dia belum berani memikirkannya." Sahut Lily, terlihat tenang dan misterius, " Tapi siapa tahu, setelah ini."


" Ck. Kau sangat menyebalkan jika sudah bersikap seperti ini."


Lily merajut alisnya, nampak tak senang dengan reaksi saudari kembarnya, " Kau yang menyebalkan." Balasnya, " Siapa suruh kalian menyembunyikan rahasia dariku." Lalu tanpa berucap lagi ia membalikkan tubuhnya, menjauh dari dua gadis itu menuju mobilnya. Menyentak pintu mobil lalu melompat masuk.


Enggar menghela napas sambil menatap kepergian Lily, " Apakah dia marah?"


" Jangan dipikirkan." Kata Lila menghiburnya, " Aku akan bicara dengannya nanti. Enggar, aku harus pulang sekarang."


Enggar mengangguk dan tersenyum," Oke."


Setelah berpelukan ringan, Lila melangkah menuju mobilnya. Sebelum mobil meluncur pergi, kaca jendela bergerak turun. Kepala mungil Lily muncul di sana,


" Enggar, sebaiknya kau hati- hati." Katanya setengah berteriak, " Kejadian hari ini akan berbuntut panjang. Terlepas dari Anya yang memulai, dampak terhadapmu jauh lebih banyak. Kau sudah menyinggung seseorang di sana. Dia tidak akan melepaskanmu."


Kebinggungan, Enggar menatap Lily tanpa berkedip


" Apa maksudmu, Lily?!"

__ADS_1


🔆🔆🔆


__ADS_2