
Ruangan itu cukup luas untuk menampung tiga meja kayu berukuran empat persegi panjang, di mana ketiganya berbaris sejajar menghadap pintu masuk. Masing- masing meja memiliki satu orang petugas, dan dua kursi tunggal di depannya untuk 'tamu- Tamu'.
Tugas utama mereka adalah menerima setiap laporan dari 'para tamu' yang datang untuk pengaduan, mencatatnya, dan memberikan atensi atau membantu setiap permasalahan mereka dari kaca mata hukum dan peradilan.
Saat ini hampir menjelang tengah malam. Tiga orang petugas, satu wanita dan dua pria, masih betah berlama- lama di meja mereka. Petugas Wayan, Petugas Karen, dan Petugas Malik. Ketiganya berusia awal tiga puluhan, masih muda, terlihat cerdas dan juga cakap dalam bidangnya.
Terlepas dari itu, mereka adalah rekan kerja yang sangat dekat satu sama lain.
Saat ini hanya satu meja yang terlihat memiliki 'tamu'. Meja itu adalah yang berada paling ujung di sebelah kanan dengan Petugas Wayan sebagai pemiliknya.
Meskipun meja Petugas Malik dan Petugas Karen kosong, namun mereka tidak terlihat menganggur. Keduanya sibuk mengetik laporan hari ini di laptop mereka masing- masing.
Itulah kesibukan yang terlihat. Tapi alasan sebenarnya mereka masih berada di ruangan adalah untuk mengawasi 'para tamu' yang berada di meja rekan mereka, Petugas Wayan.
' Para tamu' yang menduduki kursi di meja Petugas Wayan berjumlah tiga orang. Mereka terdiri dari sepasang pria dan wanita dan seorang gadis. Pihak pelapor adalah wanita dari pasangan itu dan pihak yang dilaporkan adalah si gadis.
Bagi Petugas Wayan, ini adalah kasus pelaporan yang biasa saja. Dengan begitu banyaknya laporan masuk yang ia tangani setiap harinya, laporan wanita itu termasuk ringan.
Yang menjadi 'tak biasa' adalah alasan tindakan si gadis, pihak yang dilaporkan, terlalu sederhana dan tidak sengaja dilakukan. Sementara pihak yang melaporkan, wanita itu, ngotot bahwa tindakan itu dilakukan dengan sengaja dan ada motif balas dendam di dalamnya.
Petugas Wayan adalah pembaca wajah dan mimik yang terlatih. Ekspresi wanita cantik itu sangat jelas terbaca olehnya. Selama memberikan keterangan, ia mengamati dengan baik semuanya. Mata membara yang penuh kejengkelan dan kebencian, bibir yang menyuarakan setiap detail kejadian, dan kedua tangan yang mendukung jalan cerita yang sedang ia sampaikan.
Jika ada yang coba wanita itu sembunyikan, mudah bagi Petugas Wayan untuk mengungkapkannya. Tapi hal itu tidak berkaitan dengan isi pelaporan wanita itu. Hal- hal tersembunyi itu lebih melekat pada karakternya, meski itu memiliki pengaruh besar pada setiap tindakannya.
Petugas Wayan sudah mencatat semua keluhan dan pengaduan wanita itu. Tentu saja dengan catatan kecil yang akan ia tindak lanjut jika hal itu diperlukan.
__ADS_1
Yang paling menarik dari kasus ini sebenarnya terletak pada pihak yang ' dilaporkan'. Petugas Wayan memperhatikan remaja perempuan yang duduk diam di sampingnya. Ketenangan sikapnya menyembunyikan banyak hal di dalamnya. Gadis remaja itu masih dibawah umur, usianya baru 15 menjelang 16 tahun. Tapi karakter tidak mencerminkan usianya.
Khusus untuk gadis remaja itu Petugas Wayan memberikan catatan besar di sana. Saat seseorang tahu apa yang dilakukannya secara sadar, memperlihatkan penyesalan meski tidak menyesal sedikit pun, bukankah itu hal yang menarik? Jelas sekali gadis itu tidak takut hukuman apa yang menimpanya, atau bahkan tidak terlalu peduli sama sekali. Tekadnya begitu keras.
Keinginannya jelas terlihat dari wajah cantik yang masih belia. Ia ingin membalas wanita itu, bagaimana pun caranya. Dan sepertinya keinginannya berjalan dengan baik.
Setelah mengamati kedua pihak yang terlibat insiden secara langsung, pihak lainnya yang tidak kalah menarik adalah kehadiran pria di samping wanita itu. Kalingga Anom, pria berusia 41 tahun.
Hanya segelintir orang yang mengenal pria itu. Pengendali tunggal sebuah perusahaan raksasa di bidang software, bos besar bertangan besi, pemilik gedung pencakar langit yang tersebar di tanah air dan di beberapa negara. Pria berhati dingin yang ditakuti, disegani tapi juga banyak dicari orang.
Bukan sebuah kebetulan jika Tuan Kalingga yang terhormat ada di kantor polisi dan berada di samping wanita itu.
Kehadirannya Tuan Kalingga lebih sebagai saksi yang berada di tempat kejadian ketika insiden itu terjadi. Ia melihatnya secara langsung, persis di depan matanya.
Dalam sikap diamnya, Petugas Wayan menemukan jika Tuan Kalingga lebih terlihat mengamati Gadis remaja itu. Seperti tengah menyelidiki sesuatu.
Mungkinkah kedatangannya ke kantor polisi lebih kepada memenuhi rasa penasarannya akan sosok gadis remaja itu?
Menarik. Sangat menarik.
Tiada satupun dari mereka yang berbicara atau bercakap- cakap setelah Milan memberikan pernyataan. Gadis remaja itu, Enggar, bahkan setelah mengiyakan beberapa pertanyaan, mengeleng dan menyanggah beberapa tuduhan kepadanya, sisanya hanya membisu.
Hingga seorang pria berpakaian apik berjalan masuk dan memperkenalkan diri sebagai pengacara dari gadis itu, Ibrahim.
" Di mana orangtuanya?" Pertanyaan pertama dari Petugas Wayan usai mereka saling berjabat tangan adalah keberadaan orangtua Enggar. Karena ia sedikit heran melihat Ibra datang seorang diri.
__ADS_1
" Ayah klien saya, Tuan Naran, saat ini sedang berada di luar negeri. Beliau berhalangan hadir, Pak Wayan." Jawab Ibra memberikan penjelasan, " Beliau menyerahkan amanat kepada saya untuk membantu penyelesaian masalah putrinya."
" Kalau begitu di mana ibunya?" Pertanyaan kedua, terlontar," Apakah beliau di luar negeri juga? Kami butuh salah satu dari mereka, Pak Ibra. Anda tahu jika Enggar masih di bawah umur dan harus didampingi salah satu orangtuanya."
Untuk sejenak Ibra ragu menjawab, " Ibunya Enggar,.."
" Om Ibra, telpon mama Puri. Katakan kepadanya aku ada di sini." Suara bening gadis remaja itu menghentikan keraguan Ibra di tengah jalan. Mereka saling bertatapan sejenak.
" Kau yakin?" Ibra menaikkan alisnya sedikit.
" Bukankah dia itu mamaku?" Kata Enggar sedikit ketus, " Om Ibra pikir mama Puri ngga mau datang, begitu?"
" Om Ibra ngga ngomong apa- apa." Ibra menghela napas, dan mengangguk setuju," Baiklah, Om Ibra akan telpon mamamu."
Meskipun Ibra setuju dengan Enggar untuk menghubungi wanita itu, tapi ia tidak dapat langsung melakukannya. Ia harus menghubungi Naran terlebih dahulu, untuk memberitahunya tentang keinginan Enggar. Boleh atau tidak, semua akan diputuskan Naran.
Meraih ponsel dari saku celananya, menekan nomor Naran yang sudah ia hafal di luar kepala dan menunggu jawaban. Tanpa sengaja ia melirik sepasang pria dan wanita yang duduk diam tak jauh darinya. Rupanya sedari tadi mereka mengawasinya.
Pria itu, Ibra merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi sepertinya ia lupa. Dan begitu ia melirik wanita yang menunduk di sebelah pria itu, keningnya berkerut dalam. Saat wanita itu mengangkat dagunya, dan mereka bersirobok pandang, Ibra nyaris menjatuhkan ponsel di tangannya.
Wanita itu, dia adalah sang pelapor, yang telah melaporkan putri Naran.
" Milan?!"
🐉🐉🐉
__ADS_1