Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Hari Terakhir


__ADS_3

Semua orang tengah menikmati makanan, sesekali acara makan dihiasi dengan canda tawa mereka. Benar-benar quality time bagi Letha. Dia sangat jarang sekali menghabiskan waktu bersama sang ibu. Hari-harinya dilalui hanya dengan bekerja dan bekerja. Berusaha mengembalikan apa yang dulu dia dan sang ibu miliki meskipun tidak akan pernah sama.


Fakta menyakitkan akibat kecelakaan juga jadi pemicu dirinya menyibukkan diri. Berharap dia akan lupa semua masalahnya. Menghapus keinginannya memiliki keluarga bahagia.


"Kamu mau konsep apa untuk pernikahan kita?" Letha tidak tahu Ale termasuk manusia jenis apa, tingkat kepercayaan dirinya begitu tinggi. Saat bicara pun dia bisa dengan begitu santainya.


"Kamu yakin banget, ya. Emang, siapa yang mau nikah sama kamu? Jangan mimpi." Letha menatap tajam wajah Ale. Dia sudah sangat kesal dengan apa yang Ale lakukan dan Ale katakan.


"Kayaknya, konsep outdoor bagus juga. Apalagi kalau dilakukan di tepi tebing dengan pemandangan gunung yang indah." Ale tidak henti-hentinya bicara walau dapat balasan sikap Letha yang jutek.


"Teruslah berkhayal sampai kau jatuh dan kesakitan." Letha bergegas menjauh dari keramaian. Dia merasa jengah dengan tingkah Ale yang menyebalkan.


"Dia pikir dia itu siapa? Seenaknya saja bikin konsep pernikahan. Aku gak akan menikah! Aku gak mau menikah! Tidak ada satu pria pun yang mau menikah dengan wanita yang sulit memberikan keturunan. Aku hanya wanita tak sempurna." Letha terduduk di tepi pantai, air matanya jatuh begitu saja.


Letha merasa jadi wanita tidak sempurna. Bertahun-tahun dia berusaha kuat kalau dirinya bisa melewati semuanya. Ada sang ibu yang akan terus bersamanya, dia juga sempat berpikir untuk memiliki anak angkat supaya dia tidak harus menikah.


Dari kejauhan Ale hanya mampu menatap Letha yang tengah terduduk di tepi pantai sendirian. Dia yakin Letha memiliki rahasia yang membuatnya belum menikah diusianya yang beberapa bulan lagi menginjak tiga puluh tahun.


"Apa yang kamu sembunyikan? Sampai kamu menolak semua lamaran yang datang. Andai kau tahu, aku mencintaimu dengan apa adanya dirimu." Ale lebih memilih mengawasi Letha dari kejauhan, mungkin sekarang wanita yang sangat dicintainya itu butuh waktu sendiri.


Menjelang malam, Letha memutuskan pulang. Kini dia sudah lebih tenang. Tanpa setahu dirinya, Ale masih setia mengawasi pergerakannya dari jauh. Dia tidak mungkin meninggalkan Letha sendirian apalagi di malam hari.


***


Pagi ini begitu cerah. Rencananya para orang tua akan pergi ke pesisir pantai yang banyak menjual oleh-oleh. Sementara para anak muda akan menikmati liburan hari terakhirnya dengan bermain air.

__ADS_1


Banana boat dan jet ski air adalah pilihan mereka. Karena Marta tengah hamil, dia memutuskan hanya diam di tepi pantai ditemani sang suami, Rizal.


Semua orang sudah siap dengan pakaian mereka. Tampak binar bahagia dari wajah semua orang, kecuali Letha. Dia berencana menghabiskan liburan terakhirnya dengan tiduran di kamarnya, tetapi semua orang sependapat jika Letha tidak ikut mereka pun tidak akan pergi. Jadi, disinilah Letha berada, duduk dengan memasang wajah kusutnya. Dia yakin Ale tidak akan membiarkannya jauh-jauh darinya. Awalnya dia ingin tidur seharian hanya untuk menghindari si Bocah Tengil.


"Ayo, Kak. Kita gak akan pergi kalau Kakak gak ikut," bujuk Beno.


"Ayo, Let. Semangat, dong. Ini hari terakhir kita liburan, masa liburan mau di kamar doang. Gak asyik," seru Marta.


"Jangan bilang kamu takut, ya," ledek Angga.


Letha mengabaikan perkataan semua orang. Dia benar-benar malas. Dengan langkah gontai dia mengikuti semua orang. Ale? dia baru sadar kalau Ale tidak ada di antara para sahabatnya. Letha mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang dia cari.


"Ben, Ale gak ikut?" pertanyaan Danu mewakili apa yang ingin Letha ketahui. Dia menajamkan pendengarannya ingin tahu keberadaan Ale.


"Tuh, Ale," tunjuk Beno pada sosok pria dari arah belakang mereka.


Letha membalikkan badannya dengan malas. Dia pikir akan bebas dari Ale hari ini. Saat matanya menemukan sosok yang tadi dicarinya, Letha diam mematung. Dia menatap Ale dari balik kaca matanya tanpa berkedip. Sungguh Ale terlihat lebih tampan dan gagah. Celana pendek dan kaos pas di tubuhnya juga kaca mata hitam membuat penampilannya terlihat berbeda. Dia terlihat lebih dewasa. Ketampanannya lebih sempurna dengan otot-otot yang tampak dari balik kaos ketatnya.


"Gak gitu juga liatnya," ucap Danu sambil mengusap wajah Sarah yang tengah terpesona pada sosok Ale.


"Maaf, Sayang. Habisnya aku pangling, tapi kamu akan tetap jadi nomor satu di hatiku. Kamu paling segalanya." Sarah merayu Danu yang kesal.


"Alamat gak dapat jatah bulanan, nih." Angga meledek Sarah.


"Diem, Kompor! Mau aku doain biar gak dapat jodoh?" ancam Sarah pada Angga.

__ADS_1


Angga hanya bisa menahan tawanya, sementara Sarah tengah merayu Danu yang dalam mode kesal.


"Kok, bisa Si Tengil cakep gitu? Bikin aku meleleh aja, mana ini jantung berontak lagi. Kuat, aku kuat. Itu godaan , Letha," gumam Letha dalam hati, tangannya memegang dadanya yang berdebar begitu kencang.


"Maaf, bikin kalian nunggu. Semuanya udah siap?" tanya Ale saat dia sudah ikut bergabung.


"Udah. Kita berangkat sekarang." Beno berjalan paling depan, dia berlaku seperti panitia sesungguhnya.


Ale melihat Letha yang masih diam, entah apa yang tengah dia pikirkan sampai dia hilang fokus.


Tanpa meminta izin dari Letha, Ale meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya. Letha mengikuti Ale tanpa protes, dia masih dalam mode terpesona.


"Kamu cantik," ucap Ale berbisik.


Letha yang baru tersadar jadi salah tingkah. Dia juga tidak sadar kalau tangannya dalam genggaman Ale.


Kini mereka sudah sampai di tempat tujuan. Yang pertama mereka naiki adalah banana boat. Satu banana boat untuk di naiki berenam. Seperti biasa, Ale selalu bersikap manis di hadapan Letha. Dia memakaikan wanita itu pelampung. Letha? Dia tetap saja bersikap cuek, tetapi kini ada yang lain di hatinya. Dia memuji sikap Ale yang manis. Mungkin karena terbiasa atau karena sikap Ale yang tulus membuat Letha mulai nyaman.


"Ayo, bersahabatlah wahai jantung! Kalau dia gini terus bisa-bisa aku meleleh. Ahhhh," gumam Letha dalam hati.


Saat banana boat mulai melaju, para wanita tidak henti berteriak. Mereka membuat suasana makin seru. Makin lama speedboat yang menarik banana boat makin kencang, memicu adrenalin mereka. Bagi penggemar aktivitas yang memacu adrenalin, justru inilah letak keseruan bermain banana boat.


Menjelang siang, mereka memutuskan menuju sebuah pulau. Awalnya mereka ingin melakukan snorkeling, tetapi karena hari sudah siang mereka memutuskan mengganti dengan acara lain. Snorkeling paling bagus dilakukan di pagi hari, selain sinar matahari yang belum menyengat terlalu panas, kondisi ombak juga cenderung masih tenang sehingga aman untuk berenang dan menikmati surga bawah laut yang cantik di sekitar pulau.


Ada banyak kegiatan seru yang bisa dilakukan di sana. Seperti snorkeling, diving, banana boat, kano, melihat konservasi penyu, menanam terumbu karang, hingga menyusuri Pulau Air. Dari sekian banyak pilihan atraksi tersebut, yang paling favorit bagi wisatawan tidak lain adalah snorkeling. Sebab kondisi bawah laut di sekitar pulau itu masih terjaga. Pengunjung akan dihipnotis oleh kekayaan terumbu karang serta keragaman ikan-ikan cantik yang ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2