
Sarapan pagi ini sedikit berbeda, di meja makan tersaji nasi goreng yang berbeda dari biasanya. Nasi goreng cumi spesial. Letha begitu menyukai nasi goreng cumi, tetapi Anggun tidak pernah membuatnya untuk Letha. Dia alergi dengan cumi. Jika ingin makan nasi goreng cumi, Letha suka memasaknya sendiri atau minta bantuan Bi Romlah. Tidak jarang dia pergi ke restoran yang menyajikan menu nasi goreng cumi.
Dia tampak heran, bagaimana bisa ada nasi goreng cumi di meja makan sementara Bi Romlah dan Marni masih belum pulang, tidak mungkin juga Anggun yang membuatnya.
"Udah, ayo makan. Ini Ale yang kirim, spesial buat kamu katanya." Letha langsung duduk, wajahnya terlihat berbinar. Dia sudah lama tidak menikmati makanan favoritnya itu.
"Wah, makanan enak, nih. Siapa yang masak, Bu?" tanya Beno yang baru ikut bergabung.
"Kiriman dari Ale. Ibu malah bangun kesiangan. Tadi supir keluarga Ale yang nganterin," jelas Anggun.
Tidak lama, mereka pun menikmati sarapan pagi. Anggun yang alergi cumi kini tengah sarapan nasi kuning yang dikirim Ale juga. Entah siapa yang sudah membuat makanan itu karena yang pasti makanan itu terasa enak di lidah semua orang.
"Nak, kapan kamu cuti kerja? Kamu gak mungkin kan kerja sampai nanti menjelang hari H?" tanya Anggun setelah menyelesaikan sarapannya.
"Aku masih banyak kerjaan penting yang harus diselesaikan. Aku liat dulu jadwal, siapa tahu ada yang bisa diundur atau diwakilkan." Letha tampak berpikir. Dia baru ingat, perusahaan memintanya menangani sebuah kerjasama dengan perusahaan dari Malaysia.
Kantor tempatnya bekerja memang milik keluarga calon suaminya, tetapi Letha ingin bersikap profesional dalam bekerja. Dia ingin menuntaskan dulu pekerjaannya.
"Bu, aku berangkat sekarang. Nanti malam aku makan di luar. Aku mau ketemu klien penting, kebetulan dia ada waktunya malam ini sebelum kembali ke negaranya." Letha berdiri dan menyalami ibunya, lalu diikuti Beno yang sama-sama sudah selesai sarapannya.
"Beno juga pamit, Bu." Beno berjalan beriringan dengan Letha, mereka masuk ke dalam mobilnya masing-masing.
Keluar dari gerbang komplek, dua mobil itu berpisah. Arah tujuan mereka berbeda. Letha ke kantornya dan Beno ke kampusnya. Hanya membutuhkan tiga puluh menit untuk Letha sampai di kantornya. Saat memasuki lobi, tampak Angga sudah berdiri menyambut sahabatnya itu. Wajahnya selalu seperti biasanya, datar tanpa ekspresi. Begitulah mereka saat di kantor, tidak seperti mereka saat berkumpul bersama yang ramai dan rusuh.
"Pagi, Ga," sapa Letha saat mereka sudah melangkah menuju lift.
"Siapkan telingamu, tahan emosimu," ucap Angga tanpa menatap Letha.
"Maksudnya?" tanya Letha tidak mengerti maksud ucapan sahabatnya.
__ADS_1
"Lihat saja nanti," jawabnya acuh.
Pintu lift terbuka, mereka sudah sampai di lantai lima tempat mereka bekerja. Semua mata karyawan yang berpapasan dengan mereka menatap aneh pada Letha. H
Sebenarnya, Letha sudah mendengar kasak-kusuk karyawan yang tengah bergosip tentang dirinya, tetapi dia tidak peduli. Biarlah mereka berpikir sesuka mereka, bathin Letha.
Di perusahaan AB Group hari ini ramai dengan gosip tentang acara lamaran dadakan yang terjadi kemarin malam. Seorang putra dari pemilik perusahaan besar melamar salah satu karyawan ayahnya. Mereka tidak menyangka kalau Letha yang terkenal jutek dan dingin juga tegas bisa dilamar seorang pria tampan keturunan Brata. Apalagi mengingat usia mereka berbeda jauh.
Selama ini, mereka tidak pernah melihat Letha datang atau pergi dengan pria selain Angga, sahabatnya. Dia juga sering dijuluki perawan tua oleh bawahannya. Diusianya yang hampir tiga puluh tahun, dia masih betah menyendiri.
Sebagian karyawan yang suka dengan Letha ikut senang dan mendoakan yang terbaik, tetapi bagi mereka yang tidak menyukainya hanya bisa bergunjing. Sikap Letha yang dingin dan jutek adalah alasan utama dia tidak begitu disukai para karyawan. Andai mereka tahu saat Letha bersama keluarga juga para sahabatnya, pasti tidak akan percaya. Wanita itu lembut juga hangat.
"Gila! Ini kantor sudah jadi tempat gosip. Semua orang membicarakan tentang pesta kemarin malam." Angga membuka suara. Dia sudah sangat geram mendengar karyawan yang membicarakan tentang sahabatnya.
"Biarkan saja. Mereka lupa sarapan kali, makanya pagi-pagi udah berghibah." Letha malah terlihat cuek. Dia tidak mau ambil pusing.
"Emang ada hubungannya gitu?" tanya Angga penasaran.
Suara ketukan di pintu membuyarkan obrolan dua sahabat itu. Sekretaris Letha masuk dengan membawa berkas yang harus dipelajari untuk meeting hari ini.
"Ga, untuk kerjasama sama orang Malaysia itu bisa kamu gantiin?" tanya Letha sambil fokus pada berkasnya.
"Bisa saja, tapi kita harus bicara dulu sama Pak Alvonso. Emang kenapa?"
"Ale serius dengan rencananya. Kami akan menikah akhir pekan ini, semua sudah Ale siapkan," jelas Letha.
"Ok. Aku paham. Biar aku ambil alih semuanya. Semoga Pak Alvonso dan orang Malaysia itu tidak keberatan," tutur Angga.
Letha sudah memikirkan semuanya sepanjang perjalanan ke kantor. Keputusan akhirnya, dia akan menyerahkan kerjasama itu pada Angga.
__ADS_1
Setelah selesai, Angga keluar dari ruangan Letha. Dia hendak ke ruangannya, tetapi sosok wanita yang baru keluar dari lift mengurungkan niatnya.
"Neta? Ngapain di sini? Tumben," gumam Angga.
Neta tampak masuk ke sebuah ruangan. Angga diam untuk memperhatikan apa yang selanjutnya terjadi. Cukup lama dia berdiri dari jauh, tetapi Neta tidak terlihat keluar lagi.
"Saras!" panggil Angga pada sekretarisnya.
"Ya, Pak? " jawab Saras.
"Kamu tahu kenapa Bu Neta masuk ke ruangan Pak Bambang?" tanya Angga.
"Oh, Bu Neta mulai hari ini bekerja di kantor ini lagi, Pak. Pak Bambang minta dipindahkan ke luar kota, beliau akan kembali ke kantor cabang Bandung." jelas Saras panjang lebar.
"Ok. Terima kasih," Balas Angga.
Tersungging senyum di wajah Angga. Neta kembali bekerja, berarti mereka akan lebih sering bertemu. Dan ini kesempatan baginya untuk bisa lebih dekat lagi dengan wanita itu, apalagi setelah Angga tahu pernikahan Neta yang akan berakhir. Hatinya bersorak saat tahu Neta akan bercerai, bukan masalah perceraiannya, tetapi Neta terlepas dari parasit yang akan menggerogoti hartanya.
*****
"Papi senang kamu mau kembali bekerja. Dengan menyibukkan diri, kamu bisa melupakan semua masalah yang sudah menimpamu. Kamu harus kuat, ada kami yang akan selalu mendukungmu," ucap Alvonso saat Neta berkunjung ke ruangannya.
"Iya, Pi. Neta juga suntuk kalau hanya diam saja." Sebisa mungkin Neta tidak memperlihatkan kesedihannya. Dia tidak mau orang tuanya ikut bersedih.
"Tapi posisimu yang dulu sudah diisi oleh Angga, kamu gak papa, kan?"
"Jabatan tidak penting, Papi masih nerima aja, Neta udah senang."
Atas bujukan sang ibu, Neta mau kembali bergabung di kantor. Dengan menyibukkan diri mungkin bisa sedikit melupakan masalah yang tengah dia hadapi. Neta juga tidak mau bersedih yang berlarut-larut, perceraiannya dengan Rona adalah keputusan yang terbaik. Bertahan hanya akan membuatnya terus terluka.
__ADS_1
Neta sudah menyerahkan semuanya pada pengacara pilihan Ale. Dia ingin semuanya berjalan dengan lancar dan secepatnya sah bercerai dengan Rona.