Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Jebakan Untuk Letha


__ADS_3

Setelah menikmati es krimnya, mereka memutuskan pulang. Apalagi melihat waktu kepulangan mereka tinggal tiga puluh menit lagi. Ale tidak mengeluarkan barang-barang yang tadi mereka beli. Dia masuk ke villa hanya mengambil kopernya saja sekalian pamit pada penjaga villa. Sementara Letha hanya duduk di dalam mobil.


Kini mereka sudah berada di bandara, mobil tadi diambil alih oleh supir. Letha hanya menatap bingung melihat barang belanjaan yang memenuhi jok belakang. Bagaimana dia membawanya ke dalam pesawat. Dia pun merutuki kebodohannya.


"Ayo!" Ale menarik tangan Letha, membawanya menuju pesawat.


"Kenapa kita naik pesawat ini?" Letha kaget saat Ale membawa Letha menuju pesawat pribadi.


"Aku tidak begitu suka berada dalam suatu ruangan dengan banyak orang."


Letha tidak lagi bertanya. Dia mengikuti langkah Ale. Yang Letha pikirkan hanya ingin cepat pulang ke rumah.


Sebenarnya letha ingin bertanya banyak hal, tetapi urung karena dia merasa malu. Sosok Ale terlalu misterius baginya. Apalagi melihat sikap semua orang yang di pesawat begitu menghormati Ale. Mereka membungkukkan kepala saat pria itu melewati mereka.


Ale lebih memilih untuk tidur selama dalam perjalanan. Matanya terlalu lelah karena semalaman dia tidak tidur. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Letha, tangannya tidak lepas menggenggam tangan wanita itu.


"Diamlah kau jantung! Jangan berdebar seperti ini," gumam Letha dalam hati. Jantungnya sedang tidak baik-baik saja.


Letha bingung dengan dirinya yang terkesan plin-plan, mulut menolak Ale dan semua yang Ale lakukan, tetapi hati dan tubuhnya merespon sebaliknya. Hatinya merasa nyaman berada dekat dengan si Bocah Tengil begitupun dengan tubuhnya yang tidak menolak kala tangannya digenggam Ale. Dia merasa nyaman apalagi sikap Ale yang lembut dan sabar membuat Letha ingin terus bersamanya. Tentu itu isi hati Letha, kalau bibirnya tentu akan berkata lain.


***


"Ibu! Aku pulang," teriak Letha saat masuk ke dalam rumah. Dia lupa mengucapkan salam saking senangnya bisa pulang.


"Salam sayang." Anggun protes.


"Assalaamu'alaikum, Ibu." ulang Letha.


"Ibu, kok, aku ditinggal? Mana sama Bocah Tengil lagi." Letha mengungkapkan kekesalannya karena ditinggal pulang.


"Kamu gak papa, kan?" Anggun mengabaikan rengekan Letha. Dia bisa melihat Letha baik-baik saja ditinggal bersama Ale. Anggun juga yakin Ale pasti menjaga Letha.


"Aku gak papa, hanya terbentur batu pas jatuh."


"Let, Mbak harus simpan di mana barang-barang kamu?" Marni datang dengan semua barang belanjaan Letha.


"Sayang, kamu belanja semua ini dari mana uangnya? Terus bagaimana kamu bawa dalam pesawatnya?" Melihat reaksi Letha, Anggun yakin putri semata wayangnya pasti sudah berbuat sesuatu pada Ale.

__ADS_1


"Kamu morotin Ale?" sambung Anggun.


"Aku gak morotin, Bu. Dia yang nyuruh, ya, aku ambil aja kesempatan itu." Anggun hanya geleng-geleng kepala. Dia jadi ingat dengan setiap pria yang dijodohkan dengan putrinya. Letha pasti melakukan hal yang sama seperti pada Ale lalu mereka jadi ilfil.


"Wis, banyak banget belanjaannya? Ada buat kita-kita, gak?" Marta dan Sarah keluar dari arah dapur, mereka memutuskan menginap di rumah Anggun karena suami mereka ada pekerjaan mendadak.


"Ambillah yang kalian mau," ucapnya sambil berdiri.


Letha tidak pernah bergantung pada pelayan rumah. Dia berdiri hendak mengambil air minum. Tatapan semua orang beralih dari barang belanjaan pada sosok Letha yang terlihat berbeda. Seketika terdengar riuh tawa mereka tanpa kecuali, termasuk Beno yang baru bergabung.


Letha menatap tajam semua orang. Dia merutuki dirinya yang mau-maunya memakai pakaian itu. Setelah kejadian yang menimpanya, Letha berubah menjadi wanita yang tomboy, jutek dan datar. Tidak ada Letha yang feminim dan lembut. Setiap bekerja, dia selalu memakai setelan celana panjang dan rambut yang selalu diikat ekor kuda. Dia hanya akan bersikap selayaknya wanita lain hanya dihadapan keluarga dan sahabat-sahabatnya.


"Ini si Bocah Tengil yang beliin. Dari pada gak ada baju, ya, aku pakai aja." Letha memilih duduk dan meneguk air yang tadi dia ambil.


"Kalian pilih aja yang kalian mau," ucap Letha lagi sambil menunjuk barang-barang belanjaannya.


"O, ya, Ben, kamu udah bayar sewa villa sama biaya liburan kita?" tanya Letha.


"Ya, belum. Aku nunggu Kakak pulang, uangnya masih sama Kakak," balas Beno.


"Total biaya liburan kita dua ratus lima puluh juta, Kak." Letha membulatkan matanya, air yang tengah diteguk menyembur ke wajah Beno.


"Kakak! Jorok, ih." Beno lekas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang terkena semburan air minum Letha.


"Gila! Mehong amat? Kamu bener-bener mau bikin Kakak bangkrut?" Letha menatap Beno tajam, sementara yang lain terlihat cuek saja dan fokus memilih belanjaan.


"Aku pikir buat Kakak uang segitu gak seberapa, makanya aku milih villa bagus biar kita bisa menikmati liburan kita. Ya udah, aku minta keringanan aja, siapa tahu bisa dicicil." Beno memasang wajah cemberutnya.


"Jangan bikin malu, deh. Mau ditaruh di mana muka Kakak kalau biaya liburan kita dicicil?" Letha mengerucutkan bibirnya. Gengsi jika harus membayarnya dengan dicicil, apalagi dia berurusan dengan Ale.


"Ya, ditaruh di tempatnya, mau di mana lagi." Ibu ikut bicara.


"Uang kamu gak cukup? Gimana dong? Aku gak ada tabungan." Marta memasang wajah sedih.


"Uang aku habis kemarin buat beli rumah. Maaf, ya, aku gak bisa bantu kamu." Sarah pun tidak kalah dari Marta. Memasang wajah sesedih mungkin.


"Ibu juga gak bisa bantu. Uang Ibu udah dipakai buat belanja pesanan catering kita. Kalau kamu gak ada uang gimana nasib kamu nanti?" Anggun membuat Letha makin frustasi.

__ADS_1


Letha bukan tidak ada uang segitu. Dia cuma kaget aja liburan dua hari sampai menghabiskan uang sebanyak itu. Kalaupun memang sebesar itu, dia tidak bisa membayar semuanya. Letha tengah memesan mobil sport yang di idam-idamkan dan sudah deal. Tinggal menunggu Letha melakukan pembayaran saja.


"Kalau kamu gak ada uang, kamu terima saja lamaran Ale. Aku yakin Ale pasti ngelunasin hutang kamu." Marta berbicara tanpa berani menatap Letha. Dia tidak bisa menahan tawa saat melihat ekspresi Letha yang terlihat kesal.


"Konyol! Ide yang sangat konyol. Kalian sudah menjebakku." Letha merasa ada persekongkolan di sana.


Hening


Hening


Hening


"Beno! Jadwalkan pertemuan Kakak sama si Bocah Tengil itu malam ini juga!" titah Letha penuh penekanan.


"Dinner, Kak? Yang romantis apa yang biasa?" tanya Beno dengan mengerlingkan matanya.


"Beno!"


Sementara di tempat lain, Ale tengah berkumpul degan orang tuanya di ruang keluarga. Rasmi tengah membuka oleh-oleh yang dibawa Ale.


"Gimana Neta? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Alvonso.


"Kakak baik. Biarkan dulu dia menenangkan hati dan pikirannya. Minggu depan aku akan mulai proses perceraian mereka," jelas Ale.


Rasmi tidak mengkhawatirkan Neta, kemarin dia sudah melihat sendiri bagaimana kondisi putri kesayangannya.


"Nak, kamu bilang sudah ada calon istri. Kapan kamu mau ajak dia ke sini?" Rasmi bertanya serius.


"Kalau sudah waktunya aku pasti ajak ke sini," jawab Ale dengan tersenyum.


Bisa Rasmi dan alvonso lihat kalau putranya sangat serius. Dia memang masih sangat muda, tetapi pemikirannya sangat dewasa. Mereka yakin Ale sudah serius ingin menikah.


Ale pamit saat ponselnya berdering. Tertulis nama Beno di layar ponsel. Ale tersenyum. Dia tidak bicara, hanya mendengarkan saja apa yang dikatakan sahabatnya itu.


"Atur semuanya sebaik mungkin." Ale mengakhiri pembicaraan dengan Beno.


"Maaf, membuatmu terjebak." Ale mengulas senyum. Dia memilih ke kamarnya dan istirahat.

__ADS_1


__ADS_2