Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Ale Vs Saka


__ADS_3

Dua orang pria tampak berjalan memasuki ballroom. Letha mengenali salah satunya, dia adalah Ale. Seketika senyum indah merekah di bibir Letha. Sesuai harapannya, Ale datang tepat waktu.


Dalam keadaan genting seperti ini Letha sempat-sempatnya memuji Ale yang tampil begitu mempesona dibalik jasnya. Pria itu terlihat lebih dewasa dari usianya.


"Hai, cantik!" bisik Ale saat dia melewati Letha yang masih terpesona pada sosok Ale yang sangat berbeda.


Letha tidak tahu kenapa Ale bisa datang bersama pria itu. Dia juga tidak tahu siapa pria yang bersama Ale. Dari penampilannya, jelas pria itu buka orang sembarangan.


"Kalian menyebalkan! Ini pestaku, tapi kalian datang terlambat." Rasmina menggerutu. Dia memeluk pria yang datang bersama Ale.


Letha bertanya dalam hati saat melihat Ale yang terlihat mengenal keluarga atasannya. Letha meyakini Saka adalah pria yang datang bersama Ale.


"Apa acara pertunangan bisa dimulai sekarang?" tanya pria itu pada Letha yang berdiri di depannya. Wajahnya sudah sangat pucat. Letha menatap Ale yang juga tengah menatapnya, meminta bantuan lewat sorot matanya.


"Ale, bantu aku. Aku gak mau orang lain yang bertunangan denganku." bathin Letha menjerit.


Ale menatap Letha penuh kerinduan. Dia dengan susah payah menahan rindu pada wanita itu. Ponselnya sengaja dimatikan supaya urusannya lebih cepat selesai.


"Maaf, saya tidak bisa bertunangan. Saya sudah mempunyai calon suami dan kami akan segera menikah," ucap Letha dengan menunduk. Tidak terasa bulir bening jatuh dari mata indahnya.


"Maaf, kami tidak menerima penolakan," balas Rasmina dengan menatap Letha.


Suasana ruangan mendadak mencekam, para tamu undangan tidak mengerti apa yang tengah terjadi saat ini.


"Siapa pria yang kamu cintai?" tanya Rasmina.


Letha mengangkat kepalanya menatap wanita dihadapannya kemudian beralih pada Ale yang hanya diam tidak berkata apa-apa.


"Saya ... saya ... mencintai Ale. Kami akan menikah dalam waktu cepat." Letha memejamkan matanya, takut atasannya akan memarahinya karena tidak bicara dari awal. Dia juga takut Letha dianggap mempermalukan mereka.


Suasana seketika hening, Letha tidak berani membuka matanya. Letha sampai tidak melihat senyum manis Ale saat mendengar pengakuan wanita itu


"Ayo, lanjutkan acaranya!" Tiba-tiba tangan Letha ditarik Rasmina. Letha menatap Ale yang hanya tersenyum.


"Ta–tapi ...." Letha tidak diberi kesempatan untuk menolak.


"Saka, ayo cepetan! Katanya mau tunangan sama Letha." Rasmina memotong ucapan Letha, suaranya terdengar menggelegar di ballroom.


"Ale!" Letha memanggil nama Ale, sorot matanya penuh permohonan. Entah bagaimana lagi Letha harus bicara, Rasmina tidak menerima penolakan.


Dua lelaki itu berjalan bersamaan ke arah Letha berdiri sekarang dan berhenti tepat di depannya. Letha menatap Ale yang seakan tidak paham dengan situasi yang tengah dirasakannya.


Di saat Letha menyerah dengan keadaan, tangannya digenggam seseorang. Di hadapannya seorang pria bersimpuh. Letha kaget saat melihat siapa pria itu.


"Aku tahu aku hanya Bocah Tengil yang bermimpi hidup bersama Bidadari tak bersayap sepertimu, tapi Bocah Tengil ini tulus mencintaimu. Cintaku tidak bersyarat untukmu. Aku sudah lelah hanya menatapmu dari jauh, aku sudah lelah menahan rasa ingin memilikimu sendirian.


Arletha Maheswari Natakusuma, aku mencintai setulus hati. Will you marry me?"


Letha meneteskan air matanya. Dia terharu dengan ungkapan perasaan Ale.

__ADS_1


"Maaf, keluargaku tidak menerima penolakan." Kembali Ale bicara.


Suasana serius dan hening berubah riuh saat mendengar kalimat terakhir Ale. Sementara Letha menatap tidak percaya. Bagaimana bisa di acara orang lain, Ale mengutarakan isi hatinya.


"Terima!"


"Terima!"


"Terima!"


Teriakan semua orang kini terdengar memenuhi ballroom. Sementara Letha yang masih kaget, belum bisa berkata apa-apa.


"Bagaimana aku bisa menolakmu kalau kamu tidak menerima penolakan," jawab Letha sambil menunduk.


"Apa kamu terpaksa menerimaku?"


"Kamu kan memang tukang maksa."


"Tapi kamu tidak terpaksa mencintaiku, kan?"


"Bagaimana aku terpaksa mencintaimu kalau kamu memberikan aku cinta yang tulus."


"Jadi katakan!"


"Apa?"


"Ya, kalau kamu mau menikah denganku."


"Kapan? Aku tidak mendengarnya. "


"Aku memang tidak mengatakannya, tapi harusnya kamu paham kata-kataku tadi."


"Makanya, kamu ulangi."


"Ale!"


"Kalian ini lagi ngapain, sih? Lama amat? Kamu juga, tinggal jawab iya atau tidak apa susahnya? " Angga menghampiri dua orang yang malah berdialog tidak jelas, membuat gemas semua orang.


"Ya, kan udah dijawab tadi. Masa kalian gak paham arti kata-kataku." Letha bicara dengan sedikit jengkel.


"Jadi?" tanya Angga menatap tajam pada sahabatnya.


"Aku menerimanya," jawab Letha.


"Karena?" pancing Angga.


"Karena aku mencintainya." Letha menutup mulutnya. Tanpa sadar, dia sudah terjebak dengan pertanyaan Angga.


Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan, terlihat kebahagiaan di wajah dua orang yang kini saling berhadapan. Ale tidak menyangka Letha akan membalas cintanya secepat ini.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau membalas cintaku, terima kasih." Ale mengecup tangan Letha. Dia juga menyematkan cincin yang diberikan pria asing yang berdiri di belakangnya.


Kembali tepuk tangan para tamu undangan memenuhi ballroom. Semua orang terdekat berdatangan mendekati dua manusia yang tengah bahagia. Silih berganti mereka mengucapkan selamat dan ikut berbahagia. Rasmina dan sang suami adalah orang terakhir yang datang menghampiri Ale dan Letha.


"Kamu menolak Saka tapi malah menerima Ale. Padahal tadi aku bilang aku tidak menerima penolakan. Andai kamu tahu Saka dan Ale itu orang yang sama, tapi tak apa, mau Saka atau Ale toh kamu tetap jadi menantuku." Rasmina memeluk Letha yang tengah mematung, satu lagi yang membuat Letha kaget. Dia menatap Ale meminta penjelasan.


"Kamu keterlaluan, nama calon suami sendiri gak tahu," ledek Angga.


"Namaku Alehandro Saka Brata." Letha tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan hampir jatuh kalau saja Angga terlibat menahan punggungnya.


"Maaf, aku gak tahu nama lengkapmu," ucap Letha berkaca-kaca.


"Dan aku yakin kamu pasti tadi mengira aku Saka, kan?" pria asing itu datang mendekat, dari dekat Letha bisa melihat wajah Ale dan pria itu memiliki kemiripan.


"Dia, Om Raka. Adik dari Mami. Usianya sama denganku," jelas Ale.


"Maaf," ucap Letha malu.


Alvonso mengenalkan Ale sebagai putranya dan akan mulai memimpin perusahaan beberapa hari lagi.


Kini semua orang tengah menikmati hidangan yang tersedia, sang pemilik pesta menjamu tamunya dengan hidangan yang beraneka rupa. Sementara Ale membawa Letha ke atap gedung, menikmati indahnya kota dari ketinggian gedung.


Ale memeluk Letha dari belakang, tidak ada kata yang terucap dari keduanya. Senyum dari keduanya sudah dapat menjelaskan kalau mereka kini tengah bahagia.


Di ruang pesta semua orang tampak ikut berbahagia, tapi mata elang Angga melihat ada kesedihan di wajah Neta, wanita yang masih Angga cintai itu.


"Sendirian?" Angga berdiri di samping Neta yang tengah melamun.


"Seperti yang kamu lihat," jawabnya acuh.


"Suamimu?" tanya lagi Angga.


"Tepatnya tadi siang aku memutuskan untuk bercerai dengannya dan aku yakin kamu sekarang senang, kan?" sorot mata Neta penuh amarah, Angga tidak mengerti arti ucapan wanita itu.


"Aku senang kalau kamu sudah tahu seperti apa pria itu, tapi aku ikut bersedih kamu harus tahu setelah sekian tahun menjadi istrinya. Andai kamu mau mendengarkanku waktu itu, semua ini tidak akan terjadi." Angga berlalu meninggalkan Neta. Dia ingat ucapan Rona dulu, mungkinkah semua itu tidak benar?


"Angga ingin merebutmu dariku, dia ingin menguasai perusahaan. Dia juga mengancam akan menghancurkan bisnis papimu kalau aku nekat menikahimu."


"Angga menjebakku, dia mengirim wanita malam ke apartemen. Dia ingin kamu membatalkan rencana pernikahan kita."


"Angga mencoba mencelakaiku karena aku masih melanjutkan rencana pernikahan kita."


Perkataan Rona dahulu kembali terngiang di telinganya, bagaimana dia yang langsung percaya saat itu. Kebencian dia pada Angga membuatnya enggan bertemu lagi walau hanya di kantor. Sebelum menikah, Neta ikut bergabung di perusahaan milik orang tuanya, dari sana dia mengenal Angga sebagai karyawan terbaik setelah Letha. Angga selalu digadang-gadangkan sebagai calon suami yang baik dan hampir dijodohkan dengannya.


"Mungkinkah Mas Rona berbohong? Kalau memang Angga seburuk itu kenapa papi masih mempercayainya bahkan dia sudah menempati posisiku saat aku bekerja." Neta mulai gamang.


"Apa aku harus bertanya padanya?" Kini dia menatap Angga dari kejauhan.


"Kamu pulang ke rumah, kan, Sayang?" Rasmina membuyarkan lamunan Neta. Dia tidak tahu sejak kapan Rasmina berada di sampingnya. Apa dia mendengar gumaman dirinya, dia pun tidak tahu.

__ADS_1


"Aku masih ingin di sana, Mi. Setidaknya sampai selesai perceraianku," jawab Neta.


Siang tadi pengacara yang dipercaya Ale datang membawa berkas yang sudah ditanda tangani Rona. Neta tidak ingin tahu bagaimana Ale bisa meyakinkan Rona agar menceraikan dirinya. Yang terpenting, dia ingin cepat-cepat terbebas dari Rona dan mertuanya. Sungguh selama menikah, Neta berasa hidup di neraka, tidak pernah nyaman dan tenang. Hanya karena cinta, dia tetap bertahan. Cinta buta.


__ADS_2