
Di dalam kamarnya, Letha tengah merutuki Beno. Liburan kali ini benar-benar membuatnya bangkrut. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sampai ratusan juta dalam waktu singkat? Sisa pembelian mobil tidak cukup untuk membayar liburan mereka.
Letha tengah dilema. Dia tidak mau termakan ucapannya sendiri. Kalau dia siap menikah dengan pemilik villa jika tidak bisa membayar sewa villa dan liburan kemarin.
"Apa mereka menjebakku? Tapi mana mungkin?" Letha terus bertanya pada dirinya.
"Aku harus bicara pada Bocah Tengil itu, bagaimana bisa biaya liburan kemarin begitu mahal?" gumam Letha.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Letha, Beno meneleponnya.
"Kak, Ale gak bisa ketemu kalau malam ini, dia lagi bersama keluarganya dan dia juga masih cape katanya. Paling besok malam baru bisa," ucap Beno dari seberang telepon.
"Ok. Kamu atur aja semuanya. Sekarang kamu lagi di mana?" tanya Letha.
"Aku di kamar, Kak," jawab Beno.
"Di kamar? Kenapa gak ngomong langsung? Kaya jauh aja." Letha menggerutu.
"Aku masih takut Kakak marah."
Tut ... tut ... tut ...
Beno memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
*****
Pagi yang cerah tidak mampu mencerahkan suasana hati seorang Letha. Dia bermuram durja. Wajahnya terlihat jelas menyimpan masalah. Langkahnya juga gontai, tidak bersemangat.
"Sayang, hari ini Ibu mau ke Ciamis. Saudaranya Bi Romlah mau hajat dan dia mau pesan catering kita. Kamu jangan lupa sarapan, jangan lembur terus." Anggun bicara sambil fokus pada sarapan yang tengah dibuatnya.
__ADS_1
"Ya." Letha hanya menjawab singkat, padat dan jelas.
"Ibu berangkat sore ini. Kamu baik-baik sama Beno, awasi anak itu dan jangan biarkan Beno begadang."
"Ya." Letha lagi-lagi menjawab dengan begitu singkat.
"Kamu sarapan yang bener, kalau sakit lagi gimana?" Letha hanya mengaduk-aduk nasi goreng kesukaannya. Dia tidak selera untuk sarapan, suasana hatinya benar-benar kacau.
Sang ibu sebenarnya tahu apa yang tengah dipikirkan putri semata wayangnya itu. Dia berharap rencananya dan yang lain bisa berhasil. Ya, setelah tahu itu villa Ale, semua orang berencana menjodohkan Letha dan Ale, termasuk Angga. Semua orang yakin Ale anak yang baik. Dia terlihat tulus mencintai Letha.
"Maafkan Ibu, Sayang. Ibu yakin Ale anak baik. Biarpun usianya jauh di bawahmu, dia pasti bisa buat kamu bahagia. Ale pasti bisa menerima kekurangan yang ada pada dirimu." Anggun meneteskan air matanya. Dia tahu beban yang selama ini Letha simpan, temannya yang kemarin hendak menjodohkan putranya dengan Letha sudah bicara dan menceritakan alasan mereka menolak perjodohan itu. Anggun tidak percaya, sampai akhirnya dia menyelidikinya sendiri kebenaran tentang rahim Letha yang bermasalah.
"Bu, Letha sarapan di kantor saja." Letha mengakhiri sarapannya yang belum masuk sesuap pun, perutnya menolak untuk diisi. Dia pamit kemudian berlalu.
Besar harapan Anggun pada Letha, dia mau membuka hatinya dan menikah. Vonis pada Letha bukan tidak bisa memiliki anak, tetapi kemungkinan mendapat keturunannya kecil, berarti masih ada kesempatan meski sebesar biji kacang ijo.
Sementara Letha kini tengah sarapan di kantornya. Dia membeli beberapa roti saat dia lewat di kantin kantor. Letha memaksakan dirinya untuk sarapan, tidak mau membuat semua orang kerepotan karena dia sakit.
Saat dia tengah memikirkan cara membayar uang liburan pada Ale, tiba-tiba dia ingat akan apa yang Ale lakukan padanya saat mereka berpisah di parkiran bandara. Ale mengecup kening Letha penuh cinta, dia juga meminta maaf tidak bisa mengantar Letha pulang. Ale memilih naik taksi dan mobil jemputannya mengantarkan Letha pulang.
Dia hanya bisa merutuki dirinya kala ingat kejadian itu. Dengan bodohnya dia mengangguk dan menerima perlakuan Ale. Sungguh memalukan, pikirnya. Dia merasakan sesuatu yang lain yang tidak biasa dalam hatinya. Mungkinkah dia sudah jatuh cinta pada pria itu? Itu sesuatu yang mustahil untuk diakuinya.
Suara ketukan membuyarkan lamunan Letha, sang sekretaris masuk setelah Letha mengizinkannya.
"Bu, Pak Presdir meminta Ibu menghadap sekarang," lapor sang sekretaris. Letha mengangguk paham.
Sebelum Letha pergi ke ruang Presdir, dia mendapat pesan singkat dari Beno. Pria itu mengingatkan kalau malam ini Letha ada janji bertemu dengan Ale. Untuk sesaat Letha teringat akan masalah yang tengah menimpanya, dia yakin ada yang tidak beres.
Letha langsung mengetuk pintu ruangan atasannya. Di sana, atasan letha tengah duduk di meja kerjanya. Sementara istri tercintanya duduk di sofa.
__ADS_1
"Selamat siang, Pak Presdir. Selamat siang, Bu Presdir." Letha menyapa dua orang yang memiliki pengaruh yang sangat kuat di perusahaan AB Group.
"Duduklah!" titah sang Presdir.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Letha dengan sopan.
"Sebenarnya bukan saya yang ada perlu, tapi si Cantik yang duduk di sofa itu, dia ingin bicara serius denganmu." Letha mengerutkan keningnya, heran dengan apa yang dikatakan atasannya.
"Duduklah di sini!" pinta wanita cantik yang usianya mungkin sama dengan Anggun, ibunya.
Tanpa menunggu lama, Letha duduk di depan wanita cantik itu diiringi dengan senyuman terbaiknya. Wanita paruh baya itu adalah Rasmina Erlitha istri dari Alvonso Brata. Istri dari pemilik perusahaan besar AB GROUP.
"Arletha Maheswari Natakusuma. Usia tepat tiga puluh tahun bulan depan, putri tunggal dari almarhum Bagaskara Natakusuma dan Anggun Maheswari. Mengabdi di perusahaan AB Group sudah lima tahun, kinerja bagus, jabatan oke." Wanita itu menjabarkan semua tentang Letha.
"Dan satu lagi, kamu masih lajang." Letha mendongakkan wajahnya, menatap istri atasannya menatap aneh pada wanita itu, apa maksudnya, pikir Letha.
"Aku ingin melamarmu untuk putraku Saka." Letha kehabisan pasokan udara, tenggorokannya terasa tercekat. Dia ingin seseorang mencubit pipinya untuk meyakinkan kalau ini mimpi.
"Bagaimana?" Letha tersadar kalau ini nyata, dia tak tahu apa maksud dari ucapan istri atasannya itu. Lamaran mendadak datang padanya dari atasannya sendiri.
"Maaf, saya tidak mengerti apa maksud Ibu Presdir?"
"Putraku, Alehandro Saka Brata menyukaimu. Dia ingin menjadikanmu istrinya."
Duaar!
Seorang pewaris dari perusahaan besar AB Group tempatnya bekerja menyukai Letha dan hendak memperistrinya. Mimpi apa dia semalam?
"Kami bisa melamarmu dengan lebih baik, datang ke rumahmu dan menemui orang tuamu." Kembali Rasmina berucap.
__ADS_1
Bibir Letha seolah kelu. Dia tidak mampu berkata-kata. Lamaran ini terlalu mendadak dan yang melamarnya bukan orang sembarangan. Tiba-tiba dia teringat Ale. Ale? Kenapa dia harus ingat Ale? Kenapa juga dia takut hati Ale terluka? Ahh, Letha tak bisa berpikir jernih.