Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Tempat Akad Yang Extrem


__ADS_3

Pagi yang cerah, secerah hati dua orang yang akan melangsungkan pernikahan hari ini. Ale dan Letha tengah bersiap-siap di dua tempat yang berbeda, di kediaman mereka masing-masing.


Rencananya Letha akan pergi dengan jemputan yang dikirim Ale, sementara yang lainnya akan pergi terlebih dahulu ke tempat acara.


Setelah semua orang pergi, Letha ditemani MUA yang tadi meriasnya. Berkali-kali dia menatap wajahnya di cermin, dia tidak menyangka kalau ini benar-benar nyata. Hanya dalam beberapa jam lagi statusnya akan berubah menjadi istri dari seorang Alehandro Saka Brata, Bocah Tengil yang menyebalkan.


Senyumnya terukir kala mengingat dirinya yang menolak Ale mentah-mentah. Bukan itu saja, Letha juga memberikan panggilan yang kurang enak didengar. Bocah Tengil.


"Mbak wanita beruntung, Mas Ale itu orang baik dan sepertinya Mas Ale sayang banget sama Mbak nya, " ucap salah satu MUA yang merias Letha tadi.


"Kami sudah kenal lama dengan keluarga Brata, mereka orang-orang baik," ucap MUA yang satunya.


"Ya, aku wanita paling beruntung." Letha berkata dengan lirih. Dia malu akan dirinya yang memiliki kekurangan.


Tidak lama, seorang wanita yang ditugaskan menjaga Letha datang. Dia adalah Regi.


"Sudah waktunya, Nona. Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Regi saat dia menghampiri Letha.


"Ya. Ayo!" Letha berdiri, walau memakai kebaya, tetapi Letha bisa leluasa melangkah. Ale sudah meminta perancang untuk mendesain khusus karena acara akad akan sedikit berbeda dari yang lain.


Letha berjalan di belakang Regi dan MUA berada di belakangnya. Regi membawa Letha ke arah halaman rumahnya, keningnya berkerut aneh dengan arah tujuan wanita itu. Tidak lama, dia mendapatkan jawabannya. Sebuah heli tampak berada di belakang rumah Letha yang luas.


"Regi, apa kita akan naik itu? " tanya Letha keheranan.


"Perjalanannya cukup jauh dan kita akan melewati jalanan yang terjal. Jika naik heli ini kita akan cepat sampai ke tujuan." Letha pasrah dan mengikuti langkah Regi. Sebenarnya dia ingin bertanya lagi, tetapi melihat waktu yang sudah mepet, dia takut akan datang terlambat ke acara akad pernikahannya.


Dua orang MUA tadi tidak ikut naik heli. Mereka akan naik mobil yang sudah disiapkan Regi. Selama di pesawat dia sudah tidak tahan ingin bertanya, di mana tepatnya akad akan berlangsung.


Semakin jauh, Letha semakin penasaran. Entah di mana Ale menyiapkan acara akadnya. Arah heli menuju ke pinggiran kota. Seketika dia ingat saat hendak bernegosiasi dengan Ale perihal biaya liburan.

__ADS_1


Tidak lama heli mendarat di sebuah bukit yang luas. Letha menatap takjub akan pemandangan yang ada di depan matanya. Bukit yang beberapa hari lalu menjadi saksi bisu makan malam romantis itu kini berubah menjadi tempat akad. Ale mengabulkan mimpinya sendiri. Dia pernah berkhayal ingin menikah di atas bukit. Tampak orang-orang yang berarti dalam mereka sudah berada di sana. Letha turun dan disambut Angga.


"Selamat datang," sapa Angga dengan sedikit menggoda. Dia mengedipkan matanya.


"Terima kasih." Letha membalas dengan senyuman.


Dari jauh Letha bisa melihat sosok tinggi tegap yang akan menjadi suaminya itu. Ale mampu memikat Letha, terbukti dia yang tidak berkedip saat menatap Ale. Inikah pria yang dia panggil Bocah Tengil itu?


Wajah tampannya terlihat sempurna dengan senyum terukir indah. Ale terlihat lebih dewasa dan Letha mengakuinya. Dia tidak melihat sosok Ale si bocah yang menyebalkan.


"Jangan lupa ngedip, tar sakit tuh mata," ledek Angga saat melihat Letha yang tidak henti menatap kagum pada Ale.


Letha mengabaikan ucapan Angga. Dia seolah enggan berpaling dari Maha karya Tuhan yang satu itu. Senyuman juga tidak pernah surut dari wajah cantiknya. Dia sampai melupakan orang-orang yang menatap kagum dan ikut bahagia untuknya.


Setelah sampai di depan meja yang akan di pakai untuk ijab qobul, Letha melepaskan rangkulan t


angan sahabatnya, kemudian Letha duduk berdampingan dengan Ale. Untuk sesaat mereka saling pandang dengan pancaran rasa kagum, keduanya seolah lupa caranya berkedip. Panggilan dari penghulu membuyarkan lamunan keduanya.


"Kami, siap. Silahkan dimulai, Pak." Dengan penuh semangat Ale menjawab.


Tidak lama prosesi akad berlangsung dengan khusyu, suasana terasa hening. Rangkaian acara ijab qobul sudah terlaksana, kata 'sah' pun sudah terdengar dari para saksi, pertanda Letha sudah berganti status menjadi istri Ale.


Senyum dari keduanya terlihat begitu jelas, menggambarkan kalau mereka tengah berbahagia.


Ale mengecup lama kening Letha dengan penuh cinta, setelah itu giliran Letha mencium punggung tangan Ale dengan takzim.


Beberapa ucapan selamat terucap dari semua orang, mereka ikut berbahagia untuk pasangan pengantin baru itu.


"Selamat, Sayang. Semoga kamu bahagia selalu."

__ADS_1


"Selamat untuk kalian, kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan kami."


"Selamat dan berbahagialah."


"Selamat ...."


"Selamat ...."


"Selamat ...."


Ucapan selamat dan doa untuk pengantin baru terus terucap dari setiap orang, terlihat jelas mereka juga ikut berbahagia.


"Mudah-mudahan ini pertama dan terakhir kita harus menghadiri pernikahan yang extrim kaya gini," ledek Rizal. Dia yang memiliki badan sedikit subur cukup kewalahan saat harus berjalan sedikit menanjak. Keringatnya masih terlihat di dahinya.


"Kau tahu, Let? Aku sampai dibawain kursi roda biar gak kecapean." Marta menunjuk kursi roda yang tadi digunakan untuk naik ke atas bukit. Untung saja anak buah Ale sudah mensterilkan jalanan, sehingga Marta tidak kesulitan saat duduk di kursi roda.


"Tapi aku suka, ini tuh sesuatu banget." Sarah malah mengagumi semuanya.


"Selamat untuk kalian berdua, semoga pernikahan kalian langgeng." Penghulu menghampiri Ale dan Letha kemudian hendak berpamitan.


"Terima kasih, Pak. Dan saya minta maaf, sudah merepotkan Anda." Ale membalas jabatan tangan yang diulurkan pria paruh baya itu.


"Ini pengalaman baru saya dan bisa dijadikan cerita indah untuk cucu-cucu saya," ucap penghulu dengan diakhiri tawanya.


Kini tinggal keluarga inti dan para sahabat Letha. Mereka tengah mengambil foto dengan latar pemandangan kota yang terlihat indah jika dilihat dari ketinggian.


Seorang pria muda seusia Ale mengabadikan setiap momen. Terlihat dia yang sudah sangat profesional dalam membidikkan kameranya.


"Kami akan pulang duluan, nanti malam kita bertemu lagi di acara resepsi." Angga mewakili semua orang untuk berpamitan lebih dulu. Membiarkan pengantin baru menikmati momen indah mereka berdua, lebih tepatnya ditemani para anak buah Ale yang berjejer rapi.

__ADS_1


Kini tinggallah Ale dan Letha dengan ditemani beberapa pengawal dan seorang fotografer. Ale ingin menikmati kebersamaan mereka sesaat. Dia juga ingin mengambil beberapa foto bersama Letha di bukit itu.


Bak seorang penguntit, pria yang membawa kamera itu terus berjalan mengikuti Ale dan Letha. Tidak ada satu momen pun yang terlewat dari bidikan kameranya.


__ADS_2