Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Rumah Baru


__ADS_3

Malam semakin larut, beberapa orang tampak berdiri di depan pintu sebuah kamar hotel, mereka adalah Angga dan yang lainnya tengah mencuri dengar dengan apa yang terjadi di dalam sebuah kamar. Kamar yang dipakai untuk Ale dan Letha menghabiskan malam pengantin mereka.


"Ah, sakit. Pelan-pelan, dong."


"Iya, ini juga pelan. Gimana? Enak, kan?"


"Aku gak mau, ya, kalau besok aku gak bisa jalan."


"Aku tidak akan membiarkanmu keluar kamar."


"Aku lelah, aku mau tidur."


"Tidurlah!"


Percakapan itu berhasil mereka dengar dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Entah bagaimana bisa Ale ceroboh tidak menutup pintu dengan benar. Percakapan dua orang yang baru sah menjadi suami istri itu sudah membuat pikiran mereka traveling ke mana-mana.


"Sayang, aku ngantuk." Rizal menarik tangan Marta ke arah kamar mereka.


"Tidur, yuk ! Udah malam." Kini giliran Danu yang menarik tangan istrinya, Sarah.


Tinggallah Angga sendiri. Dia menatap nanar kepergian para sahabatnya yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"Nasib jomlo," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dengan langkah gontai, Angga pun pergi ke arah kamarnya. Dia harus mandi agar bisa meredakan sesuatu yang tengah memanas.


Sementara di kamar pengantin, Ale tengah menatap Letha yang sudah terlelap. Senyum tidak lepas dari wajahnya. Dia masih tidak mempercayai kalau wanita yang dicintainya sejak dulu, kini sudah sah menjadi istrinya.


Malam ini Ale membiarkan Letha istirahat. Dia tidak tega saat melihat Letha meringis kesakitan karena terlalu lama berdiri dengan high heels saat di pelaminan. Setelah Ale memijat kakinya, akhirnya Letha bisa tertidur dengan nyenyak.


Ale mengusap kepala Letha kemudian mengecup keningnya dan berbisik.


"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi yang indah." Tidak lama Ale pun ikut terlelap dengan tangan memeluk Letha.


*****


Sarapan pagi untuk hari ini mereka lakukan di sebuah ruangan khusus. Kini semua orang tengah menunggu pengantin baru yang katanya tengah bersiap-siap. Terjadi perbincangan heboh diantara mereka, Danu tengah menggoda Angga. 


"Aku yakin pasti sabun mandi di kamar si Jones abis," celetuk Danu tiba-tiba, membuat perhatian semua orang beralih padanya. 


"Sudah pasti itu." Rizal mengiyakan candaan Danu.

__ADS_1


"Malam terberat si Jones." Marta ikut menimpali.


"Miris," ucap Sarah dengan senyum meledek.


"Hei, aku ada di sini. Apa kalian tidak bisa menunda pembicaraan ini?" Beno ikut bicara. Dia mengerti arah pembicaraan mereka kemana. Dia merasa geli sendiri.


Wajah Angga sudah semerah tomat, ada Neta juga di meja makan itu. Entah apa yang dipikirkan Neta sekarang, gumam Angga dalam hati.


Neta yang tidak mengerti arah pembicaraan mereka, memilih diam dan cuek. Sementara orang tua Ale hanya tersenyum dengan ejekan mereka pada Angga.


"Kalian ini, tega banget ngusilin teman. Kasihan." Anggun melerai candaan mereka.


"Itu resiko orang jomlo, Tan," celetuk Marta.


"Letha, kok, lama? Apa aku susulin aja, ya?" gumam Anggun.


Saat hendak bangun, Ale dan Letha tampak masuk ke ruangan. Anggun mengurungkan niatnya dan kembali duduk. Terpancar wajah bahagia kedua penantian itu, berjalan beriringan dengan jari tangan saling bertautan. 


Deheman dari para sahabat saling bersahutan, mereka menggoda pengantin baru yang baru bergabung. 


"Maaf, sudah membuat kalian menunggu," ucap Letha tidak enak.


"Karena kalian pengantin baru jadi kita maafkan," jawab Danu.


"Kami akan tinggal di rumah yang sudah kusiapkan. Siang ini kami akan pulang," ucap Ale saat mereka sudah selesai sarapan.


"Apa kamu gak mau bawa istrimu untuk menginap di rumah?" Rasmina terlihat berharap. Dia kaget saat mendengar Ale akan membawa Letha langsung ke rumah yang sudah disiapkan.


"Ibu pikir kalian akan tidur di rumah." Kini giliran Anggun. Dia juga tidak menyangka kalau Letha akan langsung dibawa pergi.


"Maafkan aku. Ini sudah menjadi rencanaku membawa istriku pulang ke rumah kami. Kalau semalam Letha tidak kelelahan, aku pasti sudah membawanya pulang," ungkap Ale.


Letha tidak bisa menolak ajakan Ale. Sebelum tadi mereka turun untuk sarapan, Ale sudah mengutarakan niatnya pada Letha. Kini dia seorang istri yang harus mengikuti suaminya kemana pun dia pergi.


"Tapi kalian harus sering mengunjungi kami dan sekali-kali menginap di rumah," ungkap Rasmina.


"Tentu saja," jawab Ale.


Selesai sarapan dan berbincang, keluarga Ale memutuskan untuk pulang diikuti dengan Anggun dan yang lainnya. Kini tinggallah para sahabat Letha yang masih berada di hotel. Mereka terlibat percakapan yang tidak pantas didengar anak di bawah umur.


"Jangan bohong! Semalam kami mendengar kamu mendesah," celetuk Marta.

__ADS_1


"Iya. Kamu bilang sakit terus kamu bilang kamu gak mau besok gak bisa jalan. Itu apa coba maksudnya?" Kini Sarah yang bicara.


"Seorang pria dan wanita berduaan di dalam kamar apalagi mereka sudah sah, mustahil tidak terjadi apa-apa." Danu ikut bicara


"Apa perlu kami bertanya pada Ale?" Rizal menggoda Letha.


Letha kesal dengan para sahabatnya. Mereka terus saja menuntut Letha untuk bercerita tentang malam pengantinnya.


"Kalian ini. Apa yang terjadi di malam pengantin adalah rahasia kami. Tidak ada alasan aku harus menceritakan semuanya pada kalian." Letha mencebikan bibirnya, kesal sekaligus malu pada semua sahabatnya.


"Semalam aku cape dan tidur lebih dulu setelah Ale memijit kakiku. Kakiku pegal dan aku takut gak bisa jalan," tutur Letha dengan jujur.


Semua orang saling menatap kemudian tertawa bersama. Ale yang baru bergabung menatap aneh pada sahabat Letha yang tengah tertawa.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Ale menghampiri. Dia mengecup puncak kepala Letha sebelum akhirnya ikut duduk bersama mereka.


Letha yang belum terbiasa diperlakukan romantis sedikit risih, apalagi semua sahabatnya tengah menatapnya aneh.


"Kayaknya aku mulai tidak betah menjomlo, " ungkap Angga setelah melihat sikap romantis suami sahabatnya.


"Tunggulah minimal sampai kakakku habis masa idah." Apa yang dikatakan Ale membuat semua orang menatap tidak mengerti.


"Maksudnya?" Letha tidak bisa menahan rasa penasaran. Dria terlebih dulu bertanya.


"Aku tahu kamu mengerti apa yang aku maksud, Sayang." jawab Ale datar.


"Itupun kalau Neta setuju," sambung Ale. Matanya menatap sang kakak.


Tepat setelah selesai makan siang, Ale dan Letha memutuskan untuk pulang ke rumah yang sudah Ale siapkan. Sebuah rumah di kawasan elit dengan nuansa modern sudah disiapkan Ale jauh-jauh hari. Rumah yang akan menjadi saksi kehidupan rumah tangga mereka kedepannya.


Mobil yang mereka naiki sudah sampai di halaman sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat mewah dan berbeda dari rumah yang lainnya. Ale sudah merubah gaya rumahnya sesuai dengan yang diinginkan. Tentunya rumah yang menjadi harapan Letha sebagai rumah masa depan bersama suaminya. Semua info ini tentu saja Ale dapatkan dari sahabatnya, Beno. Selama ini Ale bisa tahu dengan mudah semua tentang Letha tentunya dari Beno.


"Pasti Beno yang bilang, kan? Ini sesuai yang aku impikan. Hanya saja ini terlalu besar." Letha menatap kagum pada rumah yang akan dia tempati.


Di depan rumah ada taman dengan beberapa jenis bunga menghiasi taman depan dan sebuah meja dengan dua kursi. Samping kiri dan kanan dipenuhi dengan pohon obat-obatan dan jamu. Sementara di halaman belakang dipenuhi dengan beberapa pohon yang cukup besar membuat suasana terlihat teduh. Sungguh rumah yang nyaman, asri dan juga mewah.


Di dalam rumah, semua perabotan sudah tersedia. Letha hanya tinggal menempati rumah yang sudah suaminya siapkan.


"Kamu suka, Sayang? Kalau ada yang tidak kamu sukai, kamu bisa bicara padaku, aku akan merubahnya."


Ale membawa Letha berkeliling mengitari semua ruangan. Letha tidak menemukan satu pun yang tidak dia sukai. Dia memuji selera Ale yang sama dengannya. Letha belum tahu kalau Ale akan menyukai apapun itu yang disukai Letha dan merubah semuanya seperti yang Letha inginkan.

__ADS_1


"Sempurna!" Letha tidak hentinya memuji apa yang sudah Ale siapkan.


"Apapun untukmu, akan aku lakukan." Senyuman Ale membuat Letha meleleh, terlihat manis dan memabukkan.


__ADS_2