
Seharian ini Letha menghabiskan waktunya hanya berdiam diri di dalam kamar bersama suaminya. Ale bahkan tidak membiarkan Letha turun dari tempat tidurnya. Semua yang Letha butuhkan Ale yang menyiapkan.
"Terima kasih, semuanya sangat sempurna," ucap Letha dalam dekapan Ale.
"Untuk apa?" tanya Ale dengan tangan yang tidak berhenti mengusap kepala sang istri dengan penuh rasa sayang.
"Untuk semua yang kamu siapkan dalam pernikahan kita. Semua sesuai dengan yang aku impikan. Aku sempat mengubur semua mimpi itu, terlalu mustahil aku bisa ...." Ale menghentikan perkataan Letha sebelum dia menyelesaikannya.
"Apa pun itu, akan aku lakukan untukmu. Kamu pantas bahagia dan kebahagiaanmu adalah prioritas utamaku. " Ale mengecup singkat bibir Letha dan memberikan senyuman manisnya untuk sang istri.
Letha tidak pernah membayangkan akan sangat dicintai seperti ini. Setelah kabar tentang rahimnya yang bermasalah, Letha mengubur semua mimpinya tentang sebuah pernikahan yang romantis, semua terlihat mustahil dia dapatkan saat itu.
Pria yang usianya tujuh tahun di bawahnya lah yang bisa membuatnya kembali tersenyum dan merasakan kebahagian dicintai seseorang. Ale tidak hanya menghujaninya dengan cinta saja, dia juga memperlakukan Letha bak ratu. Si Bocah Tengil itu memberikan cinta yang luar biasa indahnya. Dia menyesal telah meremehkan cinta Ale.
"Suaramu begitu merdu. Apa lagu yang semalam kamu nyanyikan itu untukku?" Pertanyaan konyol itu lolos dari mulut Letha begitu saja.
"Bukan. Lagu itu aku persembahkan buat Bi Romlah," jawab Ale sekenanya. Entah pura-pura atau memang tidak peka, Ale tidak tahu.
"Ale!"
"Lagian kamu nanya kayak gitu. Lagu itu untuk kamu, Istriku." Letha bahagia mendengar Ale memanggilnya dengan sebutan 'istriku' ada getaran aneh yang membuatnya terus ingin mendengar panggilan itu.
"Apa kita akan di kamar seharian?" Tangan Letha terus bergerak di dada Ale, membuat gambar hati berulang-ulang. Dia sudah merasa bosan terus berada di kamarnya.
"Apa kamu bosan?" Bukannya menjawab, Ale malah balik bertanya.
__ADS_1
"Ya, aku bosan," ucapnya dengan manja.
"Mau kemana?" tanya Ale sambil berdiri.
"Keluar. Jalan-jalan," jawab Letha semangat.
Mereka berjalan beriringan dengan jari tangan saling bertautan, posisi itu sudah menjadi hal yang biasa mereka lakukan beberapa hari ini.
Cukup lama Ale mengajak Letha berjalan-jalan, tetapi wajah Letha terlihat cemberut dan tampak kesal. Sedari tadi dia juga tidak bersuara. Bagaimana dia tidak kesal kalau Ale hanya mengajaknya berjalan-jalan di sekitar rumah mereka. Ale tidak mengizinkan dirinya untuk keluar, akan ada banyak mata jahat para lelaki yang melihatnya dan Ale tidak mau itu. Letha hanya miliknya seorang, hanya dia yang berhak melihat dan menatap istrinya itu.
"Di luar itu berbahaya, ada banyak orang jahat. Lebih aman kamu berada di rumah. Kalau kamu butuh apa pun tinggal bilang saja." Itulah yang Ale katakan tadi, Letha hanya menggerutu kesal. Dia bisa membayangkan esok akan seperti apa, dia pasti akan kesulitan untuk keluar rumah.
"Aku capek. Aku lapar!" ucap Letha dengan wajah cemberutnya.
Ale membawa Letha kembali masuk ke dalam rumah. Dia akan membuatkan makanan untuk istri tercintanya.
"Ya. Kamu mau makan apa?" Ale bertanya sambil membuka lemari pendingin.
Letha ingin mengerjai Ale, dia akan meminta Ale membuatkannya makanan yang sulit menurut dirinya. Dia ingin menguji sejauh mana kemampuan Ale dalam hal memasak.
"Aku mau makan rawon." Ale mengernyitkan dahi. Nama makanan yang asing di telinganya menjadi pilihan sang istri. Tidak mau mengecewakan sang istri, Ale menyanggupinya meski dia tidak tahu apa itu rawon.
Sementara Ale memasak, Letha memilih membersihkan diri. Ale berselancar dengan ponselnya. Dia mencari tahu jenis makanan apa dan bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat rawon. Ada satu bahan yang asing di telinganya, biji kepayang atau kluwek.
Rawon adalah masakan Indonesia berupa sup daging berkuah hitam dengan campuran bumbu khas yang menggunakan kluwek. Meskipun dikenal sebagai masakan khas Jawa Timur, dikenal pula oleh masyarakat Jawa Tengah sebelah timur.
__ADS_1
Dengan segera dia menghubungi anak buahnya untuk mencari bahan yang dibutuhkan. Tidak membutuhkan waktu lama salah satu anak buah Ale datang dengan membawa kantong plastik ukuran sedang. Setelah semua bahan siap, Ale pun memulai untuk memasak.
Satu jam waktu yang Ale butuhkan untuk membuat rawon yang diminta Letha. Kini makanan sudah siap di meja makan. Setelah selesai memasak, Ale ke kamarnya dan membersihkan diri.
Letha tampak keluar dari ruang ganti sudah dengan pakaian lengkap. Berendam untuk beberapa saat membuat tubuhnya kembali segar. Walau hanya diam saja di rumah, tubuhnya terasa pegal.
Tidak lama Ale keluar dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya, tampak menawan dan gagah. Untuk sesaat Letha terhipnotis dengan penampilan suaminya, dia bahkan lupa caranya berkedip.
"Mau makan sekarang?" Lamunan Letha pun buyar, Ale menghampiri Letha dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
"Setelah kamu selesai berpakaian," jawabnya sambil fokus pada cermin di depan wajahnya.
Ale terus mendekat dengan seringai aneh, Letha bisa merasakan aura berbeda yang datang dari suaminya. Dia merasakan jantungnya berdebar kencang.
"Kamu mau ngapain? Awas aja kalau kamu macam-macam!!" Letha mengancam Ale yang semakin mendekat.
"Aku mau meminta yang semalam tertunda," ucapnya dengan tangan perlahan membuka handuk yang dia pakai. Letha menutup wajahnya dan berteriak.
Ale mengabaikan teriakan sang istri, dia membuka tangan Letha yang menutupi wajahnya, memberikan senyuman terindah untuk wanita yang dia cintai. Ale kini sudah berada di depan Letha, dia meraih dagu sang istri dan memberikan kecupan singkat di bibirnya.
*****
Suasan makan sama seperti biasa. Letha terpaksa makan di dalam kamarnya karena Ale membuatnya kelelahan. Apa yang Ale lakukan tadi membuat mereka berakhir dengan mandi lagi. Apa yang seharusnya terjadi tadi malam, Ale baru saja menuntaskannya.
"Terima kasih, nanti lagi, ya!!"
__ADS_1
Letha cemberut. Dia masih merasakan ngilu dan perih di area sensitifnya, tetapi Ale sudah memintanya lagi. Seketika wajahnya bersemu merah, apalagi membayangkan apa yang terjadi padanya tadi.
Letha begitu menikmati makan malamnya, masakan Ale sungguh pas di lidahnya. Dia kini mengakui kalau Ale adalah sosok yang sempurna. Segala hal bisa dia lakukan termasuk memasak. Sungguh suami idaman setiap wanita, termasuk Letha sendiri.