
Semua orang tengah menikmati suasana pantai di sore hari. Dari balkon villa mereka bisa melihat matahari terbenam.
"Ben, kamu ngajak si Tengil ke sini?" bisik Letha di telinga Beno.
"Namanya Ale, Kak. Dia ada kepentingan di sini," jawab Beno.
"Aku lihat tadi di depan ada calon suamimu? Kamu ngajak dia?" goda Angga sambil berbisik. Mendengar itu membuat Letha geram. Dia memukul tangan sahabatnya.
"Aw, sakit. Biasa aja, baperan amat." Angga meringis.
"Kalian ini ada apa, sih? Berisik." Marta menatap tajam pada dua sahabatnya. "Mau aku nikahkan kalian?"
Mendengar kata itu, Letha langsung bungkam dan Angga menggodanya dengan mengerlingkan mata.
Malam ini Beno sudah menyiapkan acara yang berbeda. Dia akan melakukan pesta barbeque. Segala persiapan sudah selesai dilakukan dibantu koki villa.
"Letha di mana, Ben?" tanya Anggun yang tidak melihat putrinya.
"Masih di kamarnya. Kakak lagi menerima telpon," jawab Beno.
"Yang punya villa jadi ke sini, Ben?" tanya Rizal, dia sibuk mengelus perut Marta, istrinya. Marta tengah hamil lima bulan. Sementara Sarah belum ada tanda-tanda hamil.
"Selamat malam semua," sapa Ale saat dia sudah bergabung di halaman villa.
"Eh, calon mantu. Disini juga?" Anggun terlihat senang melihat keberadaan Ale, entah mengapa dia begitu menyukai Ale.
"Aku lagi liburan, Tan. Kebetulan ada yang aku kerjakan juga," jawab Ale.
"Alah, paling kerjaannya ngejar Letha. Bidadarinya," celetuk Angga dengan sedikit mencibir.
"Jangan bilang kamu cemburu, Ga," ledek Danu.
"Aku cuma gak mau sahabat kita jadi mainan bocah ingusan," balas lagi Angga.
Ale tidak sakit hati dengan ucapan Angga. Dia cukup paham dengan kekhawatirannya. Dia bisa melihat Letha di kelilingi orang-orang baik dan sayang pada wanita itu.
"Kamu kuliah, kerja atau apa?" tanya Anggun saat Ale ikut duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Bu, Ale udah lulus tiga tahun lebih cepat, dia anak jenius." Beno menjawab pertanyaan Anggun.
Sebenarnya, usia Ale dua tahun di bawah Beno. Dia pernah loncat kelas saat di sekolah dasar. Ale terlahir dengan otak yang cerdas dan jenius. Saat di sekolah menengah pertama pun Ale loncat kelas, dari kelas satu ke kelas tiga. Begitu juga dengannya saat di sekolah menengah atas. Karena kecerdasannya, Ale bisa menyelesaikan kuliahnya jauh lebih cepat dari Beno.
"O, ya? Lalu kamu sekarang sibuk apa?" tanya lagi Anggun.
"Aku masih nganggur, Tan," jawab Ale.
"Tau nganggur, masih aja mau ganggu Letha," cibir Angga dengan suara lirih.
Mendengar ledekan Angga, Ale hanya tersenyum tidak menanggapi. Tanpa sepengetahuan mereka, dari jauh Letha tengah berdiri memperhatikan. Dia sedikit ragu saat melihat keberadaan Ale di sana. Jantungnya selalu saja berdebar kencang kala pria itu ada di dekatnya.
"Kak, sini! Ngapain berdiri di situ?" Beno yang menyadari keberadaan Letha langsung berteriak memanggilnya.
Letha langsung bergabung dengan para wanita. Dia mencoba menghindari pandangannya pada Ale. Jantungnya terasa tengah maraton kala dia menatap manik mata Ale yang jernih.
"Ayo, bakar-bakarnya. Aku sudah sangat lapar." Letha berdiri mendekat ke arah pembakaran, tanpa diduga Ale ikut mendekat.
"Biar aku yang bakar. Kamu cukup duduk manis saja," pinta Ale.
Ale ataupun Letha sama-sama bertahan. Mereka menjadi tontonan asyik bagi yang lainnya. Perdebatan dua orang itu menarik perhatian semua orang. Ale yang penuh perhatian dan lembut selalu dibalas dengan sikap Letha yang jutek dan ketus.
"Mereka cocok. Andai saja usia Ale di atas Letha." Sarah mengungkapkan penilaiannya.
"Usia bukan halangan. Jika Letha suka, Tante akan merestui mereka. Ale anak yang baik." Anggun berbicara sambil mengumbar senyumnya.
"Apa aku tidak baik?" rengek Angga pada Anggun.
"Kamu juga baik, sangat baik. Entah kenapa Letha tidak mau menerima pinangan kamu. Maaf." Anggun mengusap tangan Angga dengan lembut.
"Karena kalian tidak saling cinta. Letha masih betah dengan kesendiriannya dan kamu masih belum membuka hati untuk wanita lain karena wanita itu masih mengisi relung hatimu. Kamu belum move on," ungkap Rizal.
Itulah fakta yang ada, Rizal tahu semuanya. Angga memang tidak mencintai Letha. Dia berkali-kali mengajak Letha menikah hanya ingin melihat Letha bahagia dan dia bisa melupakan cinta pertamanya. Hatinya sudah terpaut pada satu nama.
"Buka hatimu untuk wanita lain, kamu berhak bahagia. Biarkan wanita itu bahagia dengan kehidupannya. Jika kamu memang benar-benar mencintainya, lepaskan dia dengan ikhlas." Anggun mencoba menasihati Angga.
Sementara mereka sibuk menyemangati Angga agar move on, lain halnya dengan Ale dan Letha. Mereka tengah beradu mulut. Seberapa jutek dan judesnya Letha, Ale tidak henti tersenyum untuk wanita itu. Tidak sedikitpun dia terpancing emosi.
__ADS_1
"Orang tuaku sudah tahu kalau aku sudah punya calon istri," ucap Ale tiba-tiba.
"Terus hubungannya kamu bilang sama aku apa?" Tatapan Letha penuh dengan kekesalan.
"Tentu saja ada, 'kan, kamu calon istriku." Apa yang diucapkan Ale jelas membuat Letha geleng-geleng kepala. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan pria itu.
"Dengar, ya. Usia kita berbeda jauh, kamu muda dan tampan. Di luaran sana masih banyak wanita muda yang mau menjadi istrimu. Berhenti mengejarku karena aku tifak akan pernah menikah. Aku tidak tertarik untuk berkomitmen. Aku juga tidak mau terikat." Letha memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada pembakaran.
"Tapi hanya kamu yang aku suka. Aku mencintaimu sudah lama dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama," ungkap Ale lirih di telinga Letha lalu menghampiri kerumunan orang-orang.
Entah mengapa Letha merasa ada sesuatu yang dia rasakan. Perasaan aneh yang baru pertama dirasakannya.
"Jangan bengong, Ale cuma ke toilet." Marta menepuk bahu Letha. Dia mendengar apa yang Ale katakan pada sahabatnya.
"Ale sepertinya anak baik, dari kata-katanya dia sepertinya serius. Cobalah buka hatimu, siapa tahu kalian cocok. Masalah keturunan, kalian bicarakan baik-baik. Jika dia dan keluarganya menerima, jangan sia-siakan dia." Marta mencoba berbicara sesama wanita, berharap Letha mau mempertimbangkan ucapannya.
Bukan dia tidak mau menikah, tetapi keadaan yang seolah menutup harapannya itu. Setiap pernikahan pasti mengharapkan kehadiran anak di antara mereka dan Letha tidak yakin bisa memberikannya. Dia hanya memiliki sedikit peluang. Setiap pria yang mengajaknya menikah pasti langsung mundur saat tahu Letha sulit memberi keturunan dan itu sangat menyakitkan. Kali ini Ale yang datang, pria muda dan tampan itu memiliki masa depan yang panjang. Bagaimana jadinya jika mereka menikah dan Letha tifak bisa memberikan keturunan.
"Makanannya gosong," bisik Ale di telinga Letha. Letha baru menyadarinya dan dia kaget saat melihat panggangan terakhirnya benar-benar gosong.
"Ayo, semua kumpul! Kita nikmati ini selagi panas," ucap Beno.
"Tapi yang punya villa belum sampai, Ben," ucap Marni.
"Udah ada, kok. Kan, yang punya villa, Ale." Semua mata menatap tidak percaya, ternyata Ale adalah pemilik villa mewah itu. Mereka jadi bertanya-tanya tentang siapa Ale sebenarnya.
"Gila, Bocah Tengil itu yang punya villa. Berarti dia anak orang kaya," gumam Danu di samping Angga.
"Ya ampun, ini villa kamu? Villa kamu bagus," ungkap Anggun tidak menyangka.
"Bukan punyaku, tapi punya Papi dan Mami. Aku hanya bertugas menjaganya," sangkal Ale.
Setelah pembicaraan itu, mereka menikmati hasil panggangan Letha dan Ale. Letha diperlakukan istimewa oleh Ale. Dia mengambilkan apa yang disukai Letha. Ya, Ale tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh wanita itu. Dia sudah mencari tahu semuanya selama bertahun-tahun.
"Berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil. Aku bisa mengambilnya sendiri." Letha malu ditatap semua orang, baginya Ale terlalu berlebihan.
"Jika aku bisa melakukannya, kenapa kamu harus repot-repot? Jika kita sudah menikah, aku yang masak dan kamu cukup duduk manis." Letha menatap tidak percaya. Bagaimana ada pria yang seperti Ale. Seberapa jutek Letha memperlakukan Ale, dia tetap berbicara manis dan lembut. Letha takut lama kelamaan dia luluh dengan semua perlakuan manis pria itu.
__ADS_1