Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Bocah Tengil


__ADS_3

Terdengar suara benda jatuh dari arah toilet, serempak kedua lelaki itu menatap ke arah suara berasal.


"Halo, Bidadariku. Aku mengantarkan sarapan untukmu. Makanlah dulu, nanti kamu sakit." Ale menghampiri Letha yang tengah berdiri mematung. Dia mengambil tas yang tadi jatuh. Dia juga membimbing Letha agar duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Seolah terhipnotis, Letha menuruti apa yang diarahkan Ale. Angga hanya bisa menganga tidak percaya dengan Letha yang mau-maunya mengikuti perintah pria di hadapannya.


****


Terdengar tawa riang sekumpulan orang yang memenuhi meja sebuah cafe kecil. Mereka duduk di meja bagian luar yang dikhususkan untuk sang owner.


"Lo, kalah cepat sama Bocah Tengil. Jadi penasaran gue, kenalin dong!" goda Danu.


"Brondong, nih, brondong. Bisa awet muda kawan kita." Kini giliran Rizal.


Letha hanya diam, tidak bereaksi apa-apa. Dia cuek saja dan fokus dengan jus di tangannya. Berbagai ocehan para sahabatnya hanya dianggap angin lalu.


"Let, kamu suka sama tuh bocah?" tanya Marta penuh selidik.


"Apaan, sih? Jangan ngaco, dia itu anak bau kencur. Tar yang ada tiap malem gue diminta nina bobo dia lagi." Mendengar apa yang di katakan Letha, semua orang tertawa.


"Maaf mengganggu. Ini ada titipan buat Mbak Letha." Seorang pelayan cafe menghampiri, di tangannya ada bunga dan boneka kecil.


"Buat, saya? Kamu, gak salah orang, kan?" tanya Letha meyakinkan.


"Enggak, kok. Saya yakin, katanya ini buat Mbak Letha," jelas sang pelayan meyakinkan.


"Emang dari siapa, Sil? " tanya Danu pada karyawannya.


"Dari Kakak itu," tunjuk pelayan pada seorang pria muda yang duduk di ujung cafe. Topi dan kaca mata hitam tampak pas di wajahnya, menyempurnakan penampilannya.


Tampak wajah-wajah terpesona semua orang terkecuali Letha dan Angga. Marta dan Sarah hanya bisa melongo dan mengagumi ketampanan pria itu. Melihat tingkah berlebihan para istri, Danu dan Rizal dengan segera menutup mata istri mereka.


"Kalian ini sudah punya suami, tidak pantas mengagumi yang bukan mahramnya," geram Rizal dengan kesal.


Kedua wanita yang sudah bersuami itu malu sendiri dengan tingkah konyol mereka yang berlebihan.


"Apa sih, maunya?" Letha hanya bisa menggerutu.

__ADS_1


"Ini gimana, Mbak?" tanya pelayan yang masih memegang bunga dan boneka tadi.


"Simpan saja di meja," ucap Letha datar.


"Emang dia siapa, Let?" tanya Marta.


"Eh, apa dia si Bocah Tengil itu?" tebak Sarah.


Letha mengabaikan keberadaan Ale. Dia juga tidak merespon pertanyaan dari Marta dan Sarah yang masih penasaran dengan pria muda itu, jadilah Angga yang menjawab rasa penasaran semua orang.


"Kalau cowoknya model dia, aku dukung," ungkap Marta.


"Iya, aku juga dukung." Sarah ikut menimpali.


Letha hanya geleng-geleng mendengar ocehan para sahabatnya. Dia hendak bangun dari kursi, tetapi suara seorang pria menghentikan langkahnya.


"Selamat siang, Bidadariku. Gak nyangka bisa ketemu di sini," ucapnya santai sambil duduk di kursi yang dia ambil dari meja lain.


Letha tidak menjawab. Dia hanya melirik Ale dengan wajah kesal dan sorot mata penuh amarah.


Tidak bisa disangkal lagi itu dua hal yang disukai Letha dan Ale mengetahuinya. Untuk Teddy Bear semua yang dekat dengan Letha mereka pasti tahu, tetapi Letha yang menyukai bunga lily, hanya sahabatnya saja yang tahu.


Tidak ada yang berani bersuara, semua hanya menatap pada pasangan beda usia itu.


"Siapa yang menyuruhmu masuk ke area terlarang ini? Ini area khusus dan hanya kami yang boleh di sini." Akhirnya Letha bersuara, dia ungkapkan kekesalannya pada Ale.


"Mereka?" Tatapan Ale bergantian pada semua orang.


"Mereka semua sahabatku dan cafe ini milik sahabatku!" ucap Letha penuh penekanan.


"Cuma sahabat, kan? Aku calon suamimu," ucap Ale santai dengan senyum manisnya. Untuk sesaat Letha terpesona, sungguh senyum Ale seolah mengandung racun yang memabukkan.


"Ekheeem ...!" Angga berdehem, dia sedikit kesal dengan tingkah Ale yang menjengkelkan dengan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi.


Menyadari kekonyolannya yang terpesona pada senyum Ale, Letha jadi salah tingkah. Pipinya bersemu merah dan semua itu tidak luput dari tatapan semua orang.

__ADS_1


Terdengar ponsel Ale berdering, dengan santainya dia berbicara dengan orang di sebrang telepon.


"Ya, aku pulang sekarang. Aku juga merindukanmu. I love you." Itulah percakapan yang didengar Letha dan semua orang. Entah apa maksudnya, dengan santai Ale berbicara sambil menatap Letha. Tidak lupa senyuman yang selalu menghiasi wajah tampannya.


"Aku pamit pulang dulu. Ada yang sudah merindukan aku di rumah. Kamu baik-baik selama gak ada aku," ucap Ale santai sambil meraih tangan Letha dan mengecupnya.


Ada semacam sengatan listrik yang halus merambat ke seluruh tubuh Letha, jantungnya pun berdetak tidak beraturan, pipinya semakin merah merona.


Letha semakin salah tingkah saat dia mengingat dirinya sendiri yang seolah menikmati setiap ucapan dan perlakuan Ale padanya. Dia hanya melongo dan menatap ke arah Ale yang sudah menjauh.


"Yakin, kamu gak ada hubungan apa-apa sama ...?" Marta menatap Letha penuh selidik. Aneh baginya melihat Letha seolah diam saja di perlakukan manis oleh seorang pria, padahal Letha sendiri yang tidak mengakuinya.


"Apaan, sih? Ya, enggaklah. Dia itu cuma bocah yang ... entahlah ... aku ada rapat. Ayo, Ga." Letha merasa jengah dengan tingkah Ale yang seenaknya, sekarang ditambah sahabatnya seolah meragukannya.


*****


Di kediaman Brata kini tengah dipenuhi ketegangan, Rona tengah duduk bersimpuh. Saat terbangun di pagi hari, Rona tidak mendapati sang istri, Neta. Sampai siang ini Neta tidak diketahui keberadaannya. Dia juga tidak membawa apa pun termasuk ponsel dan dompetnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku? Dia tidak mungkin pergi tanpa alasan." Alvonso berucap dengan penuh amarah, suasana terasa mencekam. Rona hanya menjawab tidak tahu apa-apa.


"Aku kenal kakakku seperti apa. Dia hanya akan pergi jika sudah merasa lelah dengan apa yang dihadapi. Jika kamu ketahuan menyakiti kakakku, akan aku pastikan apa yang kamu miliki akan hilang tak bersisa," cerca Ale penuh ancaman.


Sementara sang ibu hanya bisa menangis tersedu. Dia begitu mengkhawatirkan putri semata wayangnya.


"Kamu di mana, Nak?" ucapnya lirih dengan derai air mata yang seolah tidak mau berhenti.


"Maaf, Pih. Saya sudah gagal menjadi suami Neta. Saya akan mencarinya sampai ketemu." Alvonso sudah merasa jengah dengan ucapan Rona yang itu-itu saja.


"Cari putriku sampai ketemu! Jangan pernah menampakkan wajahmu kalau putriku belum kamu temukan!" bentak Alvonso. Tidak lama Rona pergi dengan langkah gontai. Hatinya merasa sangat bersalah karena sikapnya yang kurang tegas membuat sang istri jadi korban, tetapi dia tidak bisa melawan karena yang dia hadapi adalah ibunya, orang yang paling dia patuhi setiap ucapannya.


"Kamu di mana, Net? Maafkan aku yang tidak berdaya ini. Dia ibuku dan hanya aku yang dia miliki. Aku harus membahagiakannya." Inilah yang tidak disukai Neta dari sosok Rona. Apa pun yang diperintahkan sang ibu selalu dia lakukan, meskipun itu akan menyakiti hati istrinya.


Sungguh pria yang tidak berhati, sosoknya yang kini tidak sama seperti saat mereka belum menikah. Terlihat jelas dulu Rona adalah sosok pria bertanggung jawab, dia juga begitu mencintai Neta. Semua berubah setelah ibunya tinggal bersama mereka, setiap hari ada saja drama yang ibunya buat. Salah satunya tentang keturunan. Hinaan juga cacian Neta dapat dari sang mertua, tidak jarang Neta juga mendapat kekerasan fisik. Ditendang, dipukul bahkan dikunci di gudang berhari-hari tanpa diberi makan dan semua itu terjadi saat Rona ke luar kota.


Sebelum menikah, Neta diperlakukan keluarganya bak putri kerajaan, tetapi setelah menikah semua berubah. Bukannya menjadi ratu dia lebih mirip upik abu.

__ADS_1


__ADS_2