
Pesta sudah berakhir, semua orang sudah meninggalkan tempat tadi diadakannya pesta. Semua orang pulang dengan membawa kebahagiaan, seperti dua orang yang kini duduk dalam satu mobil dengan tangan yang saling terpaut tidak mau terlepas. Ale memutuskan mengantar Letha pulang. Tiga hari tidak bertemu membuatnya tak ingin berpisah.
"Ayolah, aku memang tampan, tapi mau sampai kapan kamu menatapku seperti itu?" Ale kembali ke mode menjengkelkan, tetapi kini Letha malah gemas melihat Ale seperti itu.
"Katakan, sejak kapan kamu mencintaiku?" tanya Letha tanpa mau melepas tatapannya dari Ale.
"Sejak aku bertemu denganmu untuk pertama kali," jawab Ale sambil menatap Letha sekilas lalu fokus lagi ke depan.
"Itu bukan cinta, kamu hanya kagum saja. Mana ada anak kelas enam sekolah dasar udah jatuh cinta sedalam itu?" Letha tidak percaya dengan pengakuan Ale.
"Awalnya aku kagum karena kecantikanmu, lalu aku mulai penasaran tentangmu. Aku makin tertarik untuk lebih mengenalmu dan setelah tahu semua tentangmu, aku ingin memilikimu seutuhnya, aku ingin menjagamu, melindungi dan membahagiakanmu. Jadi, aku gak tahu kapan aku jatuh cinta padamu."
Mobil Ale sudah lama terparkir, terapi si penghuni mobil tidak jua terlihat turun. Mereka masih duduk dengan posisi saling menatap, tangan keduanya saling bertautan.
"Aku bahagia, sangat bahagia. Terima kasih, terima kasih sudah membalas cintaku." Ale masih tidak percaya kalau cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, Letha juga kini mencintainya.
"Seharusnya aku yang bilang makasih, kamu sudah mencintaiku selama itu. Kamu juga sudah sabar menungguku. Terima kasih." Letha tidak bisa menahan tangisnya. Dia sangat bersyukur dicintai dengan begitu besarnya dan yang paling penting Ale menerima dirinya dengan kekurangan yang dia miliki.
Tangan Ale menghapus air mata yang membasahi pipi Letha. Dia tidak mau melihat Letha menangis. Wanita yang kini di hadapan Ale, dilarang keras menitikkan air mata.
"Ayo, menikah besok!" ajak Ale enteng.
"Ale!"
"Baiklah! Lalu kapan kita menikah? Minggu depan kurasa waktu yang tepat." Ale kembali ke mode menyebalkan. Bagaimana bisa secepat itu menikah sementara ada banyak yang harus mereka siapkan.
"Ayolah! Kita bukan pesulap yang hanya tinggal mengatakan 'simsalabim abrakadabra' semua langsung siap." Letha berbicara sambil memalingkan wajahnya.
"Kamu meragukanku? Aku bisa menyiapkan segalanya dalam satu minggu. Jadi bersiaplah, minggu depan kita menikah. Aku tidak menerima penolakan." Letha hanya bisa mengiyakan keinginan Ale. Dia tidak mungkin menang jika melawan Ale.
"Baiklah. Semua keputusan ada di tanganmu. Sudah malam, aku masuk dulu, ya." Ale menarik tangan Letha saat wanita itu hendak keluar.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Letha. Matanya melotot tidak percaya, lalu menggeleng .
"Jangan harap, aku hanya akan memberikan first kiss pada suamiku." Letha tahu maksud Ale yang memonyongkan bibirnya.
"Tapi aku, kan, calon suamimu dan minggu depan kita menikah," rajuk Ale.
"Baru calon suami, bukan suami dan jangankan minggu depan sekalipun esok kita menikah aku tidak mau memberikannya. Biarlah tangan ini yang sudah ternoda, pinggang ini juga, yang lain jangan harap," ucap Letha tegas dan panjang lebar sambil menunjuk bagian yang pernah di sentuh Ale.
Mendengar Letha yang begitu menjaga dirinya, Ale benar-benar bersyukur, gadis yang dia cintai bisa menjaga kesuciannya.
"Aku masuk dulu, selamat malam," ucap lagi Letha.
"Masuklah, sampai ketemu lagi. Selamat malam, Bidadariku."
******
Sementara di mobil lain seorang pria tengah sendirian duduk di balik kemudi, ada rasa bahagia di hatinya bisa bertemu degan wanita yang selama ini dia cintai tapi sayangnya rasa bahagia itu bertepuk sebelah tangan. Faktanya wanita itu masih sangat membencinya. Pria itu adalah Angga.
"Rasa itu masih tersimpan dengan baik di sini," ucap Angga sambil memegang dadanya.
Sekuat apapun Angga berusaha melupakan wanita itu, dia malah makin mencintainya. Hatinya tertutup rapat untuk wanita lain.
Mobil Angga berhenti saat melihat ada mobil lain yang terlihat membutuhkan bantuan.
"Kenapa mobilnya, Pak?" tanya Angga pada supir taxi yang tengah memeriksa mesin mobil.
"Mobil saya tiba-tiba mogok, saya kurang paham tentang mesin," ucap sopir menjelaskan.
Angga melihat ke jok belakang, rupanya sopir itu tengah membawa penumpang.
"Saya juga kurang paham tentang mesin mobil. Kalau Bapak mau, biar saya panggilkan montir." Angga mengusulkan. Dia merasa kasihan pada supir itu. Tempat mereka berada kini adalah tempat sepi, jarang ada kendaraan yang lewat dan juga rawan kejahatan.
__ADS_1
"Boleh, kalau tidak merepotkan." Sopir itu menyetujui usul Angga, kemudian Angga menghubungi bengkel yang buka dua puluh empat jam.
Terlihat sang sopir menghampiri penumpangnya, tidak lama penumpangnya keluar seperti tengah mencari sinyal.
"Hape saya gak ada sinyalnya, Pak. Hape Bapak ada sinyalnya, gak?" tanya si penumpang taxi.
"Hape Bapak mati, Neng," balas sopir taksi.
"Arneta?" panggil Angga saat tahu itu Arneta. Baru saja Angga hendak memberi bantuan pada penumpang taxi itu, tetspi dia dibuat kaget saat tahu penumpang itu adalah Arneta.
"Kamu?"
Arneta tidak menyangka orang yang menawarkan diri membantu sopir taksi adalah Angga. Pria itu menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Tempat itu sepi dan rawan kejahatan. Dia tidak akan menemukan taksi di daerah sepi itu.
Dan di sinilah Arneta sekarang, duduk satu mobil dengan Angga. Setelah orang bengkel datang mereka baru bisa meninggalkan sopir taksi itu. Angga juga membayar biaya perbaikan mobil taksinya.
"Kamu pulang ke mana? Gak mungkin aku mengantarmu ke rumah Rona." Arneta menatap tajam pada Angga. Dia merasa kesal saat mendengar nama pria itu disebut di depannya.
"Dari sini lurus sampai melewati tiga lampu merah. Dekat apotek dua puluh empat jam belok kiri, tidak jauh dari situ ada pasar. Aku tinggal di belakang pasar." Neta menjelaskan tujuan mereka. Angga tahu daerah itu, setahu dirinya di belakang pasar hanya ada pemukiman kumuh, apa mungkin Neta tinggal di sana, pikir Angga.
Melihat reaksi Angga, Neta bisa melihat ada tanya di baliknya tapi dia lebih memilih diam dan membiarkan Angga menebaknya sendiri.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Angga tahu situasi ini tidak pas untuk bicara sekalipun hanya untuk basa basi. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di tujuan, kini mobil Angga sudah berhenti di depan gang pinggir pasar.
"Terima kasih. Tempat aku tinggal tidak jauh dari gang ini, jadi tidak perlu mengantarku. " Angga yang sudah hampir membuka safety belt mengurungkan niatnya. Dia tidak bisa membantah dan memilih membiarkan Neta pergi sendiri.
Angga kembali melajukan mobilnya. Dia masih dipenuhi rasa penasaran tentang Neta yang tinggal di daerah kumuh. Sementara yang dia melihat Neta dan orang tuanya terlihat baik-baik saja. Dia akan mencari tahu dan memastikan Neta baik-baik saja. Angga tidak tahu kalau Neta sudah mendapat pengawalan yang ketat tanpa setahu mereka.
Setelah sampai di rumah, Neta langsung merebahkan dirinya. Setelah hampir satu jam, matanya enggan terpejam. Dia teringat akan masa lalu, di mana dia mulai membenci Angga. Jika benar apa yang diucapkan Rona tentang Angga hanya fitnahan belaka, dia harus meminta maaf pada pria itu.
Dia ingat bagaimana dulu saat dirinya menghina dan merendahkan Angga karena hasutan Rona. Bagaimana bisa dia begitu percaya tanpa mencari tahu kebenarannya dulu, mungkin karena cinta yang sudah membutakan mata hatinya. Sungguh dia merutuki semua kebodohannya dulu.
__ADS_1
"Apa aku punya keberanian untuk meminta maaf padanya? Aku terlalu malu mengingat aku yang banyak salah padanya. Apa dia bisa memaafkanku?"