
Pagi yang cerah. Matahari sudah menampakkan sinarnya. Udara pagi yang sejuk sudah mulai menghangat. Hangatnya sinar mentari yang memasuki kamar tidak membuat si empunya kamar terbangun. Nyaman, itu yang terlihat. Selimut menutupi semua bagian tubuhnya. Yang tampak hanya kepalanya saja.
Setelah salat Subuh, Letha kembali tertidur. Semalam Ale mengajak Letha melakukan panggilan video sampai tertidur, padahal mereka baru saja bertemu. Baru juga satu jam berpisah, Ale sudah mengatakan rindu. Entah bagaimana kalau seminggu tidak jumpa.
Tepat pukul sepuluh pagi, Letha sudah bangun dan tengah merias diri. Setiap hari Minggu di minggu terakhir, Letha punya jadwal kumpul bersama para sahabatnya. Kafe milik Danu adalah tempat biasanya mereka berkumpul.
"Ben, antar Kakak ke kafe sekarang, ya!" Letha menghampiri Beno yang tengah mencuci mobil yang kemarin Letha berikan.
"Gak papa nunggu dulu? Nanggung, dikit lagi."
"Ok."
Sambil menunggu Beno, Letha memeriksa ponselnya yang sedari tadi tidak berhenti bergetar. Beberapa notifikasi tampak terlihat di ponselnya. Yang paling banyak adalah panggilan dari Ale. Letha hendak mengerjai Ale dengan hanya membaca pesan tanpa mau membalasnya. Dia ingin tahu akan seperti apa Ake jika diabaikan.
"Rasain tuh, Bocah Tengil. Kemarin kamu gak ngasih kabar, sekarang giliran aku gak ngasih kabar," gumam Letha sambil tertawa.
Beno menatap aneh pada Letha yang tertawa sendiri. Beno berpikir letha tengah berbalas pesan di grup WhatsApp.
"Ayo, berangkat, Kak!" Beno sudah siap mengantar Letha.
Letha berdiri dan masuk ke dalam mobil, bibirnya masih tersungging senyuman yang membuat Beno penasaran.
"Kakak, gak papa? Dari tadi senyum terus." Beno menatap Letha dengan masih penasaran.
"Gak papa. Emang gak boleh senyum?" tanya Letha dan kembali fokus pada ponsel. Dia melihat banyak chat yang masuk dari Ale dan dia akan terus mengabaikannya.
"Nanti kalau mau pulang kabarin, ya," ucap Beno.
"Ok."
Dari parkiran Letha sudah bisa melihat para sahabatnya yang sudah berkumpul. Lambaian tangan dari Sarah dan Marta menyambut kedatangan Letha.
"Selamat datang, Calon Pengantin." Letha mengerucutkan bibirnya kala mendengar mereka menggodanya. Dia belum terbiasa dengan panggilan itu.
"Keliatan banget kalau kawan kita tengah bahagia. Yang cewek, yang cowok. Wajah mereka berbinar." Angga langsung menatap ke arah suara, Marta pura-pura tidak melihat.
"Aku ikut bahagia untukmu, Let. Semoga semuanya lancar sampai hari H. Dan kamu ...." Danu menjeda ucapannya, "Lupakan Neta, dia wanita yang bersuami."
"Menjauhinya mungkin aku bisa, tapi melupakannya itu sesuatu yang sulit." Angga sudah mencobanya dan semua itu tidak mudah. Semakin dia berusaha melupakan, Angga malah makin mencintainya.
__ADS_1
"Apalagi setelah tahu pernikahannya dengan Rona tinggal menunggu putusan sidang," sambung Angga. Apa yang dikatakan Angga jelas membuat semua orang menatap pria itu penuh tanya.
"Maksudmu? " tanya Letha tidak mengerti.
"Semalam Neta yang bilang sendiri kalau mereka sudah menandatangani surat cerai." Semua orang terdiam. Neta rupanya sudah sampai di titik jenuhnya. Tiga tahun berumah tangga dengan pria yang mereka kenal tidak baik ditambah sang ibu yang matrenya bukan main.
"O, ya. Kapan kalian tahu Ale itu Saka? Aku bisa melihat kalian tidak kaget sepertiku semalam." Letha yang tidak sabar, dia langsung mengalihkan pembicaraan. Pertanyaan itu sudah ingin ditanyakan dari semalam.
"Kami juga baru tahu semalam, bedanya kami tahu sebelum kamu." Angga menceritakan bagaimana mereka bisa tahu Ale adalah Saka.
Ale sempat menghubungi Beno sebelum acara dimulai. Dari Beno mereka tahu semuanya.
Sementara di tempat lain, Ale baru menyelesaikan pekerjaannya. Sebuah studio foto miliknya sendiri menjadi tempat favorit. Ruangan yang cukup besar dengan dipenuhi foto-foto tapi dengan satu wajah yang sama. Semua foto yang tergantung adalah foto Letha. Foto Letha yang masih berseragam putih abu sampai foto beberapa hari yang lalu, tentu saja semua diambil tanpa sepengetahuan wanita itu.
Tadi perasaannya tidak menentu saat dia kesulitan menghubungi Letha. Pesan yang dikirim pun hanya dibaca tanpa dibalas, tapi sekarang dia bisa bernapas dengan lega karena Letha baik-baik saja. Seseorang yang terus mengawasi Letha dari jauh sudah memberi kabar kalau Letha baik-baik saja dan tengah menikmati quality time bersama para sahabatnya.
"Ok, Cantik. Kali ini aku maafkan kamu karena mengabaikan pesanku, tapi kalau sudah menikah nanti, akan kubuat hanya aku yang ada dalam pikiranmu." Ale bergegas membereskan pekerjaannya. Dia akan menemui Letha yang tengah asyik bersama para sahabatnya.
"Saka, kamu yakin akan menikah minggu depan? Ini terlalu cepat. Ada banyak hal yang harus disiapkan. Pernikahan itu bukan main-main." Ale yang hendak pergi urung melangkah karena sang ibu menghampirinya. Rasmina cukup kaget saat mendengar berita rencana pernikahan putranya yang sudah diatur anak buah Ale tanpa melibatkan dirinya.
"Ayolah, Mi. Segala sesuatu itu jangan dibuat ribet. Mami tinggal duduk manis sampai nanti waktunya tiba. Saka mau semua berjalan sesuai yang diinginkan Letha."
Rasmina hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia lupa siapa putranya. Segala keputusan yang sudah putranya ambil adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah lagi termasuk oleh ayahnya sendiri.
*****
Kini Ale sudah sampai di kafe milik Danu. Dia bisa melihat kekasih hatinya yang tengah tertawa riang. Asyik bersama para sahabatnya, Letha seakan enggan membalas pesan yang Ale kirimkan.
"Hallo, Sayang. Kamu nongkrong, kok, gak ajak-ajak aku." Ale duduk dengan kursi yang diambil dari meja lain. Mengabaikan keberadaan orang lain yang ada di sekitar mereka.
"Maaf, aku gak mau ganggu waktumu. Lagian ini acara rutin kami berenam," ucap Letha sambil tersenyum yang dibuat semanis mungkin.
Dia merasa aneh karena Ale tahu dirinya ada di cafe. Ale juga tidak memperlihatkan kekecewaan karena pesan dan panggilannya yang diabaikan.
"Ayolah, Sayang. Untukmu aku pasti ada waktu, kalau kamu butuh aku, tinggal telepon saja." Ale merangkul Letha dengan posesifnya, membuat semua orang jengah melihatnya.
"Ok. Lain waktu aku pasti hubungi kamu," ucap Letha mengalah. Dia terlalu malu diperlakukan seperti itu. Dia juga risih dengan sikap Ale karena sekarang mereka di tempat umum.
"Kayaknya dunia milik mereka berdua, kita cuma numpang idup," sindir Sarah yang merasa keberadaan mereka tidak dianggap oleh Ale.
__ADS_1
"Sarah!" rengek Letha tidak enak.
"Oh, hai! Maaf, aku lupa kalau ada kalian di sini," ucap Ale lempeng tanpa dosa.
Ale kembali fokus pada Letha dan itu membuat yang lainnya menahan geli ingin tertawa. Letha adalah wanita yang bebas, dia tidak suka di kekang dan entah akan seperti apa hubungan pernikahan mereka nantinya.
"Sayang, kamu udah cerita sama mereka tentang pernikahan kita?" Mendengar kata pernikahan, semua orang saling pandang. Mereka tahu Ale serius dengan Letha, tetapi jika bicara soal pernikahan, itu sepertinya masih terlalu dini.
"Pernikahan?" Kali ini Marta yang bertanya.
"Maaf, aku belum cerita sama kalian kalau kami akan menika. Sebenarnya ini kemauan Ale," ucap Letha menjelaskan. Dia merasa tidak enak karena urusan sepenting itu lupa dibicarakan.
"Kapan ka ...." belum Angga selesai bicara, Ale sudah memotongnya.
"Minggu depan. Minggu depan kami akan menikah dan persiapannya sudah berjalan empat puluh persen." Letha menatap tidak percaya kalau Ale seserius itu. Dia pikir rencana itu masih bisa dibicarakan lagi.
"Apa keluarga kita tidak perlu membicarakannya terlebih dahulu?Aku belum bilang sama ibu tentang rencana kamu."
"Rencana kita, Sayang." Ale meralat perkataan amiaha.
"Untuk urusan ibu, Mami yang urus. Sekarang mereka sedang membahas semuanya. Kamu jangan khawatir, semua pasti beres tepat waktu." Sultan memang bebas bertindak sesuka hatinya dan Letha hanya bisa kembali mengalah. Esok atau lusa sama saja, apalagi niat baik jangan ditunda-tunda.
"Ok. Terserah kamu aja." Ale tersenyum dan mengecup tangan Letha. Dia suka Letha yang penurut. Keluarga pria itu tidak suka dibantah apalagi ditolak.
"Apa kita bisa bicara berdua? " Ale menatap Angga dengan tatapan yang menusuk. Sementara Angga mulai cemas, dia sedikit tahu siapa pria yang kini tengah menatapnya itu.
"Denganku?" tanya Angga memastikan.
"Kita bicara di dalam." Angga tidak mengiyakan, tetapi dia yakin Ale ingin bicara penting dengannya. Ale berdiri setelah mendapat izin dari Letha.
"Calon suamimu mau bicara apa sama Angga?" tanya Marta.
"Mana ku tahu. Mungkin soal pekerjaan," jawab Letha dengan menggidikkan bahunya.
"Aku ngerasa ini kayak mimpi. Aku sudah mengubur sedalam-dalamnya keinginan untuk berumah tangga, tapi kini Ale hendak mewujudkannya." Letha berubah sendu. Marta dan Sarah menghampiri sahabatnya itu.
"Kamu gak mimpi. Kamu juga berhak bahagia. Dari sekian banyak yang nolak kamu, yakinlah Tuhan sudah menyiapkan seseorang yang bisa menerima kamu apa adanya dan seseorang itu mungkin saja Ale," ucap Sarah.
"Berbahagialah! Kami yakin dengan keseriusan Ale. Itu sebabnya kami langsung setuju dengan niat baiknya. Usianya memang di bawah kita, tapi pemikirannya dewasa. Ya, walaupun u terkadang sikapnya menyebalkan." Marta mencoba mencairkan suasana. Dia tidak mau sahabatnya berlarut-larut dalam kesedihan.
__ADS_1
"Kamu bukan tidak bisa memiliki keturunan tapi sulit. Yang berarti masih ada kesempatan sekalipun itu sangat kecil. Kamu bisa konsultasi untuk berobat atau lewat pengobatan alternatif mungkin. Calon suamimu Sultan, kuras saja uangnya untuk pengobatanmu." Kini suasana sudah mulai mencair, sudah ada senyum di wajah Letha.
"Baiklah, akan aku coba. Jangan tinggalkan aku jika hasilnya tidak sesuai harapan. Setelah Tuhan, aku hanya punya ibu dan kalian. Terima kasih." Mereka saling menggenggam tangan, memberikan kekuatan pada Letha.