
Semalam Ale berbicara pada orang tuanya. Dia menceritakan tentang Letha, wanita yang dicintainya bertahun-tahun lamanya. Cinta monyetnya juga cinta pertama Ale.
Awalnya Ale tidak ingin menceritakan tentang Letha karena ada yang harus dia pastikan dulu. Dia tidak mau salah langkah, tetapi karena Rasmina mendesaknya akhirnya Ale mengalah. Dia ceritakan tentang Letha dari awal hingga kemarin saat di villa.
Awalnya, Rasmina dan Alvonso keberatan karena usia Letha yang jauh di atas putranya. Ditambah kekurangan Letha yang menjadi alasan dia enggan berkomitmen. Ale mencoba menceritakan sosok Letha. Dia mengatakan kalau wanita itu adalah karyawan terbaik di kantor papanya. Setelah mendengar cerita Ale, Alvonso lebih dulu menyetujui. Alvonso tahu benar sosok Letha, lima tahun Letha mengabdikan dirinya untuk perusahaan AB Group.
Ale ingin orang tuanya melamar Letha untuk jadi istrinya. Dia yakin Letha adalah pilihan yang tepat untuk jadi istrinya. Melihat keseriusan Ale, Rasmina menyetujuinya. Dia akan secepatnya melamar Letha untuk Ale.
Dan tepatnya pagi tadi, Ale dan Alvonso cukup kaget saat Rasmi mengungkapkan rencananya melamar Letha hari itu juga.
"Mami serius? Gak harus secepat itu juga." Ale kaget saat ibunya mengatakan niatnya melamar Letha hari itu juga. Dia melihat ibunya begitu antusias.
"Niat baik itu harus disegerakan, Saka. Jangan sampai kamu keduluan orang, nyesel baru tahu." Rasmina benar dan Ale pun menyetujuinya.
Kini Letha sudah berada di ruangannya. Dia kehilangan semangat kerjanya, bingung dengan situasi yang kini dialaminya. Dia ingin menolak lamaran itu, tetapi entah mengapa hatinya malah melarangnya.
"Kalau aku menerima lamaran itu, aku bisa bayar hutangku sama Ale, tapi aku gak tahu seperti apa putra Pak Presdir. Bagaimana kalau dia tidak sebaik Pak Alvonso? Apa aku menolak saja dan menerima Ale yang jelas-jelas mencintaiku? Dia memang menyebalkan, tapi lumayan tampan juga." Letha menutup wajah dengan kedua tangannya, malu sendiri karena sudah mengakui ketampanan Ale.
"Sadar, Let, sadar. Sebaik dan secinta apa pun mereka, aku tidak pantas menjadi pasangan mereka. Aku hanya wanita yang tidak sempurna." Letha kembali murung, sungguh ini cobaan terberatnya.
"Aku jadi merindukan Angga. Kapan dia akan pulang?" gumam Letha.
Selama lima tahun ini Letha lebih terbuka pada sahabatnya yang satu itu, mungkin karena Angga yang lebih sering berkomunikasi dengan dirinya.
"Ale. Aku lupa bertanya sama Beno di mana kami akan bertemu." Tiba-tiba dia ingat ada janji untuk bertemu dengan pria itu. Letha meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Beno.
"Nanti aku antar Kakak ke sana. Jam tujuh aku jemput, ya." Itulah isi pesan Beno pada Letha.
"Ok. Hari ini aku harus selesaikan semuanya. Setelah ini, aku baru bisa menyelesaikan masalah yang lainnya." Letha kembali fokus pada pekerjaannya. Dia harus segera menyelesaikannya sebelum pulang.
Dia akan melupakan sejenak masalahnya dan fokus dengan pekerjaannya. Letha meyakinkan dirinya kalau semuanya akan baik-baik saja.
Sementara Ale kini tengah berada di suatu tempat, sebuah bukit di pinggiran kota. Pemandangan yang indah bisa dilihat dari segala penjuru. Bukan pemandangan alam bebas yang biasa dilihat, tetapi pemandangan gedung-gedung pencakar langit dan bangunan yang berderet di tengah Ibukota.
Pemandangan akan terlihat lebih indah jika dilihat di malam hari, cahaya lampu di setiap bangunan yang terlihat dari bukit akan nampak seperti bintang-bintang di langit yang bekerlip.
__ADS_1
Rencananya Ale akan menyiapkan makan malam romantis bersama Letha di bukit itu. Makan malam ini akan jadi makan malam spesial bagi mereka. Begitulah harapan Ale.
Ale sendiri yang menyiapkan segala sesuatunya termasuk makanan yang akan mereka santap nanti malam. Ya, Ale pandai dalam segala hal, semua dia pelajari demi wanita pujaan hati. Dia akan memanjakan Letha dengan segala yang dimiliki dan dia bisa.
Hari ini sesuai harapan Letha, semua pekerjaan selesai sebelum dia pulang. Dia tidak mau terlambat untuk menemui Ale. Dia harus segera menyelesaikan semua masalahnya satu persatu. Andai dia sadari, kini wajahnya tengah berseri. Entah karena apa hanya dia yang tahu.
Sepanjang jalan dia menyapa ramah semua karyawan, terlihat aneh memang di mata mereka. Letha yang mereka tahu adalah wanita dingin dan super duper jutek dan pelit senyum, tetapi kini dia memberikan senyuman terbaiknya pada semua karyawan yang dilewati sebelum meninggalkan kantor.
"Bu Letha lagi jatuh cinta kayaknya, tumben dia senyum."
"Tuh, kan, lebih cantik kalau senyum."
Suasana hatinya sedang baik, Letha mengabaikan ucapan para bawahannya.
Sesampainya di rumah, dia langsung membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia memilih pakaian yang akan dipakainya. Hampir semua pakaian keluar dari lemari, tidak ada yang cocok menurutnya.
Letha meraih ponsel yang disimpan di atas nakas. Dia akan menghubungi dua sahabatnya. Marta dan Sarah tentunya. Letha melakukan panggilan video pada mereka.
Bukannya mendapat solusi Letha malah tambah bingung, sahabatnya tidak memberi solusi. Terjadi perdebatan antara Marta dan Sarah.
"Kamu gak punya baju yang lain? Yang lebih santai gitu? Ini terlalu formal." Marta mengacak-acak baju Letha, semua baju yang dimiliki letha tidak ada yang cocok di mata mereka.
"Sebentar, di rumah ada pakaian yang kubeli bulan lalu. Aku belum memakainya karena badanku gak muat, gimana?" Marta menawarkan Letha memakai pakaiannya. Dia yakin Letha pasti cocok memakai pakaian itu.
"Ok, boleh dicoba." Letha menyetujui ide Marta.
Kemudian Marta menelepon asisten rumah tangganya untuk membawakan pakaian itu ke rumah Letha. Tidak berselang lama, sebuah dress cantik berwarna cream ada di tangan Marta. Tanpa menunggu lama Letha memakai dress itu dan hasilnya sungguh menakjubkan. Letha membuat kedua sahabatnya terpukau, ukuran dress yang pas di badan letha.
"Nah, ini baru baju." Sarah mengacungkan jempolnya.
"Kok, aku ngerasa aneh, ya? Ganti, ah. Cuma mau bicara sama Ale aja udah kaya mau ke pesta."
" JANGAN !!" teriak Marta dan Sarah bersamaan.
Sebisa mungkin Marta dan Sarah harus memastikan Letha memakainya. Sebenarnya, pakaian itu khusus dibeli Ale untuk Letha pakai malam ini, tentunya tanpa sepengetahuan wanita itu.
__ADS_1
"Udah. Kamu lebih cantik pakai ini. Baju kamu gak ada yang cocok. Baju kamu semua terlihat formal, kayak mau kerja aja," rutuk Marta.
"Sekarang duduklah, aku make over kamu. Harus ada polesan sedikit biar terlihat cocok dengan bajunya." Sarah mendudukkan Letha di kursi meja rias, dengan kelihaian yang dimilikinya, Sarah akan membuat Letha tampil beda malam ini.
"Aku mau nego sama Ale bukan makan malam. Apa perlu dandan kaya gini?" Letha masih saja mengeluh.
"Harus!" teriak keduanya bersamaan.
"Kalian ini teriak terus. Berisik tahu," keluh Letha.
Suara klakson mobil menghentikan perdebatan mereka. Letha turun dan menghampiri Beno yang sudah berdiri di dekat mobil. Ya, Beno yang datang. Dia akan menjemput Letha dan membawanya ke tempat yang sudah Ale sediakan untuk mereka makan.
"Kakak bisa berangkat sendiri. Kamu bilang aja di mana tempatnya." Letha menolak saat Beno akan mengantarnya ke tempat tujuan.
"Kakak gak akan tahu di mana tempatnya. Ale ada di pesisian kota. Dia mau ketemu Kakak di sana."
Letha tidak mau membantah lagi. Dia ingin segera membereskan semua masalahnya dengan Ale karena masalah lain tengah menantinya.
Benar saja apa yang Beno katakan, Letha kini sudah jauh dari Ibukota. Meraka kini tengah menapaki sebuah jalan berbatu, Letha sampai merinding melihat sepanjang jalan semua gelap tanpa cahaya. Tidak ada rumah yang ditemui di sekitar itu, semua hanya dipenuhi rumput ilalang yang bergoyang ditiup angin.
"Kamu gak salah jalan, Ben? Ini gelap, Kakak juga gak lihat ada rumah di sekitar sini." Letha terlihat cemas. Dia takut melihat tempat yang kini mereka datangi.
"Enggak, kok. Aku yakin, kami sering ke sini dan camping di sana. Ale kebetulan lagi ada kerjaan di sana." Beno menjelaskan supaya Letha tidak merasa cemas.
Mobil berhenti setelah mereka melewati jalan yang menanjak. Entah berada di mana mereka, Letha tidak tahu. Udara malam begitu menusuk di kulit Letha. Tahu akan bertemu Ale di tempat terbuka seperti ini dia akan membawa jaketnya. Letha juga merutuki kedua sahabatnya. Dia kesulitan berjalan karena drees juga high heel yang dipakainya.
Beno membimbing Letha dengan bantuan obor yang di pasang di sepanjang jalan. Dari jauh Letha bisa melihat ada gemerlap lampu. Dia juga melihat ada seseorang yang tengah berdiri membelakangi arah mereka datang.
"Aku cuma bisa nganter Kakak sampai sini, ya. Itu Ale di sana," tunjuk Beno pada sosok pria yang tengah berdiri membelakangi.
"Jangan pergi, Ben. Kakak takut, ini di mana Kakak gak tahu." Letha celingukan ke setiap arah, semua nampak gelap. Wajahnya memperlihatkan ketakutan.
"Kakak jangan khawatir, ada Ale. Aku pergi, Kak." Beno berlalu meninggalkan Letha dengan rasa takutnya. Dia menatap Ale yang tengah berdiri membelakanginya.
Letha berjalan mendekat dan berdehem untuk memberitahu kalau dia sudah sampai.
__ADS_1