
Sebuah tempat makan dengan tema outdoor menjadi pilihan Letha. Satu jam yang lalu Ale memintanya bertemu dan di sinilah mereka kini berada. Duduk berdampingan dengan disuguhkan pemandangan yang cukup menyegarkan mata. Mereka baru selesai makan siang.
"Berapa lama kamu pergi?" tanya Letha tanpa mau menatap Ale.
"Tiga hari. Aku pasti sangat merindukan kamu, Sayang." Letha terlihat tersipu malu.
"Apa kamu akan merindukan aku? Ah, kamu pasti nangis-nangis ingin ketemu nanti," goda Ale. Spontan Letha mencubit tangan Ale.
"Calon suami itu disayang bukan dicubit," goda Ale sambil merebahkan kepalanya di atas pangkuan Letha.
"Jangan ngarep," ucapnya sambil memalingkan wajah.
Untuk sesaat suasana menjadi hening, Ale menatap Letha dengan senyum yang terus terukir. Sementara Letha, tanpa dia sadari tangannya membelai kepala Ale.
"Kalau kita menikah, kamu mau gak tinggal hanya berdua denganku?" Letha menatap gemas pada Ale, walaupun Letha belum mengiyakan ajakan Ale untuk menikah, tetapi dia dengan percaya dirinya membicarakan pernikahan.
"Emang siapa yang mau menikah denganmu?" tanya Letha dengan senyum indahnya.
"Gak ada yang mau menikah denganku. Aku hanya Bocah Tengil yang menyebalkan. Tapi si Bocah Tengil ini ingin menikahi Bidadari tak bersayap ini. Mejadikanmu Ratu di hatiku." Ale mengecup tangan Letha.
Letha tidak bisa berkata-kata. Dia terharu dengan apa yang Ale katakan. Ini pengalaman pertamanya begitu dekat dengan seorang pria selain Beno dan para sahabatnya.
"Jam berapa kamu berangkat?" tanya Letha sambil melihat jam di tangannya.
"Jam dua," jawab Ale.
"Kamu harus segera pergi. Nanti kamu terlambat."
"Aku masih ingin bersamamu, sebentar lagi." Ale tidak mau merubah posisinya, dia masih merebahkan kepalanya dipangkuan Letha.
"Kalau begitu, aku gak mau menikah denganmu." Ale langsung duduk, tangannya meraup pipi Letha, memberinya tatapan tajam.
"Jangan katakan itu. Katakan kalau kau mau menikah denganku. Katakanlah!" Suaranya bergetar dan lirih. Ale merapatkan wajah mereka hingga tidak berjarak. Kening mereka saling beradu, saling berbagi oksigen untuk beberapa saat.
"Aku ... aku ... aku mau menikah denganmu," ucap Letha dengan terbata. Hatinya sudah mantap menerima pinangan Ale. Dia tidak meragukan niat Ale, Letha bisa melihat keseriusan si Bocah Tengil itu.
"Secepatnya. Secepatnya aku akan menikahimu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Letha kini berada dalam pelukan Ale. Nyaman dan tentram itu yang dia rasakan.
"Aku punya hadiah untukmu, hadiahnya sudah aku simpan di kantormu," ucap Ale saat mereka sudah siap meninggalkan tempat itu.
"Aku sedang tidak ulang tahun, jadi buat apa hadiah?" balas Letha.
"Aku tahu ulang tahunmu bulan depan dan tidak harus ada momen untuk memberi hadiah pada orang yang terkasih." Letha menatap Ale, sungguh dia tidak percaya akan begitu dicintai oleh pria yang dia anggap bocah.
Mereka akhirnya berpisah untuk beberapa hari. Letha diantar Ale kembali ke kantornya sebelum pergi ke bandara.
__ADS_1
Letha masuk ke ruangannya. Ada kado kecil di atas mejanya. Dia yakin itu kado yang Ale maksud. Dia meraihnya dan langsung membukanya.
Sebuah kunci mobil. Ale juga menuliskan sesuatu dalam kertas kecil berwarna merah jambu. Ungkapan rasa sayangnya untuk Letha.
Letha mengikuti perintah Ale untuk kembali turun dan melihat kado darinya kini berada di depan lobby kantor. Mobil sport sudah terparkir indah di depan kantor Letha dan itu membuat semua orang yang melihat menatap dengan kagum. Mobil itu yang Letha inginkan sejak lama.
Sepulang makan malam dengan Ale, Letha menghubungi seseorang. Dia ingin mendahulukan membayar biaya liburan dan membatalkan mobil yang dipesannya. Beruntung orang itu tidak mempermasalahkannya, dengan mudahnya Letha bisa membatalkannya.
Letha merasa hadiah dari terlalu mahal. Dia ingin menolaknya, tetapi harus menunggu Ale kembali dan bicara langsung. Letha memutuskan untuk pulang dengan naik mobil yang biasa dipakainya. Mobil hadiah dari Ale akan dikirim ke rumahnya oleh supir kantor.
Ada yang aneh dengan Letha malam ini. Dia tidak bisa menghapus Ale dari pikirannya. Matanya juga enggan terpejam. Dia enggan mengakui kalau dia tengah merindukan Bocah Tengil itu.
Letha mengingat Ale kecil saat sering bermain ke rumahnya. Seorang anak laki-laki dengan kulit putih bersih, rambutnya tertata rapi. Badannya sangat kurus, tetapi masih terlihat tampan. Dia tidak menyangka anak kecil itu mampu membuat Letha merasakan kenyamanan.
"Apa selama itu Ale memendam rasa padaku? Saat usianya baru beranjak remaja? Jujur saja, kalau anak itu adalah Ale kecil berarti dia yang sudah mencuri hatiku sedari awal. Kok, bisa sih?"
Saat Letha masih sekolah di menengah atas, dia sempat terpesona dengan anak kecil yang selalu bermain dengan Beno. Anak kecil dengan senyuman yang menawan dan wajahnya yang tampan. Hanya saja tubuhnya yang kurus seperti anak kurang gizi. Penampilannya selalu rapi dan perilakunya yang sopan.
"Rupanya tanpa aku sadari, aku juga sudah menyukainya sejak lama. Bagaimana ini bisa terjadi?" Letha menggelengkan kepalanya. Semua terlalu kebetulan.
Letha hanya senyum-senyum sendiri jika mengingat masa lalu. Jangan sampai Ale tahu kalau dia juga sudah menyukai Ale sedari dulu. Sungguh memalukan jika Ale sampai tahu.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya, sebuah nomor tanpa nama terlihat di layar ponselnya. Sesaat Letha merasa aneh dengan urutan nomor itu. Enam angka terakhirnya sama dengan tanggal lahirnya. Dia penasaran dengan si pemilik nomor.
"Hallo, Assalamu'alaikum." Letha mengucap salam.
"Kamu? Kok, tahu nomorku?" Letha tahu siapa yang ada di balik telepon.
"Apa sih yang gak aku tahu tentangmu? Kamu suka hadiahnya?" Orang itu rupanya Ale.
"Hadiahnya terlalu mahal. Aku gak bisa menerimanya," ucap Letha hati-hati. Takut Ale tersinggung.
"Itu tidak seberapa. Apa pun yang kamu inginkan akan aku berikan. Kamu minta pesawat akan aku belikan. Kamu mau pulau juga akan aku belikan. Apa pun jika untukmu, akan aku belikan."
Untuk sesaat mereka terdiam, meresapi pikiran mereka sendiri.
"Kalau aku kembali, aku ingin langsung melamarmu. Bolehkan?" Ale mengutarakan rencananya.
"Secepat itu?" tanya Letha memastikan.
"Maaf, aku tidak bisa menundanya lebih lama lagi."
"Kenapa?"
"Aku gak sabar ingin mengambil ciuman pertamamu."
__ADS_1
"Aleeee!"
Tut ... tut ... tut ...
Letha mematikan panggilan itu sepihak. Andai Ale melihat wajah Letha seperti apa, dia pasti akan malu sekali. Letha menutup wajahnya sendiri, malu bukan main. Ale tahu Letha belum pernah berciuman. Sedetail itu Ale tahu tentang dirinya.
Paginya Letha sudah dikejutkan dengan adanya Angga di ruangannya. Sahabat yang katanya selalu mengerti dirinya dibandingkan yang lain. Mungkin karena mereka masih sama-sama sendiri.
"Kok, gak bilang udah balik?" Letha menghampiri Angga dan memeluknya sekejap.
"Tadi malam nyampe rumah, mau ngasih kabar takut ganggu istirahat kamu. Nih, pesenan kamu." Angga memberikan paper bag pada Letha. Kue moci, sagon bakar dan kue jahe. Makanan khas suatu daerah yang amat disukai Letha.
"Ah, makasih. Makin sayang, deh." Letha langsung membuka bungkusan itu.
"Udah dapat kabar kalau lusa kita dapat undangan dari Presdir?" Letha tampak berpikir lalu menggeleng.
"Undangan apa? " tanya Letha balik.
"Ulang tahun pernikahan Presdir. Semua karyawan diundang. Katanya mereka akan mengenalkan putra mereka ke publik."
Deg.
Jantung Letha berdetak kencang. Letha baru ingat kalau dia dapat lamaran dari atasannya untuk putra mereka. Letha melupakan satu masalahnya. Dia sudah menerima pinangan Ale meskipun belum ada pembicaraan yang lebih serius antar dua keluarga. Dia harus bisa menolak lamaran dari atasannya.
"Ada apa? Kok, jadi murung?" Angga bisa melihat perubahan raut muka Letha.
"Saat kamu gak ada, Presdir manggil aku ke ruangannya, lebih tepatnya istrinya presdir. Bu Presdir melamar aku untuk jadi menantunya. Katanya putra mereka yang bernama Saka menyukaiku."
Angga menahan tawanya. Rupanya ada dua brondong yang menyukai Letha. Angga tahu berapa usia putra dari pemilik perusahaan tempat dia bekerja, hanya wajahnya saja yang dia tidak tahu, bahkan semua orang tidak tahu seperti apa rupa putra seorang Alvonso Brata.
"Maaf, aku gak tahan," ucap Angga saat Letha memasang wajah marah. Angga tidak bisa menahan tawanya dan itu membuat Letha kesal.
"Kamu udah jawab?" tanya lagi Angga.
Letha menggeleng dan dia menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari biaya liburan yang mahal dan dia tidak bisa membayarnya, termasuk makan malam dengan Ale. Semua Letha ceritakan tanpa ada yang terlewat.
"Jadi, kamu terima Ale?"
"Apa keputusanku benar jika menerimanya? Aku takut, takut keluarganya menolakku. Anak adalah hal yang sensitif dalam sebuah pernikahan." Letha kembali khawatir, padahal Ale sudah meyakinkan kalau keluarganya pasti bisa menerima Letha dengan baik.
"Menikahlah! Aku yakin dia sayang banget sama kamu. Kamu pantas bahagia. Di antara kita harus ada yang bahagia." Angga mendukung keputusan sahabatnya.
"Bukan diantara kita tapi kita harus sama-sama bahagia. Mengikuti jejak sahabat kita yang lain. Aku yakin, di luar sana ada wanita yang sedang menantimu untuk kamu jemput." Letha menyemangati sahabatnya.
"Terima kasih. Jangan lupa nanti kalau bulan madu beli tiket jangan hanya dua tapi tujuh." Letha tifak bisa menahan kesal pada Angga, saat suasana tengah serius dia malah mengingatkan Letha pada janjinya.
__ADS_1
"Angga!"