Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Halusinasi Yang Nyata


__ADS_3

Menjelang sore mereka sampai di pulau tujuan. Sebuah villa dekat pantai sudah Beno siapkan untuk mereka menginap. Pantai di sini tidak ramai pengunjung karena pantai di sekitar villa tertutup untuk umum.


Mereka dibantu penjaga villa menuju kamar masing-masing. Semua orang berdecak kagum melihat villa yang begitu bagus ditambah pemandangan pantai yang bisa dilihat langsung dari arah villa.


"Beno pintar mencari tempat dan sepertinya aku akan bangkrut dengan biaya liburan kali ini," gumam Letha saat dia masuk ke kamarnya.


Letha mengagumi kamarnya yang begitu indah dan elegan. Entah berapa uang yang akan dia keluarkan untuk membayar sewa villa dan biaya liburan.


Letha menatap pantai dengan pasir putihnya, matanya menangkap sosok yang dia kenali tengah berdiri di pesisir pantai. Berdiri menyamping dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, sosok itu memakai topi juga kaca mata.


"Gak mungkin itu dia,. Ada apa denganku? Kenapa bisa-bisanya wajah Bocah Tengil itu selalu terbayang?" gerutu Letha.


Letha melihat sosok itu adalah Ale, si Bocah Tengil yang menjengkelkan. Sekarang Letha sering melihatnya ada di mana-mana.


Letha merebahkan tubuhnya sebelum acara makan malam. Ini terasa bagai mimpi, liburan tidak pernah ada dalam pikiran Letha, kerja dan kerja yang dia lakukan.


"Aku merindukanmu, Yah. Tapi aku masih bisa bahagia walaupun Ayah sudah pergi. Ada mereka bersamaku, mereka menyayangiku," gumam Letha sebelum terlelap.


*****


Semua orang sudah siap di meja makan, tinggal Letha yang belum hadir. Saat ditelpon, Letha baru mau melaksanakan shalat Maghrib yang hampir terlewat.


Terlihat Letha yang tergesa-gesa, dia sedikit berlari karena mengingat keluarga dan sahabatnya sudah menunggu untuk makan malam. Saat dia melewati balkon villa, dia melihat sosok yang dikenali tengah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di tiang penyangga balkon. Sosok yang sama seperti yang dilihat sore tadi di pesisir pantai.


"Kenapa aku harus terus berhalusinasi. Dasar Bocah Tengil, kau sudah merusak hariku." Letha hanya bisa berdecak kesal sambil terus berlalu.


Sesampainya di meja makan, Letha bisa melihat tatapan tajam semua orang. Baru sekali ini dia terlambat, tetapi sudah mendapat tatapan setajam itu.


"Ayolah, aku ketiduran dan bangun lima belas menit yang lalu. Apa tidak bisa kalian tunda saja kekesalan kalian? Kasihan tuh makanan dianggurin," ucap Letha santai.


Mereka menikmati makan malam dengan tenang tanpa suara. Hampir semua makanan habis, makanan yang disiapkan oleh pengurus villa begitu lezat dan cocok di lidah semua orang. Anggun dan Marni tidak diberi kesempatan untuk memasak, pihak pengelola villa meminta mereka duduk manis dan menikmati waktu liburan mereka saja.


"Apa agenda kita malam ini?" tanya Angga setelah mereka berkumpul di ruangan yang lebih santai.


"Kita istirahat dulu, Kak. Besok baru kita menjelajah," jawab Beno selaku panitia liburan.


"Kayaknya liburan ini bisa bikin saldo tabungan kamu terkuras habis. Bener, gak?" ucap Sarah sambil menatap sekeliling villa.


"Iya. Beno pinter nyari tempat. Udah pemandangannya indah, villa nya juga bagus dan mahal kayaknya," balas Marta.

__ADS_1


"Kalian ragu aku gak bisa bayar?" tanya Letha.


"Sedikit. Aku takut kamu gak bisa bayar terus kamu diminta menikah sama pemilik villa," ledek Sarah.


Mendengar itu, semua orang tertawa. Tentu itu hanyalah gurauan mereka saja. Kekayaan Letha memang tidak sebanyak saat Bagas masih hidup, mungkin hanya seperempat saja yang kini dimilikinya.


Letha hanya karyawan di perusahaan besar, tetapi memiliki jabatan tinggi dengan gaji cukup besar melebihi Angga. Selain itu, dia memiliki rumah makan dengan beberapa cabang yang di kelola Anggun, ibunya. Anggun dibantu oleh orang-orang yang dulu bekerja di kediaman Natakusuma.


Beda dengan Angga yang satu kantor, Rizal bekerja di perusahaan yang sama tapi dia ditempatkan di kantor cabang.


"Tak apa, asal dia kaya dan tampan," jawabnya tanpa berpikir panjang.


"Semoga aja," ucap Anggun menimpali.


Beno yang mendengar obrolan konyol mereka hanya tersenyum penuh arti.


"Yakin, Kak? Gimana kalau orangnya tua dan buncit? Yang tampan aja ditolak," ledek Beno.


"Asal dia nerima aku apa adanya," ucapnya lirih.


Malam menjelang, setiap orang sudah masuk ke kamarnya masing-masing termasuk Letha. Dia tidak bisa memejamkan matanya, ada sesuatu hal yang mengganggunya. Bayangan Ale dan kata-katanya terus berputar dalam ingatannya.


*****


Pagi yang cerah, semua orang tengah menikmati sarapannya. Setelah sarapan mereka akan menikmati udara pagi sambil berjemur di pesisir pantai.


"Kalian siap?" tanya Beno pada semua orang. Dengan kompak mereka menjawab.


"Siap!"


Semua wanita sudah berpakaian ala pantai, tidak lupa kacamata hitam dan topi lebar mereka dengan sedikit hiasan bunga. Para pria memakai baju kaos dan celana pendek selutut. Topi juga kacamata tidak lupa juga mereka pakai.


"Apa pantai di sini memang gak ada pengunjung?" tanya Marni, ibunya Beno.


"Area villa terjaga dari umum. Pemilik villa tidak suka keramaian," jawab Beno


"Pantas saja pesisir pantainya bersih dan terawat." Anggun ikut menimpali.


"Apa ada yang bisa kita lakukan selain jalan-jalan di pantai? Seperti jelajah kuliner? Naik banana boat, misalnya?" tanya Marta.

__ADS_1


"Semua fasilitas ada. Tenang saja, sudah aku atur. Kalian jalan-jalan dulu aku mau ketemu dulu sama pemilik villa," jelas Beno.


"Apa kami bisa bertemu dengannya?" tanya Anggun.


"Nanti malam dia akan menemui kita dan makan malam bersama," tutur Beno.


Semua orang kini menikmati keindahan pantai dengan pasir putihnya. Marta dan Sarah tengah menikmati air pantai dengan pasangannya masing-masing. Sementara Anggun, Marni dan Bi Romlah tengah duduk di bawah payung pantai. Tidak jauh dari mereka Angga tengah berjemur, sementara Letha tengah menyusuri pantai sendiri. Dia ingin menyendiri.


Letha berdiri menghadap pantai. Menutup matanya sambil merentangkan tangan, menikmati angin pantai yang menyentuh tubuhnya.


"Hai, bidadariku!" Terdengar suara berbisik di telinganya. Jantungnya berdetak kencang. Letha berpikir itu hanya halusinasinya.


"Kenapa di mana-mana aku selalu mendengar suaranya?" gumam Letha tanpa merubah posisinya.


"Karena kau merindukanku, Cantik." Sesaat Letha mematung. Suara itu seolah nyata. Dia membuka matanya dan menatap tak percaya. Di depannya berdiri seorang pria tampan dengan senyuman manisnya.


"Kau? Kau mengikuti aku?" Ale berdiri di hadapan Letha. Dia tengah menikmati kecantikan wanita itu.Kini Letha yakin, dia tidak berhalusinasi saat melihat Ale ada di mana-mana. Pria itu nyata ada di sana.


Dengan segera Letha berlalu dan Ale mengikutinya. Cukup lama mereka berjalan tanpa ada yang bersuara. Letha tak mau emosinya terkuras jika harus meladeni Bocah Tengil itu. Sampai akhirnya mereka sampai di tepi tebing yang ada di pesisir pantai. Letha tersenyum saat dia melihat pemandangan laut biru dari atas sana. Tentu saja Ale tidak mau melewatkan kesempatan, dia abadikan dengan ponsel miliknya.


"Apa kamu gak cape ngikutin aku terus? Kamu tuh harusnya di rumah, tidur sambil minum susu, bukan berkeliaran begini," ledek Letha.


"Aku mau kamu yang nemenin aku tidur, tentunya setelah kita halal." Ale bicara tanpa memudarkan senyumannya.


"Kamu itu masih kecil, mana kamu mengerti tentang pernikahan. Berhenti ngikutin aku, aku butuh sendiri." Letha mulai kesal dengan tingkah Ale.


"Jangankan pernikahan, cara membuat anak juga aku mengerti," goda Ale di telinga Letha. Jelas saja kata-kata Ale membuat Letha merinding.


"Dasar Bocah Tengil mesum!" gerutu Letha sambil berlalu.


Tangan Ale tidak membiarkan Letha berlalu begitu saja. Dia meraih tangan wanita itu dan menariknya.


"Aku pastikan kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku," bisik Ale.


Apa yang Ale katakan membuatnya kembali ke masa lalu, di mana dia di vonis sulit memiliki keturunan. Matanya berkaca-kaca dan Ale menyadarinya.


"Ada apa? Apa ada kata-kataku yang salah?" Ale meraih bahu Letha agar menghadapnya.


"Bukan urusanmu dan berhenti mengangguku. Aku tegaskan, aku tidak akan punya anak dari siapapun karena aku nyaman sendirian. Mengerti?" ucapnya penuh penekanan.

__ADS_1


__ADS_2