Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Kerinduan Letha


__ADS_3

Sudah beberapa hari Letha tidak bertemu dengan Ale, hanya berkabar lewat chat dan video call saja. Atas perintah Ale, Letha sudah cuti bekerja. Dia menghabiskan harinya hanya dengan diam di rumah. Ale benar-benar tidak membiarkan dia keluar, semua yang Letha butuhkan sudah penuhi dengan bantuan bodyguard yang menjaga Letha.


Dia juga kini tahu siapa wanita tomboy berwajah datar yang mengikutinya saat pengontrolan proyek pembangunan sebuah pusat perbelanjaan. Dia adalah bodyguard kiriman Ale. Tanpa setahu Letha, setiap hari dia diikuti. Ale hanya ingin memastikan wanita yang dia cintai baik-baik saja.


Masalah pekerjaan Letha, semua diambil alih oleh Neta. Awalnya Angga sudah menawarkan diri, tetapi Alvonso menunjuk Neta. Sementara jabatan Neta yang semula diberikan pada Rizal. Ya, Rizal kini bekerja satu kantor dengan Angga. Keputusan Alvonso menunjuk Neta adalah keuntungan untuk Angga, dengan begitu dia akan lebih sering bertemu Neta seperti saat bersama Letha yang selalu ditugaskan ke mana-mana bersama.


Seperti pagi ini, Angga sudah berada di ruangan Neta yang dulu adalah ruangan Letha. Dia membawakan sarapan untuk Neta. Dia akan selalu mencari cara agar bisa terus bertemu wanita yang sudah mencuri hatinya itu.


"Kamu? Pagi-pagi ngapain sudah di ruanganku?" Neta kaget saat masuk, dia melihat Angga tengah duduk di depan meja kerjanya.


"Oh, hai! Aku bawain kamu sarapan. Aku masih terbiasa membawakan Letha sarapan. Jadi, makanlah!" Angga tersenyum ramah. Dia yakin Neta pasti menolaknya. Meskipun begitu, dia tidak akan pernah menyerah dan akan terus mendekati Neta.


"Aku sudah sarapan. Simpan saja, siapa tahu nanti aku mau memakannya." Angga bersorak dalam hati. Permulaan yang bagus baginya, Neta tidak menolak pemberiannya.


"Aku hanya ingin mengingatkan, nanti siang kita ada meeting di luar jam sepuluh." Angga mengingatkan Neta, mendengar kata 'kita' Neta cukup kaget.


"Kita? Maksudnya aku sama kamu yang akan pergi meeting?"


"Ya." Angga menjawab dengan singkat kemudian dia berlalu.


Neta masih tidak percaya kalau dia akan keluar dengan Angga. Dia pikir akan pergi sendiri atau dengan sekretarisnya.


"Kenapa harus dengannya, sih? Kan, ada sekretaris. Asisten juga ada. Kenapa harus dia?' Neta masih belum terbiasa seperti dulu. Dia kini merasa canggung dan malu jika bersama Angga. Kesalahan di masa lalunya terlalu besar, tetapi dia belum juga berani untuk meminta maaf.

__ADS_1


*****


Di rumahnya, Letha kini tengah merajuk pada Ale. Dia ingin tahu bagaimana persiapan pernikahan mereka, tetapi Ale selalu mengatakan semuanya susah siap dan tinggal menunggu hari H saja. Letha juga belum tahu gaun juga konsep pernikahan seperti apa yang Ale siapkan.


"Ayolah! Aku cuma pengen tahu aja. Masa aku mau nikah tapi gak tahu konsepnya seperti apa." Letha merajuk.


"Kamu akan tahu nanti. Aku yakin kamu akan menyukainya. Kamu hanya tinggal mempersiapkan dirimu saja." Selalu itu yang Ake katakan, membuat Letha semakin penasaran.


"Aneh. Biasanya orang kalau mau nikah itu apa-apa selalu dengan keputusan bersama. Ini gak asyik."


"Kalau mau yang asyik, nanti malam pertama ...."


Belum Ale selesai bicara, Letha sudah memutus sambungan teleponnya. Dia terlalu malu jika membahas tentang malam pertama. Itu adalah hal yang tabu bagi Letha. Jangankan malam pertama, berc*uman saja Letha belum pernah.


Didikan sang ibu selalu terngiang di telinganya. Letha ingin memberikan semuanya untuk suaminya kelak, meskipun dulu dia sempat putus asa untuk bisa menikah.


Hari ini Letha akan pergi ke kuburan sang ayah. Sebagai ritual dari leluhurnya, dia akan berziarah ke kuburan ayahnya. Ale mengizinkannya pergi dengan syarat dikawal bodyguard.


Sebuah pemakaman yang cukup luas dengan deretan kuburan yang tertata rapi, semua tampak hijau karena pemakaman tertutup rumput yang sengaja ditanam di atas kuburan. Tampak nama Bagaskara terpahat di atas batu nisan. Letha berjongkok dengan lututnya bertumpu pada tanah pemakaman.


"Yah, lusa Letha akan menikah. Dia adalah Alehandro Saka Brata. Ayah pasti kenal dengan keluarga Brata. Dia pria yang baik. Usianya memang di bawah Letha, tapi pemikirannya sudah dewasa. Hanya dia yang bisa menerima Letha dengan segala kekurangan yang ada pada diri Letha." Matanya mulai berkaca-kaca.


"Terima kasih sudah mendidik Letha dengan baik. Letha rindu ...." Air matanya tidak mampu dibendung. Letha merindukan sosok ayahnya. Bagaskara Natakusuma adalah ayah yang sabar dan penyayang. Tidak pernah sekalipun dia memarahi Letha. Masih teringat jelas di benaknya, seorang Bagaskara yang lemah lembut di rumah, tetapi terlihat tegas dan bijaksana di kantor. Sikapnya yang ramah membuat Bagaskara memiliki banyak rekan bisnis yang menghormatinya. Sebagian besar mereka memanfaatkan kebaikan pria itu, terbukti dengan perusahaannya yang berpindah tangan.

__ADS_1


Masa-masa terpuruk membuat Letha tahu mana kawan mana lawan. Bahkan dua sahabat baik ayahnya yang berjanji akan membantunya pun hilang tidak ada kabar. Agung dan Anton, mereka orang yang terakhir memberi semangat dan mengatakan akan membantunya. Sudah bertahun-tahun lamanya mereka tidak ada kabar. Letha pun tidak ingin mempermasalahkan jika mereka ingin pergi dan menjauh. Beruntung para sahabatnya tetap bersamanya, termasuk keluarga Bi Romlah juga para pegawai ayahnya.


Hari sudah beranjak sore, Letha memutuskan pulang. Cuaca sudah mendung dan terlihat akan turun hujan. Dengan setia sang bodyguard mengikuti Letha. Tidak terdengar sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Memiliki rupa yang cantik dengan kulit kuning langsat dan rambut pendeknya.


Mobil sport kini memecah keramaian jalanan ibukota. Kini Letha tidak mengendarai mobilnya sendiri, sang bodyguard yang tidak dia ketahui namanya itu kini merangkap sebagai supirnya juga.


"Kamu sudah lama bekerja dengan Ale?" tanya Letha untuk mengisi keheningan.


"Sudah tiga tahun," jawabnya singkat dan datar.


"Aku lupa, siapa namamu?" tanya lagi Letha.


"Regina. Nona bisa memanggil saya Regi. " Letha menatap aneh pada wanita yang bernama Regina itu, saat bicara pun dia tampak kaku.


"Kamu sudah menikah?" Letha penasaran dengan sosok sang bodyguard. Dia ingin menggalinya, siapa tahu bisa dijadikan teman, pikirnya.


"Belum. Usia saya baru dua puluh tahun." Jawaban Regina membuat Letha menatapnya tidak percaya. Tebakan Letha melenceng. Dia pikir wanita itu berusia dua puluh lima tahunan.


"Semuda itu? Kau yakin usiamu dua puluh tahun?" Letha meyakinkan penglihatannya. Wanita di sampingnya memiliki wajah lebih tua dari usianya.


"Saya yakin, Nona. Ini kartu pengenal saya." Sambil menyetir Regi memberikan kartu pengenal yang tersimpan di saku jasnya. Letha melihat foto juga tahun kelahirannya. Dia sedikit malu, ketahuan salah menebak usia Regi. Entah mengapa wajah Regi bisa terlihat lebih tua dari usianya.


"Kamu bisa istirahat. Nanti aku panggil kalau aku butuh bantuan," ucap Letha sebelum masuk.

__ADS_1


"Terima kasih, Nona. Saya di sini saja. Ini masih jam kerja saya." Letha tidak ingin berdebat. Dia pun membiarkan Regi melakukan tugasnya.


__ADS_2