
Kini Letha tengah duduk di samping Ale. Sebuah rumah makan yang buka dua puluh empat jam menjadi pilihan mereka. Duduk berdampingan dengan pemandangan pantai di malam hari. Saling terdiam menikmati makanan yang sudah tersaji, makanan laut pilihan mereka.
"Aku tahu kalau aku tampan. Kamu gak usah takut kehilangan aku. Cinta dan hatiku hanya untukmu seorang." Letha menjadi salah tingkah saat kedapatan tengah menatap Ale. Tidak dia pungkiri kalau Ale memang tampan. Hanya satu yang disesalkan Letha, Ale sepuluh tahun lebih muda darinya.
"Jangan sok ganteng, ya. Aku enek dengernya." Letha berdecak kesal kala Ale kembali ke mode menyebalkan, sungguh Ale sudah merusak suasana hati wanita itu.
Tangan Ale meraih pundak Letha, membawanya dalam dekapan. Letha diam tidak berontak. Sungguh, pesona Ale membuatnya kembali terbuai.
Sepanjang malam mereka lalui dengan hanya duduk di tempat yang sama, mereka tidak beranjak sedikitpun. Letha tidak mau kembali ke tempat tadi, kembali ke villa juga tidak mungkin. Letha merasa lebih aman berada di tempat umum, dia tidak mau menimbulkan fitnah kalau berduaan di suatu ruangan bersama seorang pria. Kini baginya lebih aman duduk di rumah makan itu.
Letha tidak bisa menahan kantuknya. Dia terlelap dengan kepala bersandar ke dinding tempatnya duduk. Ale menyelimuti Letha dengan kain yang dibelinya dari kios yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Lain halnya dengan Letha yang terlelap, Ale tetap terjaga. Dia ingin memastikan wanita itu baik-baik saja.
Pagi ini mereka sudah berada di villa yang kemarin mereka tempati. Selesai shalat Subuh Letha minta pulang ke villa. Beruntung ada kapal yang mau mengantarkan mereka di pagi itu. Dia lekas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya, badannya terasa lengket.
Setelah selesai mandi Letha masuk ke ruang ganti, dia dibuat kaget saat melihat lemari yang kemarin berisikan baju-bajunya kini sudah kosong.
"Bajuku! Terus aku harus pakai apa?" Letha panik, baju yang tadi dipakai sudah dibuang ke tempat sampah. Dia tidak mau memakai pakaian yang sama saat dia kecelakaan. Mitos yang masih Letha pegang.
Letha mondar-mandir di dalam ruang ganti. Dia bingung harus apa. Tidak mungkin dia meminta Ale membelikannya pakaian, apalagi harus dengan pakaian dalamnya. Mau ditaruh di mana mukanya.
Letha mendengar suara pintu yang dibuka lalu tidak lama terdengar lagi suara pintu ditutup. Dia mencoba mengintip dari balik pintu ruang ganti. Matanya fokus pada pakaian yang berada di atas kasur.
"Baju? Buatku?" tanya Letha pada dirinya.
Letha mengerutkan keningnya. Seumur-umur, dia tidak pernah memakai pakaian dengan model seperti yang tengah dia pegang. Sebuah dress yang panjangnya di bawah lutut dengan lengan pendek dan bermotif bunga-bunga kecil. Dia bergidik ngeri membayangkan kalau dirinya memakai pakaian itu. Belum lagi jika keluarga dan para sahabatnya melihat pakaian yang dipakainya.
"Bagaimana kalau orang rumah liat aku pakai baju gini? Yakin, aku hanya akan jadi bahan ledekan mereka." Letha ragu untuk memakainya. Dia tengah berpikir antara dipakai atau tidak. Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Salah satu pegawai villa memanggilnya untuk sarapan. Ale sudah menunggunya di meja makan.
"Sepuluh menit lagi aku turun." Letha berteriak dari dalam kamar.
"Gak ada pembersih wajah. Gak ada parfum, ponsel juga gak ada, dompet gak ada. Sempurna." Letha merasa ini hari terburuknya. Dia benar-benar membutuhkan semua barang-barang itu.
Sementara Ale tengah menunggu Letha di meja makan untuk sarapan. Sementara tangan pria itu sibuk dengan ponselnya. Dia tidak menyadari kalau Letha sudah ada di sampingnya. Merasa diabaikan, Letha berdehem.
Ale tidak bisa berkata-kata. Dia begitu terpesona dengan Letha yang cantik dan terlihat lebih muda dari usianya. Dia tampil sepuluh tahun lebih muda dengan penampilan feminim dan natural tanpa make up.
"Biasa aja liatnya. Baru nyadar kalau aku cantik?" Mendapat ucapan ketus Letha, Ale tidak sakit hati. Dia malah gemas sendiri melihat Letha yang kesal.
"Kamu cantik, jauh lebih cantik dari biasanya." Ale memuji Letha.
__ADS_1
"Siapa yang beli baju ini?" tanya Letha sambil menahan malu.
"Kenapa? Apa jelek? Itu aku yang beli." Ale tidak pernah memudarkan senyumannya yang manis.
"Termasuk itunya?" tanya Letha ambigu.
"Semuanya." Letha menutup mulutnya. Ale tahu ukuran pakaian dalamnya.
Letha ingat kejadian tadi di kamarnya. Dia kaget saat melihat kotak kecil di samping pakaiannya. Kotak itu berisi benda keramat untuk letha pakai. Ukurannya pas sekali untuk letha.
"Bagaimana kamu tahu ukuranku? Kamu ngintip?" Letha terlihat emosi, tangannya terkepal kuat.
"Aku tidak perlu mengintip hanya untuk tahu ukuran pakaian dalammu. Cukup membayangkan kamu ada dalam pelukan, itu sudah cukup." Ale menggoda Letha, dia juga mengerlingkan matanya.
"Dasar Bocah Tengil mesum!" Ale cukup puas melihat Letha kesal, dia makin gemas dengan sikap wanita itu.
Letha menghentikan perdebatannya, dia hanya membuang-buang tenaga. Letha lebih memilih sarapannya.
"Habis sarapan kita pulang, kan?" tanya Letha disela sarapannya.
"Iya," jawab Ale singkat.
"Semua barang sepertinya sudah dibawa ibu. Dompet, ponsel, aku juga gak ada uang buat beli tiket," ucap Letha lirih. Dia sedikit malu jika harus meminta bantuan Ale.
"Aku sudah siapkan semuanya, kita tinggal berangkat."
"Aku akan ganti," Ale hanya tersenyum tidak mau membalas ucapan Letha.
Setelah sarapan, Ale mendapat telepon. Dia sedikit menjauh dari Letha yang masih duduk di meja makan. Melihat Ale yang menjauh Letha menjadi penasaran, dia mengikuti Ale dan menguping obrolannya. Letha ingin menangkap basah si Bocah Tengil.
"Aku pulang hari ini, kita ketemu di rumah. Love you too." Itulah yang Ale ucapkan terakhir. Letha menutup mulutnya tidak percaya. Dalam pikirannya itu adalah kekasih Ale.
"Tidak baik menguping pembicaraan orang lain. Kalau kamu penasaran, tanya aja langsung." Letha cukup kaget, Ale tahu kalau dia tengah menguping, padahal matanya tetap fokus pada layar ponsel.
"Siapa yang menguping? Aku hanya kebetulan lewat. Dan perlu kamu tahu, aku manusia bukan hantu yang suka penasaran, jadi jangan kepedean." Letha bicara dengan mata yang melotot, di setiap katanya penuh penekanan.
"Ada waktu dua jam lagi sebelum kita pulang. Aku mau keluar dulu, ada yang harus aku beli. Kamu mau ikut?" Tidak mau membuat Letha jenuh Ale menawarkan Letha ikut keluar.
"Ya." Letha menjawab dengan singkat.
__ADS_1
"Baiklah, ayo!" Ale berjalan lebih dulu, matanya masih fokus dengan layar ponsel.
"Hei! Apa kamu tega aku keluar tanpa alas kaki? Percuma wajahku cantik tapi gak pake alas kaki." Letha menggerutu.
"Bi Ras!" Ale memanggil penjaga villa.
"Ya, Den?" Orang yang Ale panggil langsung menghadap.
"Bawa paper bag yang tadi," ucap Ale.
Orang yang dipanggil Bi Ras oleh Ale pun berlalu, tidak lama sebuah paper bag sudah ada dalam genggaman Bi Ras. Ale mengambil isinya, sebuah kotak yang isinya sepasang flat shoes cantik. Ale berjongkok dan memakaikannya pada kaki Letha.
"Hsi! Ngapain? Aku bisa sendiri." Protes Letha, tetapi Ale cuek dan tetap memakaikannya pada kaki Letha. Sungguh dia merasa tidak enak.
"Ayo!" Ale mengulurkan tangannya agar Letha menggenggamnya dan spontan Letha menerima uluran tangan Ale. Terlihat senyuman yang menawan menghias wajah pria itu.
Sebuah mobil mewah membawa Ale dan Letha ke tempat yang banyak menjual oleh-oleh. Ale hendak membeli beberapa barang untuk dibawa pulang.
Sepanjang jalan menyusuri emper pertokoan, mereka terlihat seperti ABG yang tengah pacaran. Tidak akan ada yang mengira usia Letha di atas Ale. Letha terlihat sepuluh tahun lebih muda, dia juga menggerai rambutnya.
Beberapa barang sudah Ale beli, terlihat dari tangannya yang penuh dengan kantong belanjaan.
"Ada yang mau kamu beli? " tanya Ale menawarkan.
"Jangan meledek! Kau kan tahu sendiri semua barang sudah dibawa ibu." Letha terlihat kesal. Dia merasa Ale tengah meledeknya.
"Belilah yang kamu mau, biar aku yang bayar." Letha tidak menyia-nyiakan kesempatan. Otak liciknya bergerak. Dia hendak mengerjai Ale dengan menguras uang si Bocah Tengil.
Ale mengikuti ke mana Letha pergi. Dari satu toko ke toko lainnya. Setiap toko yang dia singgahi pasti ada saja yang dibeli. Letha berharap Ale kapok dan berpikir dua kali untuk mengejar Letha. Banyak barang yang tidak dia butuhkan tapi dibeli, tetapi Ale tidak bodoh. Dia tahu Letha tengah mengerjai dirinya.
Karena terlalu banyak yang Letha beli, sebagian barang sudah Ale simpan di mobil. Letha terlihat kelelahan, keringat terlihat membasahi keningnya, napasnya pun terlihat tidak beraturan.
"Minumlah!" Ale menyodorkan botol air mineral.
"Apa masih ada yang mau kamu beli?" Letha tidak tahu arti ucapan Ale, benar-benar bertanya atau meledeknya. Terlihat dari wajahnya tidak ada raut kesal karena belanjaan wanita itu.
"Aku cape, mau pulang." Letha mengabaikan botol air yang Ale berikan, matanya fokus ke kedai es krim.
"Aku mau itu!" tunjuk Letha pada kedai es krim.
__ADS_1
"Sesuai keinginan Anda, Ratuku." Ale menundukkan wajahnya lalu merentangkan tangannya seperti dia berhadapan dengan ratu kerajaan.