Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Persiapan Resepsi


__ADS_3

Wajah Letha bersemu merah, bagaimana bisa Ale mencium Letha sementara ada banyak orang lain di sana dan lebih parahnya sang fotografer mengabadikannya. Memalukan sekali, pikir Letha.


"Jangan diulang, aku malu." Letha berbicara sambil menunduk malu.


"Para pengawal membelakangi kita dan fotografer itu kawanku, namanya Aldo." Ale menjelaskan semuanya.


"Tapi tetap saja kawanmu itu manusia, kan? Aku malu, apalagi ini pengalaman pertamaku." Letha makin menundukkan wajahnya, dia malu mengakuinya.


"Ya, aku tahu. Kamu kaku, tapi tenang saja nanti aku ajarin." Ale malah menggoda Letha dan yang digoda makin tidak karuan. Dia jadi salah tingkah.


"Kamu, bahagia?" tanya Ale dengan membelai pipi Letha.


"Aku ... aku bahagia. Terima kasih," ungkap Letha jujur.


Cukup lama mereka berada di atas bukit itu, menikmati waktu bersama. Mungkin hanya mereka pasangan pengantin yang menikmati momen selepas akad dengan duduk berdua menikmati pemandangan ibukota dari atas bukit.


"Kapan kita pulang?" Pertanyaan Letha membuat Ale mengerutkan alisnya, heran campur cemas.


"Kamu, gak suka bersamaku?" Wajah Ale terlihat murung, dia takut Letha tidak nyaman bersamanya.


"Jangan salah paham, aku ... aku gerah. Aku ingin membuka kebaya ini." Wajah Ale berubah, berbinar.


"Oke, nanti aku bantu membukanya." Otak Ale sudah traveling.


"Ale!" teriak Letha gemas.


"Ayo!" Ale berdiri dengan tidak melepas pegangan tangannya di tangan Letha.


Mereka berdua berjalan beriringan. Para pengawal dan Aldo berjalan di belakang. Letha berasa menjadi seorang putri yang dikawal.


Sesuai permintaan Letha, mereka pulang dengan menaiki mobil. Letha merasa terlalu aneh jika harus naik heli. Terlalu mewah pikirnya.


Jarak yang cukup jauh membuat mereka menghabiskan waktu sampai hampir dua jam, Letha meminta pulang ke rumahnya dulu dan menunggu sampai waktu resepsi.

__ADS_1


Kamar Letha tampak biasa saja, tidak ada hiasan bak kamar pengantin. Rencananya Ale akan menghabiskan malam pertamanya dengan Letha di rumah yang sudah disiapkan. Rumah yang nanti akan mereka tempati.


"Sayang, sudah belum? Kenapa gak kubantu aja, biar cepet." Ale berteriak di balik pintu kamar mandi. Dia tidak diizinkan membantu Letha mengganti bajunya. Letha berpikir jika Ale membantunya, dia akan merasa malu. Bukannya cepat, yang ada malah lambat.


Tidak lama Letha keluar dengan memakai baju tidur panjang, Ale menatapnya aneh.


"Baju apa ini?" tanya Ale sambil memutarkan badan Letha.


"Kamu gak tahu? Ini tuh baju tidur, aneh-aneh aja," gerutu Letha, dia merasa aneh dengan pertanyaan Ale.


"Ya, aku tahu, tapi maksudku baju tidur ini tertutup banget." Letha kini mengerti maksud Ale. Dia juga punya baju tidur yang dimaksud Ale, tetapi Letha enggan kalau harus memakainya di depan Ale, belum saatnya pikir Letha.


"Kamu sudah sembahyang?" Letha mengalihkan arah pembicaraan.


"Sudah, di kamar sebelah." Ale mengikuti Letha naik ke atas tempat tidur, duduk berdampingan di sisian kasur.


Letha merasa risih dengan Ale yang terus menatapnya. Dia juga merasa gugup harus berduaan dengan pria walaupun pria itu sudah menjadi suaminya. Ale menggenggam tangan Letha, kemudian mengecupnya dengan durasi yang cukup lama. Jantung Letha makin berdebar saja, wajahnya terasa memanas, tubuhnya pun terasa ada desiran aneh, semacam aliran listrik yang mampu melemaskan persendiannya.


Pandangan Ale beralih pada wajah Letha, sebelah tangannya menangkup pipi Letha. Jantung Letha terasa mau copot, dengan gerakan cepat Ale mencuri lagi ciuman dari Letha. Letha tidak membalas ciuman itu. Dia tidak tahu harus seperti apa kala mereka berciuman, kaku sekali.


Letha hanya tersenyum kecut. Dia merasa malu karena terlalu awam hal-hal seperti ini. Letha benar-benar membuat benteng yang ketat dari pria selain para sahabatnya.


Ale menangkup kedua pipi Letha kemudian kembali memagut bibir Letha, kali ini wanita itu sedikit rileks dan mencoba mengikuti seperti yang Ale lakukan walau masih sedikit kaku.


"Kak, aku bawakan makanan. Boleh masuk?" teriak Beno dari balik pintu.


Letha melepaskan pagutannya dan menghapus bibirnya yang basah, dia menatap Ale dengan rasa bersalah.


"Kali ini kamu selamat, tapi nanti malam jangan harap." Sedikit ancaman yang menggoda meluncur dari Ale.


Tanpa membalas ucapan Ale, Letha berjalan menuju pintu kamar. Tampak Beno dengan seringai aneh di balik pintu.


"Ibu nyuruh aku bawain makanan," ucap Beno sambil menyodorkan nampan besar tapi matanya celingak-celinguk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kamu mau ketemu Ale?"


"Ya, tapi gak jadi, ah." Beno kemudian berbalik dan berlalu. Letha hanya menatap aneh dengan sikap Beno.


Andai Letha tahu, saat Beno celingak-celinguk dia melihat Ale yang tengah mengepalkan tangannya di udara sebagai tanda ancaman.


Ale mengalihkan tatapannya kala Letha memandang curiga kearahnya.


"Aku lapar, " rengek Ale dengan manja.


Letha menutup pintu kamar saat Beno sudah benar-benar berlalu. Dia menghampiri Ale yang masih duduk di tempat tidurnya.


"Apa kita akan makan di atas kasur?" tanya Letha dengan mengerutkan dahinya.


"Kenapa? "


"Setahu aku, kasur itu tempat tidur bukan tempat makan." Letha berlalu ke arah balkon, di sana ada dua kursi dan meja bulat dari kaca.


"Selain buat tidur, kasur juga bisa dipakai buat bikin anak," jawab Ale acuh. Dia duduk disalah satu kursi yang ada di balkon.


Letha merasa Ale mulai mesum, tetapi dia berusaha bersikap tenang dan cuek, padahal jantungnya dag-dig-dug tidak karuan.


"Sebaiknya kita makan dulu. Kita nanti akan berdiri berjam-jam bertemu para tamu undangan," ucap Letha cuek.


Ale bisa melihat Letha yang berusaha cuek, tetapi wajahnya berkata lain, dia merasa gemas melihat reaksi istrinya.


Sementara di aula hotel berbintang, semua orang tengah sibuk mengecek setiap persiapan. Mereka tidak mau ada sedikitpun kekurangan. Para sahabat Letha ikut terjun, mereka ingin menyaksikan semua persiapan dan memeriksa takut ada kekurangan.


"Ale benar-benar melakukannya. Dia menyiapkan apa yang Letha impikan." Marta berdecak kagum dengan kemewahan untuk resepsi malam ini, semua tampak sempurna.


"Aku yakin Ale pasti membahagiakan Letha, hanya Ale yang benar-benar tulus mencintai Letha," tutur Angga yakin.


Angga merasa lega Letha akan sudah menemukan pria yang mampu membahagiakannya. Letha dan yang lain sudah seperti keluarga kedua baginya. Angga hanya memiliki para sahabatnya, keluarganya sudah membuangnya karena dia lahir tanpa seorang ayah. Ibunya meninggal saat dia berusia sepuluh tahun dan hidup hanya bersama neneknya yang membencinya. Sungguh kehidupan yang pahit. Kalau bukan karena ayah Letha, tentunya dia tidak mungkin bisa bersekolah.

__ADS_1


"Itu doa kita semua. Letha hidup bahagia bersama pria yang tulus mencintainya." Danu ikut menimpali.


__ADS_2