Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Waktu terus berlalu, hari berganti hari. Esok adalah hari penting bagi Letha dan Ale. Mereka akan melangsungkan akad pernikahan. Mengikat janji suci diantara mereka. Hari yang tidak pernah terlintas di pikiran Letha akan terjadi. Tidak ada sanak saudara seperti pernikahan orang lain karena Anggun dan Bagas tidak memiliki keluarga. Mereka hidup di panti asuhan. Hanya ada Bi Romlah, Marni, Beno dan para sahabat Letha saja yang kini ada di rumah Letha. Tidak ada kesibukan apa-apa, karena semua sudah disiapkan Ale. Untuk masalah pakaian saja semua sudah Ale siapkan dan rencananya hari ini pakaian mereka akan sampai bersama dengan gaun pengantinnya.


Letha yakin Ale sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Dia bahkan tidak merasa cemas belum melihat apalagi mencoba gaun pengantinnya, padahal esok gaun itu akan dipakai.


"Hai! Boleh kita masuk?" tanya Marta, padahal dia sudah berada di dalam. Dia datang bersama Sarah.


"Ayolah, biasanya juga langsung masuk." Letha sedikit geli mendengar Martha meminta izin dulu.


"Gimana? Kamu bahagia?" Pertanyaan Marta membuat Letha berkaca-kaca, bukan karena sedih Letha hampir menangis. Dia merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia saat ini.


"Aku bahagia. Terima kasih sudah menemani disegala keadaan, kalian sahabat terbaik yang aku punya. Setelah ibu, aku hanya punya kalian. Terima kasih." Berkali-kali Letha mengucapkan terima kasih pada dua sahabatnya itu, mereka saling berpelukan dalam tangis bahagia.


Disaat mereka tengah berpelukan, Angga datang dengan membawa gaun pengantin yang akan besok Letha pakai. Dia dengan dibantu pegawai butik tempat di mana gaun itu dibuat. Sebagian lagi mereka membawakan pakaian untuk yang lainnya.


Sebuah gaun cantik untuk resepsi, sesuai dengan apa yang Letha impikan. Untuk akad, ada kebaya modern perpaduan putih dan gold.


Selain gaun nya yang begitu indah, Letha dibuat terkesima saat mencobanya, sungguh pas di badannya. Bagaimana bisa? Tanya Letha dalam hati.


Marta dan Sarah cukup pangling saat melihat sahabatnya itu memakai gaun pengantin. Mereka masih belum percaya kalau sahabat mereka akhirnya akan menikah.


Setelah selesai mencoba gaun, kini giliran mereka mencoba pakaian yang dikirim Ale. Semua mata menatap tidak percaya. Warna dan model yang sama, senada dengan gaun pengantin.

__ADS_1


"Ale benar-benar sudah menyiapkan semuanya. Dia juga menyiapkan baju khusus untukku." Marta menatap kagum pada gaun yang khusus dibuat untuk ibu hamil.


"Beruntung kamu bisa menikah dengannya, Let. Dia begitu mencintaimu sampai-sampai semua sudah disiapkan dengan begitu sempurna." Kini Sarah yang berbicara.


"Ya, aku beruntung dicintai Ale, tapi dia yang tidak beruntung memiliki aku." Raut wajah Letha menjadi muram, tetapi tidak lama dia kembali tersenyum.


"Ayolah, kamu pasti sembuh dan kita akan mulai dari Negri Gingseng. " Angga mencoba mengembalikan semangat Letha.


Dari ambang pintu, Anggun memperhatikan mereka semua. Bulir bening jatuh tanpa diperintah. Di balik kesedihan Letha ada sahabat-sahabat yang setia menemani putri semata wayangnya, dia sedikit tenang karena banyak yang menyayangi dan peduli pada putrinya itu.


"Ale pasti bisa membahagiakanmu, Nak. Dia anak yang baik. Dia juga sudah berjanji tidak akan membiarkan kamu menangis lagi." Tepukan di pundak Anggun berhasil menghentikan lamunannya. Bi Romlah sudah berdiri di belakang Anggun. Entah sejak kapan Bi Romlah berada di belakangnya.


Bi Romlah sudah menganggap Letha seperti cucunya sendiri, bahkan Beno selalu merasa kasih sayang sang nenek lebih besar untuk Letha dibanding untuk dirinya. Dan itu selalu digunakan Letha untuk menjahili Beno.


*****


Malam ini di rumah Letha diadakan pengajian. Tetangga satu komplek di undang semua dan yang menyiapkannya tentu saja anak buah Ale atas perintah Ale sendiri. Mendadak rumah Letha menjadi ramai dengan ibu-ibu pengajian.


Di tempat berbeda, Ale juga tengah mengadakan pengajian. Sebuah rumah mewah kini dipenuhi dengan warga sekitar. Seorang Ustad yang selalu mengisi pengajian di mesjid dekat perumahan Ale menjadi pengisi tausiah. Bukan hanya pengajian saja, Ale juga menyantuni anak yatim dari panti yang ada di sekitar perumahan tempat tinggalnya.


"Saya sudah lima tahun tinggal di komplek ini, tapi baru sekali ini saya bertemu dengan putranya Pak Alvonso. Kalau namanya saya sudah hafal di luar kepala." Seorang pria paruh baya membuka suara. Pengajian baru saja selesai, beberapa orang memilih tetap tinggal dan berbincang sebentar dengan pemilik rumah. Jarang-jarang mereka bisa berbincang mengingat Alvonso adalah orang yang sibuk.

__ADS_1


"Putra saya selama ini tinggal di luar negeri dan sekalinya pulang, dia memilih menuju rumah kawannya. Dan kebetulan kawannya itu saudara dari calon mantu saya," balas Alvonso.


"Pasti dia sangat beruntung bisa mendapatkan Nak Ale. Sudah pintar, tampan, kaya lagi." Terdengar tawa semua orang. Melihat bagaimana Ale, mereka yakin calon istrinya adalah wanita cantik dan yang pasti dia wanita paling beruntung.


"Saya yang beruntung kalau bisa mendapatkannya. Dia wanita yang istimewa," ungkap Ale. Bagi Ale, dialah yang beruntung.


Sosok Letha di mata Ale adalah sosok wanita kuat, tegar dan penuh semangat. Walau beberapa kali dia pernah melihat Letha menangis kala sendiri. Saat masih sekolah dulu, Ale lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah Letha bersama Beno hanya untuk bertemu dengan wanita itu. Meskipun sosoknya seolah tidak terlihat oleh Letha, Ale tidak merasa keberatan. Dia cukup memperhatikan Letha dari jauh.


Letha yang tampak dari luar jutek dan dingin pada orang lain, berbeda dengan saat dia kumpul bersama para sahabatnya. Letha akan berubah jadi wanita yang ceria dan asyik diajak bicara dan semua itu terjadi setelah dia kecelakaan. Dia berusaha membuat benteng pertahanan supaya dijauhkan dari orang-orang yang hendak mendekatinya.


Melihat waktu yang sudah beranjak malam, para tamu pun memilih pamit pulang. Kini kediaman Brata sudah seperti semula. Rapi dan sepi. Ale memutuskan istirahat lebih dulu. Dia tidak mau bangun kesiangan di hari pentingnya. Ale pun pamit pada sang ayah.


Sementara Rasmina tengah berbincang dengan putrinya. Dia juga tengah membujuk agar putrinya kembali pulang. Perceraian Neta tinggal menunggu keputusan pengadilan. Pengacara yang ditunjuk Ale benar-benar mempercepat perceraian itu, tinggal menunggu beberapa hari lagi Neta akan resmi bercerai dengan Rona, suami pilihannya.


"Aku malu, Mi. Dulu aku dengan yakinnya bilang Rona baik dan sayang sama aku, tapi faktanya malah kebalikannya." Neta menunduk sedih, air matanya sudah lolos keluar.


"Dia dan mamanya hanya mau hartaku saja dan karena aku gak bisa hamil, mama berusaha mencarikan penggantiku," sambungnya sambil terisak.


"Semua sudah terjadi. Kamu jangan terus menyalahkan dirimu atas kegagalan rumah tanggamu, ini sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa." Alvonso langsung ikut bergabung. Dia juga ikut merasa bersalah karena sama-sama tertipu oleh kebusukan menantunya.


Neta memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya, jarak tempat tinggalnya kini jauh dari tempat acara pernikahan Ale dilaksanakan. Dia tidak mau terlambat dalam momen penting adik tercintanya.

__ADS_1


__ADS_2