
Pagi ini Letha begitu sibuk, dia akan menghabiskan banyak waktunya di luar. Ada beberapa rapat dan mengontrol ke lapangan, seharian ini dia akan bersama Angga.
"Gimana persiapan liburan kita?" tanya Angga di sela-sela perjalanan mereka.
"Entahlah, aku serahkan semuanya pada Beno. Aku biasa, bagian keuangan." Jawabnya sambil mengangkat bahu.
Hampir seharian Letha melakukan pengontrolan pembangunan sebuah pusat perbelanjaan yang hampir rampung. Selama di lokasi pembangunan, seorang wanita yang berpenampilan layaknya pria selalu mengikutinya dan menyiapkan segala kebutuhan Letha.
Letha tidak ambil pusing, dia berpikir semua sudah disiapkan oleh pihak perusahaan. Letha lupa, dia tidak sendiri, ada Angga di sampingnya. Angga tidak mendapat fasilitas apa-apa. Angga sendiri merasa aneh, dia merasa tidak dipandang keberadaannya.
"Let, sadar, gak? Kok, berasa ada yang aneh?" Letha mengerutkan keningnya tidak paham maksud ucapan Angga.
"Coba kamu ingat, sedari tadi kamu seolah mendapat perhatian khusus. Seseorang datang memayungi kamu, dengan sigap dia melayanimu dalam segala hal. Mengambilkan tisu, air, makanan. Aneh, gak, sih?" Angga mengutarakan keganjilan yang dirasakannya.
"Kamu cemburu? Eh, tapi emang bener juga. Kamu kenal gak orangnya?" Letha melirik ke belakang, mencari orang yang sedari tadi melayaninya.
"Aku baru lihat kali ini, wajahnya memang cantik, tapi penampilannya aneh. Gayanya tomboy, wajahnya datar gak ada ekspresi, diliat lama serem juga." Letha menahan tawa saat mendengar penuturan Angga yang jujur dan blak-blakan.
Wanita yang mereka bicarakan kini tengah berdiri tidak jauh dari tempat Letha dan Angga berdiri. Wajah wanita itu cantik, tetapi begitu datar sehingga terlihat sedikit sangar.
"Kaya bodyguard, " ucap Letha sambil berlalu.
Kini Letha dan Angga sudah berada di kantor mereka, satu jam lagi mereka ada rapat untuk acara ulang tahun perusahaan. Saat di depan ruangan, Letha melihat sekretarisnya baru keluar dari ruangannya.
"Siang, Bu. Ada kiriman bunga untuk Ibu. Sudah saya simpan di dalam," ucap sang sekretaris.
"Bunga? Dari siapa?" tanya Letha penasaran.
"Katanya, da–dari calon suami Ibu," ucap sang sekretaris ragu. Dia tahu bagaimana sifat sang atasan jika sudah menyinggung calon suami, mereka tahu Letha belum memiliki calon suami. Bahkan beberapa bulan yang lalu, hampir tiap hari ada saja yang mengirimi Letha bunga. Dia selalu saja memberikan pada sekretarisnya.
Letha bergegas masuk, dia penasaran dengan si pengirim bunga. Angga mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Bocah Tengil," gumam Letha saat melihat tulisan di dalamnya.
Mendengar panggilan itu, Angga sudah tahu siapa si pengirim bunga. Pria muda dengan tingkat kepercayaan dirinya yang begitu tinggi.
"Pantang menyerah juga dia. Terima aja," goda Angga.
"Yang bener aja, mau taruh di mana mukaku kalau aku menikah sama pria yang usianya di bawah," tolak Letha.
"Gimana kalau kalian berjodoh dan menikah?"
"Aku ajak kalian liburan saat bulan madu?"
*****
Di tempat lain, kini Neta tengah berada di sebuah rumah kecil, rumah milik seorang nenek bernama Aminah. Neta bertemu dengan Nek Aminah saat dia tengah berjalan tanpa arah, Nek Aminah hampir terserempet motor.
"Kalau kamu gak punya rumah, tinggallah di sini. Nenek hidup sendiri." Neta merasa beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik Nek Aminah. Dia kini punya tempat untuk berlindung.
Sementara Reno sendiri malah menemani sang ibu arisan, dia melupakan niatnya mencari Neta, istrinya.
"Kamu sudah menemukan kakakmu?" Alvonso bertanya pada Ale yang tengah duduk lesehan, dia tengah sibuk dengan PS-nya.
"Apa yang gak bisa aku lakukan, Pih? Kakak tinggal bersama dengan seorang wanita tua. Biarkan dia di sana sementara waktu. Aku juga sudah menyuruh beberapa pengawal untuk menjaga Kakak," jawab Ake dengan mata fokus pada layar televisi.
Saat Neta memutuskan menikah dengan Rona, hanya Ale yang tidak setuju. Dia bahkan tidak hadir saat pernikahan kakaknya itu, ada alasan tersendiri yang membuatnya tidak setuju dengan pilihan sang kakak. Sikap posesifnya tidak pernah dia tunjukkan, diam-diam Ale mencari tahu tentang jati diri Rona dan keluarganya. Dan apa yang dia dapatkan cukup mengejutkan. Berkali-kali dia menjelaskan tapi justru malah mendapat respon tidak mengenakan, begitupun dengan kedua orang tuanya, mereka tak percaya dengan apa yang dikatakan Ale.
"Aku juga sudah menyiapkan berkas perceraian mereka."
Apa yang di katakan Ale jelas membuat Alvonso terkejut bukan main. Dia berpikir anaknya terlalu gegabah, terlalu dalam mencampuri urusan rumah tangga kakaknya.
"Jangan gegabah kamu, Ka. Biar kakakmu sendiri yang memutuskannya." Alvonso mengingatkan putranya.
__ADS_1
"Ayolah, Pi. Kita tahu Rona dan keluarganya bukan orang baik, mereka hanya mau harta. Aku juga memberi apa yang mereka mau jika Rona mau menandatangani surat cerai itu. Aku cape, aku lelah harus melihat dan mendengar apa yang terjadi pada Kak Neta. Kak Neta boleh saja berbohong tentang rumah tangganya, tapi aku gak bisa dibohongi."
Bukan Ale namanya jika dia tidak tahu apa yang terjadi pada sang kakak. Orang suruhan Ale sendiri yang selalu menyelamatkan Neta saat dia mendapat siksaan dari mertuanya. Seorang pembantu di rumah Rona dibayar mahal untuk membantu Neta secara diam-diam jika kakaknya mendapat kesulitan dari mertuanya. Dia tidak bisa berbuat lebih dari itu, tetapi Ale akan berusaha melindungi sang kakak sebisa dia.
"Kali ini Mami setuju, biar Neta cerai sama si Rona. Mami yakin rumah tangga anak kita gak sehat." Rasmina ikut bicara. Dia tidak akan diam saja jika putri tersayangnya harus hidup menderita.
"Semua sudah diurus pengacara kita, bukti kejahatan mereka sudah ada di pengacara," ucap Ale sambil mematikan layar televisi. Dia menggeser tubuhnya mendekati sang ibu, menyandarkan kepalanya dalam pangkuan Rasmina. Sikap manja Ale membuat Alvonso kesal. Pria tua itu enggan berbagi dari sejak dulu.
"Menjauh dari istriku! Dia milikku!" Begitulah Alvonso, usia tua tidak membuatnya mengurangi kebucinannya pada sang istri.
"Cari sana wanita yang bisa kamu ajak manja-manjaan." Alvonso menarik sang istri dalam rengkuhannya.
"Tenang saja, aku tinggal menunggu kalian melamarkan seorang wanita untukku," ucap Ale santai.
"Kamu punya pacar, Saka?" tanya Rasmina penuh selidik.
"Bukan pacar, tapi calon istri." Apa yang diucapkan Ale membuat kedua orang tuanya melongo tidak percaya, anak lelaki mereka yang manja sudah memiliki calon istri.
"Saka, sebelum kamu menikah, kamu harus bantu Papi dulu di kantor." Alvonso terlihat kesal, selama ini Ale tidak mau membantunya di kantor. Dia lebih suka dengan dunia seni dari pada duduk di kursi dengan setumpuk berkas.
Jika kemarin dia menolak, sekarang Ale akan mengiyakan permintaan Alvonso. Dia akan ikut terjun ke perusahaan milik keluarganya.
"Oke. Siapkan saja penyambutanku di kantor. Bulan depan aku akan bergabung."
*****
Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Letha benar-benar memenuhi janjinya mengajak keluarga dan sahabat-sahabatnya liburan. Terlihat Beno yang paling antusias, dia sudah menyiapkan segala sesuatunya sendiri sesempurna mungkin.
Terlihat empat mobil berjajar di pekarangan rumah Letha, rumah yang dulu dia tempati bersama sang ayah sebelum meninggal. Letha membeli kembali rumah itu dengan uang hasil jerih payahnya selama bekerja. Para pekerja yang dulu menolong dia dan ibunya kini sudah berkumpul kembali.
"Kamu udah siapkan villa untuk kita menginap, kan, Ben? Kakak gak mau, ya, kalau itu losmen."
__ADS_1
"Tenang aja, Kak. Kita akan tinggal di villa milik kawanku. Tempatnya bagus, Kakak pasti suka."
Mobil pun keluar dari pekarangan, Letha berada satu mobil dengan para sahabat wanitanya sementara Beno bersama sahabat pria Letha dan Anggun bersama Bi Romlah dan Marni, mobil yang satu lagi berisikan barang-barang mereka. Ini liburan mereka setelah sekian lama Letha disibukkan dengan pekerjaannya.