
Di hari terakhir mereka liburan dihabiskan dengan jalan-jalan ke beberapa pulau kecil. Waktu satu hari tidak cukup bagi mereka menjelajah semuanya. Mereka juga terlalu lelah, menjelang sore mereka baru kembali. Rencananya mereka akan pulang hari itu juga karena esok pekerjaan sudah menanti.
Dalam perjalanan pulang, Ale meminta izin untuk ke suatu tempat, ada yang dia lupakan. Yang lain menunggu karena katanya Ale hanya sebentar saja. Setelah tiga puluh menit berlalu, Ale kembali dengan sebuah map di tangannya.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu." Ale merasa tidak enak karena sudah membuat semua orang menunggu.
"Kita tunggu Letha dulu. Dia lagi ke toilet katanya." Sarah melihat cemas ke arah tadi Letha pergi. Letha pergi hampir tiga puluh menit tapi dia belum juga kembali.
"Kakak, kok, lama? Mana Ibu sudah telepon berkali-kali, kita harus pulang sekarang juga." Beno juga tidak kalah cemas dari Sarah.
"Aku susul aja." Sarah memutuskan akan menyusul Letha yang tidak kunjung kembali.
"Biar aku saja. Kebetulan aku sudah hapal wilayah ini. Aku hubungi kamu kalau sudah dapat kabar," ucap Ale.
Ale pun berjalan ke arah toilet yang paling dekat. Dia memeriksa semua toilet umum yang ada. Ale juga menyusuri setiap tempat barangkali Letha jalan-jalan. Namun sayang, dia tidak menemukan Letha. Dia cemas, takut wanita yang dia cintai kenapa-kenapa. Ale terlihat cemas manakala wanita yang dicarinya tidak ditemukan. Percakapan dua orang di sebelah Ale menarik perhatiannya. Dia menajamkan telinganya agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Gak ada identitasnya. Wajahnya cantik, kulitnya putih, rambutnya panjang." Kedua orang itu tengah membicarakan seorang wanita yang jatuh pingsan karena jatuh. Dari ciri-ciri yang disebutkan mirip Letha. Ale hendak bertanya.
"Maaf, apa yang kalian bicarakan wanita di foto ini?" Ale memperlihatkan galeri di ponselnya yang terdapat ratusan foto Letha.
"Iya, Mas. Wanita ini yang pingsan, saya yakin wanita ini," jelas pria itu.
"Di mana sekarang dia?" tanya Ale tidak sabar.
"Tadi dibawa warga ke bangunan itu. Pas saya tinggal, dia sudah mulai sadar." Ale tidak menunggu lama. Dia langsung berlari menuju arah yang ditunjuk pria itu.
Ale bisa melihat ada beberapa orang yang berkerumun, dia yakin Letha di sana.
__ADS_1
"Letha!" Tampak raut cemas di wajah Ale. Dia segera mendekat saat matanya sudah melihat wanita yang dicarinya tengah terbaring di depan cafe.
"Sayang! Kamu kenapa? Bangunlah!" Ale membawa Letha dalam pangkuannya. Dia mengusap dahi Letha yang diperban.
"Tadi Mbak ini jatuh dan kepalanya membentur batu. Kami kesulitan mencari identitasnya karena Mbak ini tidak membawa apa-apa," jelas seorang wanita yang terlihat usianya tifak jauh beda dengan Letha.
"Mbak ini tadi sudah sadar, tapi dia tidak mau di bawa ke klinik." Wanita lain ikut bicara.
Tidak lama Letha membuka matanya. Dia bisa melihat raut cemas di wajah Ale. Tanpa seizin Letha, Ale memeluknya. Dia juga mencium puncak kepala Letha cukup lama membuat wanita itu malu dibuatnya.
"Aku baik-baik saja, jangan seperti ini." Letha malu karena mereka tidak hanya berdua, ada beberapa orang yang masih di sana.
"Kita ke klinik, kamu harus diperiksa. Aku gak mau kamu kenapa-napa." Ale masih terlihat cemas. Dia tidak bisa melihat orang yang dicintai terluka.
"Gak usah, aku udah baikan. Aku hanya butuh istirahat sebentar lagi, kepalaku masih agak pusing." Letha meraba kepalanya yang terluka. Benturan itu cukup keras hingga membuat kepalanya berdenyut.
"Istirahatlah dulu! Aku hubungi Beno dulu." Ale berdiri dan menjauh. Dia menghubungi Beno agar mereka tidak khawatir.
Letha kembali terlelap. Dengan diantar karyawan kafe, Ale membawa Letha ke ruang kesehatan yang ada di kafe . Wanita itu butuh tempat yang lebih nyaman untuk istirahat.
"Jam berapa sekarang?" Letha terlihat hendak duduk. Dia menatap ke sekeliling ruangan yang tampak asing baginya.
"Ini sudah larut malam, kamu tidur lagi. Kondisimu belum pulih." Ale berdiri dan mendekat.
"Di mana kita? Aku mau pulang, Ibu pasti cemas." Letha hendak berdiri, tetapi Ale mencegahnya.
"Istirahatlah! Kita masih di kafe yang tadi. Ini di ruang kesehatan. Soal Tante Anggun dan yang lainnya, kamu gak usah khawatir, mereka sudah pulang."
__ADS_1
"Pulang? Aku ditinggal?" Letha dibuat kaget saat Ale mengatakan ibunya sudah pulang dan membiarkannya dengan seorang pria hanya berduaan saja.
"Jangan khawatir, aku akan jaga kamu di sini."
"Justru itu, kita hanya berduaan. Aku sama Kamu. Aku gak mau Ibu mikir yang enggak-enggak." Letha tidak ingin membuat sang ibu khawatir. Entah apa yang Ale katakan pada ibunya sampai Anggun mengizinkan Letha bersamanya.
"Jangan khawatirkan itu. Tante Anggun sendiri yang memintaku menjagamu." Ale kembali ke mode menjengkelkan, dia mengerlingkan matanya menggoda Letha.
"Jangan macam-macam, aku bisa teriak kalau kamu berani macam-macam." Letha beringsut, dia merapatkan tubuhnya ke dinding, dia juga menutup tubuhnya dengan bantal yang tadi dipakainya.
Ale cuek dan terus mendekat. Dia tengah menggoda Letha yang terlihat ketakutan.
"Menjauh dariku! Awas kau, Bocah Tengil. Aku teriak, nih!" Letha mengancam Ale yang terus mendekat, wajahnya sudah dipenuhi ketakutan.
Ale mendekat dan mendudukkan tubuhnya di kasur yang Letha tempati, dia meraih tangan Letha dan menggenggamnya.
"Mana mungkin aku menyakiti wanita yang aku cintai. Aku di sini untuk melindungi kamu. Panggil aku kalau kamu butuh sesuatu."
Tidak bisa Letha pungkiri, dia menikmati kelembutan yang Ale berikan. Bocah Tengil itu bisa membuatnya begitu nyaman, hal baru yang Letha rasakan.
Ale melepas pegangan tangannya, dia hendak keluar dan membiarkan Letha istirahat. Dia takut keberadaannya membuat Letha tidak nyaman, tetapi sebuah suara menghentikan langkah Ale, dia berbalik dan tersenyum.
"Kamu, lapar? Mau makan sekarang? Kayaknya di luar masih ada yang jualan makanan. Tunggulah," ucapnya pada Letha.
"Aku ikut. Aku gak mau di sini. Aku ... aku takut." Letha lekas berdiri dan menghampiri Ale yang berdiri di depan pintu.
Ale tersenyum dan mengangguk, tangannya meraih tangan Letha dan membawa wanita itu keluar. Sepanjang jalan Letha tidak melepas genggaman tangannya dari Ale. Dia merasa aman dan nyaman. Diam, sepanjang jalan mereka hanya terdiam. Sesekali Ale menatap wanita di sampingnya itu. Sungguh, Ale begitu mencintai wanita itu. Sejak dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, sosok Letha sudah mencuri perhatiannya. Rasa kagum akan sosok Letha yang cantik lambat laun menjadi rasa cinta yang luar biasa. Dia jatuh cinta pada wanita yang usianya 10 tahun berada di atasnya. Semua info tentang Letha dia kumpulkan, dari mulai hal kecil sampai hal-hal besar dia tahu. Dari sekian banyak informasi yang Ake tahu tentang Letha , ada satu hal yang dia belum tahu. Alasan Letha belum menikah hingga usianya hampir tiga puluh tahun.
__ADS_1
Saat dia kembali bertemu dengan Letha, Ale memiliki rasa ingin menjaga dan melindunginya. Dia bisa melihat Letha yang kuat dan tegar dari luar, tetapi dari sorot matanya yang indah, dia bisa melihat kalau wanita itu menyimpan sejuta luka dan kesedihan.
Dari dulu hingga sekarang, hati Ale sudah terpaut pada satu nama. Arletha Maheswari Natakusuma.