Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Pesta


__ADS_3

"Waw, mobil baru, nih? Kamu jadi beli mobil ini?" Angga berdecak kagum saat Letha berdiri di depan mobil barunya.


"Aku sudah membatalkan pembelian mobil ini, tapi Ale malah membelikannya," jawab Letha santai.


"Jadi penasaran siapa Ale. Dia belum kerja tapi uangnya banyak." Letha hanya menggidikkan bahu.


"Mobil lama jadi diberikan sama Beno?"


"Ya, aku kasih mobil itu buat Beno. Kasihan dia harus naik motor terus. Dia udah banyak jasanya. "


"Termasuk membawa Ale ke kehidupanmu, kan?"


*****


Sudah dua hari Ale pergi, tetapi Letha tidak mendapat kabar darinya. Jujur saja, sekarang ini telepon Ale sangat dinanti-nantikannya. Diakui atau tidak, dia merindukan sosok Ale yang menyebalkan. Layaknya ABG yang baru jatuh cinta, Letha sering terlihat senyum-senyum sendiri. Untuk pertama kalinya wanita itu merasakan perasaan seperti itu.


Malam ini Letha akan menghadiri acara pesta ulang tahun pernikahan pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Para wanita heboh memilih gaun untuk mereka pakai malam ini. Anggun juga pulang lebih cepat karena akan hadir dalam undangan itu.


Letha merasa aneh karena ibunya juga diundang. Padahal mereka tidak saling kenal.


"Mas Danu juga diundang, padahal kami gak saling kenal." Sarah ikut bicara.


Letha tidak mau terus memikirkan masalah itu, ada yang lebih penting baginya. Dia tengah menunggu kabar dari Ale dan berharap pria itu bisa ikut dengannya. Malam ini atasannya akan mengenalkan Letha pada putra mereka.


"Kamu mikirin lamaran itu?" tanya Marta saat melihat raut muka Letha yang berubah. Letha sudah menceritakan tentang lamaran dari atasannya.


"Aku takut, Ta. Gimana kalau aku dipaksa menikah dengan putra mereka?" Semakin cemas saja wajah Letha.


"Ale tahu tentang lamaran itu?" tanya Sarah.


Letha hanya menggeleng. Dia menyesal tidak bicara pada Ale, setidaknya kalau dia bicara, mungkin saja Ale akan pulang lebih awal. Dia sempat menghubungi nomor Ale tetapi ponselnya tidak aktif.


Saat mereka sibuk bicara, Anggun datang dengan box besar di tangannya. Letha penasaran dengan isinya.


"Besar sekali, Bu. Punya siapa?" tanya Letha penasaran.


Letha kaget saat Anggun mengatakan kalau box itu untuknya. Dia tidak merasa pesan apa-apa. Di sana juga tidak ada nama pengirimnya.


Letha meraih box besar itu dan membukanya. Semua orang berdecak kagum dengan isi box itu. Gaun mewah lengkap dengan perhiasan juga tas dan high heels.

__ADS_1


"Datanglah ke pesta malam ini dan tunggu aku di sana." Letha membaca tulisan yang ada di dalam box.


"Apa mungkin ini kiriman Ale?" gumamnya lirih.


Tepat pukul delapan malam, semua orang sudah siap pergi ke pesta. Letha naik mobil lamanya bersama Anggun dan Beno, sementara Sarah dan Marta naik mobil suaminya masing-masing. Jangan tanya Angga berangkat dengan siapa, pria jomlo itu duduk sendiri dalam mobil mewahnya.


Sebuah ballroom di hotel milik AB Group disulap menjadi ruangan yang dipenuhi bunga hidup dengan tema putih. Ya, dalam undangan pesta ini semua orang diharapkan hadir memakai pakaian putih.


Sepasang suami istri yang menjadi tuan rumah di pesta ini datang menyapa Letha dan keluarganya. Yang disapa malah ketar ketir, takut mereka membahas masalah perjodohan. Dia bingung bagaimana cara menolak lamaran itu agar mereka tidak tersinggung.


"Selamat datang calon mantu. Kamu cantik sekali malam ini." Rasmina lebih dulu menyapa Letha.


"Terima kasih, Bu Presdir. Anda jauh lebih cantik." Letha membalas sapaan istri atasannya. Dia mengenalkan orang-orang yang bersamanya. Tampak Rasmina merangkul Anggun setelah dia tahu wanita itu ibunya Letha.


"Selamat datang calon besan. Terima kasih sudah menyempatkan hadir di sini." Anggun menatap Letha, terlihat kebingungan di wajah wanita itu.


Setelah acara saling sapa selesai, mereka masuk dan bergabung dengan tamu yang lain. Pesta mewah ini lebih mirip dengan pesta resepsi pernikahan. Letha menatap kagum dengan suasana pesta.


"Mewah banget pesta anniversary sultan, jadi pengen," ucap Sarah.


"Ok, nanti anniversary kita bikin pesta kaya gini, tapi besoknya kita tinggal di kolong jembatan," ucap Danu cuek.


"Sayang, aku cuma bercanda," rengek Sarah sambil bergelayut manja di tangan Danu.


"DIAM !!" bentak Sarah dan Danu bersamaan, membuat semua orang terkekeh.


Letha tidak bisa berdiri dengan tenang. Dia terus berusaha menghubungi nomor Ale. Sayangnya, nomor pria itu masih belum aktif. Letha butuh Ale di sampingnya.


Seorang wanita cantik berbalut dress putih selutut nampak masuk ke ruangan pesta. Berjalan seorang diri dengan begitu anggunnya. Dia adalah Arneta Wihelmina Brata, putri satu-satunya dari pasangan Alvonso dan Rasmina.


"Arneta," gumam Angga saat melihat Arneta berjalan di depannya.


"Kemana suaminya? Kok, dia sendiri?" bisik Rizal di telinga Angga.


"Entahlah, tapi kuharap pria brengsek itu tidak datang," ucap Angga penuh emosi. Angga tahu pria seperti apa suami Arneta, apalagi mengingat ibunya yang matre bukan main.


Rona adalah teman kuliah mereka. Jadi mereka tahu seperti apa pria itu. Semenjak kuliah, Angga yang paling tidak suka dengan sikap Rona yang sok.


Arneta tampak bergabung dengan orang tuanya. Angga hanya bisa menatap wanita yang sudah membuatnya patah hati dari kejauhan. Jauh di lubuk hatinya, dia masih menyimpan rasa itu dengan baik, berharap ada keajaiban untuknya.

__ADS_1


"Move on, Ga. Dia istri orang." Letha mencoba mengingatkan. Dia bisa melihat sorot mata Angga yang dipenuhi kilatan cinta untuk Arneta.


"Gak gampang, Let. Dia cinta pertamaku, sampai saat ini rasa itu masih tersimpan baik untuknya." Letha tahu bagaimana Angga begitu mencintai sosok Arneta, berusaha berjuang menjadi yang terbaik agar dapat dilirik, tetapi sayangnya, sedikitpun Arneta tidak melirik Angga yang membawakan sejuta cinta untuknya.


"Berdoalah agar rumah tangga mereka akan hancur, soalnya dari tadi aku gak liat suaminya." Mendengar apa yang dikatakan Rizal semua orang menatap aneh padanya.


"Emang ada doa kayak gitu? Bakal dikabulkan gitu?" tanya Marta penuh kesal.


Semua orang hanya tertawa kecil mendengar ucapan Rizal yang terkesan aneh, tapi hati kecil Angga mengaminkan ucapan sahabatnya.


Tidak lama pesta pun dimulai, dari acara tiup lilin sampai saling suap kue antara kedua orang yang tengah berbahagia. Rasmina dan Alvonso berdiri tegak dihadapan para tamu undangan, hendak menyampaikan sesuatu.


"Sebenarnya, saya ingin mengenalkan kalian pada putra kami, tapi sekarang dia belum hadir. Masih dalam perjalanan. Saya juga ingin kalian manjadi saksi pertunangan putra saya malam ini."


Deg


Letha tidak bisa menahan beban tubuhnya. Dia sedikit oleng saat mendengar apa yang dikatakan Rasmina. Semua orang menatap Letha yang sudah pucat. Mereka tampak khawatir.


"Bagaimana ini? Kenapa tiba-tiba mau tunangan sekarang? Mereka gak bilang sama kamu, Let? " Marta ikut cemas. Dia bisa melihat wajah Letha yang sudah pucat.


Letha hanya bisa diam. Dia juga bingung harus bagaimana. Dia membutuhkan Ale saat itu juga.


"Ale, aku mohon datanglah. Apa kamu mau aku tunangan sama orang lain?" gumam Letha. Tidak terasa, bulir bening jatuh begitu saja.


Sementara Beno tengah sibuk menerima telepon dari seseorang. Mereka tidak tahu apa yang sedang pria itu bicarakan.


"Arletha, kemarilah!" Rasmina memanggil Letha untuk mendekat. Semua orang kini menatap Letha yang berdiri tidak jauh dari tempat Rasmina berdiri.


"Bu," ucap Letha lemah.


"Pergilah! Katakan pada mereka sebelum semuanya terlambat, Nak." Anggun merasa kasihan dengan putrinya. Baru saja Letha membuat keputusan besar, kini dia dihadapkan dengan permasalahan yang rumit seperti ini.


Kini Letha menatap satu persatu pada sahabatnya dan mereka pun berkata hal yang sama. Dengan langkah gontai Letha menghampiri atasannya. Bibir Letha terus memanggil nama Ale, berharap pria itu hadir di sana.


"Kami ingin kamu dan Saka tunangan malam ini juga. Saka tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia takut kamu diambil orang katanya." Letha memberanikan diri menatap wanita yang masih cantik diusianya yang sudah setengah abad itu. Dia tidak ingin menyakiti hati atasannya karena penolakan dirinya.


"Sebelumnya saya minta maaf. Saya ... saya ...."


Belum selesai Letha bicara ponsel Rasmina berdering.

__ADS_1


"Ya, sayang? Ok. Mami dan calon istrimu sudah menunggu, cepatlah!" Rasmina bicara dengan seseorang dari balik telepon.


"Saka sudah sampai. Dia ada di depan. Nah, itu dia!"


__ADS_2