Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Rencana Honeymoon


__ADS_3

Di dalam cafe milik Danu, Angga tengah dilanda kecemasan. Anak dari pemilik perusahaan besar tempatnya bekerja mengajak bicara hanya berdua dengannya. Tatapan mata Ale begitu menusuk membuat Angga merinding sendiri.


"Sejak kapan kamu menyukai kakakku? " tanya Ale langsung. Mendapat pertanyaan itu, Angga cukup terkejut. Dia makin penasaran sehebat apa seorang 'Alehandro Saka Brata' itu.


Rahasia yang dia simpan bisa diketahui Ale, sementara yang tahu hanya dia dan para sahabatnya. Dia juga tidak mungkin menuduh Neta sudah menceritakan masa lalu mereka.


"Semua yang berhubungan dengan orang yang kusayangi, aku pasti tahu." Ale menjawab rasa penasaran Angga.


"Berarti aku tidak perlu menjawabnya," balas Angga.


Cukup lama mereka berbicara dan hanya tentang Neta yang jadi topik pembicaraan. Sementara di luar, Letha tidak henti menatap arah menuju pintu masuk cafe. Satu jam sudah Ale dan Angga berbicara, tetapi mereka belum terlihat keluar.


"Apa yang kamu cemaskan? Mereka pasti baik-baik saja." Marta melihat kecemasan di wajah Letha, entah apa yang dipikirkan wanita itu sekarang.


"Kok, aku jadi takut. Apa Ale tahu kalau Angga mencintai Neta?" gumam Letha.


Belum Letha mendapat jawaban, Ale dan Angga sudah lebih dulu menghampiri. Letha menatap lekat-lekat wajah keduanya, tetapi dia tidak menemukan apa-apa.


"Kita pulang sekarang!" ajak Ale pada Letha.


"Aku dijemput Beno, jadi ...." Belum Letha selesai bicara, Ale sudah memotongnya.


"Beno lagi pacaran, ayo pulang!" Mendengar jawaban pria itu, Letha ingin tertawa. Setahunya, Beno belum pernah pacaran sama sekali.


"Jangan bohong. Beno itu gak punya pacar," bantah Letha sambil berdiri.


"Kalian, aku pamit duluan." Letha pamitan pada semua sahabatnya dan berlalu beriringan dengan Ale. Seperti biasa, Ale tidak melepas genggamannya dari tangan Letha.


"Seperti inikah jatuh cinta? Kenapa tidak dari dulu aku merasakannya? Ah, pasti Ale masih bocah ingusan waktu itu," gumam Letha dalam hati.


Ale bisa melihat senyum Letha, wajahnya terlihat lebih cantik dengan senyumannya itu, senyuman yang jarang dia perlihatkan.


"Aku pastikan kamu akan selalu bahagia, Bidadariku."


Ale membukakan pintu untuk Letha, baru dia masuk ke dalam mobil. Letha merasa benar-benar diperlakukan seperti seorang putri.


"Kapan kamu akan berhenti bekerja?" tanya Ale tiba-tiba.


"Berhenti bekerja? Tapi kenapa? " Bukannya menjawab Letha malah balik bertanya.


"Minggu depan kamu itu jadi istri dari pewaris AB Group. Aku gak mungkin membiarkan kamu bekerja. Tugas istri itu di rumah dan aku yang bekerja." Letha masih ingin bekerja, dia pasti akan merasa jenuh kalau hanya diam di rumah.


"Apa aku gak boleh bekerja? Aku pasti akan bosan, setidaknya biarkan aku bekerja satu tahun atau dua tahun, ya?" Letha memasang wajah manjanya membuat Ale gemas dibuatnya.


"Kamu jangan menggodaku, apa kamu mau ....?"


Letha menarik tubuhnya, dia menatap tajam pada Ale tapi yang ditatap malah tertawa.


"Siapa yang menggoda? Jangan harap, ya." Letha memasang wajah jutekya, dia juga berusaha menetralisir degup jantungnya.

__ADS_1


Seketika keheningan tercipta, keduanya tidak ada yang bicara dan lebih memilih diam.


Sementara disebuah rumah makan, dua orang wanita paruh baya tapi masih terlihat cantik di usianya tengah berbicara, mereka adalah Anggun dan Rasmina. Rasmina memutuskan pergi menemui Anggun setelah Ale mengizinkannya pergi, mereka tengah membicarakan tentang rencana putra putri mereka yang akan menikah minggu depan.


Anggun begitu bahagia saat mendengar Ale ingin menikahi Letha secepatnya, dia ingin melihat putri semata wayangnya hidup bahagia bersama pria yang mencintainya dengan tulus. Tapi ada ketakutan di hati Anggun saat mengingat Letha yang akan sulit memiliki keturunan, dia takut Rasmina menolak Letha dengan alasan itu.


"Maaf sebelumnya, ada yang harus Mbak tahu tentang Letha. Ini berhubungan dengan masa depan mereka kelak dan Mbak harus tahu." Anggun begitu berat untuk bicara, tetapi dia harus jujur.


"Masalah Letha yang akan sulit mendapat keturunan? Kami sudah tahu, semua sudah sepakat menerima Letha dengan segala kekurangannya. Pernikahan itu bukan tentang keturunan saja, kami akan selalu mendukung apapun itu untuk kebahagiaan putra kami. Saka begitu mencintai Letha, kami tak mungkin menghalangi apa yang menurutnya baik dan kami yakin pilihan Saka itu tidak salah."


Anggun benar-benar bersyukur Letha bisa diterima dengan baik oleh keluarga Ale, mungkin ini buah dari kesabaran mereka selama ini, doa-doa mereka terjawab.


Setelah cukup lama berbincang perihal pernikahan, mereka memutuskan pulang. Mereka sepakat tidak akan ikut campur dengan persiapan pernikahan putra putri mereka. Ale dan semua anak buahnya bisa menyelesaikan persiapan itu sebelum waktunya. Mereka hanya akan duduk manis dan menunggu sampai hari H tiba.


*****


"Bu, kata Ale tadi Tante Rasmina nemuin Ibu, ya? Bicara apa aja?" tanya Letha saat mereka baru selesai makan malam.


"Ya. Tadi Mama Ale datang ke rumah makan. Kami bicara tentang persiapan pernikahan kalian. Kamu harus bangga jadi istri Ale, dia begitu menyayangimu dan dia sendiri yang mempersiapkan semua hal untuk pernikahan kalian. Kamu tahu? Kami dilarang membantu, kami disuruh duduk manis sambil menunggu waktunya tiba," jelas Anggun panjang lebar.


"Ale benar-benar melakukannya, dasar Bocah Tengil," gumam Letha tapi masih bisa didengar Anggun.


"Belajar manggil Ale yang lebih baik, dia itu calon suamimu. Masa iya kamu manggil gitu sama suami kamu nantinya? Apa kata orang?" Letha malu saat tahu ibunya mendengar saat dia bergumam.


"Iya nanti, Bu."


Letha masih belum percaya kalau ini nyata, dia akan menikah dan memiliki suami. Keluarga? Dia juga berharap bisa memiliki keluarga kecil. Letha sudah memutuskan akan mencoba mengikuti pengobatan alternatif. Dia akan berusaha selama kesempatan itu masih ada dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.


"Aku akan ke sana." Letha memiliki semangat untuk melakukan pengobatan. Dia akan meminta saran dari para sahabatnya lewat pesan di grup chat.


Letha


"Kita liburan ke Cina, yuk!!"


Marta


"Tumben ngajak liburan ke luar negeri? Dapat lotre, ya?"


Sarah


"Bukan dapat lotre tapi dapat Sultan, he ... he ...."


Letha


"Serius, dong. Aku sebenarnya mau berobat, tadi aku buka-buka medsos katanya di sana ada pengobatan alternatif yang bagus, banyak orang dengan kasus yang sama sembuh di sana. Aku juga berharap bisa berjodoh jika berobat ke sana."


Marta


"Alhamdulillaah. Ayo, kapan?"

__ADS_1


Sarah


"Ayo, kapan? Kita semua ikutan, ya. Kasih semangat buat sahabat kita."


Angga


"Habis Letha nikah aja, sekalian honeymoon. Katanya kalau honeymoon dia mau ngajak kita-kita."


Letha


"Biang rusuh, nih." 👊👊


Sarah


"Jadi serius, nih? Kita-kita mau diajak?"


Marta


"Ya kali honeymoon ngajak-ngajak temen. Yang ada kita malah jadi nyamuk buat mereka."


Rizal


"Sesuai kesepakatan aja, kita yang diajak bukan kita yang ikut." 😂😂


Danu


"Siap. Kita berangkat. Kita juga mau sekalian honeymoon."


Marta


"Asyiiik!"


Sarah


"Siap, deh. Aku ikut juga."


Angga


"Gimana, Let?"


Sarah


"Let ...?"


Marta


"Let, kamu tidur?"


Letha

__ADS_1


"Iya, aku udah tidur!" 😓


Letha melupakan sesuatu. Dia pernah berkata pada Angga kalau dia akan mengajak mereka saat honeymoon kalau dirinya sampai menikah dengan Ale. Andai dia bisa meralat semua ucapannya.


__ADS_2