Jodoh Sang CEO Muda

Jodoh Sang CEO Muda
Makan Malam Romantis


__ADS_3

Ale berbalik saat mendengar suara orang berdehem. Seorang wanita cantik berdiri di hadapannya. Rambut panjangnya di gerai indah, membuat Letha tampak berbeda. Dress berwarna cream sepanjang lutut dan tanpa lengan itu menyempurnakan penampilannya.


Ale menghampiri dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya.


Jangan tanya kabar jantung Letha. Dia tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya. Letha menatap Ale penuh kagum. Malam ini, Ale tampak dewasa dari usianya. Tidak ada baju kaos, celana jeans robek dan topinya. Penampilannya jauh berbeda. Setelan kemeja dengan jas tanpa dasi membuatnya tampan maksimal. Letha begitu terpesona.


Uluran tangan Ale diterima Letha. Dia mengikuti langkah Ale menuju meja kecil yang sudah dihias sedemikian rupa. Letha baru menyadari kalau ada meja yang tertata rapi dengan beberapa hidangan yang diterangi lilin. Romantis? Ya, itu begitu romantis bagi Letha.


Ale membuka jasnya dan menyampirkan di bahu letha, cuaca dingin malam ini sangat menusuk di kulit Letha yang tidak terbalut apa-apa. Ah, lagi-lagi Letha diam saja saat Ale memakaikan jas di tubuhnya.


"Kamu cantik," bisik Ale di telinga Letha. Seketika wajahnya merona.


"Maaf mengganggu acaramu, ada yang ingin aku bicarakan masalah ...."


"Sebaiknya kita makan dulu, kemudian kita bicara." Ale memotong sebelum Letha menyelesaikan perkataannya.


"Ini?" Letha menunjuk meja yang sudah terhidang beberapa makanan.


"Aku yang sudah menyiapakan semuanya untuk kita."


"Kita? Tapi aku mau ketemu untuk bicara."


"Tapi aku memintamu ke sini untuk makan malam."


Letha tidak mau berdebat, terlalu sayang juga jika harus dilewatkan. Semua yang Ale lakukan ini begitu romantis, tapi untuk apa pria itu melakukannya? Letha bertanya-tanya.


"Bagaimana makanannya? Enak?" tanya Ale saat mereka menikmati makan malam.


"Enak," jawab Letha singkat.


"Baguslah, nanti setiap hari aku akan memasakkan makanan untukmu." Letha membulatkan matanya. Kaget dengan yang Ale katakan.


"Ale!" panggil Letha.


"Kapan kita menikah?" tanya Ale tiba-tiba.


"Ale!" panggil Letha lebih keras.


Mendapatkan tatapan tajam dari Letha, Ale malah terkekeh.


"Kamu lucu kalau lagi kesal. Aku suka." Letha memutar bola matanya, jengah dengan ucapan Ale yang kelewat gombal.


"Kita sudah selesai makan. Apa kita bisa bicara sekarang?" Letha ingin segera mengakhiri semuanya. Dia tidak mau terbawa suasana. Dia takut terbuai dengan sikap Ale yang lembut dan penuh perhatian.


"Kenapa harus terburu-buru? Masih ada hari esok, kan?"


"Ale, aku ingin semuanya selesai malam ini. Apa benar biaya liburan kemarin sebesar itu?" Letha enggan mengucapkan nominalnya. Dia masih belum percaya jika mengingat nominalnya yang begitu besar.

__ADS_1


"Begini, aku ada uang segitu malah lebih tapi aku sudah deal dengan seseorang untuk pembelian mobil sport dan waktu pembayarannya besok. Sisa pembayaran mobil hanya ada seratus lima puluh juta saja, masih kurang untuk biaya liburan kemarin. Mari kita bernegosiasi." Letha mengutarakan tujuannya menemui Ale.


Letha mengepalkan tangannya menahan malu. Dia tidak tahu sudah seperti apa wajahnya sekarang.


"Lupakan semua tentang itu dan menikahlah denganku!" Ale meraih tangan Letha, menggenggamnya penuh cinta.


"Ale, aku serius," ucap Letha lirih.


"Aku juga serius. Lupakan tentang biaya liburan itu. Aku tidak mempermasalahkannya, mari kita menikah!" ucap Ale serius.


"Menikah? Dan aku menjadi pengganti uang itu?" Letha menatap tidak percaya. Diia akan menjadi tumbal hutangnya sendiri.


"Tidak, bukan begitu. Aku ingin menikahimu karena cinta, aku tulus mencintaimu. Maka, menikahlah denganku!" Ale berbicara sambil berlutut di depan Letha, dia berusaha meyakinkan Letha akan keseriusannya.


"Kamu belum tahu tentang aku, kamu belum mengenalku dengan baik. Ka–." Ale tidak membiarkan letha melanjutkan perkataannya.


"Aku tahu. Aku tahu tentangmu, siapa kamu. Aku tahu semuanya," potong Ale.


"Kamu gak tahu. Ada yang kamu gak tahu tentangku," ucap Letha dengan berkaca-kaca.


"Aku akan terima semua kekuranganmu." Ale terus berusaha meyakinkan Letha.


"Semua juga bilang gitu. Saat mereka tahu apa kekuranganku mereka akan meralat semuanya. Berhentilah mengejarku! Masa depanmu masih panjang. Di luaran sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik dan sempurna tengah menantimu." Letha berdiri hendak berlalu, tetapi tangan Ale mencegahnya.


"Meskipun selamanya kita hidup hanya berdua tanpa kehadiran anak, aku siap. Aku menerima semua kekuranganmu, Arletha Maheswari Natakusuma. "


Letha tidak percaya kalau Ale benar-benar mengetahui rahasianya. Bagaimana bisa? Siapa yang memberitahukannya?


"Aku serius dengan semua ucapanku. Aku tidak akan meralat semua yang kuucapakan. Aku ingin menikah denganmu, jadilah istriku." Ale mengecup tangan Letha. Sementara Letha tidak bisa menahan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Letha dengan gemetar.


"Itu tidak penting. Yang penting,, aku mencintaimu setulus hatiku dan aku ingin menikahimu." Letha tidak melihat kebohongan di manik mata Ale. Dia hanya melihat ketulusan dan keseriusan.


"Tapi aku gak cinta sama kamu," ucap Letha lirih.


"Yang penting aku mencintaimu. Biarkan aku yang mencintaimu."


Benteng pertahanan yang Letha buat mendadak goyah. Dia ingin menerimanya, tetapi butuh waktu untuk meyakinkan semuanya.


Ale tahu rahasia besar Letha. Rahasia yang membuat dirinya menutup diri dari yang namanya pernikahan. Sebenarnya ,Ale tahu dari Anggun. Dia ingin Ale tahu semua tentang Letha, sekaligus meyakinkan dirinya kalau Ale benar-benar pasangan yang pas untuk putri semata wayangnya.


Ale ingat beberapa waktu lalu saat dirinya bicara serius dengan Anggun. Dia meminta izin untuk menikah dengan Letha.


"Izinkan Ale menikahi Letha, Tante," ucap Ale waktu itu.


"Ale, Letha tidak seperti wanita lain. Dia punya kekurangan dan itu yang menjadi alasan dia belum menikah." Anggun berusaha jujur dengan Ale.

__ADS_1


"Aku mencintai Letha tulus. Aku akan terima kekurangan Letha, Tan."


"Tante bisa lihat kamu sangat mencintai Letha, tapi perlu kamu ketahui Ale, Letha ... Letha sulit memiliki keturunan. Beberapa tahun yang lalu, Letha kecelakaan dan itu mengakibatkan rahimnya bermasalah. Tante juga baru tahu beberapa hari yang lalu, Tante sudah menyelidiki semuanya," ungkap Anggun.


"Aku akan mencari dokter yang terbaik. Aku akan membawa Letha berobat dan kalaupun Letha tidak bisa memiliki anak, aku akan tetap mencintainya."


Ale tetap bersikukuh untuk menikahi letha meskipun dia tahu kekurangan wanita itu. Ale sama sekali tidak mempermasalahkannya. Anak adalah titipan. Jika Tuhan sudah berkehendak, siapapun tidak bisa menolaknya.


Kini Letha dan Ale tengah duduk berdampingan di tepian tebing, menatap kagum keindahan malam. Di bawah ada bangunan yang memancarkan cahaya dari lampu-lampu, sementara dari atas mereka bisa melihat jutaan bintang berkerlap-kerlip dengan indahnya.


"Kamu pasti malu jika jalan denganku. Mereka akan menganggap aku Tante kamu."


"Aku tidak peduli."


"Mereka akan membully kamu."


"Aku tidak peduli."


"Mereka akan ...."


"Aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Jadi berhenti mempedulikan apa yang mereka bicarakan."


"Beri aku waktu untuk berpikir."


Pagi harinya, Letha terlihat begitu ceria. Beno pun bisa melihatnya. Dia yakin misi Ale sukses.


"Kakak hari ini cantiknya maksimal," puji Beno yang memang kenyataannya hari ini Letha terlihat bercahaya.


"Bilang aja mau tambahan uang jajan. Kakak emang udah cantik dari pusatnya," nyinyir Letha dengan berlagak sombong sambil mengibaskan rambutnya.


"Pede amat, tapi ini beneran. Hari ini Kakak cantiknya beda, wajah Kakak bercahaya." Kembali Beno memuji Letha.


Letha menyelesaikan sarapannya dan berlalu, tetapi sebelum pergi dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan diberikannya pada Beno.


"Yang rajin aja, Kak," ucap Beno sambil nyengir kuda.


*****


"Kamu yakin dengan keputusanmu untuk menikahi Letha, Saka?" tanya Rasmina pada putranya.


"Aku yakin, Mi. Dia yang terbaik untukku." Ale sudah mantap dengan pilihannya.


"Sekalipun kamu gak akan punya keturunan? " tanya lagi Rasmina untuk meyakinkan.


"Aku yakin, Mi. Sekalipun kami tidak bisa memiliki anak, tapi aku akan berusaha untuk mengobati Letha. Meskipun hanya sedikit tapi harapan itu masih ada. Aku akan pulang sebelum acara ulang tahun pernikahan Mami dan Papi. Dan Kak Neta juga pasti hadir."


Ale hendak pergi ke negeri Gingseng, salah satu rekan kerja sang ayah merekomendasikan seorang tabib yang bisa mengobati segala penyakit diantaranya seperti yang Letha alami, ada kemungkinan besar Letha sembuh dan kemungkinan itu lima puluh persen.

__ADS_1


Sebelum berangkat tentu saja Ale akan menemui kekasih hatinya. Dia tidak akan mengatakan alasan sebenarnya pada Letha. Dia akan membicarakan tujuannya pergi setelah semuanya jelas.


__ADS_2