Jodohku Sahabat Abangku

Jodohku Sahabat Abangku
persiapan pindah


__ADS_3

dikediaman pak Herman kini pak Anto serta anak dan istrinya juga Lidia sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi dan kue yang mereka beli tadi saat perjalanan pulang. "nak gimana apa kamu sudah siap pindah ke kota M kerumah papa?tanya pak Anto pada Raisa.


"iya pak Raisa sudah siap, mungkin ini sudah takdir dari Raisa dari Allah.jawab Raisa lembut.


"mulai sekarang panggil papa sama Mama ya nak karena kamu sekarang anak kita. ucap bua Lidia sambil mengusap punggung Raisa.


"iya ma, makasih ya ma mama udah baik banget ke Raisa papa dan kak bian juga. ucap Raisa sambil tersenyum pada mereka semua.


"dek mulai sekarang panggil Abang aja ya, ucap bian lembut. "iya bang ucap raisa.


"Oya dek gimana rencana kuliahmu? tanya bian.


"aku emang berencana kuliah di kota M bang. nanti biar aku urus setelah pindah ke sana.


" ya udah nanti Abang bantu urus semuanya ya.


"Giman kalo besok kita pindahnya, ucap bian pada Raisa. Raisa hanya diam tidak menjawab pertanyaan bian.


"maaf ya dek, kalo kamu belum siap buat pindah gak papa biar kita tunda aja. ucap bian lembut karena takut Raisa terbebani.


"gak papa kok bang, aku mau kok pindah besok kasian papa sama Abang kalo harus terlalu lama ninggalin perusahaan. tapi mungkin agak siang ya bang besok aku harus kesekolah dulu untuk mengurus semua berkasku.

__ADS_1


"ya udah biar besok Abang antar kamu ke sekolah ya. ucap bian pada Raisa. sementara pak Anto dan Bu Lidia hanya tersenyum mendengar percakapan anak lelakinya dan anak angkatnya itu.


"pa, ma, bang aku permisi ke kamar dulu ya mau beresin barang barang yang akan di bawa besok. ijin Raisa pada keluarga barunya.


"yauda yuk mama bantu nak. ucap Bu Lidia sambi berdiri dari duduknya.


di dalam kamar Raisa dan Bu Lidia mulai mengemasi barang Raisa mulai baju buku buku dan yang tertinggal kan foto Abi umi dan adeknya. Raisa duduk di tepi ranjangnya dan memandangi foto keluarganya tanpa terasa air matanya kembali menetes. ibu Lidia yang melihat putrinya menangis langsung memeluk Raisa memberikan kekuatan untuk putrinya. "apa kamu terbebani nak, kalo kamu belum siap kita bisa tinggal lebih lama disini. ucap Bu Lidia lembut.


"gak papa kok ma, Raisa cuma belum menyangka mereka begitu cepat pergi. tapi sekarang Raisa bersyukur punya papa mama dan Abang yang sayang sama Raisa. ucap Raisa sambil memeluk sang mama.


"ya udah sekarang gak usah nangis lagi. kamu jelek kalo nangis ucap Bu Lidia sambil tersenyum. akhirnya Raisa mengusap air matanya dan tersenyum pada sang mama.


"udah gak ada penolakan. ucap Bu Lidia tegas


"baik ma, makasih ma. ucap Raisa.


setelah selesai mengemasi barang-barang Raisa dan Bu Lidia mendengar suara ketukan pintu dari luar. "mama adek ayo kita makan malam dulu. teriak bian dari luar kamar.


"cklek Bu Lidia membuka pintu dan keluar bersama Raisa menuju meja makan.


"kenapa teriak teriak si bang mama masih denger kok. maaf ya ma ucap bian cengengesan.

__ADS_1


kini dimeja makan suasana menjadi hening. yang terdengar hanya suara sendok dan garpu. setelah makan pak Anto dan Bani kembali ke ruang tamu. sementara Bu Lidia membereskan meja makan dan mencuci piring. "udah ma Raisa aja yang ngerjain mama duduk aja ya. ucap Raisa pada sang mama.


"tapi nak biar mama aja yang ngerjain. udah mama duduk aja sama papa nanti Raisa kesana. akhirnya bulidia kembali ke ruang tamu. tak berselang lama Raisa pun telah selesai dengan pekerjaannya dan berkumpul di ruang tamu.


"dek besok jam berapa kesekolah? tanya bian.


"jam 7 bang tapi cuma sebentar setelah semua berkasnya beres aku langsung pulang. ucap raisa.


"ya udah Abang anter besok sekalian Abang tungguin kamu.


"biar aku naik motor aja bang, aku gak mau ngerepotin Abang. ucap Raisa menatap Bian


"no gak ada penolakan oke. Raisa hanya mengangguk.


mereka terus mengobrol sampai waktu sudah menunjukan pukul 10. mereka memutuskan untuk kembali ke kamar untuk istirahat. sedangkan Raisa sudah tertidur dan kepalanya berada di pangkuan sang mama. "pasti dia kecapean, belum lagi saat mengingat keluarganya dia masih suka nangis. ucap Bu Lidia sambil mengus pucuk kepala Raisa.


"ya udah ma biar Abang aja yang gendong adek ke kamar, kasian kalo harus di bangunin. ucap bian pada sang mama.


kini Raisa ada di gendongan bian, bian terus menatap wajah damai sang adik waktu tidur tidak ada kesedihan yang terpencar. "Abang janji dek akan menjaga dan lindungin kamu.gumam bian dalam hati.


setelah sampai kamar Raisa bian langsung menidurkan Raisa di ranjangnya tak lupa bian juga menyelimuti Raisa. akhirnya mereka benar benar kembali ke kamar masing masing dan mulai bejalan ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2