Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Satu


__ADS_3

Hai masih ingat dengan Mimin kan😀


Seperti yang sudah Mimin janjikan untuk menulis ulang cerita Ceo tampan itu milikku menjadi novel bukan chat story.


Cekidot....


Kedua perempuan yang bersaudara, mereka adalah Kania Larissa dan Dara Larissa. Kania sendiri sudah menikah dengan pengusaha kaya, mempunyai buntut satu.


Baginya itu bonus mendapatkan suami sekaligus mendapatkan anak. Kania sangat menyukai anak kecil, tak masalah mendekat kan dirinya dengan calon anaknya, sekarang sudah resmi menjadi putra sulungnya.


Pernikahan dengan mendiang istri sebelumnya, Yudha suami Kania di karunia-Nya Kenzi Pradipta.


Kini kehidupan rumah tangga keduanya berjalan mulus-mulus saja tanpa ada gangguan dari pihak ketiga. Bila itu sampai terjadi, Kania pasti tak akan sanggup bertahan mendampingi duda tampan beranak satu, bila rumah tangganya ada orang ketiga mewarnainya.


,*****


Mimin kembali ke Dara Larissa, merupakan pemeran utama yang mimim tulis.


Dara Larissa terlahir sebagai anak kedua dari dua bersaudara, dulu hidupnya serba pas-pasan. Kini hidupnya sedikit tertata rapi setelah sang kakak menikah dengan pemilik perusahaan Pradipta group.


Pundi-pundi rezeki dari kakaknya mengalir, cukup untuk biaya sekolah, makan dan terkadang juga Dara tabung untuk kebutuhan yang akan datang.


Meskipun kini sudah berlimpah harta, tak membuat Dara sombong atau Jumawa. Dara tetap seperti yang dulu, tidak menunjukkan sebuah kemewahan walaupun kehidupan ekonominya sudah mapan.


Perjuangan keduanya untuk sukses bukan isapan jempol, sebagai seorang adik Dara sendiri sangat tahu perjuangan kakaknya sampai ke tahap ini.


Tahap di mana dirinya dan sang kakak jatuh bangun untuk mewujudkan mimpinya, cita-cita nya untuk menjadi yang lebih baik, terutama ingin membahagiakan orang tua yang lama berpulang.


Ara sapaan akrabnya, setelah menempuh pendidikan di SMA, Ara melanjutkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, berkat biaya sang kakak dan Kakak iparnya . Ara bisa mewujudkan cita-citanya untuk berkuliah di luar negeri, seperti orang-orang pada umumnya.


TAk Tak Tak...


Suara hentakan sandal dan keramik beradu, suaranya sampai ke telinganya Nuna yang sedang bermain boneka di ruang keluarga. Ada bibi yang mengawasi Nuna dalam bermain.


"Onty mau kemana kog bawa Kopel, dedek Nuna di ajak ndak onty."

__ADS_1


Tutur si bungsu Kaynuna yang terus saja mengekori onty Ara. langkah kakinya tak lelah meskipun berjalan di sebelah onty nya


"Mau sekolah sayang."


Ucap Ara membelai puncak rambutnya Nuna yang berponi seperti Dora. Ara mensejajarkan tubuhnya supaya terjangkau dengan tubuh keponakannya.


"Sekolah itu bawa tas lansel sepelti punya Abang dan Kakak, onty bukan bawa Kopel besal." Ujar si kecil Nuna yang tingkat kekepoan nya sangat tinggi, dan kekeh pada pendiriannya.


"Onty sekolahnya jauh, makanya onty bawa koper kan onty pulang masih lama mungkin satu tahun sekali, bahkan dua tahun onty baru pulang." Ara menjelaskan tentang kepergian nya, tidak dalam waktu sebentar.


"Satu tahun, dua tahun itu belapa hali, onty."


Si kecil yang suka kepo masih saja mengajukan pertanyaan, onty Ara pun sampai gemas sendiri dengan sikap kepo tingkat dewa keponakannya.


"Hmmm berapa ya?"


pura-pura Ara berfikir dengan mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuknya.


"Cepatan belapa? dedek Una mau belhitung onty." desak Kaynuna membuat Ara tertawa lebar, sang keponakannya sangat lucu dan menggemaskan sekali.


"Yah penonton kecewa, onty sih ndak bisa jawab dadi dek Una puying hitungnya dalimana? kemana?" bibirnya si kecil Nuna sudah mengerucut, hidungnya yang mancung mampu setara dengan bentuk bibirnya.


Ara tidak bisa berkutik dengan kecerewetan keponakannya Nuna, tingkat kekepoan nya sangat tinggi. Sampai Ara gelagapan, bingung mau jawab bagaimana? keponakan sangat pintar, tak mudah bagi nya sebelum mendapatkan jawaban.


"Ha-ha hahahaha...geli onty haha.., dek Una kalah aja ahh onty nya nakal suka gelitik-gelitik di pelutnya dek Una." ucapan si bungsu mampu membius onty Ara, kata-katanya membuat Ara terperangah dengan kosakata baru yang di ucapkan Kaynuna.


"Oke dech! onty minta maaf sayang, waktunya ke tempat Bunda kita terbang seperti pesawat.."


"Wuss... wusss.. terbang.."


Si bungsu Nuna langsung melebarkan sudut bibirnya, giginya yang rapi di perlihatkan ke onty nya. Kedua perempuan beda generasi tertawa bersama, karena kelelahan naik pesawat terbang bohongan.


"Hmm.. kalian ini, tidak besar tidak kecil semuanya sama. Suka sekali bikin keributan ujung-ujungnya nanti ada yang nangis." Seloroh Bunda Kania melirik sekilas ke arah putri bungsunya. Yang di lirik pun tak tahu bahwa perkataan Bundanya di tunjukkan ke dirinya. Nuna tak sadar bahwa dirinya menjadi pusat perhatian kedua perempuan yang berada di sisi kanan-kiri nya.


*****

__ADS_1


Malam ini Dara berniat bermalam di rumah kakaknya, ingin menghabiskan waktunya dengan sang keponakan. Kama dan Kalila sudah tumbuh remaja, mereka sudah duduk di bangku SMP, tetapi postur tubuh nya seperti murid SMA.


Ara sangat dekat dengan keponakannya, tidak ada jarak untuk mereka tak saling dekat. Karena mereka masih satu atap tinggalnya. Meskipun di waktu SMA Ara lebih memilih untuk ngekost daripada setiap hari pulang pergi ke rumah kakaknya, jarak rumah dan rumah kakaknya sangat lumayan jauh.


"Sudah siap Ra meninggalkan Indonesia."


Tutur sapa Yudha kepada adik iparnya.


"Siap dong kak, kan sudah jadi pilihan Ara untuk melanjutkan studi di luar negeri. Siap tak siap ya harus siap!" sahutnya Ara mantap dengan tujuan sebelumnya. Ingin menjadi orang sukses di kemudian hari, supaya tak selalu merepotkan sang kakak.


"Kapan mulai bangku perkuliahan nya, Ra?"


tanya Yudha untuk memastikan sebelum memesankan tiket untuk adik iparnya.


"Satu bulan kak, makanya aku ingin menginap di sini dulu sampai aku berangkat! aku hanya ingin menghabiskan waktu bareng keponakan yang cantik-cantik dan tampan-tampan ini."


Ujar Ara yang tidak bisa lepas begitu saja dengan sang kakak, terutama keponakan yang terlanjur Ara sayangi.


"Have fun saja, tidak usah sungkan Ra."


Ucap Yudha untuk sang adik ipar.


"Pasti kak!"


Keponakan sudah tertidur lebih dulu di kamarnya, kini tinggal mereka bertiga yang masih betah memandangi bintang di angkasa.


Angin malam sepoi-sepoi mampu membuat ketiganya merapatkan jaketnya yang di kenakan nya, belumm ada perbincangan lagi. Mereka masih asyik menikmati langit malam yang indah, terang, nampak sangat indah dengan warna-warni kelap-kelip bintang diatas cakrawala. Warna-warni langit mampu mengunggah semangat nya, sekali lagi untuk berjuang semoga sukses bisa menghidupi dirinya sendiri.


Ayo mampir ke cerita teman nya nimin, Ayo


bantu untuk mempromosikan cerita temannya mimin..


Sukses terus untuk karya perdana nya @Semesra17.u


__ADS_1


__ADS_2