Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Duapuluh tiga


__ADS_3

Perjalanan malam ini tidak terlalu macet, Reksa sudah mendaratkan mobilnya di lantai bassement.


Malam kian larut hanya suara kendaraan yang memenuhi jalanan ibu kota, rasa kantuk pun tak bisa di elakkan lagi.


Berkali-kali juga Reksa ikut menguap, pandangan matanya tak lepas kearah jalanan, sesekali melirik ke sebelahnya.


Ada wanita cantik tertidur pulas, tak terusik sama sekali gerakan kecilnya Reksa. Mobil melaju dengan kecepatan pelan, walaupun jalanan tak padat tak ingin cepat-cepat sampai apartemen.


Alhasil aku mengemudikan mobilnya berjalan merayap, ingin menikmati momen langka bidadari cantik di sampingnya.


Sampainya di parkiran Reksa mulai membangunkan Ara, nampak sekali tertidur pulas, tak tega untuk membangunnya.


Tetapi tak ada cara lain, kecuali ia bangun sendiri.


"Ra, bangun sudah sampai!" bisiknya pelan meskipun berjarak, setidaknya Reksa bisa memandangi wajah ayu wanita yang sedang nyaman dalam mimpinya.


"Hmm.., Ara hanya menggeliat kecil, dan bergumam tanpa mau membuka kelopak matanya.


Ara semakin meringkuk melanjutkan tidurnya, tak menyadari bahwa dirinya masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


Melihat posisi tidurnya Ara membuat jakunnya naik-turun, berkali-kali menelan saliva nya.


Berharap godaan ini akan cepat berakhir. Bila tak mengingat di sebelahnya wanita yang di cintainya, sudah pasti aku membopong tubuhnya untuk di bawa ke ranjang.


Otaknya masih waras untuk berfikir ke hal-hal yang negatif, tak ingin menghancurkan masa depan wanita yang di cintainya.


Aku memilih menjaganya sampai halal nanti, sampai semuanya sah di mata hukum, dan negara baru aku beraksi dengan pasangan halal ku.


"Eughhh.. sudah sampai mana, Mas," ucapnya Ara tanpa sadar memanggil pria di sebelahnya dengan sebutan Mas.


Mendengar perkataan Ara membuat Reksa melambung tinggi, angan-angannya tinggi, berharap setelah bangun nanti Ara tak menyesal memanggil diriku dengan kata Mas.


"Bangunkan aku kalau sudah sampai, aku tidur dulu mas."


Dahinya Reksa berkerut, tak sadar dari tadi sudah sampai. "Kenapa Ara tak nyambung? bukankah benar jawabannya bahwa sungguh an sampai bassement."


Mereka berdiam diri di dalam mobil, tidak tahu harus berbuat apa? Reksa memilih menunggu sampai Ara bangun sendiri, takutnya bila membangun kan terus-menerus akan menganggu kualitas istirahatnya.


Akhirnya Reksa ikut memejamkan kelopak matanya, hampir tengah malam Ara terbangun dengan memekik kan suaranya lantang.

__ADS_1


"Kamu kenapa?"


"Ahhh kamu apaiin aku? Kenapa kita bisa tidur dalam satu mobil?" Ara sudah bersungut-sungut marah.


Tak ingin peristiwa yang akan merugikan dirinya terjadi pada ku, sebisa mungkin Ara membentengi dirinya dengan ilmu agama supaya tak salah jalan.


"Sssttt jangan keras-keras, Ra! nanti banyak yang dengerin, di kirain aku sedang melakukan tindakan asusila."


"Kamu mau aku berbuat seperti itu! hah!".


Mendengar intonasi bernada tinggi, nyalinya Ara langsung ciut. tidak di sadari sudah berkaca-kaca, seolah-olah suara nada tinggi membentak dirinya.


Perdebatan sengit tak dapat di pisahkan, Ara memilih mengalah, dan keluar dari mobilnya tanpa ada kata yang terucap di bibir manisnya.


Seakan tuli melanjutkan langkahnya, berharap akan segera sampai ke kamarnya. Setidaknya bisa menumpahkan rasa kesalnya, kalau menangis menghilangkan rasa sesak nya.


Ia akan lakukan.


Lift sudah sampai di lantai kamarnya, walaupun teriakan seseorang memasuki lift tak Ara indahkan.

__ADS_1


Memilih berjalan cepat, dan bisa menumpahkan segala resah, gelisah, bahkan tangisan di rumahnya.


__ADS_2