
Lima bulan kemudian.
Satu bulan liburan di tanah air menyisakan sejumlah kebahagiaan, dan juga kesedihan.. Mau tidak mau Ara harus kembali ke tempat kuliahnya, tinggal beberapa tahun lagi Ara akan bergelar sarjana.
Kini Ara sudah memulai bangku perkuliahan nya, seperti hari-hari biasanya Ara pulang pergi kampus dan apartemen jalan kaki. Bukan karena hemat ongkos atau pelit, hanya saja jarak apartemen dan kampus yang begitu dekat membuat Ara memilih untuk jalan kaki. Hitung-hitung untuk olahraga, atau melatih otot kakinya supaya kuat.
Baru saja Ara pulang dari kampus langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur, tas ransel yang ia bawa pun di buang begitu saja karena rasa lelah ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.
"Capek banget!"
Ara membolak-balik badannya ke kiri-kanan untuk mencari posisi nyaman, ponsel pun ia tidak tahu di taruh dimana? Otaknya ada kata segera tidur, supaya capeknya cepat menghilang.
Ting Tong..., bunyi bel apartemen memekakkan telinga Ara. Ara yang mulai memejamkan kelopak matanya harus terbangun karena bel tidak mau berhenti.
"Ini orang maksa banget untuk bertamu ya." gerutu Ara beranjak bangun dari kasurnya, dengan kepala yang sedikit pening karena istirahatnya terganggu suara bel.
Sebelum membuka pintu Ara melihat tamunya dahulu dari lubang kecil, untuk memastikan tamunya. Takutnya yang berniat bertamu dirinya tidak kenal, setidaknya bisa antisipasi supaya tidak terjadi ke hal-hal yang tidak diinginkan.
Klekkk..., Kamu ternyata." Ucap Ara membuka pintu apartemennya. Bukan nya salam dulu atau basa-basi apa, tamu pun pakai nteling masuk tanpa mengucapkan salam, atau say hallo kepada yang punya rumah.
"Ini orang tidak ada sopan santun, Ucap salam kek, atau apa gitu! bisanya hanya nyelonong, dan melewati yang punya apartemen." omel Ara yang tidak ada berhentinya, bibirnya terus saja bergerak seakan sedang mengunyah makanan.
"Slow Baby enggak usah pakai ngedumel gitu, entar cantik mu hilang lho Ra, di makan nyamuk-nyamuk nakal." Runi tertawa sembari bibirnya terus saja nerocos, sampai kuping Ara di tutupi pakai kedua tangannya.
"Kog malah kamu yang nerocos seperti sedang berpidato, seharusnya aku yang nerocos marahin kamu, Run." Ujar Ara yang memilih masuk ke dalam kamarnya, daripada meladeni teman nya yang 99,999%.
__ADS_1
"Wkkkkwkkkk macan betina nya sedang PMS..."
*****
Reksa di sibukkan dengan persiapan pembukaan perusahaannya, dulu Reksa bercita-cita ingin mempunyai perusahaan sendiri. Berjalannya waktu Reksa membuktikan pada diri sendiri, keluarga dan sahabat bahwa dirinya mampu untuk memiliki perusahaan.
Berbekal pengalaman yang di milikinya, Reksa bisa mencapai apa yang diinginkan meskipun masih modal kecil, masih mengembangkan sayap bisnisnya. Tetapi kali ini Reksa membuktikan keraguan pada dirinya, sebenarnya dirinya mampu hanya saja kemarin Reksa belum siap dari segala hal baik modal, tempat itu yang menjadi pemikiran nya dulu.
Di jajaran perusahaan asing, Reksa mulai mengembangkan bisnisnya dari ruko kecil yang letaknya sangat strategis. Memudahkan seseorang untuk mengakses usahanya Reksa yang baru saja ia rintis. Walaupun perusahaan kecil, Reksa berhak untuk bangga segala pencapaian nya saat ini.
Di ruko kecil yang dekat dengan pusat perbelanjaan di Kota Jakarta, perusahaan Reksa siap di buka hari ini. Tepat pukul 10pagi acara penyambutan akan di gelar, di hadiri keluarga, dan rekan-rekan bisnis nya yang turut menanam modal di perusahaan.
Di Apartemen nya Reksa tengah bersiap, tidak sampai 1jam pembukaan perusahaannya siap di mulai. Langkah kakinya yang ringan memasuki tempat acara, kamera pun langsung mengarah ke Reksa pemilik mutlak perusahaan yang resmi di buka pagi ini.
"Bismillahirrahmanirrahim...., Reksa sudah memotong pita tanda perusahaan telah di buka."
"Yeee uncle Sa uga Hanteng." Lagi-lagi suara melengking Esha memenuhi tempat acara, banyak pada mata celingak-celinguk mencari sumber suara. Setelah menemukan balita kecil berdandan seperti tokoh kartun kesukaannya, banyak yang bisik-bisik mengangumi kecantikan Esha, pipi montok nya, dan sifatnya yang pemberani menjadi daya tarik tersendiri bagi tamu undangan yang berdatangan.
"Keponakannya cantik sebelas duabelas sama uncle nya." bisik-bisik para tamu undangan yang memenuhi undangan acara pembukaan perusahaan Bhakti Group.
"Iya ya aku setuju apa yang kamu bilang, aku jadi pengen dech punya anak seperti gadis cilik pipi montok." Tutur salah satu perempuan kepada suaminya. Dari pertama kali dirinya masuk ke tempat ini, pertama kali pula menatap gadis kecil berpipi montok langsung jatuh cinta.
"Entar pulang dari sini kita langsung bikin, mau berapa ronde sayang." Suaminya langsung menaik turun alisnya untuk menggoda sang istri, untuk tahu seberapa besar cinta istrinya.
"Apaan sih mas." Ucap perempuan tersebut malu-malu kucing, wajah nya pun di tutupi dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Hahahaha kenapa pipimu merah-merah seperti tomat matang, ada apa sayang?"
Keributan suami istri yang masih hangat-hangat nya membina rumah tangga, kini terlihat malu-malu tetapi mau.
*****
Ara dan Runi sudah berada di kasur yang sama, keduanya memegang bolpoin untuk mengerjakan tugas kelompok yang harus di kumpulkan besok di meja sang dosen killer. Tidak ada percakapan antara keduanya, mereka sibuk dengan tugas nya masing-masing, kebetulan mereka satu dosen yang sama tetapi beda kelas.
Tring... tring...., suara ponsel Ara berdering diatas nakas, di lihatlah sekilas layar ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon nya di jam seperti ini. Tertera nama "Bunda Kania" buru-buru Ara menggeser tombol berwarna hijau sebagai penerima panggilan.
"Assalamu'alaikum, Kakak lagi dimana? Kenapa ramai sekali?" Tutur Ara bertanya beruntun untuk mengajukan pertanyaan seperti sedang mengintrogasi para penjahat.
"Waalaikumsalam Ra, Kakak lagi di luar menghadiri undangan pembukaan perusahaan baru milik Bhakti Group."
sahut Kania jujur tidak ada yang di tutup-tutupi, kamera pun di perlihatkan ke tempat acara yang begitu sangat ramai.
Mereka berdua asyik mengobrol sampai Kania tidak tahu bahwa dirinya masih di tempat acara. Tidak menyadari bahwa suaminya berdiri di sebelahnya dengan pandangan matanya sulit diartikan, dan ada sepercik rasa cemburu di wajahnya.
"Mas kog mukanya di tekuk gitu, asam-asam gimana ya." ledeknya Kania melihat wajah suaminya kecut, yang tidak dapat jatah dari sang istri.
"Telepon siapa?"
"Cieee cemburu, udah enggak zaman nya cemburu lagi, udah punya anak lima ini Mas, mana ada yang mau sama aku, ibu-ibu beranak lima."
Mendengar jawaban istrinya membuat nya langsung menubruk tubuh istrinya yang masih saja telepon selulernya terhubung dengan Ara.
__ADS_1
"Cieee....cieeee... yang cemburu kini langsung sudah baikan, langsung main peluk-peluk di depan umum." goda Ara kepada sang kakak yang masih bucin meskipun mereka tak muda lagi.
Sambungan video call pun Ara matikan secara sepihak, tidak mau para jomblo berteriak jomblo atau iri dengan kemesraan yang sudah halal. Ara melanjutkan tugasnya, dan ada Runi juga yang sedang fokus pada tugasnya. Meskipun mendengar suara sahabatnya menerima telepon, tak buat Runi kepo dengan kehidupan pribadi Ara, kecuali Ara sendiri yang bercerita ke Runi.