
Selama satu tahun tinggal di negara Inggris, membuat Ara sedikit demi sedikit bisa berdamai dengan suasana, cuaca yang sangat berbeda sekali dengan negaranya Indonesia.
Awalnya memang berat, berjalannya waktu, hari, bulan berganti aku sudah memulai membiasakan hidup di negeri orang.
Kebiasaan di Indonesia sedikit demi sedikit sudah aku mulai tinggalkan, berusaha untuk bisa menempatkan diri, membawa diri di lingkungan baru.
Tugas kampus yang padat membuatnya sangat sibuk, terkadang sampai lupa untuk menghubungi keluarga yang tinggal di Indonesia. Bukan berarti Ara melupakan keluarganya, hanya saja Ara belum sempat menghubungi kembali.
Tumpukan buku, bacaan berserakan diatas meja yang biasanya telihat rapi. Kini sangat berbeda dengan pemandangan yang baru, malas untuk beberes di karena sedang di kejar deadline masalah tugas.
"Kapan selesainya bila setiap hari selalu ada tugas dadakan seperti ini! yang satu belum selesai, kini datang tugas baru lainnya, huffttt sebel, nyebelin." gerutu Ara yang sedang membolak-balik tubuhnya untuk mencari posisi nyaman.
Sedang di sebelahnya ada tugas kampus yang menumpuk yang harus segera diselesaikan, tetapi terhenti memandangi sudut ruangan yang sangat sunyi, senyap. Belum berniat untuk kembali akan tugasnya, lebih memilih menikmati sudut ruangan yang kosong.
Ara membuka ponselnya untuk stalking sosial media, terutama pengusaha muda Indonesia yang lagi naik daun. Siapa lagi kalau bukan Reksa Bhakti, sang sekretaris berwajah tampan, dan si murah senyum.
__ADS_1
Awalnya aku makin penasaran, hampir tiap hari menit, jam aku selalu menyempatkan waktu ku untuk membuka sosial media. Berharap sang pangeran posting sesuatu yang membuat indera penglihatannya mendapatkan vitamin.
"Handsome bingiit," Ucap Ara mengusap layar ponsel sentuhnya, bibirnya terus saja mengembangkan senyumnya. Seakan-akan itu nyata, segera ingin cepat lulus dan bertemu dengan seorang yang di kaguminya.
Ara masih stalking di dunianya, sampai-sampai tugas yang sudah menumpuk belum di sentuh dengan tangannya sama sekali. Otaknya masih di penuhi dengan pria handsome, membuatnya senyum-senyum sendiri seperti orang gi la hehehe...
Tok Tok Tok
"Siapa?" tanya Ara dari dalam. Mulai mengunci layar sentuhnya sebelum membuka pintu untuk seseorang yang mengetuk pintu dari luar.
"Wait Sinta," Ujar Ara bangkit dari ranjang kamarnya, bersiap untuk membukakan pintu untuk tamu yang mengetuk pintu apartemennya.
Kleekk...
"Tumben." ucapnya sedikit ketus.
__ADS_1
Kesenangan nya sedikit terganggu dengan keh teman satu apartemen.
"Rada takut aku tiba-tiba, Ra! boleh nginep?" tanya Sinta dengan tatapan mata yang memohon, ada raut wajah yang tak biasa.
"Bolehlah, kan kita bhineka tunggal Ika hehehe..."
"Ayo masuk!' Ajak Ara menggandeng tangan Sinta mengajaknya masuk ke dalam.
" Makasih Ara sayang, kamu yang terbaik." Puji Sinta mencubit pelan pipi Ara yang putih bersih tanpa cela.
"Emang aku baik, kamu saja yang memujinya telat."
"Wkwk.." mereka tertawa bersama melupakan beberapa pertanyaan yang ingin Ara lontarkan, saking penasaran rasa takut ke Sinta.
Kedua perempuan cantik sedang baring-baring diatas kasur, mereka bercerita banyak hal. Niat awalnya untuk mengerjakan tugas kelompok, pada akhirnya gagal. Keduanya sangat asyik bercerita, sampai mereka lupa waktu bahwa hari sudah semakin malam membuat kedua kelopak matanya enggan untuk terbuka sempurna.
__ADS_1
Mereka mengabaikan ponsel yang terus saja berdering, tidurnya sangat terlelap melupakan bahwa ponsel masih ada di genggaman tangan keduanya.