Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Duapuluh Empat


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu Ara masih mendiamkan Reksa, hatinya masih terlalu sakit di bentak orang yang masih berstatus abu-abu atas hubungannya.


Walaupun tak bisa membohongi perasaannya yang sudah mendarah daging, tetap saja gengsi bila harus mudah luluh demi rasa cintanya.


"Menyebalkan!"


"Kenapa aku pakai ingat Dia segala?"


"Harusnya aku tak boleh berharap lebih dengan status tak pasti, meskipun hati kangen berusaha untuk mengalihkan ke dalam pekerjaan."


Ara masih saja menggerutu kesal, tak tahu kenapa perasaannya masih saja menyimpang sakit. Padahal itu hanya bentakan, bukan tangan yang kasar melukai badannya.


Tetapi tak bisa di sembunyikan, ada rasa kecewa. Tak biasanya Reksa berubah, biasanya dia pria yang lembut, penyayang, dan sangat baik.


Kini respek nya sedikit berkurang, pria yang di anggap sempurna ada setitik noda yang membuat melukai perasaannya.


Pekerjaan yang sudah menumpuk diatas meja pun ia biarkan menggunung, belum ada niatan untuk menyentuhnya. Padahal dokumen nya kejar deadline, "Kenapa aku masih kesal, kan Dia bukan suamiku?"


Ara bermonolog pada hatinya.

__ADS_1


Setelah di pikirkan baik-baik, akhirnya Ara memutuskan untuk melupakan peristiwa dua Minggu yang lalu. Bila tak ingin pasti kariernya yang akan menjadi taruhannya, itu membuatnya tak mau hidup susah di tengah ibu kota yang sangat kejam ini.


*


Reksa nampak biasa saja, tak menunjukkan bahwa dirinya patah hati. Di ruangan yang cukup luas, aku berusaha untuk berkonsentrasi melupakan Dia yang mulai menganggu pikiran ku.


Demi profesional aku harus bisa menyikapinya dengan dewasa, karena aku seorang pria tak ingin melakukan sesuatu dengan cara gegabah.


Derrrtttttt


Konsentrasi nya langsung terpecah mendengar suara hapenya bergetar, tak ingin mengabaikan. "Siapa tahu telepon itu penting?" Batinnya Reksa bermonolog.


"Assalamualaikum uncle." sapa Esha dengan suara cekikikan, karena di rumahnya ada Bunda nya yang menemani putrinya duduk bersebelahan.


"Uncle enggak kenal?"


"Enggak!"


"Hiksss uncle jahat,"

__ADS_1


Telepon langsung di matikan sepihak, seketika tangisnya Esha pecah. Dia tak suka di abaikan, makanya hatinya terlalu sakit di lupakan uncle nya.


"Jangan nangis dong sayang," bujukan Bunda Naya mengusap lembut sisa air mata yang membasahi pipi chuby nya.


"Hiksss uncle jahat, Nda." adunya Esha tak mau kalah, bila mengingat Esha semakin menangis bagaikan tersayat-sayat hatinya Bunda Naya.


"Cup Cup sayang nanti uncle Sa kita sentil telinganya, kalau mau ke sini!" Bunda Naya berusaha membuat putrinya berhenti menangis.


Mendengar ada kata hukuman untuk uncle Reksa, senyumnya langsung terbit. Walaupun masih ada suara isakan kecil, dan sesenggukan.


Lelah menangis beberapa kali Esha menguap, dan mengucek-ucek kelopak matanya yang sudah memerah karena mengantuk.


Naya langsung tersenyum lembut melihat putrinya sudah berhenti menangis, mulai mengendong nya untuk di bawa ke kamarnya..


Reksa semakin mengernyit kan dahinya, nampak berpikir keras rentetan peristiwa yang bertubi-tubi menghampiri kehidupannya beberapa hari terakhir ini.


Berdiam adalah solusi yang tepat untuk memikirkan perasaannya yang bertanya-tanya, "Siapa gerangan? jangan-jangan ada yang mengaku sebagai anak ku, kan bahaya!" Isi pikiran nya Reksa negatif membawa aura yang berbeda di wajahnya.


Setelah memeriksakan hapenya bibirnya langsung membulat sempurna, tak menyangka bahwa yang menelepon adalah keponakannya yang mengemaskan

__ADS_1


Berusaha untuk menelepon ulang, sudah beberapa kali melakukan panggilan tidak ada jawaban dari seberang.


"Pasti Esha ini!"


__ADS_2