Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Empat Belas


__ADS_3

Sampainya Ara di parkiran langsung keluar dari mobil di ikuti Hesti dari belakang, bibirnya seakan terkunci rapat karena keduanya memilih diam tanpa kata yang terucap.


Ara langsung masuk ke ruangannya, Hesti pun juga sama. Mereka kembali menyibukkan dirinya dengan rutinitas yang sudah menunggu di atas meja kerjanya.


Sedikit mengingat makan siang di cafe membuat wajahnya sedikit murung, walaupun tak kenal dengan mereka.


Tiba-tiba perasaannya gelisah, susah untuk ia kendalikan. Rasa sakit, patah hati menyeruak begitu saja, bila mengingat pria tersebut yang membelakanginya.


"Kenapa aku saki hati?" ucapnya Ara bermonolog pada dirinya sendiri. Pikirannya benar-benar kalut setelah peristiwa makan siang di cafe.


Tak ingin berlama-lama di kantor, akhirnya Ara meminta ijin untuk pulang padahal waktu kerjanya tinggal beberapa jam selesai.


Selesai merapikan ruangan kerjanya, Ara melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan, sembari tangannya menjinjing tas kerja nya.


"Mau kemana Ra?" tanyanya Hesti yang sangat penasaran, tak biasanya Ara pulang sebelum jam kantor selesai kecuali ada urusan penting.


"Pulang Hesti!" jawabnya sembari tersenyum tipis, supaya temannya tak curiga dengan perubahan perasaan nya.


"Kamu sakit?" Hesti begitu sangat khawatir mendengar Ara pulang.


"Sedikit pusing saja!" jawabnya jujur, emang sedikit pusing atas masalah yang tak tahu sumbernya darimana?


"Mau aku antar ke dokter?" tawarnya Ara yang berdiri dari tempat duduknya, mulai berjalan kearah Ara yang berdiri mematung.


Hesti memegang keningnya Ara un memeriksa suhu tubuhnya, "sedikit demam," gumamnya lirih.

__ADS_1


"Aku antar ya! takut di jalan kamu kenapa-kenapa?" tawarnya Hesti yang kekeh ingin menawarkan bantuan.


Ara menggeleng, "Tak apa aku pulang sendiri nanti juga sembuh di buat tidur!" Ara menolak secara halus, tak ingin merepotkan temannya karena ini masih jam kantor.


"Take care, Ara," ucapnya Hesti.


"Ara tersenyum sembari mengangguk kan kepalanya." Oke terima kasih Hesti.


Hesti menatap kepergian Ara dengan perasaan sedikit khawatir, melihat senyum Ara barusan sedikit bisa mengobati perasaan khawatirnya.


Hesti langsung memutar badannya untuk kembali ke meja kerjanya, dan mulai berkutat dengan banyaknya kertas-kertas, dan layar komputer pun masih menyala.


*


Reksa tak kembali lagi ke kantor setelah menghabiskan separuh waktunya untuk berbincang dengan Maya, dia merupakan teman SMP.


Entah bahagia karena apa? yang jelas perasaan menghangat setelah separuh waktunya untuk melupakan pekerjaan, dan merilekskan otot-otot tubuhnya.


Lagu-lagu cinta yang di putar di dalam mobil, menemani perjalanan Reksa untuk membawanya pulang ke apartemen.


Bibirnya terus saja mengembangkan senyumnya, senyum yang jarang ia perlihatkan kecuali perasaannya bener-bener sedang di landa bahagia.


Sampai di pelataran parkir bassement tak sengaja melihat bayangan perempuan yang di kenalnya, ingin sekali menghampiri, dan menyapa nya.


Tetapi niat itu ia urungkan, takutnya aku salah sasaran malah mempermalukan dirinya sendiri.

__ADS_1


Reksa langsung keluar dari mobilnya, lalu memencet tombol lift dengan lantai yang di tuju.


Reksa kembali memeriksa hape yang sedang bergetar, tak ada penumpang lain di dalam lift. Hanya dirinya seorang yang di dalam, sangat leluasa untuk bergerak.


Ara baru saja membuka pintu mobilnya, niatnya untuk mengejar seorang yang baru saja keluar dari mobil. Tetapi nihil pria tersebut sudah berlalu sangat cepat, tak bisa Ara kejar.


*


Reksa sudah sampai kamarnya terlebih dahulu, lalu diikuti Ara yang berselang 5menit kemudian.


Walaupun mereka tinggal di unit apartemen yang sama, belum sama sekali mereka bertemu. Selalu ada jalan untuk ia menghindar dari pertemuan, dan takdir pun belum berpihak kepada mereka.


Setelah membersihkan badannya, Reksa kembali membuka laptop yang ia bawa pulang setiap harinya. Kembali fokus untuk memeriksa email yang masuk, walaupun ada rasa lelah, capek tak membuatnya bermalas-malasan.


Sama halnya dengan Ara yang masih malas beranjak dari tiduran nya, pakaian kerja pun masih sama. Belum sama sekali berniat untuk membersihkan badannya, padahal niat untuk ke kamar mandi ada.


Ada rasa mager membuatnya memilih diam di tempat, sembari menatap langit-langit kamarnya.


Ara menggulingkan badannya ke kanan ke kiri dengan hijab nya yang masih melekat, wajahnya yang sayu semakin tambah tak enak di pandang.


Sesekali memejamkan kelopak matanya, sedikit lebih mendingan Ara bangkit dari tidurnya lalu berjalan ke kamar kecil guna membersihkan badannya sebelum ia melanjutkan tidurnya kembali.


Reksa tak jauh dari unit yang di tempati Ara sedang berkutat dengan banyaknya pekerjaan yang masuk ke email nya.


Sengaja ia berpesan kepada sekertarisnya sebelum meninggalkan kantor, untuk mengirimkan semua pekerjaan yang penting ke alamat email.

__ADS_1


Sekarang ini Reksa mulai fokus dengan layar laptop, kacamata bertengger di hidungnya. Ada secangkir teh yang menemaninya, walaupun sedang dalam mode serius tak mengurangi kadar ketampanannya.


Ia sibuk untuk mempelajari beberapa dokumen, sebelum di bubuhi dengan tanda tangannya. Ada rasa lelah, malas tetapi mengingat perjuangannya untuk membangun perusahaan akhirnya semangat nya tumbuh kembali.


__ADS_2