
Ara sudah duduk di sofa ruang tamu yang kosong, Esha langsung minta duduk di pangkuan onty cantiknya. Esha mulai bergelayut manja, seakan tidak ingin berjauhan lagi dengan onty nya.
"Esha makin manja, bikin onty gemes ingin gigit pipi kamu, Nak." Ara berkali-kali mengecup pipi montok berwarna kemerahan. Semakin membuat Ara tak henti-hentinya nya mengecup pipi montok yang berada di pangkuannya.
"Bialin lah kan Elca lindu ama onty nya atu!" Esha tak mau kalah dengan caranya menunjukkan kemanjaan nya, meskipun usianya sudah tak pantas di bilang anak bayi, tetapi wajahnya yang sangat menggemaskan..
Semua yang ada di ruang tamu tertawa terbahak-bahak melihat perubahan sifat Esha, padahal kemanjaan nya sudah mulai berkurang semenjak Esha sendiri sudah memasuki bangku sekolah.
Esha kembali bermanja-manja dengan onty nya, tak pernah lepas dari pangkuan onty Ara, selalu bermanja-manja dengan onty kesayangan.
Kania yang duduk diantara mereka mengulum senyum, senyumnya sangat lebar, karena lucu melihat tingkah laku putrinya yang manjanya nggak ketulungan.
"Sudah dong sayang, kasihan onty Ara nya pasti capek, kan baru juga duduk sudah minta duduk di pangkuannya." Tuturnya Kania yang berusaha untuk menasehati putrinya, bukan nurut Esha semakin menunjukkan kemanjaannya di depan onty kesayangannya.
"Udah biarin saja kak, mungkin dia lagi kangen-kangennya sama aku, Kak." Sahutnya Ara yang tak masalah dengan kemanjaan keponakannya, dirinya juga merindukan gadis kecil yang duduk di pangkuan nya.
"Uhh manja!" cibiran Kakak kembarnya, yang sangat tak menyukai kemanjaan adik bungsunya.
"Bialin wlekk! bilang aja kalau Kakak ili sama, Elca! uhhh Kak Affa nyebelin!" ucapnya Esha bersungut-sungut, tak terima dirinya di bilang manja. Pada kenyataannya memang dirinya sangat manja, baginya tak masalah kan manja sama onty nya sendiri.
Esha yang tak mau lepas dengan onty nya, membuat Kania meringis dan tak enak hati. Esha selalu merepotkan onty Ara nya, padahal setiap akhir pekan mereka sering bertemu.
Akhirnya dengan penuh pertimbangan Ara menginap di rumah sang kakak, mereka sedang menikmati makan malamnya.
__ADS_1
Seluruh anggota keluarga meramaikan acara makan malam tersebut, ada Ken, istrinya, dan anggota keluarga Pradipta lainnya.
*
Reksa baru saja tiba di apartemen nya, rasa lelah, penat menjadi satu akibat banyaknya rutinitas yang benar-benar menyita banyak waktunya.
Waktu untuk istirahat pun sedikit berkurang, membuatnya sering pusing kepala, kecapekan.
Memejamkan kelopak matanya sejenak untuk mengusir rasa lelahnya, bukan yang pertamanya tidur masih lengkap dengan pakaian kantornya.
Hampir tengah malam Reksa terbangun karena dirinya ingin pergi ke kamar kecil, terpaksa dirinya harus turun dari ranjang kamarnya.
Meskipun ada rasa kantuk, tetap saja berjalan sedikit memejamkan kelopak matanya. Setelah selesai dengan ritual lengkapnya, Reksa kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuknya.
Keesokan paginya Reksa terbangun sedikit kesiangan membuat badannya tidak dalam kondisi baik, bukan nya terbangun langsung ke kamar kecil, malah sebaliknya Reksa memilih kembali tertidur.
Derrrtttttt derrrtttttt...
Suara getaran di hapenya ia abaikan, karena tak mendengar. Malah semakin mengeratkan pelukannya pada guling, bener-bener fokusnya dengan tidur untuk mengembalikan kondisi fisik yang lebih baik lagi.
*
Di kantor sang sekretaris sedang menggerutu kesal karena panggilan telepon pun di abaikan, pesan singkat pun tidak di balas, maupun di buka sang empunya.
__ADS_1
"Kemana Pak bos? tak biasanya menghilang seperti di telan bumi, padahal hapenya juga tersambung, kenapa tidak ada respon?" tanyanya sang sekretaris bermonolog pada dirinya sendiri.
Sekretarisnya mencoba menghubungi kembali, suara getaran ke tujuh baru Reksa terima.
"Hallo-Hallo ada apa?"
"Anu bos nanti siang ada rapat sama investor asing."
"Jam berapa?"
"Jam 2siang, bos."
Reksa yang berada di seberang telepon mengernyit kan dahinya, tak mengingat bahwa siang ini ada rapat.
"Si al niatnya ingin bolos kerja, kenapa pakai ada rapat nanti siang!" ucapnya Reksa sembari menggerutu.
"Halo bos, apa masih mendengar suara saya?"tanya sang sekretaris untuk menanyakan, dan memastikan bahwa masih ada yang mendengar suaranya.
"Iya. kenapa?"
"Jangan lupa nanti jam 2siang!"
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, panggilan sudah terputus secara sepihak. mumpung masih ada waktu, ia gunakan untuk beristirahat .
__ADS_1
Menunggu waktunya tiba, untuk ia membersihkan tubuhnya, dan menghadiri rapat jam 2siang.